Rise Of The Queen Ernest

Rise Of The Queen Ernest
Malam Ritual


__ADS_3

Malam semakin larut, para pengikut sekte mulai bergerak untuk menuju lokasi di mana ritual akan diadakan. Tentunya ritual tidak akan diadakan di istana karena bisa berbahaya. Sebuah tempat terpencil menjadi tempat pilihan. Tempat itu luas, namun beberapa bangunan terbengkalai berada di tempat itu.


Para pengikut sekte yang memakai jubah hitam berbondong-bondong pergi ke tempat itu sambil membawa lentera. Korban sudah berbaring di atas sebuah lempengan batu dengan kaki dan tangan yang terikat dan korban itu diperuntukkan untuk menyambut kedatangan Agnes. Korban itu pun akan digunakan nanti untuk menjebak Ernest.


Satu korban sudah didapatkan, tinggal satu korban lagi yaitu Ernest. Agnes masih berada di dapur, beberapa orang berjubah hitam sudah menunggu di bawah jendela. Mereka menunggu Agnes beraksi, lalu mereka akan membawa sang putri ke tempat pemujaan namun jika mereka ingin membawa Ernest, Agnes harus menghindari Amy yang selalu berada di samping Ernest.


Segelas minuman hangat dan camilan dibawa oleh Agnes ke dalam kamar. Ernest sedang menulis sesuatu, sedangkan Amy menyiapkan pakaian tidur untuk sang putri.


"Teh malam dan camilan, Putri," Agnes melangkah mendekati Alena dan meletakkan teh dan camilan ke atas meja.


"Terima kasih," Alena mengambil teh itu dan menghirup aroma wangi melati yang ada di dalam teh, "Kau paling tahu apa yang paling aku sukai, Agnes," ucapnya.


"Tentu saja, Putri. Camilan itu aku buatkan untukmu juga," jawab Agnes.


"Terima kasih," Camilan diambil dan dimakan, teh pun diminum. Alena tidak menunjukkan jika dia sedang waspada, dia tetap menunjukkan kepercayaannya pada Agnes meski sang pelayan berkhianat.


"Camilan ini sangat banyak, kalian nikmatilah bersama. Aku tidak mungkin habis, lagi pula aku sudah sangat lelah dan ingin segera tidur," ucap Alena.


"Baik, Putri," jawab Agnes.


Alena sudah selesai, kepalanya mendadak pusing saat dia beranjak. Baiklah, sebaiknya dia bergegas. Alena meminta Amy menggantikan pakaiannya dan setelah itu Alena berbaring di atas ranjang karena dia merasa sangat mengantuk.


Amy pun mencoba kue yang dibuat oleh Agnes karena Agnes memberikannya satu. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, istana sudah begitu sepi. Tentunya ada campur tangan orang yang ada di dalam istana. Prajurit dan juga pelayan yang menjadi pengikut sekte berperan besar dalam rencana besar mereka malam itu.

__ADS_1


Beberapa prajurit yang tidak terlibat tampak tertidur di lorong-lorong, beberapa pelayan pun sama. Tentunya mereka adalah orang-orang yang tidak terlibat dalam sekte sesat. Mereka yang akan tertinggal adalah orang-orang yang memang tidak ada hubungannya dengan ritual. Seandainya istana akan diserang, maka istana akan direbut dengan mudah malam itu.


Alena dan Amy pun terlelap akibat obat tidur yang ada di camilan dan teh. Agnes pun melakukan perannya, memerintahkan beberapa orang yang sudah memakai jubah hitam untuk masuk ke dalam kamar. Mereka membawa sang putri bersama dengan Amy. Sepertinya Amy akan menjadi tumbal tambahan untuk memeriahkan ritual malam itu.


Istana ditinggalkan dengan keadaan sepi, tidak akan ada yang tahu apalagi pintu gerbang tertutup dengan rapat. Alena dan Amy dibawa keluar dari istana oleh para pengikut sekte. Mereka akan bergabung dengan pengikut lain di mana sang ratu akan memimpin ritual.


Dua orang memakai jubah hitam sudah menunggu di altar persembahan ketika Alena dan Amy sudah dibawa ke tempat ritual. Mereka berdua tampak puas karena korban terakir sudah didapatkan. Tidak sia-sia mereka mempercayai Agnes dan mengelabuinya dengan kebangkitan palsu karena berkat pelayan itulah rencana mereka dapat berjalan dengan mulus dan tanpa adanya gangguan sama sekali karena orang yang sangat mereka waspadai dalam keadaan tidak sadar dan Ernest, tidak akan bisa melakukan apa pun dalam keadaannya yang seperti itu.


Alena dibaringkan ke atas altar, begitu juga dengan Amy. Mereka juga diikat seperti korban yang lain. Sekarang semua altar sudah terisi dengan tiga korban yang sebentar lagi akan menjadi tumbal. Melihat Ernest yang mereka khawatirkan terbaring tidak berdaya sungguh memuaskan.


