
Alena dan Arabella membawa kuda mereka dengan pelan menuju hutan di mana mereka akan berburu binatang yang tentunya sudah dilepaskan terlebih dahulu. Pangeran Lucius yang berada di depan pun membawa kudanya dengan pelan karena dia ingin tahu bagaimana dengan keadaan Ernest yang terlihat kurang sehat sedari tadi.
Arabella yang cemburu dengan kedekatan Ernest serta pangeran sedikit merasa kesal karena pangeran Lucius membawa kudanya di sisi Ernest. Pangeran bahkan mengabaikan keberadaan dirinya.
"Apa kau baik-baik saja, Ernest?" tanya Lucius.
"Tentu saja, Pangeran. Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku."
"Bagaimana jika kita berburu bersama, kalian berburu tidak untuk mengincar hadiah dari raja dan ratu, bukan?"
"Tentu saja, tidak. Kami datang hanya untuk bersenang-senang saja. Aku ingin menangkap seekor kelinci untuk bunda. Bagaimana denganmu, kakak?" tanya Alena.
"Aku menantangmu, Pangeran Lucius. Bagaimana jika kita membuat sebuah taruhan," ajak Arabella. Ini akan menjadi kesempatan baginya agar dia bisa dekat dengan Lucius
"Taruhan? Taruhan apa yang hendak kita lakukan, Putri Arabella?" tanya Lucius.
"Bagaimana jika kita bertaruh, siapa yang paling mendapatkan hasil buruan yang paling banyak maka dialah yang menang," ajak Arabella.
"Menarik, putri. Apa Ernest akan ikut dengan pertaruhan ini?" Lucius melihat ke arah Ernest.
"Maaf, Pangeran. Aku hanya ingin mencari seekor kelinci saja. Kau pun bisa melihat keadaanku ini, aku pun tidak pandai memanah jadi aku tidak bisa menandingi kalian," ucap Alena.
"Benarkah?" Lucius tampak tidak percaya. Alena begitu pandai bermain pedang, bagaimana mungkin dia tidak bisa menggunakan panah? Lucius menatapnya dengan lekat, namun dia ingat jika Ernest sedang menyembunyikan kemampuannya.
"Kau bisa melihat keadaan adikku, pangeran. Apa kau menerima tantangan dariku? Aku yakin kau tidak mungkin takut untuk menerima tantangan dariku ini," ucap Arabella.
"Tentu aku menerimanya, Putri Arabella. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengumpulkan hewan buruan?" jika dia menolak maka dia akan menjadi bahan gunjingan.
"Kita kembali di pohon besar itu saat matahari sudah berada di atas kepala!" ucap Arabella.
"Baiklah, mari kita lakukan!" ajak Lucius.
"Ernest, jangan pergi jauh-jauh. Kami akan kembali lagi di pohon besar itu saat matahari sudah berada di atas kepala."
__ADS_1
"Baik, Kakak. Selamat bersenang-senang," ucap Alena.
"Tentu saja. Ayo kita mulai, Pangeran," ajak Arabella.
Kuda dibawa maju ke depan, Lucius memberikan isyarat pada Bastian agar pengawalnya itu menjaga Ernest. Bastian mengangguk, dia akan melindungi Ernest secara sembunyi-sembunyi. Lucius dan Arabella, memacu kuda mereka dengan cepat. Mereka bergabung dengan para putra pejabat yang sedang melakukan perburuan.
Alena yang tidak mau ikut justru melompat turun dari kudanya, Amy dan Agnes yang mengikuti juga melompat turun dari atas kuda. Panah sudah berada di tangan, mereka melangkah mengendap untuk mencari kelinci yang akan mereka tangkap untuk ibu ratu.
Arena berburu begitu ramai dan seru, sekelompok orang sudah mengintai untuk mencari Ernest tapi sayangnya Ernest tidak terlihat sama sekali. Mereka mulai curiga jika Ernest tidak berada di tempat itu, mereka pun mulai berpencar untuk mencari keberadaan putri Ernest.
Mereka mendapatkan misi untuk menculik putri Ernest lalu menjadikannya sebagai seorang penyihir yang akan melakukan sebuah ritual. Mereka sudah mendapatkan korbannya, mereka pun sudah menyusupkan beberapa orang di antara prajurit yang sedang menjaga tenda.
Beberapa orang itu benar-benar mencari keberadaan putri Ernest tapi hanya pangeran Lucius dan Arabella saja yang terlihat. Mereka yang terus mengintai memutuskan pergi dari tempat itu untuk mencari keberadaan sang putri yang entah berada di mana.
Alena yang sedang mencari keberadaan kelinci sengaja tidak berada di arena berburu. Dia tidak akan bisa menemukan pelaku jika memang ada yang mengincar dirinya. Amy dan Agnes berjalan di antara sisi kanan dan kiri, mereka pun mencari kelinci di antara semak-semak.
"Sepertinya kita tidak akan menemukan apa pun di sini, Putri," ucap Amy.
"Benar, Putri. Tidak ada satu ekor kelici pun yang terlihat!" ucap Agnes pula.
