
Malam pun datang, Lucius dan Bastian sedang menyamar menjadi seorang pengawal. Mereka merubah diri mereka seperti orang asing agar tidak ada yang mengenali mereka selama di dalam istana Kent Arsia. Mereka akan berpura-pura menjadi ksatria yang tanpa sengaja dibantu oleh Ernest dan memutuskan untuk membalas budi dengan cara mengikuti Ernest.
Lucius sudah terlihat berbeda, begitu juga dengan Bastian. Meski Bastian tidak akan menunjukkan diri dan akan menjadi pengawal bayangan yang menjaga dari tempat tersembunyi tapi dia tetap harus menyamar. Itu adalah pilihan paling tepat agar dia bisa menjaga Ernest.
Posisi mereka juga sudah tidak jauh dari istana, mereka menunggu malam semakin larut di mana penjagaan sudah tidak terlalu ketat dan pada saay itulah mereka akan masuk ke dalam istana.
"Bagaimana dengan penampilanku, Ernest? Apa kau masih bisa mengenali aku?" tanya Lucius.
"Malam begitu gelap, Pangeran. Melihat alismu saja aku sulit!"
Lucius terkekeh dan menarik Alena mendekat. Seperti biasa, sikap yang dingin dan apa adanya tapi itulah yang dia sukai.
"Sekarang, apa kau sudah bisa melihat rupaku dengan baik?" tanya Lucius.
"Penyamaranmu sangat sempurna, pangeran. Prajurit istana sekarang terlihat lebih tampan dari pada dirimu."
"Terima kasih atas pujiannya, Ernest. Tapi ingat, jangan memanggil aku pangeran tapi panggil aku Derrek," ucap Lucius.
"Itu hal mudah, Derrek. Tapi kita sudah harus kembali ke istana," memang sudah waktunya untuk kembali sebelum jam jaga diganti.
Mereka segera menyelinap masuk melalui jalan rahasia. Amy berjalan di depan setelah itu Lucius dan disusul oleh Alena. Bastian juga mengikuti tapi mereka tidak akan mengikuti Ernest sampai ke kamarnya. Amy mengantar Lucius dan Bastian ke sebuah ruangan yang bisa mereka tempati malam itu. Besok, Ernest berencana memperkenalkan mereka pada raja dan ratu sebagai pengawalnya.
Selagi Amy mengantar mereka, Alena kembali ke kamarnya seorang diri. Agnes sudah tertidur saat Alena masuk ke dalam kamar. Alena masuk secara mengendap dan ketika pintu tertutup, Agnes terkejut dan mengambil pisau yang selalu dia sembunyikan.
"Siapa di sana?" tanya Agnes.
"Ini aku, Agnes!"
"Putri, kaukah itu?" Agnes mengambil sebuah pelita dan melangkah mendekati Alena.
__ADS_1
"Yeah, ini memang aku!"
"Tuan Putri, aku sangat senang kau telah kembali!" Agnes memeluknya dan menangis.
"Aku sungguh mengkhawatirkan dirimu, Putri. Aku takut kau tidak akan kembali lagi."
"Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku. Aku pasti kembali, aku justru mengkhawatirkan keadaanmu yang ada di sini."
"Aku baik-baik saja tapi mana Amy, kenapa dia tidak kembali bersama denganmu?"
"Dia sedang menyimpan barang, nanti dia akan menyusul," Alena memperhatikan ekspresi wajah Agnes saat dia mengatakan hal itu. Sang pelayan tampak diam, seperti memikirkan sesuatu tapi tidak lama karena Agnes sudah terlihat tersenyum.
"Aku senang putri dan Amy bisa kembali dengan selamat. Sekarang katakan padaku, apa tuan Putri hendak minum sesuatu?"
"Tentu saja, buatkan aku sesuatu yang hangat!"
"Baik, putri," Agnes membantu Alena melepaskan jubahnya terlebih dahulu dan menyiapkan air untuk mencuci wajah. Alena memperhatikan gerak gerik Agnes dengan serius, sikap sang pelayan memang biasa saja dan tidak terlihat mencurigakan sama sekali.
"Bagaimana dengan perjalanan kalian?" tanya Agnes pada Amy.
