Rise Of The Queen Ernest

Rise Of The Queen Ernest
Hampir Ketahuan


__ADS_3

Kuda semakin dibawa dengan kecepatan tinggi, fajar sudah hampir menyingsing. Jika tidak cepat, maka mereka akan kesulitan masuk ke dalam istana. Agnes yang berada di dalam kamar tampak gelisah, dia harap sang putri segera kembali sebelum semua penghuni istana terjaga.


Istana sudah terlihat, Alena dan Amy semakin mempercepat laju kuda. Masyarakat yang keluar beraktifitas mempersulit mereka. Tidak ada yang boleh tahu oleh sebab itu mereka terpaksa mencari jalan lain. Lebih jauh tapi mereka terpaksa melakukannya walau mereka harus melewati sebuah desa pada akhirnya.


Agnes yang sudah menunggu semakin cemas apalagi penghuni istana sudah terjaga. Kabar jika Pangeran Lucius yang sudah dekat membuat seluruh istana sibuk bersiap-siap. Raja dan Ratu pun sibuk begitu juga dengan Putri Arabella yang sedang merendam dirinya dengan wewangian. Pria idamannya sudah akan tiba oleh sebab itu dia harus terlihat sempurna.


Seorang pelayan yang diutus oleh ibu ratu untuk membangunkan Ernest dan memintanya untuk bersiap-siap pergi ke kamar putri Ernest. Semangkok obat dari sang ratu pun dibawa. Agnes terkejut saat suara pintu diketuk dari luar sana. Agnes mulai panik, entah apa yang harus dia lakukan.


"Putri, ibu ratu meminta Tuan Putri untuk bergegas dan menghabiskan obat ini," ucap pelayan yang ada di luar sana.


Agnes yang sedang panik menutupi sesuatu dengan selimut agar sang putri terlihat masih tidur. Agnes yang sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian pelayan segera melangkah menuju pintu. Agnes menarik napas sejenak dan setelah itu, pintu pun dibuka.


"Ada apa?" tanya Agnes dengan pelan seolah-olah sang putri sedang tidur.


"Rombongan pangeran sudah hampir tiba, ibu ratu meminta sang putri untuk bersiap karena ibu ratu ingin putri menyambut kedatangan pangeran bersama dengannya," ucap pelayan yang diutus oleh ibu ratu.


"Aku akan segera membangunkan Putri Ernest," ucap Agnes.


"Bagus, ini obat untuk Tuan putri," obat pun diberikan pada Agnes.


"Terima kasih," Agnes menutup pintu dan melangkah masuk. Celaka, sungguh celaka karena putri Ernest belum juga kembali. Dia pun tidak bisa pergi membuat obat untuk putri karena dia tidak bisa meninggalkan kamar begitu cepat.


"Cepatlah kembali, Putri. Aku takut ketahuan," ucap Agnes. Dia kembali terlihat gelisah di dalam kamar.


Ernest dan Amy yang hendak melewati desa terakhir harus tertahan karena rombongan pangeran yang hendak lewat. Para warga berdiri di jalanan untuk melihat kedatangan sang pangeran, para gadis-gadis berbisik-bisik melihat ketampanan pangeran Lucius William.


Alena dan Amy berdiri agak jauh, mereka tidak menduga akan bertemu dengan penyelamat mereka tapi mereka tidak bisa menunjukkan wajah mereka karena para warga bisa mengenali mereka. Alena dan Amy hanya bisa menunduk dengan penutup kepala yang semakin ditarik ke bawah. Semoga iring-iringan para pangeran itu segera lewat karena mereka harus segera bergegas.

__ADS_1


Lucius melihat sekitar, desa yang damai tapi dia sudah mendengar desas desus akan adanya seorang penyihir di kerajaan itu. Dia juga sudah mendengar jika penyihir itu adalah salah satu putri raja Leon. Seorang putri yang lemah dan pecundang, dialah yang dikabarkan sebagai seorang penyihir.


Pasti berat bagi Raja Leon dan Ratu Hana, memiliki seorang putri yang tidak berguna dan disebut sebagai seorang penyihir. Lucius masih melihat kerumunan warga desa sampai akhirnya dia melihat dua gadis yang dia tolong saat di jalan tapi sayangnya, mereka berdua melangkah pergi sambil membawa kuda. Pertemuan kedua pun yang tak terduga, semoga saja mereka bertemu lagi untuk yang ketiga kalinya dan semoga mereka bisa berbincang dipertemuan berikutnya.


Alena mengajak Amy pergi, mereka harus mencari jalan lain agar cepat tiba di istana. Tidak ada waktu lagi, mereka harus sampai karena Alena curiga jika iring-iringan itu sedang menuju ke istana.  Alena dan Amy melewati rumah penduduk, tidak ada yang menyadari karena semua sibuk.


Kuda tidak dipacu kencang saat melewati rumah penduduk, mereka melewatinya dengan santai tapi setelah mereka keluar dari area pemukiman, kuda dipacu dengan kecepatan tinggi.


