Rise Of The Queen Ernest

Rise Of The Queen Ernest
Putri Yang Berubah Menjadi Kejam


__ADS_3

Rasa penasaran itu, membuat Pangeran Lucius memikirkan banyak hal. Padahal dia datang berkunjung hanya untuk menjalin persahabatan dengan kerajaan Kent Arsia serta menyampaikan undangan pesta dansa yang akan diadakan di istananya tapi putri kedua raja Leon justru menarik perhatiannya.


Semua orang berkata jika dia adalah pecundang dan semua orang berkata dia adalah penyihir tapi apa yang dia dengar dari pengawal pribadinya justru membuatnya ragu. Apa isu-isu mengenai Ernest itu benar?


Malam semakin larut, sang pangeran tidak bisa tidur. Jendela dibuka dengan lebar, dia ingin menikmati angin malam di kerajaan itu apalagi dia akan segera kembali tidak lama lagi. Malam itu tidak saja sang pangeran yang tidak bisa tidur tapi Putri Ernest dan kedua pelayannya pun tidak tidur karena malam ini mereka berniat pergi.


Agnes kembali berperan sebagai Ernest di dalam kamarnya, sedangkan Amy dan Alena akan pergi seperti waktu itu. Mereka pun menyamar seperti yang pernah dilakukan. Kali ini Agnes dibekali dengan pisau karena dia harus melawan jika ada pembunuh bayaran lagi.


"Berhati-hatilah, Putri," pinta Agnes.


"Pasti, setelah ini kalian harus mencari tempat aman agar aku bisa melatih kalian berdua."


"Baik, Putri. Demi dirimu, kami akan mengikuti perintahmu," ucap Amy dan Agnes sambil membungkuk.


"Bagus, ayo pergi Amy. Jangan sampai kita terlambat kembali seperti waktu itu."


"Baik, Putri," Amy mengambil perlengkapan dan setelah itu mereka pergi dengan mengendap-endap.


Semua orang sudah lelah akibat perjamuan itu, semua orang sudah terlelap. Para penjaga yang berjaga dilewati dengan berhati-hati, malam ini mereka akan pergi menginterogasi pelayan yang mereka sekap di sebuah gua. Gua itu berada di dalam hutan dan jaraknya tidak begitu jauh dari istana.


Pangeran Lucius yang tidak tidur justru tanpa sengaja melihat dua pelayan sedang mengendap. Kedua pelayan itu seperti kedua gadis yang dia temui saat di jalan. Apa dia tidak salah melihat? Tidak, dia merasa dia tidak salah melihat tapi siapa mereka? Apa mereka benar-benar pelayan di kerajaan itu?


"Bastian, ambilkan jubah dan pedangku!" perintah Lucius.


"Kau mau pergi ke mana, Tuanku?"  tanya pengawal pribadinya yang bernama Bastian.


"Cepat dan ikut aku!"


Bastian bergegas, Pangeran Lucius masih tidak melepaskan pandangannya dari kedua gadis yang berlari menuju suatu tempat. Pedangnya sudah berada di tangan, jubah pun sudah dia kenakan. Dia akan mengikuti ke mana dua gadis itu pergi karena dia ingin mencari tahu siapa kedua gadis itu.


"Aku akan melihat keadaan," ucap Bastian.


"Tidak perlu, kita lewat sini!" tanpa ragu, pangeran Lucius melompat keluar dari jendela yang terbuka.  Bastian mengikuti dan setelah itu mereka pergi mengikuti dua gadis yang bertingkah cukup mencurigakan.


"Bukankah mereka berdua adalah wanita yang kau cari?" tanya Bastian dengan pelan.

__ADS_1


"Stts, pelankan suaramu. Kita lihat apa yang hendak mereka lakukan."


Alena dan Amy yang sedang mengendap menuju jalan rahasia melihat sekitar dengan teliti. Alena merasa ada yang mengikuti, oleh sebab itu dia melihat situasi sebelum mereka benar-benar keluar dari istana.


"Ada apa, Putri?" tanya Amy.


"Stts.... di luar panggil aku Ana!"


Amy mengangguk, Alena melangkah mendekati sebuah pohon besar karena dia merasa ada yang sedang bersembunyi di balik pohon itu. Pangeran Lucius dan Bastian yang memang sedang bersembunyi di sana tampak waspada. Sungguh kewaspadaan yang cukup tinggi, tentunya Lucius semakin ingin tahu siapa wanita itu.


Alena semakin melangkah mendekat, Pangeran dan pengawalnya pun semakin waspada agar tidak ketahuan.  Amy menunggu dengan was-was karena dia khawatir ada prajurit yang memergoki mereka berdua. Alena menghentikan langkah, mungkin hanya perasaannya saja. Sebaiknya dia tidak membuang waktu agar bisa cepat kembali. Alena kembali mendekati Amy yang sudah menunggunya sedari tadi.


"Ayo kita pergi!" ajak Alena.


Mereka keluar dari jalan rahasia, dan pada saat itu pula pangeran Lucius dan pengawalnya keluar dari tempat persembunyian mereka. Putri Ernest, suara itu benar-benar mirip dengannya. Tapi bagaimana mungkin bisa?


