
Apa yang dilakukan oleh Alena, menyisakan tanda tanya besar di hati raja Leon dan ratu Hana. Mereka berusaha mengendalikan situasi terlebih dahulu sebelum mencari tahu apa yang terjadi. Raja Leon memerintahkan para menteri untuk mengusut kasus itu dan menemukan siapa yang telah begitu berani memfitnah putrinya tapi sayang, di antara menteri itu ada pengkhianat bahkan tidak saja dari menteri, dari para pejabat juga ada pengkhianat.
Tentunya mereka sangat kesal karena apa yang sudah mereka rencanakan gagal total. Seharusnya saat ini mereka menyaksikan Ernest dibakar hidup-hidup dan dianggap sebagai penyihir. Mereka sudah gagal menyingkirkan Ernes, dengan begini posisi mereka masih terancam dan sang ratu pasti akan sangat murka.
Apa yang mereka lakukan jadi sia-sia, mungkin mereka harus menunggu bulan depan untuk melancarkan aksi mereka lagi dan mungkin saja sang ratu memiliki rencana. Setelah ini mereka harus hati-hati karena raja Leon dan ratu Hana sudah serius menangani kasus itu. Para pengkhianat itu pun tidak menduga dengan kemampuan yang Ernest miliki dalam membela dirinya padahal jebakan yang mereka buat sudah begitu sempura. Siapa yang menduga jika putri lemah dan pecundang itu ternyata tidak bisa mereka remehkan lagi? Sang ratu sudah tahu akan hal ini dan mereka rasa, sang ratu pasti akan mencari tahu kenapa tiba-tiba si pecundang itu bisa berubah.
Ernest yang mendapatkan panggilan dari ayahnya sudah tiba di tenda di mana kedua orangtuanya sudah menunggu bersama dengan Arabella.
"Hormat pada Ayahanda dan Bunda ratu," ucap Alena seraya memberi hormat.
"Kemarilah, Ernest. Ada yang hendak kami bicarakan denganmu," ucap ibunya.
"Apa yang hendak Bunda bicarakan?" tanya Alena.
"Kemari, Ernest. Kami ingin berbicara serius denganmu!" ucap ayahnya.
Alena melangkah mendekat, firasat semakin buruk. Dia yakin mereka pasti ingin tahu kemampuan yang dia miliki, sepertinya dia sudah salah mengambil tindakan tapi jika dia tidak melakukannya untuk membela diri maka dia akan benar-benar berakhir menjadi seorang penyihir dan apa yang terjadi waktu itu akan kembali dia alami. Oleh sebab itu, dia tidak punya pilihan selain menguak jebakan itu agar dia tidak dihakimi.
"Apa yang hendak kalian bicarakan? Apa Ernest membuat kesalahan?" tanya Alena.
"Tidak, Ernest. Kami hanya ingin tahu, kenapa kau tiba-tiba bisa memecahkan jebakan yang dibuat oleh para penjahat yang ingin menjebakmu? Dari mana kau mendapatkan kemampuan seperti itu, Ernest?" tanya ibunya.
"A-Apakah aneh?" tanya Alena sambil menunduk. Sungguh celaka, dia harus berhati-hati dalam berbicara agar tidak ada yang curiga, jika dia bukanlah Ernest.
"Bukan begitu, kami tidak menganggap itu aneh," Arabella maju ke depan dan menghampiri adiknya, "Sudah aku katakan, untuk seseorang yang ahli dalam masalah ini memerlukan waktu dan diskusi panjang tapi kau, kau begitu mudahnya memecahkan jebatan itu dan teori yang kau berikan membuat mereka semua termasuk para pejabat dan menteri juga termasuk kami tidak bisa membantah teori yang kau berikan dan mengenai lubang itu? Kenapa kau tidak langsung melaporkan hal itu pada ayahanda? Kenapa kau diam saja seolah-olah kau sudah memperhitungkan semuanya?" tanya Arabella.
__ADS_1
Alena diam, raja dan ratu menunggu jawaban dari putri kedua mereka yang seperti sedang berpikir dan memang itulah yang Alena lakukan.
"Siapa sebenarnya kau?" pertanyaan itu tiba-tiba terlontar dari putri Arabella. Putri Arabella bahkan melangkah mundur, dia seperti melihat orang lain.
"Apa maksud pertanyaan kak Arabella?" tanya Alena.
"Ernest tidak seperti ini, Ernest memiliki sisi yang berbeda sedangkan kau? Kau bukanlah Ernest!" ucap Arabella.
