
Pesta sudah akan dimulai dua hari lagi, sekarang waktunya untuk melakukan perjalanan bagi putri-putri yang hendak menghadiri pesta. Kabar jika pangeran Lucius akan mencari seorang permaisuri di pesta itu berhembus kencang oleh sebab itu para putri dari seluruh negeri mempercantik diri dan berbondong-bondong mendapatkan barang terbaik yang akan mereka kenakan di acara pesta nanti.
Pagi itu putri Arabella pun sedang bersiap-siap, tidak saja Arabella tapi seluruh putri pejabat yang diundang juga bersiap-siap. Mereka berlomba-lomba untuk terlihat sempurna tapi tidak ada yang berani menandingi putri Arabella karena dialah bintangnya dari kerajaan Kent Arsia.
Kabar jika Ernest tidak akan pergi pun sudah menyebar luas. Kabar itu tentunya membuat semua senang karena mereka tidak suka seorang penyihir hadir di acara pesta. Pangeran Lucius pun sudah menyebarkan berita jika dia tidak mengundang Ernest jadi dia meminta rakyatnya untuk tidak khawatir akan kehadiran Ernest. Sesungguhnya dia tidak mau mengatakan hal itu tapi dia harus membuat rakyatnya tenang dan pengumuman itu sudah didengar oleh banyak orang.
Semua wanita sibuk tapi tidak dengan Ernest yang sedang duduk santai di depan jendela kamarnya. Hanya dia yang tidak melakukan apa pun. Tidak sibuk mencari gaun karena semua orang tahu dia tidak akan pergi.
"Apa yang kau bicarakan pada pangeran malam itu, Putri?" tanya Amy.
"Tidak ada, aku hanya memberitahu pangeran jika aku tidak akan hadir!"
"Kenapa, Putri? Bukankah ini kesempatan langka?" ucap Agnes pula.
"Kesempatan apa, Agnes. Aku tidak akan pernah diterima karena isu tersebut jadi lebih baik kita ada tapi tidak terlihat."
"Apa maksud perkataan putri?" tanya Amy dan Agnes.
"Tidak ada maksud apa-apa, aku ingin melihat persiapan kakak Arebella. Dia pasti sudah akan pergi sebentar lagi," Alena beranjak, dia harus mengantar kepergian kakaknya
Arabella sedang sibuk saat Alena masuk ke dalam kamar, pelayannya pun sibuk menyiapkan barang-barang milik sang putri. Pelayan Arabella bahkan menatap Alena dengan tatapan menghina karena dia tidak bisa pergi ke pesta dansa. Tentunya dia mencibir Ernest karena dia sudah mendengar jika Pangeran Lucius tidak mengundang Ernest. Sungguh putri yang tidak diinginkan oleh siapa pun.
"Apa ada yang bisa aku bantu, Kakak?" tanya Alena basa basi.
"Tidak, Ernest. Aku sudah mendengar pengumuman dari Pangeran, apa kau baik-baik saja?" tanya Arabella.
"Aku baik-baik saja, Kakak. Tidak perlu mengkhawatirkan aku."
"Seharusnya Pangeran Lucius tidak mengumumkan hal itu, sekarang semua menjadikan dirimu sebagai bahan lelucon!"
"Jangan dipikirkan, kakak. Pangeran Lucius pasti mengumumkan hal itu agar semua yang hadir di acara pesta itu tenang. Dia tidak mungkin sembarangan memberikan pengumuman tanpa adanya alasan!"
"Baiklah, yang kau katakan sangatlah benar. Padahal aku sangat ingin pergi denganmu dan menikmati waktu bersama denganmu tapi sayangnya tidak bisa!"
"Kita bisa pergi bersama lain kali, sekarang kakak harus menikmati waktu kakak di kerajaan Kenneth!"
"Tentu saja, ini adalah kesempatanku jadi doakanlah aku!" ucap Arabella.
__ADS_1
"Aku harap kau berhasil, Kakak!"
"Terima kasih, Ernest. Aku harus menjadi bintang di pesta dansa nanti!" Arabella tampak begitu percaya diri. Dia sangat yakin Pangeran akan mengajaknya berdansa sehingga semua yang melihat akan iri padanya.
"Pangeran pasti akan mengajakmu berdansa, Putri. Semua orang akan tahu jika kau adalah putri yang akan menjadi permaisuri pangeran Lucius," ucap pelayannya.
"Hus, jangan berbicara seperti itu!" wajah Arabella tersipu, tapi dia berharap hal itu bisa terjadi.
Alena berusaha tersenyum, sepertinya dia tidak boleh terlalu dekat dengan pangeran Lucius. Dia tahu kakaknya menyukai Lucius, jangan sampai hubungan mereka menjadi tidak baik hanya gara-gara seorang pria. Sebaiknya dia menjaga jarak dan lebih baik, mereka tidak bertemu lagi dan dia harus mengakhiri semuanya.
