Rise Of The Queen Ernest

Rise Of The Queen Ernest
Keributan Di Ruang Sidang


__ADS_3

Arabella segera bergegas menuju ruang sidang karena keramaian sudah berada di sana. Ernest yang terlihat lemah akibat obat beracun pun sudah berada di ruangan itu dan duduk di samping ibu ratu. Wajahnya tampak pucat, dia pun terlihat lemas. Para menteri dan pejabat yang hadir tampak berbisik-bisik, apa lagi yang dilakukan oleh penyihir itu? Kenapa tidak mati saja? Itulah yang ada di pikiran mereka semua.


Tabib istana sudah berada di ruang sidang, begitu juga dengan pelayan ibu ratu. Cukup dengan cara sederhana saja untuk menguak kasus itu karena pelakunya kemungkinan hanya dua orang saja. Jika bukan sang tabib berarti sang pelayan. Oleh sebab itu dia memerlukan peran Ernest yang telah mengkonsumsi obat beracun itu.


Arabella yang sudah tiba langsung bergegas menghampiri raja dan ratu, dia bahkan terkejut melihat keadaan adiknya yang tampak tidak berdaya di sisi ibu ratu. Arabella sampai berlari untuk melihat keadaan adiknya yang sangat memprihatinkan.


"Apa yang terjadi dengan Ernest, Bunda?" tanya Arabella.


"Adikmu seperti ini setelah meminum obatnya," ucap ibu ratu.


"Apa?" Arabella terkejut, begitu juga dengan semua yang ada di ruangan  tersebut.


"Kalian lihat keadaan putriku?" teriak raja Leon, "Aku tahu sebagian dari kalian tidak menyukai putriku oleh sebab itu kalian sangat ingin membunuhnya karena isu penyihir itu tapi aku sudah bersumpah akan menghukum siapa pun pelaku yang telah berani melukai dan yang telah berkata buruk tentang putriku sekalipun itu adalah Jendralku!" ucap raja Leon seraya melihat ke arah Jenderalnya.


Semua menunduk, tidak ada yang berani bersuara. Mereka bahkan saling pandang, sebagian dari mereka terlihat takut tentunya mereka yang bersekutu dengan ratu pujaan mereka.


"Yang Mulia, aku rasa kasus ini memang harus kau usut agar tidak ada lagi yang berani berbuat jahat pada putri Ernest," ucap sang jenderal.


"Seperti yang kau katakan, Jenderal. Aku memang ingin mengusut kasus ini oleh sebab itu aku mengumpulkan kalian semua di sini. Bawakan racikan obat itu di hadapanku!" perintah sang raja sambil mengangkat tangannya.


Beberapa prajurit membawa racikan obat lalu meletakkannya ke hadapan raja. Tidak saja racikan obat itu, air panas yang digunakan untuk meracik obat pun diletakkan bersama didekat obat.


"Setiap kali Ernest selesai mengkonsumsi obatnya, dia pasti akan memuntahkan darah lalu pingsan. Waktu itu kami mengira dia keracunan teh yang ada di taman tapi pagi ini, dia seperti ini setelah meminum obatnya!" raja Leon maju ke depan, para menteri dan pejabat melihat ke arah tabib istana yang ketakutan dan segera berlutut ke atas lantai.


"Yang Mulia, obat itu memang aku yang meracik tapi aku selalu meracik dengan obat-obatan yang semestinya," ucap tabib istana.


"Jika memang bukan kau, jadi kau tidak perlu takut!" ucap sang raja.

__ADS_1


"Sekarang, pergi buatkan obat itu!" perintah ibu ratu pada pelayan pribadinya.


Sang pelayan mengangguk, beruntungnya bukan dia yang membuat ramuan itu tadi pagi tapi pelayan baru yang diutus oleh ibu ratu tapi sesungguhnya itu memang siasat ibu ratu dan obat yang konsumsi oleh Ernest bukanlah obat beracun itu karena yang diminum oleh putri Ernest semacam minuman merah yang dibawa oleh pangeran Lucius saat dia datang berkunjung.


Sang pelayan pun membuat ramuan obat tapi tidak satu karena raja memerintahkan pelayan itu membuat dua mangkuk. Dia ingin melihat, siapa sesungguhnya pelaku yang menaruh racun dengan cara mengetes kedua orang kepercayaannya.


