
Amy dan Agnes benar-benar sibuk, tubuh sang putri yang berkeringat banyak membuat gaun yang digunakan oleh Alena basah. Amy bertugas mengganti pakaian dan Agnes membuat obat di dapur. Kali ini mereka tidak akan membiarkan putri Ernest makan sembarangan karena kejadian itu tidak boleh terulang kembali.
Kali ini mereka sudah lalai, mereka berharap sang raja segera menemukan pelakunya sehingga pelaku yang hendak mencelakai sang putri dapat dihukum dengan seberat-beratnya.
Alena sudah diberi obat penawar racun tapi wajahnya masih saja pucat. Alena pun belum sadarkan diri, oleh sebab itu Amy dan Agnes sangat mencemaskan keadaan putri yang tidak berdaya. Mereka berdua bahkan sangat iba dengan keadaan sang putri yang tidak seberuntung seperti putri lainnya. Kehidupan putri pejabat bahkan lebih beruntung dari pada kehidupannya.
Saat Amy sedang sibuk mengganti pakaian putri yang basah, pintu kamar terbuka dan sang ratu masuk ke dalam dengan beberapa pelayan. Semangkok obat pun dibawa oleh pelayannya dan diletakkan ke atas meja. Tentunya obat itu untuk putri Ernest.
"Bagaimana keadaan Ernest?" tanya ibu ratu.
"Tuan Putri belum sadar, yang mulia!"
"Jika sudah sadar, berikan obat itu untuknya. Pastikan obatnya habis!" perintah sang ratu.
"Baik, yang Mulia," jawab Amy.
Ratu Hana duduk sebentar di sisi ranjang untuk melihat keadaan putrinya. Sungguh dia sangat tidak tega melihat keadaan putrinya yang seperti itu. Raja memang sedang mengusut masalah itu dan sedang mencari pelaku yang menaruh racun di dalam teh. Para pelayan yang menyiapkan hidangan sebelum para putri tiba di taman sedang diperiksa.
"Mana Agnes, kenapa hanya kau sendirian saja?" tanya ibu ratu.
"Agnes sedang membuat obat untuk Tuan Putri."
"Baiklah, berikan obat itu saja, jangan yang lainnya!"
Amy mengangguk, obat dari ratu pasti lebih mujarab untuk menyembuhkan penyakit sang putri jadi dia akan memberikan obat yang diberikan oleh sang ratu saja. Ratu pun keluar dari kamar karena ada yang harus dia kerjakan. Dia berpesan pada Amy untuk memanggilnya saat Ernest sudah sadar nanti.
Agnes yang sudah membuat obat pun kembali, Amy sedang sibuk membereskan pakaian kotor yang baru dilepaskan karena harus dia bawa untuk dicuci.
"Bagaimana dengan keadaan Putri Ernest?" tanya Agnes seraya meletakkan obat di samping mangkuk obat dari sang ratu.
"Putri masih seperti tadi, sebaiknya kau bawa pergi obat itu. Baginda Ratu memberi perintah jika tuan putri hanya boleh minum obat darinya saja."
"Baiklah, akan aku bawa pergi nanti," ucap Agnes. Dia membantu Amy sebentar dan akan membawa obat itu nanti.
__ADS_1
Alena yang belum sadarkan diri akhirnya membuka kedua matanya dengan perlahan. Kepalanya terasa sangat sakit, Alena bahkan merintih sehingga Amy dan Agnes menyadari jika putri Ernest sudah sadar dari pingsannya. Agnes bergegas menghampiri sang putri sedangkan Amy pergi keluar untuk memberi kabar sesuai dengan perintah sang ratu.
"Tuan Putri, apa kau baik-baik saja?" tanya Agnes.
"Ke-Kenapa Amy keluar?" tanya Alena.
"Amy harus memanggil yang mulia ratu karena yang mulia ingin melihat keadaanmu," jawan Agnes.
"Aku?" Alena memegangi kepalanya dan mencoba mengingat apa yang terjadi padanya.
"Tuan putri keracunan, apa keadaan Tuan Putri sudah lebih baik?" tanya Agnes.
"Keracunan?" Alena memandangi pelayannya dengan tatapan heran.
