Rise Of The Queen Ernest

Rise Of The Queen Ernest
Pangeran Yang Dimanfaatkan


__ADS_3

Pagi itu, hampir semua pelayan melihat ke arah taman karena mereka mendapatkan pemandangan yang tidak biasanya mereka dapatkan. Putri Ernest yang biasanya tertutup dan tidak mau keluar dari kamar pagi ini justru berada di taman. Putri Ernest sedang menikmati sinar matahari pagi dan juga menikmati segelas teh ditemani oleh dua pelayan setianya.


Kabar itu langsung sampai ke telinga ibu ratu dan sang raja. Mereka berdua pun heran mendengar kabar itu dan bergegas melihat karena mereka khawatir telah terjadi sesuatu pada putri Ernest tapi tanpa sepengetahuan mereka desas desus tidak menyenangkan pun merebak dari beberapa pelayan yang tidak menyukai putri Ernest.


Hari ini adalah tanggal dua belas, mereka justru mengatakan jika sang putri sengaja berjemur di bawah sinar matahari sebagai sebuah ritual yang harus dia lakukan sebelum tanggal lima belas nanti. Tentunya desas desus itu menyebar dengan cepat di antara kalangan pelayan dan beberapa prajurit.


Ibu ratu dan raja yang ingin melihat keadaan putri mereka sudah berada di taman Istana. Ernest beranjak dari tempat duduk dan membungkuk untuk menyambut kedatangan kedua orangtuanya.


"Hormat pada yang mulai," ucapnya. Amy dan Agnes pun melakukan hal yang sama, mereka membungkuk sambil melangkah mundur.


"Apa yang kau lakukan di sini Ernest? Keadaanmu sedang lemah tapi kenapa kau justru berjemur di bawah sinar matahari?" tanya ayahnya.


"Aku hanya ingin menikmati waktuku sebentar di taman ini, Ayahanda," jawab Alena.


"Tapi kau tidak boleh terlalu lama berjemur," ibunya melangkah mendekat, entah apa yang terjadi dengan Ernest tapi dia benar-benar tidak pernah seperti itu sebelumnya.


"Tidak apa-apa, Bunda. Fisikku sudah lebih baik beberapa hari belakangan."


"Benarkah? Apa itu berarti penyakitmu sudah pulih?" tanya ibunya.


"Tidak, Bunda. Tapi aku sudah terlalu banyak istirahat oleh sebab itu aku ingin berada di luar sesekali untuk menikmati sinar matahari, untuk menikmati kicauan burung dan menikmati indahnya bunga yang sedang bermekaran di pagi hari," ucap Ernest.


"Bunda sangat senang mendengarnya, Ernest. Sebagai seorang putri, kau memang harus menikmati waktumu dengan baik," ucap ibunya.


"Terima kasih, Bunda."


"Baiklah, duduk. Ada yang hendak ayahanda sampaikan padamu!" perintah ayahnya.


"Ernest akan mendengarkan apa pun yang hendak ayahanda sampaikan," ucap Alena.


"Dengar, sebentar lagi tanggal lima belas jadi kau tidak boleh pergi ke mana pun. Aku ingin kau di dalam kamarmu sepanjang hari dan sepanjang malam agar orang-orang yang menuduhmu itu melihat, jika kau tidak melakukan apa pun pada tanggal lima belas nanti!" perintah ayahnya.


"Benar, Ernest. Kau dikenal sebagai penyihir yang selalu melakukan ritual setiap tanggal lima belas jadi sebaiknya kau tidak keluar istana dan tunjukkan pada orang-orang itu jika bukan kau pelakunya."


"Perintah Ayahanda dan Bunda akan aku turuti tapi mengenai hal ini, aku harap hanya kita saja yang tahu," pinta Alena.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya ayahnya.


"Ini hanya permohonan kecil dari Ernest," Alena beranjak dan membungkuk, "Mohon ayahanda mengabulkan," pintanya lagi.


"Baiklah, kembalilah duduk. Sekarang katakan, kenapa kau tidak terlihat saat diperjamuan?" tanya ayahnya.


"Maafkan aku, Ayahanda. Aku kurang enak badan oleh sebab itu aku kembali ke kamar untuk beristirahat."


"Baiklah, hari ini kau belum minum obat. Segera buatkan obat untuk Ernest!" perintah ibu ratu pada pelayan kepercayaannya.


"Tidak, Bunda. Aku sudah baik-baik saja!" tolak Alena.


"Ernest, jangan menolak niat baik ibumu!"


Alena menunduk, celaka. Dia harap ada yang menolong saat obat itu datang agar dia tidak perlu meminumnya. Dia tidak mungkin membuang obat itu dihadapan raja dan ratu karena hal itu bisa menyinggung ibu ratu. Lucius yang sedari tadi memandangi dari jendela kamarnya semakin penasaran, sungguh dia sangat ingin tahu semua tentang putri kedua raja Leon yang terlihat misterius itu.


