Rise Of The Queen Ernest

Rise Of The Queen Ernest
Tumbangnya Sang Putri


__ADS_3

Arabella dan Ernest seperti saudara pada umumnya. Mereka berdua terlihat sangat akrab. Para putri pejabat melangkah di sisi kanan dan sisi kiri mereka. Para putri pejabat yang berjalan di sisi Ernest tampak tidak senang. Jika tidak bersama dengan putri Arabella, mereka pasti sudah tidak mau tapi mereka harus menghormati putri Arabella.


Arabella melangkah dengan anggun, para pelayan menunduk hormat saat bertemu dengan mereka tapi cibiran untuk putri Ernest masih tidak bisa terhindarkan apalagi gaya berpakaiannya yang lain dari pada yang lain. Teriknya sinar matahari siang itu membuat Ernest merasa tidak nyaman.


Kepalanya semakin sakit, dia merasa semakin tidak sehat. Alena menahan semua itu, dia harus bisa melewatkan hari ini dan melewatkan waktunya bersama dengan sang kakak untuk menikmati bunga dandelion. Arabella tidak menyadari keadaan Ernest, mereka masih melangkah bersama menuju taman istana di mana bunga dandelion sedang bermekaran indah.


"Apa kau tahu, Ernest?" tanya Arabella.


"Entahlah, apa yang kakak maksud?" tanya Alena pula karena dia memang tidak tahu.


"Sebentar lagi Pangeran Lucius William akan datang berkunjung ke kerajaan kita," ucap Arabella.


"Oh, aku sudah mendengar hal ini dari ibu ratu," ucap Alena.


"Benarkah? Apa yang Bunda katakan padamu?" Arabella berpaling, melihat ke arah adiknya.


"Tidak ada, Bunda hanya berkata agar aku berbaur dengan yang lain agar aku memiliki teman."


"Oh, aku kira Bunda membicarakan pangeran Lucius William padamu," ucap Arabella.


"Tenang saja, Tuan Putri. Yang pantas dengan Pangeran Lucius William hanya putri Arabella saja," ucap salah satu putri pejabat yang berjalan di belakang Arabella.


"Benar, Putri. Kunjungannya datang ke Istana pasti untuk melamar Tuan Putri," ucap yang lainnya.


"Tuan Putri sangat beruntung bisa mendapatkan pria setampan dan segagah Pangeran Lucius," yang lain pun berkata demikian.


"Stss... jangan asal bicara!" Arabella tersipu malu.


"Pangeran tidak mungkin menyukai seorang pecundang!" putri pejabat yang berkata demikian melihat ke arah Ernest.


"Benar, Pangeran Lucius adalah calon raja masa depan. Dia tidak mungkin tertarik pada seorang pecundang!" cibiran itu sudah jelas-jelas ditujukan pada Ernest bahkan putri para pejabat melihat ke arah Ernest.


"Berhenti, jika kalian berbicara seperti itu sebaiknya kalian pergi! Ayo Ernest," Arabella menggandeng tangan adiknya, "Jangan dengarkan mereka!" ucapnya lagi seraya mengajak Ernest pergi.

__ADS_1


"Tunggu, Putri. Kami tidak menyinggung siapa pun!" para putri pejabat itu melangkah dengan cepat untuk mengejar.


"Jangan dengarkan mereka, Ernest. Pangeran Lucius datang untuk suatu tujuan, bukan untuk melamar aku," ucap Arabella.


"Kakak tidak perlu mengatakan hal ini padaku, aku tidak begitu tertarik."


"Benarkah?" Arabella sangat heran. Bukankah Ernest begitu mengagumi Lucius William? Tapi kenapa sekarang sikap adiknya itu acuh tak acuh?


Alena yang tidak mengenal siapa itu Lucius William tentu saja tidak peduli. Dia tidak tahu jika Ernest tergila-gila dengan sosok pangeran tampan itu karena dia tidak memiliki ingatan tentangnya bahkan wajah sang pangeran saja dia tidak tahu. Arabella benar-benar sangat heran dengan sikap adiknya yang tidak biasa hari ini. Biasanya Ernest akan marah mendapat cibiran dari para putri pejabat itu sampai-sampai dia yang harus menenangkan adiknya tapi hari ini, Ernest benar-benar berbeda.


Mereka sudah berdiri di depan taman, angin berhembus di cuaca yang begitu panas. Dua pelayan sudah berdiri di sisi Arabella dan Ernest dengan sebuah payung di tangan. Semua bunga Dandelion bemekaran dengan indahnya. Beberapa tempat untuk duduk sudah disiapkan untuk para putri menikmati pemandangan itu dan juga menikmati teh.


