Rise Of The Queen Ernest

Rise Of The Queen Ernest
Satu Jiwa Dan Satu Tubuh


__ADS_3

Setelah melamar Ernest dan mendapatkan persetujuan dari raja Leon dan ratu Hana, Lucius kembali dan mengutarakan niatnya untuk meminang Ernest sebagai permaisuri kepada kedua orangtuanya.


Raja James serta ratu Eliza sempat menentang karena citra buruk Ernest. Meski citra itu sudah bersih tapi mereka menentang keputusan pangeran yang mereka anggap terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan. Mereka menganggap pangeran terhasut apalagi mereka tahu dari jenderal yang pergi membantu Lucius jika Lucius berada di kerajaan Kent Arsia selama ini.


Lucius berusaha meyakinkan ayah dan ibunya, dia sudah sangat yakin, seyakin-yakinnya jika dia ingin menjadikan Ernest sebagai permaisuri. Kabar itu pun sudah didengar oleh para rakyat kerajaan Kenneth. Para rakyat ada yang setuju ada pula yang menentang dengan keputusan pangeran Lucius tapi pada akhirnya semua rakyat setuju apalagi raja James dan ratu Eliza pun tidak bisa menentang keputusan pangeran Lucius.


Sebentar lagi adalah hari pernikahan pangeran Lucius dan putri Ernest. Para rakyat kerajaan Kent Arsia begitu antusias untuk menyambut kedatangan Pangeran yang sebentar lagi akan datang karena Lucius hendak menjemput Ernest. Acara pernikahan akan diadakan di istana Kenneth. Semua sudah disiapkan, penyatuan dua kerajaan sudah pasti akan diadakan dengan begitu meriah. Seluruh kerajaan diundang dalam pernikahan tersebut, acara pun akan di adakan tujuh hari tujuh malam lamanya dan para rakyat akan bersuka cita akan hal itu.


Semenjak sudah tidak ada Arabella lagi, Ernest dinobatkan menjadi calon ratu kerajaan Kent Arsia. Semua rakyat tentu menyetujui keputusan raja Leon dengan sangat antusias dan menaruh harapan besar pada putri Ernest tapi sekarang, mereka harus melepaskan sang putri yang sebentar lagi akan dibawa pergi oleh pangeran Lucius.


Ratu Hana tampak sedih, sebelumnya dia memiliki dua orang putri tapi setelah tersisa seorang saja, putrinya akan dibawa pergi darinya. Hal itu membuat keadaan ratu Hana kurang baik padahal hari ini mereka harus berangkat menuju kerajaan Kenneth.


Raja Leon tampak khawatir, seandainya mereka memiliki anak maka mereka tidak akan kesepian ditinggal oleh putri mereka. Takdir memang terkadang kejam, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi tapi mereka hanya bisa menaruh harapan besar pada Ernest agar memberikan keturunan dan memberikan penerus yang akan memimpin kerajaan Kent Arsia nantinya.


Ernest sedang bersiap-siap dibantu oleh Amy dan Agnes, semua barang-barang milik putri Ernest pun sudah siap dan akan dibawa serta. Rasanya jadi sedih karena mereka tidak akan berada di kerajaan itu lagi mulai sekarang. Meski mereka akan kembali nanti jika putri Ernest berkunjung tapi perasaan sedih meninggalkan rumah sangat terasa.


"Pangeran sudah akan datang, Putri. Kau harus menyambutnya," ucap Amy.


"Bantu aku, aku ingin menemui Ayanda dan Bunda," pinta Ernest.


Amy dan Agnes membantu putri Ernest memegangi gaunnya. Ternyata raja dan ratu sudah menunggu karena pangeran Lucius sudah memasuki gerbang istana. Raja Leon dan Ratu Hana tampak pangling meihat penampilan putri mereka.


