
Akibat terkena air hujan, Alena merasa menggigil. Amy dan Agnes segera mengompres dan mengambil obat untuk menyembuhkan kaki putri Ernest agar tidak membengkak tapi kini putri Ernest justru menggigil hebat. Itu karena fisik Ernest yang tidak kuat. Alena sangat kesal dengan daya tahan yang dimiliki oleh Ernest.
Jika saat ini dia berada di jaman modern, dia pasti sudah meminum vitamin atau suplemen untuk memperkuat fisiknya agar dia tidak selalu mengalami hal seperti itu. Sungguh merepotkan, jika keadaannya selalu seperti ini maka dia akan kesulitan saat berada di acara berburu. Bagaimana jika cuaca saat itu tidak mendukung? Jangan sampai dia berakhir seperti saat ini.
"Buatkan aku minuman hangat, Agnes," pinta Alena.
"Apa kau baik-baik saja, Putri?"
"Entahlah, aku benci fisik tubuh yang lemah seperti ini!"
"Aku akan membuatkan minuman penambah energi untuk putri," ucap Agnes.
"Berhati-hatikah, jangan sampai ada yang tahu!"
"Baik, Putri!" Agnes keluar secara diam-diam agar tidak ketahuan.
"Bagaimana dengan keadaan kakimu, Putri?" tanya Amy yang sedang memijat kaki Alena.
"Sudah lebih baik, semoga tidak bengkak."
"Putri, bagaimana rasanya saat digendong oleh Pangeran Lucius?" Amy mulai menggoda tuannya.
"Kenapa bertanya seperti itu?"
"Ayolah, jangan malu. Bagaimana rasanya? Apakah Tuan Putri tidak berdebar sama sekali?"
"Sstss.. jangan sembarangan berbicara. Apa itu berdebar? Aku tidak mengerti!" ucap Alena.
"Ck, putri begitu tidak peka padahal sudah digendong oleh pangeran tampan seperti itu!"
"Sudah, pijat yang benar!" Lucius memang tampan tapi dia tidak berminat pada pria tua, eh.. maksudnya pria dari jaman kuno. Jika diukur dari usia sudah pasti usia Lucius sudah entah berapa abad apalagi dia berasal dari abad dua puluh dua sedangkan Lucius dari abad lima belas. Lagi pula dia tidak berminat pada pria yang menggunakan celana ketat itu.
Sementara itu, Agnes yang sudah kembali dari membuat minuman bertemu dengan Bastian. Bastian diutus oleh pangeran Lucius untuk mengetahui keadaan Ernest tentunya Agnes mengatakan apa yang terjadi dengan putri Ernest saat itu. Setelah mendapatkan kabar dari Agnes, Bastian segera menemui pangeran Lucius.
Agnes pun kembali ke dalam kamar, sambil membawa minuman penambah energy. Alena yang sudah hampir tertidur terbangun sejenak untuk minum dan setelah itu dia kembali berbaring. Amy yang sudah selesai memijitkan kakinya, duduk di bawah ranjang karena dia masih penasaran apakah sang putri benar-benar tidak memiliki perasaan pada pangeran Lucius.
__ADS_1
"Apa lagi? Kenapa kau tidak pergi beristirahat?" tanya Alena.
"Aku hanya ingin tahu, apa benar putri tidak merasakan sesuatu pada pangeran Lucius?" tanya Amy.
"Itu lagi, bukankah aku sudah mengatakan padamu tadi?"
"Serius, Putri. Apa kau tidak berdebar sama sekali saat digendong oleh Pangeran?"
"Benar, putri!" Agnes yang mendengar pun mendekat dan berjongkok di sisi ranjang.
"Tadi itu hujan begitu deras, rasanya pasti sangat romantis bisa digendong oleh pria tampan seperti Pangeran Lucius," Agnes membayangkan sang putri yang sedang berada di dalam gendongan pangeran Lucius. Hujan, udara pasti dingin dan tentunya udara dingin seperti itu paling pas berpelukan.
"Kalian terlalu banyak bermimpi. Cepat tidur sana, sudah malam. Jangan sampai besok terlambat bangun!" perintah Alena.
"Baik, putri," jawab Agnes dan Amy.
Mereka berdua beranjak, dan kembali ke kamar mereka. Alena juga tidur karena dia merasa lelah. Sungguh stamina yang sangat buruk. Semoga besok keadaannya membaik sehingga dia bisa kembali mengajari Amy dan Agnes lagi.
