
Agnes bersikap seperti biasa saat Alena kembali bersama dengan Amy. Agnes bersikap seolah-olah dia tidak melakukan apa pun sebelumnya dan Alena pun bersikap seolah-oleh dia tidak melihat apa pun meski dia tahu apa yang telah Agnes lakukan saat dia pergi bahkan Agnes bisa menjadi pedang bermata dua baginya saat ini.
Seorang mata-mata masih mengintai di luar sana, dia mendapatkan tugas untuk mencari tahu apakah Agnes akan mengatakan pada Alena apa yang baru dia lihat atau tidak. Kebangkitan yang diperlihatkan pada Agnes memang sengaja ditunjukkan agar Agnes menjadi pengikut sekte tapi bagaimanapun Agnes belum mendapat kepercayaan penuh dari beberapa pengikut sekte apalagi dia adalah orang kepercayaan Ernest.
Jubah yang dikenakan oleh Alena dilepaskan oleh Amy, Alena meminta Agnes menuangkan teh untuknya dan meminta Amy memmbuat bubur karena dia belum makan apa pun.
"Bagaimana, Agnes. Apa ada yang datang?" tanya Alena basa basi.
"Tidak, Putri. Apakah kau mendapatkan suatu petunjuk dari tawananmu?" tanya Agnes pula.
"Orang yang sudah mati, apakah dapat bicara, Agnes?" tanya Alena seraya memandangi Agnes dengan tatapan penuh selidik karena dia ingin melihat ekspresi wajah Agnes.
"Apa maksud perkataanmu, Putri? Apakah tawananmu sudah mati??" Agnes memang tidak tahu jika pria yang dia saksikan hidup kembali adalah tawanan sang putri.
"Bagaimana menurutmu? Aku bahkan baru bertanya beberapa kata tapi tawananku justru sudah mati secara tiba-tiba tanpa memberikan aku informasi apa pun."
"Sangat disayangkan, Putri. Padahal kita bisa mendapatkan petunjuk tapi satu-satunya orang yang dapat memberi kita informasi justru mati!"
"Kau sangat benar, Agnes," Alena menghela napas, tatapannya pun menerawang jauh.
"Musuh begitu cerdik, mereka benar-benar menginginkan kematiankan bahkan mereka sudah menyiapkan sebuah belati tajam untuk menikam aku dari belakang. Seekor singa bahkan mengenali penyelamatnya dan tidak akan menerkam tapi aku?" Alena berpaling dan menatap ke arah Agnes, "Aku khawatir akan diterkam dan dicabik oleh singa yang aku temukan di jalan!" ucapnya lagi.
"Apa maksud perkataanmu ini, Putri?" tanya Agnes.
"Artikanlah sendiri, Agnes. Aku rasa kau tahu!"
Agnes menunduk, dia tahu apa yang sang putri maksudkan tapi dia tidak berani mengatakan apa pun. Alena kembali berpaling, menatap keluar jendela. Dia tidak bertanya lagi, apalagi menyinggung masalah kebangkitan yang dia lihat. Agnes sangat lega karena Alena tidak mengetahui kepergiannya untuk menyaksikan kebangkitan tawanannya yang sudah mati.
Amy masuk ke dalam sambil membawa bubur yang diinginkan oleh Alena. Mulai sekarang Amy yang akan menyiapkan makanan karena Agnes sudah tidak bisa dipercaya dalam menyiapkan makanan apalagi Alena tidak mungkin bisa menipu musuh dan terus lolos dari racun yang ada di dalam makanan. Amy memandangi Agnes dengan tatapan kecewa, jujur saja dia masih tidak terima pengkhianatan Agnes pada orang yang sudah menyelamatkan mereka.
"Bubur yang kau inginkan, Putri. Segera nikmati karena aku melihat yang mulia ratu dan putri Arabella hendak mengunjungi dirimu,"' ucap Amy seraya meletakkan bubur ke atas meja.
"Jika begitu siapkan cemilan untuk mereka, Agnes. Amy buka jendela yang lebar agar kamar ini lebih terang!" perintah Alena.
"Apa putri tidak mau berbaring?" tanya Amy.
__ADS_1
"Untuk apa, Amy? Aku tidak sedang sakit. Sekarang aku akan menyambut siapa pun yang datang, lagi pula aku tidaklah lemah!" yeah.. Ernest yang lemah sudah tidak ada lagi. Semenjak dia berada di dalam tubuh Ernest, putri lemah itu sudah tidak ada lagi. Sekarang dia akan menunjukkan pada musuh jika si pecundang yang dianggap lemah sudah tidak ada lagi.
"Baiklah putri," jawab Amy.
Alena menegakkan duduknya, bubur yang dibuat Amy pun dinikmati. Seperti yang Amy katakan, ratu Hana dan putri Arabella datang berkunjung untuk melihat keadaannya. Alena bahkan menyambut mereka dengan senyuman.