Mereka tidak peduli meski Ernest adalah putri seorang pelayan, yang mereka tahu begitu mereka memutuskan untuk mengasuh Ernest, Ernest sudah menjadi putri mereka meski mereka harus dikecewakan oleh salah satu putri yang mereka asuh namun putri pelayan yang mereka temukan justru membuat mereka bangga dan tidak mempermalukan mereka sama sekali.


"Kau terlihat luar bisa sayang, tapi hari ini kami harus melepaskan dirimu pada pria yang akan menjadi suamimu," ucap ratu Hana.


"Jangan berkata seperti itu, Bunda. Aku akan selalu mengunjungi Bunda dan Ayahanda."


"Kemarilah, biarkan Bunda memeluk dirimu sebentar," pinta sang ratu.

__ADS_1


Ernest melangkah mendekat. Ratu Hana dan Raja Leon segera memeluknya. Perasaan berat mereka rasakan karena mereka harus melepaskan kepergian putri mereka. Meski mereka akan ikut serta tapi saat kembali nanti, mereka tidak akan kembali bersama dengan putri mereka.


"Kami sangat menyayangi dirimu, Ernest," ucap Ratu Hana.


"Aku juga menyayangi Bunda dan Ayahanda."


Ratu Hana menangis, Raja Leon pun menitikkan air mata. Ernest juga menangis begitu pula Amy dan Agnes serta para pelayan yang ada di sana. Bagaimanapun sebuah perpisahan itu tidaklah menyenangkan dan tentunya menyakitkan.


"Kami akan sangat merindukan dirimu," ucap ratu Hana.


"Terima kasih Bunda dan Ayahanda sudah merawat dan membesarkan aku."


"Jangan berkata seperti itu, ayo kita segera menyambut kedatangan pangeran Lucius," ratu Hana mencium pipi Ernest dan mengusap air matanya.


Ernest mengangguk dan tersenyum, mereka kembali berpelukan sebentar dan setelah itu mereka bergegas menyambut kedatangan pangeran Lucius yang sudah tiba. Pria itu pun sudah gagah meski memakai celana ketat namun Ernest menyambut kedatangannya dengan senyuman. Lucius bahkan hampir terjatuh melihat kecantikan calon permaisurinya. Pria itu menunduk di hadapan Ernest sambil mengulurkan tangannya.


"Kau terlihat luar bisa, permaisuriku," pujinya.


"Sebentar lagi, kau akan menjadi permaisuriku dan ratu dalam hidupku!"


"Simpan pujianmu, pangeran. Bukankah kita harus bergegas. Jangan sampai riasanku ini rusak sebelum aku tiba di kerajaan Kenneth," goda Ernest.


"Hal itu tidak mungkin terjadi!" Lucius membawa calon pengantinnya ke sebuah kereta kuda yang sudah dihias begitu indah tentunya kereta itu dipersiapkan untuk Ernest.


Kereta untuk raja Leon dan ratu Hana pun sudah dipersiapkan. Mereka bergegas tanpa membuang waktu. Meski dalam keadaan kurang baik tapi ratu Hana tetap ingin pergi untuk menyaksikan pernikahan putri mereka. Sebuah jalan pintas akan mereka lewati agar mereka bisa cepat tiba di kerajaan Kenneth.


Para rakyat berdiri di jalan-jalan untuk mengantar kepergian mereka tentunya mereka ingin melihat raja dan ratu mereka dan putri yang mereka cintai. Ernest bahkan melambai sesekali pada rakyat yang sangat mencintai dirinya. Kebencian mereka pada putri Ernest benar-benar sudah sirna.


Perjalanan yang ditempuh memang cukup memakan banyak waktu namun mereka tiba tepat waktu. Mereka disambut dengan meriah lalu diantar ke peristirahatan yang sudah disediakan untuk mereka. Semua sudah menunggu kehadiran sang putri bahkan tamu sudah datang karena pernikahan mereka akan segera diadakan.

__ADS_1


Raja Leon dan Ratu Hana disambut dengan baik oleh Raja James dan ratu Eliza. Mereka sudah bergabung dengan yang lain, didalam aula istana di mana para tamu berada di sana.


