
Lucius sudah harus kembali beberapa hari lagi, waktu yang sangat singkat di kerajaan Kent Arsia memberikannya banyak pengalaman baru tapi selama dia berada di istana itu, dia jadi mengetahui jika isu buruk tentang Ernest ternyata hanya isu semata.
Semula dia percaya dengan isu tersebut dan menganggap Ernest sebagai pecundang, dia bahkan enggan saat ayahnya mengutusnya datang ke kerajaan Kent Arsia tapi sekarang, dia jadi enggan kembali apalagi dia sudah berjanji akan membantu Ernest. Jarak yang lumayan jauh, entah bagaimana dia bisa membantu Ernest untuk menangkap pelaku tapi dia harus kembali nanti karena pesta dansa tidak akan bisa dilangsungkan tanpa adanya dirinya.
Lucius sedang berjalan-jalan di istana itu. Waktu beberapa hari yang dia miliki tidak boleh dia sia-siakan untuk menikmati waktu di kerajaan tersebut. Mungkin saja dia bisa bertemu dengan Ernest dan berbincang dengannya tapi yang dia temui justru putri Arabella yang memang secara kebetulan ingin berbincang dengannya.
"Pangeran, kebetulan bertemu dengan pangeran di sini," ucap Arabella.
"Apa kau mencari aku, putri Arabella?" tanya Lucius basa basi.
"Benar, pangeran. Aku ingin mengundangmu minum teh malam ini sambil menikmati cahaya bulan, apakah Pangeran bersedia?"
"Hanya kita berdua, bagaimana dengan Ernest?"
"Ernest? Apa Pangeran ingin Ernest ikut serta?" tanya Arabella. Sesungguhnya dia sangat kesal karena pangeran Lucius justru memikirkan Ernest.
"Aku rasa tidak baik pria dan wanita berduaan di malam hati, putri. Kau adalah calon ratu masa depan dan aku pun sebentar lagi akan dinobatkan sebagai putra mahkota jadi ada baiknya kita menjaga nama baik kita agar tidak menjadi gunjingan para masyarakat," sesungguhnya itu hanya alasan saja karena tidak mungkin ada yang membicarakan mereka.
"Baiklah, apa yang kau katakan sangat benar, pangeran. Bagaimana jika kita menemui Ernest, dia sedang berlatih saat ini," walau kesal tapi apa yang dikatakan oleh pangeran Lucius sangatlah benar. Jangan sampai ada yang berbicara buruk tentang mereka berdua.
"Dia sedang berlatih?" Lucius sangat heran, apa yang terjadi? Kenapa Arabella bisa tahu jika Ernest sedang berlatih?
"Ayahanda baru saja mengeluarkan titah jika dia harus berlatih pedang mulai sekarang. Jika Pangeran tidak mau, aku akan mengunjunginya seorang diri."
"Tidak, tentu saja aku tidak keberatan!" ini kesempatan bagus, dia memang ingin bertemu dengan Ernest.
Arabella mengajak Lucius menuju arena berlatih yang memang disediakan untuk Ernest. Suara pedang sudah terdengar, Ernest tampak serius dengan latihan yang dia jalani. Seorang jenderal perang di tunjuk oleh Raja Leon untuk melatih putrinya, sang raja dan ratu bahkan berada di sana untuk menyaksikan pelatihan yang dijalani oleh putrinya dan kedua pelayannya.
Alena mengira itu hanya pelatihan biasa tapi nyatanya, latihan yang dia jalani cukup berat. Amy dan Agnes sudah lelah luar biasa tapi mereka tidak bisa berhenti. Alena bahkan sudah begitu lelah tapi sang jenderal yang ditunjuk oleh raja Leon tidak berhenti mengayunkan pedangnya.
"Apa kau sudah menyerah, Putri? Jika kau sudah kewalahan menghadapi aku, bagaimana kau bisa menghadapi musuh yang menyerang secara bergerombol?" tanya sang Jenderal.
"Aku bisa bertahan, Jenderal. Jika aku sudah tidak bisa bertahan lagi maka aku akan pingsan."
"Bagus, putri. Meski pertama kali memegang pedang namun tidak buruk bagimu!" sang Jenderal kembali mengayunkan pedangnya, Alena berusaha menangkis serangan jenderal yang begitu cepat. Dia memang ahli senjata api tapi untuk pedang dia masih amatir yang harus banyak belajar dan kesempatan ini, tidak boleh dia sia-siakan.
__ADS_1
"Ampun, kami sudah tidak kuat!" teriak Amy dan Agnes.
"Kalian adalah pelayan putri, jadi jangan menyerah!" teriak prajurit yang melatih mereka.
"Putri!" mereka kembali berteriak dan melihat ke arah Alena yang masih berusaha menangkis setiap serang dari jenderal. Alena bahkan terjatuh dan terguling ke atas tanah lalu dia kembali menangkis pedang yang di ayunkan oleh jenderal tanpa henti.