Dua mangkuk obat pun sudah jadi, sang pelayan masih berlutut tanpa berani pergi ke mana pun dan pada saat itu, raja Leon meminta tabib kepercayaannya maju ke depan dan mengambil salah satu mangkuk obat itu sedangkan yang satu diambil oleh pelayan ibu ratu.


"Apa maksudnya ini yang mulia?" tanya sang tabib dan pelayan.


"Aku sudah memerintahkan seorang mata-mata untuk mengintai siapa pelaku yang sebenarnya dan tentunya aku sudah tahu. Aku hanya ingin tahu apakah kalian berani berkata jujur atau tidak jadi sekarang minum obat itu!" perintah raja Leon.


"Apa? Tidak yang mulia, aku tidak mau!"  teriak pelayan ibu ratu.


"Tidak mau, apa kau adalah orang yang telah menyimpan racun di dalam obat itu sehingga kau takut meminumnya?" tanya sang raja.


"Jika kau tidak mau meminumnya maka aku akan menganggap jika kaulah dalang yang telah menyimpan racun ke dalam obat itu!"


"Tidak yang mulia, tidak. Bukan aku!" sang pelayan berlutut dan ketakutan tapi gara-gara perkataan sang raja membuat tabib langsung meneguk obat sampai habis.


"Aku sudah meminumnya sampai habis, yang mulia. Jadi bukan aku pelakunya!" ucap sang tabib.


"Wah, kau sungguh hebat meminum obat itu tanpa ragu. Kau benar-benar membuktikan jika kau bukan pelakunya."


"Aku sungguh tidak melakukannya yang mulia, aku tidak mungkin mengkhianati yang mulia apalagi mencelakai putri Ernest!" ucap sang tabib.


"Aku senang mendengarnya, tapi apakah kau tahu?" raja Leon melangkah mendekati sang tabib lalu menepuk bahunya, "Kau tahu obat itu tidak beracun oleh sebab itu kau berani meminumnya, bukan?" ucap sang raja lagi.

__ADS_1


"Apa?" sang tabib terkejut mendengar apa yang raja katakan.


"Bawa itu keluar!" kini sang raja membawa obat yang sesungguhnya keluar dan diletakkan ke sisi racikan obat yang semula. Semuanya sangat mirip tidak ada yang berbeda karena racun berupa sebuah serat merah yang diambil dari bunga beracun yang hanya bisa didapatkan dari daerah timur.


"Periksa itu!" perintah raja Leon pada tabib yang lain.


Tabib jatuh berlutut, mangkuk yang ada di tangan pun jatuh ke bawah hingga pecah. Ternyata dia masuk perangkap raja Leon dan sang pelayan yang tidak tahu apa pun tentang obat itu tentu saja takut untuk meminumnya. Celaka, keringat dingin kini mengalir di dahinya.


Raja Leon kembali dengan mangkuk obat, tapi kini obat yang berbeda. Tentunya itu obat beracun yang dibuat oleh sang tabib karena dia ingin meminta tabib itu meminumnya agar dia tahu bagaimana rasanya setelah meminum obat itu.


"Ini obat yang kau buat, sekarang minum!" perintah Raja Leon.


"Tidak, yang mulia. Bukan aku," sangkal tabib itu.


"Bukan kau? Jika begitu katakan siapa yang memerintahkan dirimu untuk  membunuh putriku?" teriak raja Leon murka.


Tabib itu melihat sana sini, tentu dia mendapatkan banyak tatapan mengancam selama di ruangan itu. Ludah di telan dengan susah payah, dia memang tidak punya pilihan lain.


"Jawab!" teriak raja Leon.


"Ibu ratu, semua permintaan ibu ratu!" teriak sang tabib.


"Apa?" semua terkejut melihat ke arah ibu ratu.


"Beraninya kau menuduh aku?" ibu ratu beranjak dari tempat duduk begitu juga dengan Ernest yang pura-pura terlihat tidak berdaya.


"Aku adalah tabib istana yang hanya patuh pada ratu dan raja jadi yang memerintahkan aku menaruh racun ke dalam obat itu adalah ibu ratu!" ucap sang tabib.

__ADS_1


Semua yang ada di dalam ruangan menjadi ricuh, mereka melihat ibu ratu sebagai tersangka karena yang dikatakan oleh tabib itu sangatlah benar jika yang bisa memerintahkan dirinya hanyalah raja dan ratu. Tapi apakah yang diucapkan oleh tabib itu adalah benar? Apakah ibu ratu benar-benar dalang yang menginginkan kematian Ernest, putrinya sendiri?


__ADS_2