
Setelah kejadian itu, isu semakin kencang berhembus tapi tidak ada yang berani membicarakannya secara terang-terangan apalagi di hadapan raja dan ratu. Semua membicarakan hal itu secara berbisik-bisik bahkan mereka mulai membuat persepsi sendiri apalagi jika melihat Alena, putri yang mereka anggap sebagai sumber bencana di kerajaan mereka.
Alena merasa sudah biasa, bagaikan angin yang berhembus setiap kali dia melangkah, seperti itulah isu buruk tentang dirinya. Dia tidak peduli tapi akibat isu itu Alena mencari tempat yang nyaman untuk beristirahat saat siang. Sebuah pohon besar menjadi tempatnya untuk menenangkan diri, tentunya Alena pergi dengan kedua pelayannya agar tidak ada yang salah sangka dengan apa yang dia lakukan.
Padang rumput yang cukup luas terbentang indah, angin sejuk berhembus membuat siang yang panas menjadi sedikit menyegarkan. Alena sedang berbaring di bawah pohon, sedangkan Amy dan Agnes duduk di sisinya untuk menikmati semilir angin yang sedang berhembus pula. Sudah lama tidak melakukan hal itu, udara jaman kuno lebih menyegarkan dari pada di kota yang penuh polusi.
"Putri, apa kau akan pergi menemui pangeran nanti malam?" tanya Amy yang sudah melihat surat dari pangeran Lucius secara diam-diam.
"Dari mana kau tahu?" tanya Alena.
"Maaf, aku melihatnya tanpa sengaja," jawab Amy.
"Jadi burung itu menyampaikan pesan dari pangeran Lucius?" tanya Agnes.
"Tanpa sengaja aku melihatnya karena putri menaruhnya dengan sembarangan!"
"Wah, apa yang pangeran katakan?" Agnes penasaran dan ingin tahu.
"Pangeran ingin menemui putri nanti malam, sepertinya ada yang hendak dia sampaikan pada putri," jawab Amy.
Alena tampak berpikir, apa yang diucapkan oleh Amy bisa saja benar. Sepertinya memang ada yang hendak di sampaikan oleh Pangeran Lucius tapi sesungguhnya ada yang hendak dia sampaikan pula pada pangeran. Dia ingin menyampaikan jika dia tidak bisa datang ke acara pesta dansa nanti tapi jika melihat situasi yang sedang tidak memungkinkan, bukanlah pilihan bijak keluar secara sembunyi-sembunyi saat malam.
"Bagaimana, Putri? Apa kau akan pergi?" tanya Amy.
"Stts!" Alena beranjak dan melihat sekitar, dia merasa ada yang mengawasi mereka sedari tadi. Amy dan Agnes saling pandang lalu melihat ke arah di mana pandangan Alena tertuju.
"Putri?" Amy dan Agnes sangat heran.
"Ada yang mengawasi, berhati-hatilah dalam berbicara!" bisik Alena dengan pelan.
"Apa?"
__ADS_1
"Bersikaplah seperti biasa," Alena kembali berbaring, bagus. Akhirnya ada yang memata-matai dirinya dan sekarang dia tidak bisa bergerak sembarangan dan asal bicara lagi. Siapa yang mengutus mata-mata itu? Apakah dari musuh ataukah yang sedang mengintainya saat ini justru pengawal bayangan yang dikirimkan oleh raja Leon untuknya. Apa pun itu yang pasti dia tidak bisa bergerak dengan bebas lagi lalu bagaimana dia bisa menemui pangeran nanti malam? Dia harus mencari cara untuk melakukan hal itu tanpa ada yang tahu.
Amy dan Agnes sudah tidak sembarangan berbicara lagi. Agar tidak dicurigai, mereka berbicara tentang beberapa putra pejabat yang tampan sambil tertawa. Alena pun tidak buru-buru pergi, dia ingin seperti itu sebentar agar tidak dicurigai. Mereka bahkan kembali saat matahari hendak terbenam.
Ratu sudah menunggu putrinya dengan cemas di dalam kamar, dia sudah berada di sana sedari tadi untuk menunggu Ernest dan setelah Ernest kembali, dia terkejut mendapati ibunya berada di dalam kamar.
"Bunda?" Alena terkejut mendapati sang ibu.
"Dari mana saja kau, Ernest? Kenapa baru kembali?" tanya ibunya.
"Ernest baru saja pergi jalan-jalan dengan Amy dan Agnes, Bunda."
"Baiklah, tapi lain kali jangan terlalu lama karena bisa saja ada bahaya di luar sana yang mengintai dirimu. Jangan sampai terjadi sesuatu padamu di luar pengawasan kami."