Pagi begitu cepat menjelang, Amy dan Agnes sudah kembali ke dalam kamar dan mendapati tubuh putri yang begitu panas. Seluruh istana sedang sibuk karena besok adalah acara berburu oleh sebab itu ibu ratu tidak mengunjungi putrinya tapi obat untuk Ernest tidak dilupakan.
"Benar-Benar tubuh tidak berguna!" Amy dan Agnes saling pandang mendengar perkataan Alena yang seperti itu.
"Kenapa kau berkata seperti itu, Putri?" tanya Amy.
"Buatkan aku obat, Agnes. Besok keadaanku sudah harus pulih!"
"Baik, Putri," Agnes keluar dari kamar namun dia berpapasan dengan Pangeran Lucius yang hendak melihat keadaan Alena. Dia sudah mendapatkan kabar jika keadaan Alena kurang baik akibat terkena air hujan.
"Bagaimana dengan keadaan Ernest?" tanya Lucius pada Agnes.
"Keadaan Putri sedang tidak baik, Pangeran," jawab Agnes.
"Berikan obat ini padanya," Lucius memberikan obat yang memang dia bawa dari istananya. Keadaan Ernest pasti akan pulih setelah minum obat itu. Dia sungguh tidak menduga, Ernest yang pandai berkelahi benar-benar memiliki fisik yang sangat lemat.
"Terima kasih, Pangeran," Agnes mengambil obat itu sambil membungkuk.
__ADS_1
"Segera berikan, tapi aku ingin melihat keadaannya!"
Agnes mengangguk, dia kembali ke kamar Ernest. pangeran Lucius mengikuti Agnes dan belakang, tentunya dengan pengawal pribadinya. Pada saat itu, Arabella yang hendak mencari adiknya justru tanpa sengaja melihat pangeran Lucius yang sedang mengikuti Agnes.
Arabella menghentikan langkah, namun tatapan matanya tidak lepas dari Pangeran Lucius yang masuk ke dalam kamar Ernest. Apa yang hendak pangeran lakukan dan untuk apa dia masuk ke dalam kamar Ernest? Karena ingin tahu, Arabella segera melangkah menuju kamar Ernest.
Alena yang mendapat kunjungan secara tiba-tiba tampak tidak senang. Jika yang mengunjungi adalah ibu dan kakaknya, maka dia akan sangat senang tapi pria yang datang itu, sangat tidak dia harapkan. Lucius menghampiri, wajah Alena terlihat pucat dan dia masih terbaring di atas ranjang.
"Bagaimana dengan keadaanmu, Ernest?" tanya Lucius.
"Aku baik-baik saja, Pangeran. Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku," jawab Ernest.
"Aku sudah memberikan obat untuk pelayanmu, segeralah minum. Mungkin kau terlalu lama terkena air hujan sehingga membuatmu seperi ini."
"Pangeran!" Alena hampir berteriak, "Tolong jangan membahas hal ini secara sembarangan. Tembok istana memiliki telinga dan aku tidak mau ada yang mendengar!" pinta Alena.
"Baiklah, Ernest. Aku harap keadaanmu segera pulih agar kita bisa menyelinap bersama!" Lucius mengatakan hal itun dengan pelan.
"Pangeran!" mata Alena sudah melotot ke arah pangeran Lucius namun pria itu tersenyum.
"Baiklah, aku pamit. Semoga lekas sembuh," ucap Lucius.
"Terima kasih!"
Lucius melangkah menuju pintu, Amy sudah menunggu di depan pintu dan ketika pintu terbuka, secara kebetulan putri Arabella sudah berdiri di luar.
"Hormat pada Pangeran," ucap Arabella sambil sedikit membungkuk.
"Homat padamu putri," Lucius menaruh satu tangan di dada dan memberikan hormat pada Arabella.
"Apa yang pangeran lakukan di kamar adikku?" tanya Arabella ingin tahu.
"Aku hanya ingin melihat keadaannya saja dan sekarang aku sudah selesai. Aku permisi, Putri Arabella," Lucius kembali membungkuk dan setelah itu dia pergi bersama dengan Bastian.
Arabella melihat kepergian Lucius dengan tanda tanya besar di hati, apa sebenarnya yang dilakukan oleh Pangeran Lucius di kamar adiknya? Dia tidak percaya Pangeran hanya ingin menjenguk Ernest apalagi itu adalah hal yang sangat mustahil tapi apa yang dilakukan oleh Pangeran Lucius? Dia yakin pasti ada yang disembunyikan oleh Lucius dan Ernest darinya dan jangan katakan Lucius menyimpan hati pada Ernest.
__ADS_1