"Kita harus cepat sebelum pasukan itu tiba ke istana, Putri!" teriak Amy.


"Aku tahu, segera bergegas karena Agnes sudah menunggu!"


Lari kuda semakin cepat, Agnes yang menunggu tak hentinya berdoa agar sang putri cepat tiba. Setelah berkuda beberapa saat, kuda pun disembunyikan. Alena dan Amy masuk ke dalam melalui jalan rahasia. Seluruh pelayan sibuk, para penjaga berjaga ketat. Amy dan Alena hampir saja ketahuan tapi beruntungnya mereka menggunakan pakaian pelayan sehingga mereka tidak dicurigai.


Amy diperintahkan untuk mengintai karena mereka sudah akan kembali ke kamar, ibu ratu yang sudah selesai pun bergegas menuju kamar Ernest untuk melihat apakah putrinya sudah selesai atau tidak. Arabella yang sudah terlihat cantik luar biasa pun ikut serta, tentu itu bukan kabar baik untuk mereka oleh sebab itu Amy menghampiri Alena yang sedang bersembunyi.


"Oh, tidak!" sungguh celaka, Agnes belum tahu mereka sudah kembali, jangan sampai Agnes masih berpura-pura menjadi dirinya lalu ketahuan.


"Bagaimana ini?" tanya Amy. Dia terlihat begitu panik, mereka pasti ketahuan.


"Jangan panik, apa ada jalan pintas?" tanya Alena.


"Jendela, tapi itu tidak mudah," jawab Amy.


"Tunjukkan!"


Amy membawa sang putri menuju sebuah ruangan, dari sana terlihat jendela kamar putri Ernest yang berada satu lantai di atas ruangan di mana mereka berada saat ini. Jika ingin masuk tanpa ketahuan, hanya memanjati dinding istana saja yang bisa mereka lakukan. Alena memberikan pedang pada Amy, dia bisa melakukannya walau tanpa alat bantu karena dia pernah menjuarai panjang tebing. Lagi pula dinding itu dibuat dari bebatuan jadi bisa digunakan sebagai pegangan.

__ADS_1


"Apa yang mau Tuan Putri lakukan?" tanya Amy.


"Memanjat, kau bersikaplah seperti biasa dan pergilah ke kamar agar Agnes tahu jika aku akan masuk melalui jendela."


"Baik, putri," walau ragu dan tidak tahu apakah putri Ernest bisa melakukannya atau tidak tapi dia harus mempercayai kemampuan sang putri.


Alena melakukan aksinya, dia mulai memanjat dinding untuk mencapai kamarnya. Semoga saja tidak terlambat. Sang ratu dan Putri Arabella yang sedang menuju kamar Ernest berhenti sejenak untuk memerintahkan pelayan mengganti dekorasi. Amy melangkah cepat menuju kamar sang putri. Ratu melihatnya sebentar karena dia seorang diri jadi dia tidak dicurigai.


Jendela jadi tujuan pertama setelah dia masuk ke dalam kamar. Agnes sangat senang melihat kedatangannya tapi ke mana putri Ernest?


"Kenapa kau sendirian? Mana putri Ernest?" tanya Agnes.


"Stts.. bantu aku!" daun jendela dibuka, Amy melihat keluar dan mendapati sang putri sudah memanjat.


"Astaga, Putri," Agnes terkejut melihat apa yang putri mereka lakukan.


"Ibu ratu dan putri Arabella berada di luar jadi putri terpaksa melalui jendela."


"Ya, Tuhan. Bagaimana ini," Agnes tampak panik.


Alena memanjat dengan cepat, bebatuan yang tidak sejajar sangat menguntungkan dirinya. Dia sudah bagaikan kera yang berada di tempat sirkus, beruntungnya tidak ada yang melihat. Ibu ratu dan Putri Arabella kembali menuju kamar Ernest, mereka bahkan sudah dekat. Alena semakin cepat sampai akhirnya dia tiba di jendela kamar.


"Cepat, putri," Amy dan Agnes mengulurkan tangan untuk membantu.


Alena mengulurkan tangannya, Amy dan Agnes segera membantu sang putri untuk naik. Cukup aman meski itu adalah tindakan yang berbahaya apalagi untuk seorang putri.


"Ayo cepat, putri harus segera berendam!" Agnes dan Amy segera membantu sang putri untuk melepaskan pakaian.

__ADS_1


Mereka melakukannya dengan terburu-buru, Alena pun segera masuk ke dalam air dan pada saat itu pintu kamar terbuka dengan lebar. Ratu dan Putri Arabella masuk ke dalam, Alena dan kedua pelayannya bernapas dengan lega. Hampir saja ketahuan, beruntungnya mereka kembali tepat waktu tapi sayangnya obat dari sang ratu lupa disingkirkan oleh Agnes.


__ADS_2