Alena buru-buru untuk duduk, dia benar-benar sangatlah lelah. Ami dan Agnes sudah terlihat khawatir. Tubuh sang putri tampak berkeringat banyak.


"Putri, kau harus duduk yang tegak," ucap Amy sambil berbisik.


"Aku merasa keadaanku kurang baik," ucap Alena. Sakit, dia merasa bagian dalamnya sakit.


"Entahlah," Alena menyeka keringat di dahi. Apa yang sebenarnya terjadi pada keadaan Putri Ernest.


"Sebaiknya Tuan Putri segera kembali ke kamar untuk beristirahat."


"Tidak apa-apa, aku tidak mau mengacaukan acara ini. Aku masih bisa bertahan jadi jangan khawatir," ucap Alena. Entah apa yang terjadi dengannya tapi dia curiga semua yang dia alami saat ini akibat obat yang konsumsi. Setelah ini dia harus mencari tahu akan hal ini tapi dia harus bertahan.


Setelah menikmati tehnya, Arabella beranjak. Dia ingin mengajak adiknya untuk memetik beberapa bunga Dandelion dan berajalan di tengah taman.


"Ernest, ayo kita memetik bunga untuk Bunda Ratu," ajaknya.


"Aku ingin duduk sebentar, kakak pergilah terlebih dahulu," tolak Ernest.


"Putri Ernest benar-benar tidak sopan. Putri Arabella sudah mengajak tapi Putri Ernest justru menolak!" ucap salah satu putri pejabat yang berdiri di belakang Putri Arabella.


"Apa kalian bisa diam?!" Arabella tampak kesal dan marah.

__ADS_1


"Ma-Maaf," para putri pejabat itu tampak menunduk.


"Apa kau baik-baik saja, Ernest?" tanya Arabella.


"Aku baik-baik saja, kakak. Terima kasih," Alena tersenyum dan menegakkan duduknya.


"Baiklah, segeralah menyusul kami," ucap Arabella.


Alena mengangguk, Arabella melenggang pergi bersama dengan para putri pejabat yang menatapnya dengan tatapan menghina bahkan cibiran-cibiran pedas pun mereka berikan. Amy dan Agnes begitu kesal dengan cibiran para putri pejabat itu.


"Rasanya aku ingin memukul mereka!" ucap Amy.


"Aku juga! Mereka sangat keterlaluan tidak memberi hormat pada putri sama sekali!" kedua tangan Agnes sudah mencengkeram dengan erat.


"Sudahlah, simpan tenaga kalian. Jangan cari perkara karena aku tidak akan bisa menyelamatkan kalian dalam keadaanku yang masih lemah ini!" ucap Alena.


"Maaf, Putri. Kami hanya kesal dengan sikap mereka yang semena-mena pada putri," Amy tampak menunduk.


"Biarkan saja mereka mau berbicara apa, kita tidak rugi apa pun. Sekarang bantu aku. Aku ingin bergabung dengan mereka."


Amy dan Agnes segera membantu, kepala Alena langsung terasa sakit luar biasa saat dia beranjak dari duduknya. Alena bahkan hampir jatuh namun Amy dan Agnes segera menahan tubuhnya.


"Putri, apa kau baik-baik saja?" Amy dan Agnes tampak khawatir.


"Aku merasa," Alena memegangi dadanya. Dia merasa aneh, sangat aneh dan tanpa dia duga, Alena justru memuntahkan darah.


"Tuan Putri!" teriakan Amy dan Agnes menarik perhatian Arabella dan yang lain. Ernest kembali memuntahkan darah dan setelah itu, tubuhnya jatuh ke samping karena pingsan.


"Putri Ernest!" Amy dan Agnes kembali berteriak.


"Ernest!" Arabella berteriak, bunga dandelion yang ada di tangan pun dilemparkan begitu saja. Taman istana jadi heboh, para pelayan berlari ke arah putri yang sedang pingsan. Arabella berteriak histeris, dia pun berteriak memberi perintah agar adiknya segera dibawa masuk.


Acara menikmati bunga dandelion jadi kacau dan heboh, kabar sang putri yang pingsan pun langsung sampai ke telinga raja dan ratu dan yang paling khawatir akan hal itu adalah Amy dan Agnes. Padahal beberapa hari belakangan keadaan putri Ernest baik-baik saja tapi kenapa penyakitnya kambuh lagi? Namun yang membuat Amy dan Agnes kebingungan adalah, kenapa putri Ernest bisa muntah darah?

__ADS_1


__ADS_2