Rise Of The Queen Ernest

Rise Of The Queen Ernest
Sang Agen Yang Mulai Bertindak


__ADS_3

Para pelayan dan juga prajurit menyingkir saat Alena melangkah menuju tendanya. Pangeran Lucius melangkah di depan Alena dengan pedang masih berada di tangan, sedangkan para anak buahnya melindungi Alena dari sisi kiri dan kanan.


Raja Leon dan Putri Hana tampak puas karena Pangeran Lucius membantu. Mereka pun mengikuti putri mereka menuju tenda karena mereka ingin melihat apa yang hendak dilakukan oleh Ernest. Arabella pun mengikuti, begitu juga dengan para pejabat dan menteri juga orang-orang yang menuduh putri Ernest. Mereka pun ingin tahu apa yang hendak dilakukan oleh putri Ernest.


Raja dan ratu terkejut melihat mayat yang ada di dalam tenda, juga beberapa benda lainnya tapi tidak dengan Ernest. Dia memang sudah memperkirakan ada jebakan tapi dia tidak menduga musuh akan melakukan hal sejauh itu. Beruntungnya dia telah mengambil sebuah tindakan sebelum semua itu terjadi.


Ernest tidak berada di dalam tendanya saat acara selesai. Dia memang kembali tapi dia keluar lagi secara diam-diam bahkan Amy dan Agnes tidak tahu tapi sebelum itu, dia menyimpan sesuatu di atas tempat tidurnya sehingga yang masuk ke dalam tenda mengira dia sedang tidur.


Mayat yang tergeletak begitu saja, gaunnya yang kotor oleh darah dan jantung korban yang seperti dirobek menggunakan benda tajam seolah-olah habis dimakan tapi semua rekayasa itu dapat dia lihat. Alena memeriksa setiap barang bukti dengan teliti tapi dia tidak menyentuhnya. Pangeran Lucius sangat ingin tahu apa yang sedang dilakukan oleh Alena begitu juga dengan raja dan ratu. Arabella pun sangat ingin tahu, apa yang hendak adiknya lakukan dan bagaimana Ernest bisa membuktikan jika dia tidak bersalah.


"Lihatlah, semua gara-gara kau, Putri!" seorang pelayan kembali menuduh.


"Aku sedang memeriksanya, apa kau tidak bisa diam?!" Alena melotot ke arah pelayan itu.


"Tutup mulutmu, biarkan Ernest melakukannya!" ucap raja Leon.


"Maaf yang mulia," pelayan itu menunduk namun dia mengumpat dalam hati.


"Ernest, kemarilah. Biarkan kami memerintahkan seseorang yang ahli dalam hal ini untuk memeriksanya!" ucap ibu ratu.


"Tidak, Bunda. Aku sudah menduga hal ini akan terjadi," jawab Alena.


"Apa maksud ucapanmu?" tanya ibu ratu tidak mengerti.


"Aku sudah menebak jika musuh akan membuat sebuah perangkap untukku tapi aku tidak menduga inilah yang musuh siapkan agar aku dihakimi dan dibunuh sebagai seorang penyihir!" ucap Alena.


"Apa maksud dari ucapanmu, Ernest?" Lucius menyarungkan pedangnya dan setelah itu dia melangkah mendekati Ernest.

__ADS_1


"Siasat musuh sungguh bagus, Pangeran. Tapi sayangnya musuh kurang perhitungan."


"Apa kau tahu sesuatu, Ernest?" tanya raja Leon.


"Aku hanya tahu sedikit, Ayahanda. Tapi kalian berdua tahu, jika aku bersama dengan kalian sejak semalam!" ucap Alena, tatapan matanya tertuju pada orang-orang yang menuduhnya. Ya, Alena memang bersama dengan yang mulia ratu dan raja. Dia berpura-pura lemah akibat racun yang dia konsumsi dan berkata ingin bersama dengan ibunya untuk malam itu saja.


Tentunya dia melakukan hal itu untuk menghindari sesuatu yang tidak dia inginkan. Jika dia bersama dengan raja dan ratu maka dia akan aman. Karena melihat keadaan Ernest yang tidak baik-baik saja, ratu dan raja pun mengijinkan Ernest berada di dalam tenda mereka oleh sebab itu raja Leon dan ratu Hana tahu jika putri mereka tidak melakukan seperti yang dituduhkan kepadanya.


"Kau memang bersama dengan kami, Ernest. kami tahu itu oleh sebab itu kami tahu kau tidak melakukan perbuatan keji itu. kemarilah, biarkan orang istana yang mencari pelakunya," ucap ibunya lagi.


"Tidak, Bunda. Aku akan menunjukkan pada mereka jika aku tidak melakukannya jadi buka mata kalian baik-baik!" Alana melangkah menuju mayat wanita yang tergeletak tidak jauh dari tempat tidurnya.


"Jika aku yang membunuhnya, aku tidak mungkin begitu bodoh meninggalkan mayat itu di sini dan jika aku yang memakan jatungnya," kini dia melangkah menuju jantung yang tersisa setengah, "Aku juga tidak akan meninggalkannya. Aku akan memakan semuanya tanpa sisa lalu gaun itu?" Kini dia melangkah menuju gaun yang ada tidak jauh dari mayat, "Apa aku orang bodoh yang akan melepaskan gaun ini lalu pergi? Jika aku yang melakukan maka aku sudah membuang gaun ini karena aku tidak kekurangan gaun dan untuk dua benda itu? Kalian tidak perlu penjelasan dariku karena aku juga tidak bodoh meninggalkan barang-barang yang aku gunakan untuk membunuh!" jelas Alena.