Amy dan Agnes sedang sibuk mendandani putri Ernest karena sebentar lagi sang putri akan menjadi permaisuri dari pangeran Lucius bahkan putri Ernest akan menjadi ratu dua kerajaan yaitu ratu kerajaan Kenneth serta akan menjadi ratu kerajaan Kent Arsia nantinya. Kedua mata Ernest terpejam, membiarkan Amy dan Agnes mendandani wajah dan juga menata rambutnya.


Amy tidak berani memanggil karena dia mengira putri Ernest sedang tidur. Putri Ernest memang sudah cantik sejak awal jadi tidak perlu mendapat banyak polesan. Cukup sedikit saja penampilannya sudah terlihat luar biasa. Gaun indah pun sudah dikenakan oleh Ernest, tidak membutuhkan waktu lama penampilannya sudah terlihat sempurna.


"Sudah selesai, putri," ucap Amy.


Ernest membuka kedua mata, yang dia lihat pertama kali adalah pantulan dirinya di cermin. Penampilannya terlihat luar biasa, Ernest tersenyum tipis melihat penampilan luar biasanya tentunya penampilan itu adalah miliknya.


"Kau terlihat luar bisa, Putri," puji Amy dan Agnes.


"Terima kasih untuk pujian kalian berdua," ucap Ernest dengan ekspresi wajah puas. Semua sudah berlalu, nama Ernest sudah pulih bahkan dia sudah mendapatkan kedudukan yang tak terduga.  Semua yang terjadi benar-benar diluar dugaan dan sulit diterima oleh akal sehat tapi itulah yang sedang terjadi padanya.


Waktu pernikahan sudah tiba, ratu Hana dan Raja Leon menghampiri putri mereka karena raja Leon yang akan mengantar putrinya ke altar. Lagi-Lagi ratu Hana memeluk putrinya dan menangis, dia sungguh tidak sanggup berpisah dengan putrinya.


"Tolong jangan menangis, Bunda," pinta Ernest.


"Bunda belum bisa melepaskan dirimu, Ernest," jawab ibunya.


"Jika begitu, aku akan selalu berada di istana dan tidak akan pergi ke mana pun."


"Tidak, Ernest. Kau memiliki kehidupan dan pangeran Lucius adalah jodoh yang sangat serasi untukmu. Bunda tidak boleh egois apalagi Bunda ingin kau bahagia."


"Terima kasih, Bunda," Ernest memeluk ibunya dengan erat. Dia mendapatkan ciuman dari kedua orangtua yang sangat menyayangi dirinya.


Raja Leon sudah memberikan lengan, yang bertanda mereka sudah harus bergegas. Jangan sampai para tamu menunggu dan jangan sampai pula Pangeran Lucius menunggu calon permaisurinya begitu lama. Pintu yang begitu besar tertutup, Ernest memejamkan matanya dan menarik napas sejenak dan begitu pintu itu terbuka, kedua matanya terbuka.


Ernest melangkah masuk, menuju masa depannya di mana pangeran yang gagah dan tampan sudah menunggu. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada kehidupannya bahkan dia pun tidak tahu akan terlempar jauh ke masa lampau, dunia asing yang tidak dia kenal. Meski terasa aneh, jika dia bisa kembali dan bercerita pada sahabatnya mungkin dia akan menjadi bahan cibiran dan tertawaan tapi itulah yang terjadi padanya dan sekarang, meski Ernest sudah mengucapkan perpisahan untuk terakhir kali namun dia akan menjadi Ernest Herbert, sang putri dari abad lima belas.

__ADS_1


Meski dia datang dari abad dua puluh tapi dia tidak akan mengatakannya pada siapa pun akan asal usulnya agar tidak ada sejarah yang berubah dan kini, dia adalah Ernest dan dia akan melupakan siapa dirinya karena Alena Herbert sudah tidak ada lagi apalagi dia dan Ernest, sudah menjadi satu jiwa dan satu tubuh.


__ADS_2