Rise Of The Queen Ernest

Rise Of The Queen Ernest
Kemarahan Arabella


__ADS_3

Lucius kembali ke ruang pesta seorang diri, tentunya hal itu menjadi perbincangan hangat karena sang pangeran kembali dengan ekspresi lesu dan tidak bersemangat. Bisik-Bisik mulai terdengar, mereka membicarakan putri yang datang secara tiba-tiba dan pergi secara tiba-tiba pula tanpa ada yang melihat rupa aslinya.  Mereka beranggapan jika putri itu sangatlah berharga bagi pangeran Lucius oleh sebab itu pangeran terlihat sedih setelah kepergiaannya. Semua sangat ingin tahu, siapa sebenarnya putri yang sangat beruntung itu?


Arabella mencengkeram sapu tangan dengan erat, dia benar-benar dipermalukan oleh putri asing yang tiba-tiba saja datang. Sekarang, bagaimana dia bisa kembali ke istana? Semua pasti akan mencibir dirinya lalu menertawakan dirinya akibat kejadian tidak menyenangkan itu.


Jepit rambut yang diberikan oleh pangeran Lucius dilepaskan, Arabella melihat benda itu dengan amarah tertahan. Seharusnya dia tahu, bukan dia yang dipilih oleh pangeran karena Lucius tidak menjawab pertanyaannya waktu itu. Semua yang terjadi juga akibat dirinya yang terlalu percaya diri. Arabella pergi melewati kerumunan yang masih berbisik namun tidak ada satu pun yang berani membicarakan dirinya secara terang-terangan. Jepit rambut yang diberikan oleh Pangeran Lucius bahkan dibuang setelah Arabella berada di luar.


Raja James dan ratu Eliza menghampiri sang pangeran yang kembali dengan ekspresi sedih. Mereka berdua ingin tahu siapa putri yang baru saja berdansa dengan pangeran dan kenapa putri itu justru pergi dari pesta.


"Siapa dia, Lucius?" tanya ibu ratu.


"Aku tidak mengenalnya, Bunda," dusta Lucius.


"Kau tidak mengenalnya tapi kenapa kau mengajaknya berdansa?" tanya ayahnya.


"Aku hanya merasa tertarik dengannya, Ayahanda."


"Jika begitu kenapa kau tidak menanyakan padanya dari kerajaan mana dia datang dan kenapa kau tidak mencegahnya pergi, Lucius?"


"Aku sudah berusaha, Bunda," Lucius melihat kalung berlian merah yang ada di tangan. Dulu dia tidak mau Ernest hadir ke dalam istananya akibat isu buruk tentang dirinya bahkan dia yakin, seluruh istana pasti akan menolaknya tapi malam ini, kepergian Ernest justru telah membawa separuh jiwanya pergi.


"Apa itu miliknya?" tanya ibunya lagi.


"Benda ini memang miliknya, Bunda."

__ADS_1


"Kenapa dia meninggalkan benda itu padamu? Apa dia ingin kau menemukan dirinya melalui benda itu?" tanya ayahnya.


"Aku tidak tahu, tapi aku akan menyimpan benda ini dengan baik. Tolong Ayahanda dan Bunda mengambil alih pesta ini," pinta Lucius.


"Pergilah, serahkan semuanya pada kami."


"Terima kasih, Bunda," Lucius berlalu pergi, dia akan menyimpan kalung itu baik-baik lalu memberikannya pada Ernest di saat Ernest sudah merasa pantas.


Pesta kembali berjalan seperti semula meski tanpa bintang utama. Pesta itu bahkan berjalan dengan meriah karena para putri dan pangeran yang diundang bersenang-senang di pesta itu tapi tidak pada seorang putri yang telah pergi terlebih dahulu dengan perasaan marah dan kesal.


Arabella kembali ke penginapan, Isabel terkejut melihat kepulangan sang putri yang begitu cepat. Arabella bahkan kembali dengan air mata berderai, kesal dan malu campur aduk menjadi satu.


"Apa yang terjadi padamu, Putri?" tanya Isabel.


"Apa yang terjadi? Apa telah terjadi sesuatu di istana?" tanya sang pelayan.


"Kembali sekarang juga, Isabel. Aku tidak mau di negeri ini terlalu lama!"


"Maksud putri?"


"Aku malu, Isabel, sangat malu. Pangeran Lucius tidak mengajak aku berdansa, dia bahkan tidak berbasa basi sama sekali dan memberikan aku muka untuk hal itu. Dia justru berdansa dengan putri asing yang datang kemudian."