"Cukup menyenangkan," jawab Agnes. Tatapan mata Agnes tidak lepas dari barang-barang yang Amy bawa dan dia terlihat mencurigakan. Amy mengeluarkan sesuatu, itu adalah makanan ringan yang dia beli dari desa tetangga.
"Ini untukmu, Agnes. Aku membelinya dari desa tetangga," ucap Amy.
"Terima kasih, kalian sudah kembali saja sudah membuat aku senang!"
"Amy, simpan barang-barang itu sebaik mungkin. Jangan sampai ada yang tahu!" perintah Alena.
"Baik, Putri!" Amy mengambil barang-barang yang dia letakkan tadi untuk menyimpannya ke tempat aman sesuai dengan perintah. Agnes memperhatikan, Alena pun memperhatikan.
__ADS_1
"Agnes, pijatkan kakiku sebentar," pinta Alena. Dia melakukan hal itu untuk mengalihkan perhatian.
"Baik, Putri," Agnes mendekati Alena yang sudah berbaring di atas ranjang. Seperti yang dia duga, seluruh istana pasti akan berubah saat dia kembali. Mungkin kakaknya juga akan berubah, mungkin raja dan ratu pun akan berubah dan dia akan mengetahuinya besok.
Agnes memijatkan kaki sang putri, tidak ada sikap mencurigakan yang dia tunjukkan. Alena pun berbicara seperti biasanya. Malam itu ternyata ada yang mengawasi mereka dari tempat tersembunyi tentunya itu mata-mata sang ratu yang selalu diperintahkan untuk mengawasi di dekat kamar Ernest.
Meski sudah larut, mata-mata itu pergi untuk melaporkan jika putri Ernest sudah kembali pada sang ratu karena dia memang sudah mendapatkan perintah untuk segera melapor jika melihat Ernest dan Amy sudah kembali. Sang ratu yang sedang tidur jadi terbangun saat sang mata-mata datang untuk membawakan berita untuknya.
"Maaf mengganggu waktu istirahatmu, Ratu," sang mata-mata berada cukup jauh karena wanita yang dipanggil ratu itu sedang memakai gaun tipis dengan seorang pria yang tidur di sisinya.
"Berita apa yang kau bawakan untukku?"
"Putri Ernest dan pelayannya sudah kembali!" lapor sang mata-mata yang sesungguhnya adalah pemanah waktu itu.
"Bagus, apa kau melihat barang-barang yang mereka bawa? Apakah kotak itu ada pada mereka?"
"Tentu saja, Ratu. Kotak itu ada bersama dengan mereka. Apa kau ingin aku yang mengambil kotak itu?"
"Tidak perlu, kau tidak perlu turun tangan karena ada yang akan mengambilnya. Kau cukup awasi saja apakah dia melakukan tugasnya atau tidak dan jika tidak, bunuh tanpa ragu sebelum dia menjadi duri dalam daging bagiku!"
"Baik, Ratu!" setelah mendapatkan perintah, mata-mata itu menghilang dalam sekejap mata karena dia ingin melakukan tugasnya.
Wanita yang dipanggil ratu itu pun tampak puas, benda itu pasti akan dia dapatkan malam ini dan rahasianya akan tetap aman.
Mata-Mata yang di utus sudah kembali mengintai di mana putri Ernest sudah mau tidur. Amy dan Agnes pun sudah hendak tidur. Bagus, kotak itu pasti akan didapatkan sebentar lagi.
"Apa terjadi sesuatu padamu selama di istana, Agnes?" tanya Amy.
"Tidak, tidak terjadi apa pun. Aku baik-baik saja, sebaiknya kau beristirahat. Kau pasti lelah jadi beristirahatlah!" ucap Agnes.
__ADS_1
"Aku sangat senang kau baik-baik saja!" Amy memeluknya, dia benar-benar lega tidak terjadi hal buruk pada Agnes.
Amy tertidur dengan cepat, begitu juga dengan Alena karena mereka sangat lelah. Agnes yang terjaga sedari tadi pun beranjak dengan hati-hati karena dia hendak melakukan aksinya. Amy tidak menyadari, Agnes sudah bergerak ke tempat tujuan. Dia harus mendapatkan apa yang diperintahkan dan dia terpaksa melakukannya. Sebuah kotak sudah ada di depan mata, akhirnya benda itu dia dapatkan tanpa susah payah dan mata-mata yang mengintai sangat puas.