Ratu sangat cemas melihatnya, namun sang raja ingin Ernest dapat melewati itu semua. Arabella yang baru tiba pun tak melepaskan pandangannya dari Ernest yang tanpa henti berusaha menangkis setiap serangan sang Jenderal. Pangeran Lucius menghentikan langkahnya, luar biasa. Raja Leon serius ingin mendidik Ernest sampai-sampai sang jenderal dikerahkan untuk mengajari Ernest. Dia yakin setelah ini Ernest akan semakin pandai.
"Cukup!" raja Leon mengangkat tangan, sehingga sang jenderal berhenti mengayunkan pedangnya.
Alena terengah-engah, bajunya sudah basah oleh keringat. Amy dan Agnes pun tampak begitu lelah, ini latihan yang cukup berat baginya.
"Permainan pedangmu cukup bagus walau untuk pertama kalinya, putri," ucap sang jenderal sambil mengulurkan tangan.
"Terima kasih, jenderal. Aku harap aku tidak mengecewakan dirimu!" ucap Alena.
"Tentu tidak, suatu kehormatan bisa melatih putri Ernest!" jenderal mengulurkan tangannya untuk membantu Alena berdiri, untuk seorang pemula hasilnya cukup memuaskan tapi sesungguhnya itu bukan pemula bagai Alena.
Ibu ratu bergegas menuju arena berlatih sambil membawa minuman untuk putrinya. Raja pun beranjak dari tempat duduk, putri Arabella pun mengikuti .Raja tampak puas, putri keduanya cukup memuaskan dan tidak mengecewakan dirinya.
"Terima kasih, Bunda," Alena hendak mengambil gelas namun tangannya gemetar.
"Biar bunda yang membantu!" ibu ratu tidak tega melihat tangan putrinya yang gemetar.
"Bagaimana, jenderal. Apa sulit mengajari Ernest?" tanya raja Leon.
"Tentu tidak, yang mulia. Putri belajar dengan cepat," jawab sang jenderal.
"Bagus, aku harap kau sabar mengajarinya. Sekarang ikut aku, ada yang hendak aku bicarakan!" raja Leon melangkah pergi, disusul oleh sang jenderal.
"Bagaimana Ernest, apakah berat?" tanya Arabella.
"Cukup sulit, Kakak. Tapi aku akan berusaha."
"Bagus, dengarkan. Aku ingin mengundang pangeran Lucius minum teh dan dia ingin kau hadir, kau tidak keberatan, bukan?" tanya Arabella.
__ADS_1
Ernest melihat ke arah Lucius yang sedang melihat ke arahnya. Kenapa dia harus ikut? Dia tidak mau mengganggu kebersamaan kakaknya dengan pria itu tapi dia tidak bisa menolak ajakan kakaknya.
"Akan aku usahakan, kakak. Tapi aku tidak janji."
"Baiklah, aku juga tidak memaksa," ucap Arabella.
"Sudah, kita bahas nanti. Sekarang Ernest butuh istirahat. Pelayan, pergi buatkan obat untuk putri Ernest!" perintah sang ratu.
"Baik, ratu," jawab pelayannya.
"Aku pamit sebentar untuk berbicara dengan pangeran," ucap Arabella.
"Pergilah, ada yang hendak Bunda bicarakan dengan adikmu."
Arabella mengangguk dan melangkah pergi, pada saat itu ibu ratu memberikan sebuah isyarat pada seorang prajurit yang ada di sana. Prajurit itu langsung bergerak setelah mendapatkan perintah dari ratu.
"Apa yang hendak Bunda bahas?" tanya Alena.
"Bunda sedang membuat siasat untuk menangkap pelaku yang menaruh racun di dalam obatmu jadi Bunda memerlukan kerja sama darimu, Ernest," ucap ibunya.
"Apa yang bisa aku lakukan?"
Ibu ratu mendekati putrinya lalu berbisik untuk mengatakan apa yang harus Ernest lakukan. Dia tidak mau ada yang mendengar apa yang sedang dia rencanakan sehingga musuh yang entah siapa justru tahu siasatnya.
"Akan aku lakukan, Bunda. Aku akan membantu Bunda menangkap pelakunya."
"Bunda sangat senang mendengarnya. Mungkin dengan demikian kita bisa menangkap dalang yang sesungguhnya dan mungkin saja kita justru bisa menemukan petunjuk orang yang menebarkan rumor jika kau seorang penyihir."
"Bunda benar, pelan tapi pasti kita pasti bisa menemukan pelakunya."
"Kau benar, Sayang. Sekarang beristirahatlah, Bunda harus menemui ayahandamu."
"Terima kasih, Bunda," Alena memberi hormat sebelum ibunya pergi.
Arabella menghampiri Alena bersama dengan pangeran Lucius. Pria itu sangat ingin memuji Alena namun ucapannya tertahan karena ada Arabella. Nanti, dia akan memberikan pujian pada Ernest secara pribadi. Mungkin di acara minum teh atau di kesempatan lainnya dan sebelum kembali ke istananya, dia ingin menemui Ernest secara pribadi tanpa ada yang tahu jika bisa dia ingin mengundang Ernest untuk menemuinya secara diam-diam saat pesta dansa di istananya.
__ADS_1