"Apa? Tidak mungkin. Jika bukan putri yang diajak berdansa, lalu siapa? Tidak mungkin putri Ernest, bukan? Dia tidak datang ke acara pesta dansa."

__ADS_1


"Tidak, aku rasa bukan dia. Ayo kita segera kembali ke istana!" Arabella melepaskan perhiasan yang dia kenakan sambil memandangi dirinya di depan cermin. Apakah dia kurang cantik? Apakah gadis yang berdansa dengan pangeran Lucius lebih cantik dan lebih muda dari pada dirinya? Jika memang demikian, dia harus semakin mempercantik dirinya. tidak ada yang boleh menyaingi dirinya dan akan dia tunjukkan siapa ratu Kent Arsia yang sebenarnya.


"Di mana jepit rambutmu, Putri?" tanya Isabel karena dia tidak melihat jepit rambut yang sangat disayangi oleh putri Arabella.


"Aku tidak membutuhkannya lagi, Isabel. Itu benar-benar cindera mata biasa yang tidak memiliki makna apa pun. Aku yang telah salah menilai jadi aku telah membuangnya."


"Pangeran Lucius sungguh keterlaluan!" Isabel tampak kesal, dia tidak terima sang putri mengalami hal seperti itu padahal pangeran Lucius sudah disambut dengan baik selama di Kent Arsia tapi apa balasan yang dia berikan? Tidak seharusnya putri Arabella diperlakukan seperti itu.


"Cepat, Isabel!" teriak Arabella yang sudah tidak tahan berada di tempat itu. Sebaiknya dia segera pulang agar tidak semakin mempermalukan dirinya. Setidaknya dia harus menyelamatkan harga diri yang dia miliki akibat penolakan itu dengan segera kembali ke istana.


Isabel bergegas membereskan barang-barang sang putri dan mengambilkan pakaian yang akan putri Arabella kenalan karena putri Arabella tidak mungkin kembali dengan gaun mewahnya. Arabella melepaskan gaun itu dan melemparnya, sia-sia dia berpenampilan sempurna karena sebentar lagi akan ada cibiran untuk penampilannya dan kejadian memalukan yang dia alami.


Setelah semua siap, Arabella dan Isabel bergegas kembali ke istana. Semoga saja Ernest tidak menertawakan apa yang terjadi karena dia sudah berkata pada adiknya jika pangeran akan mengajaknya berdansa. Dia rasa berita itu akan tersebar besok pagi dari mulut ke mulut apalagi ada beberapa putri pejabat dan menteri yang hadir.


"Aku tidak terima penghinaan ini, pangeran. Aku tidak terima dengan penghinaan yang kau berikan padaku!" ucap Arabella saat kereta kuda membawanya pergi dari kerajaan Kenneth.


Setelah tiba dia akan mencari adiknya pertama kali karena dia ingin menumpahkan kekesalan yang dia rasakan dan dia harap Ernest tidak menertawakan dirinya tapi bagaimana jika saat dia kembali dia tidak mendapati keberadaan Ernest?


Alena dan Amy yang sudah berganti pakaian langsung pergi ke desa Westtrink. Mereka sudah berkuda cukup jauh namun mereka butuh istirahat karena lelah apalagi hujan mengguyur dengan lebat. Sebuah gua batu menjadi tempat untuk mereka berlindung. Api unggun sudah menyala untuk menghangatkan tubuh mereka berdua.


Amy berbaring di depan api unggun sedangkan Alena justru tidak bisa memejamkan matanya sama sekali. Dia lebih memilih duduk di depan api unggun dan tampak termenung. Apa yang baru saja dia lakukan? Padahal dia datang ke pesta itu untuk melakukan pertemuan terakhir pada pangeran Lucius dan tidak mau bertemu dengan pria itu tapi kenapa dia justru mengatakan pada pangeran Lucius ke mana dia akan pergi dan yang paling tidak dia mengerti adalah, kenapa dia mencium pangeran Lucius.


Dia benar-benar sudah membuat masalah. Apa dia lupa dengan kakaknya yang menyukai pangeran Lucius? Dia juga melupakan tujuan awalnya yaitu melakukan pertemuan terakhir karena kakaknya menyukai pria itu. Sekarang, dia justru memperkeruh suasana. Tidak hanya itu saja, dia merasa ada sesuatu yang salah pada dirinya. Sesuatu bergejolak di dalam hati saat bersama dengan pangeran Lucius. Sesuatu yang tidak dia mengerti dan dia pun ingin tahu, perasaan yang sedang dia rasakan saat bersama dengan pria itu sesungguhnya milik siapa? Apakah perasaan itu milik Ernest ataukah perasaan itu miliknya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2