Raja Leon dan Ratu Hana saling pandang, dapat dari mana putri mereka kemampuan seperti itu? Selama ini Ernest hanya menangis saja dan ketakutan tapi hari ini, mereka justru melihat Ernest yang berbeda. Pangeran Lucius yang mendengar saja tidak mempercayai analisa yang dibuat oleh Ernest, dia memang tahu ada yang janggal tapi dia tidak menduga Ernest bisa membaca semuanya dengan begitu mudah.


"Jika begitu," Alena melangkah menuju sisi tenda, di mana waktu dia tiba dia sudah memeriksa tempat itu.


"Apa ada yang bisa menjelaskan padaku lubang apa ini?" Alena berjongkok dan mengangkat sesuatu yang menutupi lubang. Semua terkejut, Raja dan Ratu melangkah mendekati putrinya yang berdiri di sebuah lubang yang cukup besar bahkan lubang itu bisa dilewati oleh satu orang.


"Lubang dari mana ini?" teriak raja Leon murka.


"Lubang itu sudah ada, Ayahanda," jawab Alena.


"Siapa yang membuat tenda ini!" teriak raja Leon lagi.


Tidak ada yang menjawab, semua menunduk dan terlihat takut. Tentunya mata-mata musuh sangat kesal karena putri Ernest bisa mengetahui lubang tersebut dan sepertinya, rencana mereka untuk menyingkirkan Ernest akan gagal. Ernest yang tidak memiliki kepintaran seperti itu, kenapa mendadak jadi pintar?"

__ADS_1


"Apa perlu aku jelaskan bagaimana mayat itu bisa masuk ke dalam tendaku tanpa ada yang tahu?" tanya Alena lagi dan tentunya semua orang yang menuduhnya menjadi bungkam.


"Ini benar-benar siasat keji, beraninya memfitnah putriku seperti ini sehingga dia dituduh sebagai penyihir agar dia dihakimi?" Raja Leon sudah terlihat murka.


"Ini masalah serius, semua orang yang telah menuduh putri Ernest hari ini akan dihukum pancung dan jika ada yang menyebarkan hal ini keluar, seluruh keluarganya akan mati!" ucap Ratu Hana. Apa yang terjadi jadi benar-benar merupakan kejahatan besar dan mereka tidak boleh diam.


"Tolong ampuni kamu ratu!" beberapa pelayan dan prajurit yang menuduh sang putri berlutut ketakutan.


"Bawa mereka dan pancung!" perintah raja Leon.


Para prajurit segera bertindak, membawa orang-orang yang menuduh putri Ernest serta provokator yang memulai kerusuhan pun ditangkap untuk dibawa pergi dan mendapatkan hukuman pancung. Teriakan permohonan mereka terdengar, mereka pun ditarik keluar dari tenda. Tidak ada yang luput dari kemarahan raja Leon dan ratu Hana, para pejabat dan menteri tidak ada yang berani bersuara, salah-salah kepala mereka yang akan melayang.


Alena yang masih berdiri di sisi tenda seperti mencari sesuatu. Ada yang menyusup tapi tidak ada yang tahu bahkan mereka semua tidur dengan pulasnya. Pasti ada yang salah dan menurut dugaannya saat ini adalah, mereka diberi obat bius.  Alena meraba tenda, cukup lama dia melakukan hal itu sampai akhirnya dia menemukan sebuah lubang kecil di tenda. Seperti dugaannya, obat bius. Itu menjawab kenapa mereka tidak tahu apa pun.


"Ernest, apa kau baik-baik saja," tanya ibunya.


"Terima kasih Bunda dan Ayahanda sudah menegakkan keadilan untukku. Sekarang aku tahu kenapa kita semua tidak mengetahui adanya tindak kejahatan," ucap Alena.


"Apa maksud perkataanmu?"


"Obat bius, kita semua pasti diberi obat bius sehingga kita semua tertidur dengan pulas."


Untuk kesekian kali, lagi-lagi mereka semua terkejut dan raja Leon begitu murka. Putri Ernest yang ada di hadapan mereka saat ini, tidak sama dengan putri Ernest yang biasanya. Dia lebih tenang, dapat menguak apa yang terjadi dengan mudah bahkan Ernest yang saat ini berada di hadapan mereka benar-benar berbeda.


"Aku ingin semua yang terjadi diusut dengan benar dan temukan pelaku yang telah membuat siasat keji seperti ini untuk menjebak putriku!" perintah raja Leon.


Seorang menteri mengangguk dan melangkah pergi, untuk melakukan perintah raja Leon. Beberapa prajurit pun membersihkan barang-barang bukti. Satu persatu mulai meninggalkan tenda tentunya seseorang di antara mereka tidak senang dengan perubahan drastis putri Ernest. Mulai sekarang putri tidak berguna itu tidak bisa diremehkan dan tentunya apa yang dilakukan oleh Alena membuat raja dan ratu bangga dan kagum tapi yang paling kagum akan kemampuan putri yang dianggap tidak berguna itu adalah Pangeran Lucius.

__ADS_1


__ADS_2