"Tidak ada yang tahu mereka dibawa ke tempat ini, bukan?" tanya seorang wanita yang berdiri di depan altar.


"Tidak ada, ratu. Semuanya aman. Tidak ada gerak gerik mencurigakan, kami sudah memeriksa seluruh istana dan tidak ada yang sadar."


"Mereka juga terlelap, tidak ada yang tahu akan ritual ini!"


"Bagus, sekarang siapkan semuanya. Cuaca begitu mendukung dan ketika bulan sudah berada di atas kepala maka ritual akan dilangsungkan!"


"Tunggu, aku rasa lebih baik Ernest kita ikat pada sebuah tiang. karena kita menangkap pelayannya maka korban kita sudah cukup. Biarkan Ernest terikat di tiang dan menyaksikan pelayannya dikorbankan juga pengkhianatan pelayannya yang lain. Dia akan hancur akan hal ini lalu esok, kalian harus memprovokasi warga dengan mengatakan jika kalian sudah menangkap penyihir. Dia tidak akan lari karena ada dua korban sebagai bukti serta alat-alat ritual yang tidak perlu kita bersihkan. Cukup buat skenario jika dialah pelakunya maka dia akan menjadi tersangka dan rakyat yang akan menghakiminya. Raja Leon tidak mungkin bisa membela, aku yakin dia akan menghukum Ernest bersama dengan rakyat!"


"Ide yang sangat bagus, sekarang siapkan sebuah tiang dan ikat Ernest di sana!" perintah itu diberikan sehingga beberapa orang mengangkat tubuh Ernest dari atas altar sedangkan yang lain menyiapkan tiang.


Alat-Alat pun disiapkan, meja persembahan yang sudah dilengkapi dengan cawan tengkorak, belati bergagang tengkorak dan juga beberapa benda ritual lainnya. Ernest akan menyaksikan kematian Amy dan pengkhianatan Agnes. Malam ini adalah moment yang paling penting bagi sekte sesat itu.

__ADS_1


Malam semakin larut, ritual yang sudah ditunggu akan segera dimulai. Korban yang sudah ditangkap sejak awal sudah sadar, teriakan korban itu pun terdengar nyaring sehingga menyadarkan Amy dari obat tidur. Amy terkejut, dia pun berteriak seperti korban yang lainnya.


Amy melihat sekitar dan ketakutan karena mendapati orang-orang berjubah hitam yang begitu banyak tapi yang dia cari adalah putri Ernest yang tidak dia lihat.


"Lepaskan aku!" pinta Amy sambil berusaha menarik tali yang mengikat tangannya. Dia benar-benar tidak mengerti dengan situasi dan kembali terkejut saat Agnes melangkah mendekatinya.


"Diamlah, Amy. Jangan membuat keributan!" ucap Agnes dengan sinis dan dingin.


"Apa maksudnya ini, Agnes? Kenapa kau jadi seperti ini?" tanya Amy. Sekarang dia tidak kenal dengan saudaranya lagi.


"Diam!" bentak Agnes. Tatapan matanya menatap Amy dengan tajam, tiba-tiba Agnes mendapatkan sebuah ide oleh sebab itu Agnes mendekati Altar lalu berlutut.


"Bolehkah aku yang membunuh saudaraku sendiri?" pinta Agnes. Tentunya permintaannya membuat Amy sangat terkejut sehingga perasaan kecewa pada Agnes semakin terasa besar di dalam hati.


"Teganya kau, Agnes. Kau benar-benar tega!" ucap Amy sambil berderai air mata.


Melihat saudara yang saling bertikai walau tidak memiliki hubungan darah tentu saja membuat kedua wanita yang berdiri di depan altar sangatlah puas.


"Bagus, kau benar-benar diluar perkiraan. Jantungnya adalah milikmu dan darahnya juga milikmu. Dia akan menjadi persembahan untuk menyambut dirimu di dalam sekte ini!"


"Terima kasih, Ratu!" Agnes bersujud, senyuman terukir di bibir. Amy berteriak tidak terima, dia bahkan mengutuk Agnes dalam teriakannya karena Agnes begitu mengecewakan dirinya dan mengkhianati orang yang sudah menolong mereka.


Alena yang sudah sadar sedari tadi menjadi pendengar, dia sudah terikat di tiang yang berada di depan altar. Alena mengangkat kepala, melihat kedua wanita berjubah yang sedang membelakanginya. Salah satu dari mereka menyadari jika Alena sudah sadar. Tentunya dia berbalik, senyuman menghiasi wajah dan Alena tidak terkejut sama sekali ketika melihatnya karena dia sudah menebak hal itu sebelumnya. Orang yang terlihat baik belum tentu baik dan pepatah ini, sangatlah benar.

__ADS_1


__ADS_2