Alena melangkah maju, itu pasti seekor binatang. Alena melangkah mendekati sumber suara, panah sudah siap di tangan. Dia akan langsung memanah jika ada yang terlihat tapi dia sangat berharap bisa mendapatkan seekor kelinci untuk ibunya.
"Putri, tidak ada apa pun di sini. Ayo kita cari di tempat lain!" ucap Amy.
"Kau benar, ayo kita mencari di tempat lain!" Mereka segera berpindah, tanpa menyadari jika dua orang pelaku yang menginginkan Ernest sudah menemukan keberadaan sang putri dan mengintai apa yang putri lakukan.
Alena dan kedua pelayannya kembali mencari kelinci yang mereka inginkan tapi pergerakan yang ada di semak-semak justru membuat Alena curiga. Bastian yang sedari tadi menjaga putri Ernest pun tampak curiga, sepertinya ada yang tidak beres.
Tangan Alena terangkat, sehingga langkah Amy dan Agnes terhenti. Mereka berdua tampak kebingungan tapi seekor kelinci yang ada di hadapan mereka membuat mereka sangat senang.
"Aku ingin dalam keadaan hidup," ucap Alena.
"Bagaimana menangkapnya, Putri?" tanya Amy dan Agnes.
__ADS_1
"Pelan-pelan lalu kita tangkap!" ucap Alena.
"Baiklah!" Amy dan Agnes melangkah mengendap tapi kelinci itu justru menyadari sesuatu karena terdengar suara lagi suara di antara semak-semak. Amy dan Agnes bahkan menghentikan langkah agar kelinci itu tidak lari tapi suara yang ada di antara semak-semak itu justru membuat kelinci yang mereka incar justru langsung lari.
Alena semakin merasa ada yang tidak beres, pasti ada yang mengintai mereka saat ini dari semak-semak. Tidak mungkin ada binatang buas karena tempat itu sudah dibersihkan dari binatang buas.
"Mundur Amy, Agnes!" perintah Alena.
"Ada apa, Putri?" tanya mereka berdua.
"Mundur sekarang juga!" perintah Alena lagi.
Amy dan Agnes segera mundur, panah yang ada di tangan diangkat, mereka pun tampak waspada. Bastian yang ada di tempat persembunyian pun tampak waspada, dia sudah melihatnya. Sekelompok orang yang sedang mengintai putri Ernest. Bastian tidak mau mengambil risiko, dia segera mengutus seorang prajurit untuk mencari pangeran Lucius dan melaporkan hal ini pada sang pangeran.
Mara bahaya semakin mengancam, Alena melangkah mundur diikuti oleh kedua pelayannya. Mereka tampak waspada sampai pada akhirnya sebuah panah melesat ke arah mereka dengan cepat.
"Bahaya, Putri!" teriak Agnes.
Alena membuang panahnya lalu mencabut pedang untuk menangkis anak panah yang mengarah ke arahnya namun mereka sudah dihujani oleh anak panah lainnya Bastian dan beberapa anak buahnya pun keluar dari persembunyian, mereka menangkis setiap anak panah yang mengarah ke arah putri Ernest. Alena pun terus menangkis tapi keadaannya yang lemah akibat racun yang belum pulih membuatnya memuntahkan darah kembali. Seperti dugaannya, racun yang ada di dalam obat semakin mematikan.
"Putri!" Amy dan Agnes mereka berteriak melihat keadaan mereka.
"Lindungi putri Ernest!" teriak Bastian.
Pasukan pemanah sudah bersiap-siap, mereka pun memanah di antara semak-semak tanpa ragu karena musuh saja bersembunyi. Pangeran Lucius yang sudah mendapatkan kabar sudah kembali, meninggalkan Arabella yang masih berburu mengejar seekor rusa. Dia harap tidak terlambat dan begitu dia tiba, Bastian hampir terpukul kalah.
Para penjahat yang menginginkan Ernest merasa sudah berada di atas angin tapi ketika pangeran Lucius tiba, pangeran Lucius segera memimpin pasukannya untuk menyerang. Orang-Orang itu terpukul kalah, mereka melarikan diri. Bastian yang hendak mengejar dihentikan oleh Bastian karena keadaan Ernest yang tidak sedang baik-baik saja.
Lucius segera menghampiri Ernest yang saat itu terlihat begitu lemah dengan darah yang mengalir dari dalam hidungnya.
"Apa yang terjadi dengannya?" tanya Lucius.
"Kami tidak tahu, kami tidak tahu!" jawab Amy dan Agnes sambil menangis.
__ADS_1
"Aku akan segera membawanya kembali. Jangan mengatakan apa pun agar acara tetap berjalan dan agar tidak membuat panik semua orang!" perintah Lucius. Alena pun sudah berada di dalam gendongannya. Benar-benar putri lemah dan tidak berguna tapi sesungguhnya, Alena memang sengaja tidak melawan dan dia sudah memperhitungkan semuanya dan obat beracun yang sengaja dia minum adalah sebagian dari skenario yang sedang dia mainkan.