Lucius keluar dari kamarnya, tidak ada salahnya dia pergi ke taman, bukan? Mungkin raja Leon dan Ratu Hana memberinya kesempatan untuk berbicara berdua saja dengan Ernest. Mungkin dengan begitu dia bisa lebih mengenal putri misterius itu.


"Waktu yang sangat menyenangkan, Raja Leon," ucap Lucius saat dia sudah berada di taman.


Lucius melihat ke arah Alena sebelum menjawab, Alena melihat ke arahnya dan pada saat itu dia mendapatkan sebuah ide. Alena melangkah mendekati Lucius dan sedikit membungkuk. Yeah, dia akan memanfaatkan pangeran itu untuk menghindari obat yang dia berikan.


"Pangeran Lucius, aku tidak menyangka kau mau menerima undangan dariku," ucap Alena.


"Undangan?" Lucius menatap Alena dengan lekat.


"Apa kau mengundangnya untuk minum teh bersama, Ernest?" tanya ibunya.


"Ya, Bunda. Sebab itulah aku berada di sini untuk menunggunya," jawab Alena.


"Wah... kenapa kau tidak berterus terang sejak tadi? Pantas saja kau ada di luar."


"Maaf, Bunda. Aku malu mengatakannya," Alena pura-pura tersipu malu. Akting yang luar biasa. Lucius jadi semakin ingin tahu apa yang hendak dimainkan oleh putri penuh kejutan itu dan kenapa dia berbohong pada kedua orangtuanya.


"Jika begitu nikmatilah waktu kalian berdua. Kami akan pergi," ucap raja Leon.

__ADS_1


"Terima kasih, Ayahanda," ucap Alena seraya membungkuk.


"Jangan lupa habiskan obatnya, Ernest," ucap ibunya.


"Baik, Bunda."


Raja Leon dan Ratu Hana meninggalkan mereka berdua. Alena sangat lega, dengan demikian dia tidak perlu meneguk obat beracun itu. Semua berkat pangeran Lucius, dia harus berterima kasih serta meminta maaf padanya.


"Maafkan aku, pangeran. Aku tidak bermaksud menggunakan dirimu untuk berbohong," ucap Alena.


"Ada apa, Ernest. Pasti ada alasannya kau melakukan hal ini, bukan?"


"Tidak, aku hanya ingin menyendiri oleh sebab itu aku berbohong. Terima kasih sudah membantu aku," Alena membungkuk lalu melangkah mendekati kursi.


"Apa itu artinya kau sudah tidak menginginkan aku berada di sini?" Lucius melangkah mendekat, setelah memanfaatkan dirinya kini justru mengusirnya. Sungguh putri yang tidak berperasaan.


"Bukan begitu, Pangeran. Di sini hanya ada kita berdua dan aku dikenal sebagai penyihir. Jangan sampai citra baikmu tercoreng hanya karena kau duduk denganku jadi sebaiknya pangeran pergi dari sini," ucap Alena beralasan padahal dia tidak mau pangeran Lucius berada di sana dengannya.


"Aku tidak keberatan, Ernest!" Lucius duduk di hadapannya dan tersenyum. Alena menatap pangeran itu dengan tatapan curiga.


"Kenapa? Apalagi yang ingin kau katakan?" tanya Lucius. Melihat gerak geriknya, dia yakin ada yang disembunyikan oleh Ernest, yang dikenal seperti pecundang itu.


"Amy, tuangkan teh untuk yang Mulia pangeran!" perintah Alena sambil memberikan tatapan tidak senang pada pangeran Lucius. Insting agennya berkata, dia harus menjauhi pangeran itu.


"Kau terlihat tidak menyukai aku, Ernest"


"Maaf, Pangeran. Aku sudah terbiasa menyendiri jadi terasa sangat aneh jika tiba-tiba ada seseorang di dekatku!"


"Oh, ya?" Lucius mengambil tehnya mengikuti Alena yang juga mengambil tehnya. Alena menatap Lucius dengan tajam dari balik gelas tehnya.


"Bukankah kau bersikap demikian karena kau memiliki sebuah rahasia, Ernest?" tanya Lucius sengaja.


"Apa maksudmu, Pangeran?"


"Sepertinya kau tahu lebih dari pada aku!" gelas teh diangkat, senyum licik menghiasi wajah Lucius. Tatapan mata Alena semakin tajam, entah kenapa dia tidak suka dengan pangeran itu. Gelas teh di cengkeram dengan erat hingga retak tapi pangeran itu hanya memperlihatkan senyumannya.

__ADS_1


Amy dan Agnes terkejut, buru-buru mengganti gelas yang baru. Api permusuhan justru ditunjukkan oleh Alena pada pangeran Lucius. Jika tidak demi menghindari obat, dia tidak akan memanfaatkan pangeran itu dan sekarang, dia tidak suka terlibat dengannya.


__ADS_2