"Benar, Putri. Putri keracunan teh yang ada di taman, seseorang menaruh racun di dalam teh itu untuk mencelakai tuan putri. Sekarang minumlah obat dari bunda ratu agar keadaan tuan putri segera membaik," Agnes mengambil mangkuk obat milik sang ratu.
"Teh di taman, racun dan obat?" Alena masih linglung tapi akhirnya dia menyadari situasi. Agnes yang hendak memberinya obat pun segera dicegah, tentunya Agnes sangat heran akan hal itu.
"Ada apa, Putri? Yang mulia ratu memerintahkan tuan Putri untuk menghabiskan obatnya," ucap Agnes.
Agnes mengangguk, putri Ernest terlihat begitu serius oleh sebab itu dia merasa ada yang tidak beres. Amy yang sudah memanggil yang mulia ratu pun sudah kembali dengan ratu yang sangat mengkhawatirkan keadaan putrinya. Saat mereka masuk, Agnes sedang membantu putri Ernest meminum obat.
"Apa kau baik-baik saja, Ernest?" tanya ibu ratu yang sudah menghampiri putrinya.
"Aku baik-baik saja, Bunda," jawab Alena dengan lemah.
"Kau tidak sedang baik-baik saja, lihatlah keadaanmu ini? Mulai sekarang jangan makan sembarangan lagi, kau mengerti?"
Alena mengangguk, Agnes kembali membantu sang putri untuk menghabiskan obatnya. Sang ratu melihat ke arah meja di mana ada sebuah mangkuk berisi obat lalu kembali melihat mangkuk yang ada di tangan Agnes.
"Obat mana yang kau berikan?" tanya bunda ratu.
"Obat yang mulia berikan," jawab Agnes.
__ADS_1
"Mulai sekarang jangan memberinya obat sembarangan, aku akan memerintahkan paramedis istana meracik obat spesial untuk Ernest agar dia tidak meminum obat sembarangan.
"Baik yang mulia," Agnes undur diri setelah selesai memberikan obat untuk putri Ernest dan setelah selesai membantu sang putri untuk berbaring.
"Bagaimana keadaanmu sekarang, Ernest," tanya ibunya.
"Ernest hanya merasa lelah saja, Bunda."
"Jika begitu beristirahatlah, Bunda akan datang menjenguk lagi nanti."
"Terima kasih," Alena tersenyum tipis, ibu yang sangat baik.
"Aku dengar Ernest sudah sadar," putri Arabella masuk dengan tergesa-gesa. Dia langsung datang setelah mendengar adiknya sudah sadar.
"Jangan berteriak, Arabella. Kau seorang putri," ucap sang ratu.
"Aku terlalu senang, Bunda. Maafkan aku jika aku sudah bersikap lancang."
"Kemarilah, Ernest pasti senang karena kau datang."
"Ernest, bagaimana dengan keadaanmu? Aku minta maaf karena aku sudah lalai dan tidak bisa menjagamu dengan baik. Jika aku mencegahmu, kau pasti tidak akan keracunan teh itu!" Arabella sudah berlutut di sisi ranjang.
"Semua bukan kesalahanmu, Kakak. Tidak ada yang tahu jika teh itu beracun dan aku pun tidak tahu."
"Seharusnya aku tidak pergi tanpa dirimu untuk memetik bunga dandelion. Aku benar-benar minta maaf," Arabella menangis, para pelayan memuji kasih sayang yang ada pada putri Arabella yang sangat menyayangi adiknya.
"Tolong jangan menangis, Kakak. Untuk seorang calon ratu seperti dirimu, tidak baik menangisi putri tidak berguna seperti aku ini."
"Apa yang kau katakan, sekalipun aku calon ratu tapi kau tetap seorang putri!"
"Sudah, jangan berdebat. Yang paling penting Ernest sudah sadar sekarang," ucap ibu ratu.
"Terima kasih kalian sudah mengkhawatirkan aku," Alena kembali tersenyum, sungguh keluarga yang sangat menyayangi Ernest tapi kenapa kehidupan Ernest begitu menyedihkan?
__ADS_1
Tatapan mata Alena tertuju pada mangkuk obat yang ada di atas meja. Racun di dalam teh? Dia baru tahu hal ini, apa semua mengira dia keracunan setelah meminum teh? Menarik, sungguh. Keadaannya memang sedang lemah tapi setelah dia sembuh nanti, dia pasti akan mencari tahu akan kejanggalan yang terjadi.