"Baik, Bunda. Aku hanya ingin menikmati waktuku saja. Di istana terasa begitu panas jadi aku ingin menikmati waktu santaiku di luar agar tidak terlalu panas," ucap Alena. Yang dia maksud bukan panas cuaca tapi isu mengenai dirinya yang semakin panas.
"Baiklah, Bunda mengerti. Kemarilah, Bunda ingin melihat keadaanmu," pinta ibunya.
"Bunda sangat mengkhawatirkan keadaanmu jadi jangan pergi ke mana pun apalagi ke tempat yang jauh. Kau mengerti?"
"Aku mengerti, Bunda. Aku akan menjaga diriku dan tidak akan mempersulit Bunda dan Ayahanda."
"Aku lebih tenang menengarnya, pergilah mandi karena sebentar lagi kita akan makan bersama."
"Baik," jawab Alena.
Ibu ratu keluar dari kamar putrinya, dia sudah melihat keadaan Ernest jadi dia sudah merasa puas. Amy dan Agnes bergegas menghampiri sang putri, apa setelah berada di dalam kamar akan ada yang mengawasi mereka?
Alena melangkah menuju jendela dan berdiri di sana. Beruntungnya kamarnya tinggi sehingga mata-mata tidak mudah untuk mencuri dengar apa yang mereka ucapkan dari jendela. Tapi meski begitu, dia harus tetap berhati-hati pada orang yang sedari tadi mengikuti mereka.
"Bagaimana putri, apa ibu ratu yang mengirim mata-mata itu untuk mengawasi putri?" tanya Ernest.
__ADS_1
"Itu bisa saja terjadi dan bisa saja tidak. Sekarang aku butuh bantuan kalian berdua!" Alena melangkah menuju pena dan kertas berada, dia menuliskan sesuatu dan setelah itu Alena memberikannya pada Amy.
"Sekarang bantu aku mandi, aku sudah harus pergi makan bersama."
"Baik, Putri," jawab Amy dan Agnes.
Air hangat segera disiapkan, Alena melepaskan bajunya dan segera masuk ke dalam bak mandi untuk berendam. Air hangat yang nyaman. Semoga nanti malam tidak ada yang tahu apa yang dia rencanakan karena dia tidak mungkin membiarkan pangeran Lucius menunggunggunya apalagi pria itu datang hanya untuk menemui dirinya.
Setelah selesai mandi, Amy menemani Alena menuju ruang makan di mana raja dan ratu sudah berada di sana begitu juga dengan Arabella. Alena memberi hormat pada mereka sebelum bergabung dengan mereka.
"Sebentar lagi kalian akan berangkat ke kerajaan Kenneth untuk menghadiri pesta dansa, apa kalian sudah bersiap-siap?" tanya ibu ratu.
"Tentu saja sudah, Bunda," jawab Arabella karena dia yang paling tidak sabar untuk pergi ke acara pesta dansa tersebut apalagi dia sudah begitu merindukan Pangeran Lucius.
"Bagaimana denganmu, Ernest? Apa kau sudah bersiap-siap?" tanya raja Leon.
"Tentu saja sudah, Ayahanda. Tapi aku belum memutuskan harus pergi atau tidak," jawab Alena.
"Kenapa? Tidak baik jika kau tidak pergi," ucap Arabella.
"Aku tidak yakin, Kakak. Situasi tidak baik, aku takut mengacaukan pesta itu dan aku takut aku tidak diterima di istana Kenneth. Jangan sampai aku mencelakai dirimu jadi aku rasa lebih baik aku tidak pergi."
"Jangan begitu, ini pesta yang tidak akan terulang lagi jadi pikirkanlah lagi. Ayahanda pasti memberikan pengawalan ketat untuk kita jadi sebaiknya kau pergi denganku," ucap kakaknya.
"Yang kakakmu katakan benar, Ernest. Pergilah dengan kakakmu," ucap ibu ratu.
"Akan aku pikirkan lagi, Bunda," jawab Alena.
"Baiklah, ayo kita nikmati hidangannya," ajak sang ibu.
Makanan yang sudah terhidang pun dinikmati, layaknya keluarga pada umumnya mereka pun berbincang sambil menikmati hidangan. Waktu bahkan berputar dengan cepat, mereka kembali ke kamar mereka setelah mereka selesai makan. Alena yang memiliki rencana dengan kedua pelayannya sedang menunggu, menunggu waktu tiba dan ketika saatnya untuk pergi menemui Pangeran Lucius mereka menyadari jika mata-mata yang sedari tadi mengintai mereka, tetap berada di sekitar mereka.
__ADS_1