"Apa maksud perkataanmu, Arabella?" tanya ibunya.
"Bunda bisa melihat, dia memang Ernest tapi dia bukan Ernest!"
"Tutup mulutmu, jangan memperkeruh suasana dengan perkataan tidak jelasmu!" ucap raja Leon.
"Aku adalah Ernest, apa yang kakak katakan? Aku melakukan hal itu hanya untuk melindungi diriku saja. Apa kalian ingin melihat aku di lempar batu oleh mereka? Apa kalian ingin melihat aku mati di bakar sehingga orang-orang akan menganggap aku sebagai penyihir? Apa kalian ingin dunia mengingat aku sebagai seorang penyihir nantinya?" tanya Alena sambil menangis terisak. Ini kali pertama dia menggunakan jurus menangis, cukup memalukan untuk seorang agen dari abad dua puluh dua tapi dia terpaksa melakukannya untuk menarik simpati raja dan ratu juga putri Arabella. Inilah pertahanan terakhir yang dimaksud oleh pangeran Lucius.
"Aku hanya ingin melindungi diriku saja, aku juga tidak percaya dengan apa yang telah aku lakukan. Jika kalian keberatan dan menganggap aku bukan Ernest, maka aku akan keluar dan mengatakan pada semua orang yang ada di tempat ini jika aku adalah seorang penyihir. Dengan demikian isu itu akan reda, tidak akan ada yang berbicara buruk tentang aku lagi bahkan Bunda dan Ayahanda tidak perlu repot untuk menangani kasus ini lagi. Biarlah aku mati sebagai seorang penyihir sesuai dengan isu yang beredar!" ucap Alena.
"Tidak, Tidak Ernest," ibu ratu menghampirinya dan membantu putrinya untuk berdiri.
"Kami tidak menuduhmu, kami hanya terkejut dengan perubahan yang ada pada dirimu saja. Maafkan perkataan kakakmu," ucap ibu ratu lagi.
"Apakah aku tidak boleh berubah? Apa aku harus menjadi pecundang untuk selamanya, bunda?"
"Tentu saja tidak, itu bagus untukmu tapi perubahanmu ini mengejutkan kami. Seharusnya kami tidak mencurigai dirimu seperti ini, maafkan kami."
__ADS_1
"Aku minta maaf, Ernest. Aku takut yang ada di hadapanku ini bukanlah adikku," ucap Arabella.
"kau lihat aku? Aku adalah Ernest, bagaimana kau bisa beranggapan jika aku bukanlah Ernest?"
"Aku tahu, aku begitu bodoh. Hanya karena kau memiliki sedikit kemampuan, aku justru menuduhmu!" Arabella melangkah mendekat dan memeluknya, "Maafkan aku," ucapnya lagi.
"Sudah, keadaan sedang genting saat ini. Jangan menambahkan isu yang tidak berguna. Jika ada yang mendengar, isu buruk lain tentang Ernest akan kembali menyebar. Sebagai keluarga seharusnya kita saling mendukung, bukan saling mencurigai hanya karena Ernest ingin melindungi dirinya sendiri. Dia sudah dewasa, memang sudah seharusnya melakukan hal itu apalagi kita tidak bisa selalu bersama dengannya dan kita pun tidak bisa selalu melindungi dirinya. Ernest memang harus memiliki kemampuan untuk menjaga dirinya karena banyak orang yang membenci dirinya oleh sebab itu, kita harus mendukungnya sebagai keluarga!" ucap raja Leon.
"Maafkan Arabella, Ayahanda," ucap Arabella. Dia sudah begitu gelap mata menuduh adiknya sembarangan.
"Maafkan aku, Ernest," ucap Arabella pada adiknya.
"Tidak apa-apa. Kakak. Aku bisa mengerti."
"Lihatlah, matamu memerah," ibu ratu menghapus air mata putrinya.
"Bunda ingin kalian selalu akrab dan tidak saling membenci. Kalian paham?"
"Paham, Bunda," jawab Alena dan Arabella.
"Jika begitu bergegaslah, kita akan kembali ke istana. Acara berburu kita sudah gagal jadi kita akan segera kembali."
"Baik, Bunda," Alena dan Arabella kembali menjawab.
Arabella dan Ernest pamit pergi untuk kembali ke tenda mereka. Alena sangat lega karena dia bisa menghindari kecurigaan Arabella. Setelah ini dia harus berhati-hati dalam bertindak karena dia tidak mau ada yang curiga lagi apalagi keberuntungan tidak akan terulang untuk kedua kalinya.
__ADS_1