"Ayo ikuti, jika dia penyihir mungkin dia hendak melakukan ritual!" ucapnya.


Sang pengawal mengangguk, mereka pun keluar dari jalan rahasia mengikuti Alena dan Amy. Tidak ada kuda, mereka berjalan kaki melewati pepohonan yang tumbuh menjulang tinggi. Gelapnya hutan tidak menyurutkan niat mereka, dengan berbekal pelita yang ada di tangan, mereka bisa melihat jalan.


"Ada apa, kita sudah dekat," ucap Amy.


"Tidak ada, ayo terus jalan!" semoga tidak ada yang mengikuti seperti yang dikhawatirkan.


Gua tempat menyekap pelayan itu sudah terlihat, mereka segera masuk ke dalam. Pangeran Lucius hanya berada di luar, untuk mendengarkan. Dia tidak bisa masuk jika tidak dia akan ketahuan.


"Apa mau kalian?" teriak pelayan yang mereka sekap.


"Seharusnya kau sudah tahu, aku ingin tahu siapa yang memerintahkan kau untuk membunuhku?" tanya Alena.


"Jangan mengada-ada, sudah aku katakan aku ingin membunuhmu karena kau adalah seorang penyihir!" teriak pelayan itu.


"Jangan banyak alasan, pasti seseorang yang ada di dalam istana memerintahkan kau untuk membunuh aku  jadi sekarang jawab pertanyaanku sebelum aku menggunakan kekerasan!"


"Sudah aku katakan tidak ada yang memerintahkan aku!" teriak pelayan itu lagi.

__ADS_1


"Kau benar-benar menguji kesabaran!" tali cambuk yang ada di pinggang diambil. Alena akan mencambuk pelayan itu jika dia tidak buka mulut.


"kau sungguh penyihir jahat!" teriak pelayan itu.


"Jika aku adalah penyihir, aku sudah mengambil jantungmu sekarang jadi jawab pertanyaan baik-baik, di mana ritual akan diadakan saat tanggal lima belas nanti?"


"Aku tidak tahu!" jawab pelayan itu.


"Jika begitu tali cambuk ini akan membuatmu buka mulut!" setelah berkata demikian, Alena  mencambuk tubuh pelayan itu tanpa ragu. Amy berteriak karena terkejut, dia pun tampak ketakutan. Ini kali pertama dia melihat sang putri begitu kejamnya. Alena terus mencambuk sambil bertanya, dia tidak tahu jika Pangeran Lucius melihat semua yang dia lakukan. Putri yang sangat menarik. Diam namun menghanyutkan.


"Cepat jawab, jika tidak aku akan membunuh seluruh keluargamu!" ancam Alena.


"Aku tidak tahu, seseorang mendatangi aku menggunakan jubah hitam saat aku sedang berada di dapur untuk membuat makanan. Orang itu memberikan sejumlah emas padaku  jika aku mau membunuhmu!" teriak sang pembunuh bayaran itu yang memang bekerja di dalam istana.


"Apa kau tidak tahu sama sekali siapa orang itu?" tanya Alena.


"Tidak tahu, aku sungguh tidak tahu dan mengenai ritual tanggal lima belas aku tidak mengetahui apa pun. Bukankah aku adalah penyihirnya? Jadi seharusnya kau yang paling tahu akan ritual itu!" teriaknya.


"Sial!" umpat Alena karena jika demikian dia tidak bisa menggagalkan acara ritual itu.


"Aku sudah mengatakan apa yang kau inginkan jadi lepaskan!" pinta pelayan itu.


"Hanya kematian yang pantas bagi orang hendak membunuhku!" setelah berkata demikian, Alena mencabut pedangnya lalu menebaskan ke arah leher pelayan itu. Amy terkejut, mulut ditutup dengan rapat agar dia tidak berteriak apalagi kepala pelayan itu jatuh di bawah kakinya. Kedua kaki Amy gemetar, begitu juga dengan tubuhnya tapi Alena justru menyeka darah yang ada di pedang dengan santai.


Lucius bahkan terkejut melihat apa yang Ernest lakukan. Dia sungguh tidak menduga putri lemah itu ternyata diluar dugaan. Lucius mengajak pengawalnya pergi, sudah cukup. Jangan sampai putri Ernest tahu dia berada di sana.


"Pu-Putri," tubuh Amy gemetar hebat karena takut.


"Ayo kita kembali dan kau harus ingat, jangan pernah mengasihani musuh!"


"Ta-Tapi? Ini terlalu kejam," ucap Amy.


"Malam itu mereka lebih memperlakukan aku dengan kejam oleh sebab itu aku sudah bertekad untuk membalas orang-orang yang hendak mencelakai aku!"


Amy melihat punggung sang putri yang berjalan di depannya. Putri Ernest yang lemah lembut ternyata memiliki sisi gelap seperti itu tapi sesungguhnya, Alena'lah yang memiliki keberanian seperti itu, Mereka segera pergi dari gua untuk kembali ke istana. Walau tidak ada petunjuk yang berarti tapi satu yang pasti, orang yang menginginkan kematiannya benar-benar berada di dalam istana dan dia harus semakin waspada.

__ADS_1


__ADS_2