Karena kakaknya sedang sibuk, Alena memilih kembali ke kamarnya. Alena kembali duduk di depan jendela sambil menghela napas, sekarang dia jadi merasa gelisah. Sepertinya dia memang tidak boleh terlalu dekat lagi dengan pangeran Lucius.
"Ernest," terdengar suara ibu ratu memanggilnya dari luar.
"Ya, Bunda," jawab Alena. Amy sedang membuka pintu saat itu.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya ibunya.
"Tidak ada, Bunda. Aku tidak sedang melakukan apa pun."
"Apa yang hendak Bunda bicarakan?" Alena menuang minuman untuk sang ibu dan memberikannya. Dia memang butuh teman bicara saat ini.
"Bukan hal penting, Bunda hanya khawatir kau bersedih karena kau tidak pergi ke acara pesta. Kau tidak apa-apa, bukan?"
"Aku baik-baik saja, Bunda. Tidak perlu khawatir," Alena berusaha tersenyum, dia memang baik-baik saja tapi itu bisa dia jadikan kesempatan untuk berbicara dengan ibunya.
"Bunda senang mendengarnya, Bunda pikir kau sedang bersedih karena kau tidak bisa pergi."
"Tidak, Bunda. Tapi ada yang hendak aku sampaikan pada Bunda dan aku harap Bunda mengijinkan."
"Apa yang hendak kau sampaikan?" tanya ibunya.
"Bunda, besok aku mau pergi. Apakah boleh?"
"Mau pergi ke mana, Ernest?" tanya ibunya.
"Ada yang hendak aku lakukan, Bunda. Tidak akan lama, hanya sebentar saja!" ucap Alena.
__ADS_1
"Tidak, kau tidak boleh pergi ke mana pun!"
"Bunda, sesungguhnya," Alena mendekati ibunya lalu berbisik di telinga ibunya cukup lama.
"Apa?" sang ratu tampak sedikit terkejut.
"Aku hanya sebentar saja, mohon Bunda mengijinkan."
"Tapi berbahaya bagimu pergi seorang diri," ucap ibunya.
"Tidak akan ada yang tahu selain aku dan Bunda. Aku berjanji akan menjaga diriku sebaik mungkin."
Ibu ratu memandangi putrinya, perasaan iba dia rasakan. Ernest memegangi kedua tangan ibunya dan memandanginya dengan tatapan memelas. Napas berat pun dihembuskan, ibu ratu mengangguk dengan pelan sebagai tanda dia setuju.
"Terima kasih, Bunda," Alena memeluk ibu ratu. Dia sangat senang ibunya setuju dan mengijinkan dirinya pergi.
"Ingat, hanya kita yang tahu jadi kau harus menjaga diri baik-baik. Sebentar lagi keluarlah, kita harus mengantar kepergian kakakmu. Jangan sampai ada yang mengira kau iri sehingga kau tidak mau mengantar kepergiaannya."
"Aku akan keluar setelah ini, Bunda."
"Bunda tunggu di luar," ucap ibu ratu yang sudah beranjak. Pantas saja putrinya tidak terlihat sedih, ternyata dia sudah memiliki rencana sendiri.
Alena masih berada di depan jendela saat ibu ratu keluar dari kamarnya. Dia berada di sana untuk menikmati teh yang sudah disediakan oleh Amy dan juga beberapa cemilan. Sebentar lagi dia akan keluar, dia ingin seperti itu untuk sesaat karena banyak yang dia pikirkan. Amy dan Agnes sampai heran melihat sang putri yang tidak seperti biasanya.
Setelah cukup lama termenung, Alena beranjak. Sudah saatnya keluar untuk mengantar kakaknya pergi tapi pada saat itu, seekor burung pengantar pesan hinggap di jendela. Alena berpaling, melihat burung itu lalu buru-buru mengambil sebuah surat yang ada di kaki burung.
"Surat dari siapa, Putri?" Amy dan Agnes sudah buru-buru menghampiri Alena. Mereka bahkan terlihat tidak sabar.
"Kenapa kalian yang begitu heboh?" tanya Alena.
"Itu pasti surat dari pangeran Lucius," ucap Amy.
"Ck, jangan asal menebak!" gulungan surat dibuka, Alena tampak heran saat melihat sebuah lambang salib di surat dengan sebuah tulisan Ordo Suci. Amy dan Agnes bahkan saling pandang.
"Dua hari lagi temui aku di desa Westtrink, Kendrick!" surat yang sangat singkat dan padat tapi siapa Kendrick dan apa itu Ordo Suci?
Alena memandangi kedua pelayannya, mereka berdua angkat bahu karena mereka pun tidak tahu apa hubungan sang putri dengan Ordo Suci apalagi saat malam naas itu, Ernest tidak mengatakan pada mereka jika dia akan pergi menemui Kendrick yang bekerja di Ordo Suci seperti dirinya.
__ADS_1