"Bunda, kakak," Alena hendak berdiri namun ibunya sudah menahan.
"Duduklah, Ernest," ucap ibunya.
"Maaf jika Ernest lancang, Bunda. Kemarilah duduk denganku, Agnes akan mengambil cemilan untuk kita nikmati bersama."
"Tidak pelru repot, Sayang," ibu ratu dan Arabella melangkah mendekat dan duduk bersama dengannya.
"Bagaimana dengan wajahmu, Ernes?" tanya Arabella.
"Sudah lebih baik, kakak. Meski akan meninggalkan sedikit bekas."
"Jangan dibiarkan Ernest, luka di wajah harus segera diobati!" ucap ibu ratu.
"Kau memang harus melakukannya!" ucap ibu ratu.
Amy menuangkan teh untuk ibu ratu dan putri Arabella. Teh itu juga dituangkan untuk putri Ernest. Agnes yang mendapat tugas untuk membuat camilan pun sudah kembali. Agnes membawa cemilan itu melewati pelayan ibu ratu dan putri Arabella tapi tiba-tiba saja salah satu dari mereka menyenggol Agnes dengan sengaja. Tidak ada yang melihat kejadian yang begitu cepat itu yang pasti camilan yang dibawa oleh Agnes jatuh berantakan ke atas lantai. Suara nampan yang jatuh membuat Alena terkejut begitu juga dengan ibu ratu dan Arabella.
"Apa yang kau lakukan?" teriak Agnes marah pada pelayan ibu ratu dan putri Arabella.
"Kenapa kau berteriak marah pada kami?" tanya pelayan ibu ratu yang tidak senang.
"Apa yang kau lakukan, Agnes?" Alena berdiri dan menatap ke arah pelayannya bahkan Alena menggeleng dengan pelan.
"Maafkan aku, Putri," Agnes tampak menunduk.
"Sebagai seorang pelayan putri, kenapa kau begitu ceroboh?" tanya Arabella.
"Maafkan aku," Agnes hanya bisa berkata demikian karena dia tidak bisa membela dirinya.
__ADS_1
"Maafkan pelayanku, Kakak. Sepertinya Agnes sedang tidak fokus," pinta Alena.
"Tidak apa-apa, Ernest. Tapi kau harus mengajari pelayanmu agar tidak lalai seperti ini," ucap ibu ratu.
"Pasti, Bunda," Alena sedikit membungkuk sebagai permintaan maafnya.
"Sudahlah, tidak perlu dibesar-besarkan," mereka kembali duduk dan berbincang. Alena mengeluarkan manisan buah plum karena hanya itu saja yang dia miliki.
Agnes memungut camilan yang berantakan di atas lantai dibantu oleh Amy. Pelayan putri Arabella dan ibu ratu hanya melihat mereka berdua tanpa membantu.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Amy sambil berbisik.
"Bukan aku," jawab Agnes sambil berbisik pula.
"Cepat selesaikan!" perintah Amy. Mereka membereskan camilan yang berantakan lalu membawannya ke dapur dan setelah itu kembali lagi namun mereka tidak mendapati putri Arabella dan ibu ratu berada di dalam kamar lagi karena mereka sudah pergi.
"Bukan aku, putri. Aku tidak menumpahkannya!" ucap Agnes.
"Jika bukan kau, lalu siapa??" tanya Amy.
"Mereka berdua, di antara mereka berdua yang telah melakukannya!" jawab Agnes.
"Cukup, Agnes. Aku tahu. Masalah ini tidak perlu dibahas lagi. Pergilah beristirahat!" perintah Alena.
"Apa kau tidak mempercayai aku, putri?" Agnes terlihat sedih.
"Agnes, aku selalu mempercayai dirimu tapi jika sampai ada yang mendengar kau menyalahkan pelayan ibu ratu dan putri Arabella, kau tahu kepalamu taruhannya. Lagi pula, kepercayaan yang aku miliki padamu apakah masih harus dipertahankan atau tidak, semua tergantung pada diriimu sendiri!"
"Maaf, Putri," ucap Agnes. Ternyata putri Ernest ingin melindungi dirinya.
"Sudahlah, jangan lupakan perumpaan yang aku katakan padamu, Agnes. Berperanlah sebaik mungkin sesuai dengan peran yang kau dapatkan!"
"Baik, Putri," jawab Agnes.
Setelah berkata demikian Alena melangkah pergi, untuk bertukar pakaian. Dia tahu apa yang terjadi meski dia tidak tahu siapa pelaku yang menabrak Agnes. Salah satu dari mereka pasti takut camilan yang dibawa oleh Agnes dimakan oleh majikan mereka karena camilan yang dibawa oleh Agnes kemungkinan besar mengandung racun.
__ADS_1