Rise Of The Queen Ernest

Rise Of The Queen Ernest
Perasaan Rindu Alena


__ADS_3

Setangkai bunga mawar merah berada di atas meja. Bunga itu tentunya pemberian dari Pangeran Lucius. Alena yang tidak mengerti langsung melepaskan bunga itu dari telinganya. Amy dan Agnes tampak menggoda sang putri yang baru saja mendapatkan bunga tersebut dari sang pangeran. Alena yang tidak mengerti dengan candaan kedua pelayannya hanya geleng kepala.


Bisa dimaklumkan karena selama ini dia tidak pernah terlibat dengan percintaan karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya untuk menangkap para penjahat. Dia bahkan tidak tahu apa itu cinta dan bagaimana rasanya jatuh cinta.


"Sepertinya pangeran menyukai dirimu. Putri," ucap Amy.


"Benar, Putri. Sepertinya pangeran Lucius tertarik denganmu."


"Jangan sembarangan berbicara. Untuk putri tidak berguna dan penyihir seperti aku ini, pangeran mana yang akan menyukai aku?!"


"Tapi itu hanya sebuah isu saja, Putri. Aku rasa setelah melihat aksimu malam itu, pangeran merubah cara pandangnya terhadapmu dan tidak menganggapmu sebagai pecundang seperti yang lainnya!" ucap Amy.


"Jadi, ini bagus atau tidak?" tanya Alena seraya menghampiri kedua pelayannya.


"Tentu saja ini sangat bagus, Putri. Selama ini putri dianggap sebagai penyihir dan pecundang dan jika Pangeran Lucius jatuh hati pada Putri dengan begitu tidak akan ada yang berani menganggap putri demikian lagi," ucap Agnes.


"Kau terlalu banyak mengkhayal, Agnes. Dia  seorang pangeran yang tidak mungkin jatuh hati pada putri biasa seperti aku ini. Memangnya siapa aku? Arabella lebih baik dari pada aku jadi buat apa dia memilih aku bahkan putri kerajaan lain banyak yang lebih baik dari pada aku jadi jangan mengkhayal!"


"Kenapa putri berkata demikian? Berpikir optimislah putri jika Pangeran tertarik dengan putri," ucap Amy.


"Sudah, jangan membahas sesuatu yang tidak penting. Lagi pula kenapa kalian berbicara seperti itu? Jangan mengatakan sesuatu yang tidak penting apalagi masalah seperti ini. Ingat, tembok memiliki telinga. Jika ada yang mendengar lalu perkataan kalian berdua tersebar keluar, kalian tahu apa yang akan terjadi, bukan? Dari satu orang akan menyebar ke orang lain lalu segala bumbu akan bertambah sehingga apa yang kalian ucapkan akan menjadi perkataan jika aku ingin memiliki Pangeran Lucius padahal aku sudah tahu jika kakakku menyukai sang pangeran. Kalian pasti tahu, aku akan dibenci banyak orang karena mereka akan membela putri Arabella dan aku akan dianggap sebagai pengkhianat!"


"Maaf, Putri. Karena Pangeran memberikan setangkai bunga ini pada Putri jadi kami mengira pangeran menaruh hati pada Tuan Putri," ucap Amy.


"Baiklah, hanya setangkai bunga saja. Memangnya apa artinya?"


"Mawar merah melambangkan cinta dan kasih sayang, apa putri tidak tahu?" tanya Agnes.


"Wow... Wow, melambangkan apa? Cintai? Kasih sayang? Aku rasa kalian sudah terlalu berlebihan!"


"Putri benar-benar tidak peka!"

__ADS_1


"Baiklah, mari bahas yang lain. Apa ada berita yang kalian dapatkan?"


"Kami dengar raja ingin melakukan acara berburu di tanggal lima belas nanti," jawab Amy.


"Berburu?" Alena mengernyitkan dahi. Berburu di tanggal lima belas? Bukankah itu hari di mana ritual sesat akan berlangsung? Apakah ada maksud tertentu dari rencana sang raja?


"Ernest, apa kau ada di dalam?" terdengar suara ibu ratu.


Amy bergegas, membuka pintu untuk ibu ratu. Alena menyambut kedatangan ibunya dan memberikan hormat pada sang ibu.


"Apa yang membawa Bunda datang ke sini?" tanya Alena.


"Ada yang hendak Bunda sampaikan padamu, Ernest."


"Ernest akan mendengarkan, Bunda."


"Kemarilah," ibu ratu menggandeng tangan putrinya dan membawanya menuju ranjang. Mereka duduk bersama di sana, ibu ratu tampak senang melihat keadaan putrinya yang semakin hari terlihat semakin baik. Semua pasti berkat obat yang dia berikan.


"Semua berkat obat yang Bunda berikan, terima kasih," jawab Ernest meskipun dia sudah tidak mengkonsumsi obat dari ratu sama sekali.


"Bunda senang mendengarnya, jadi dengarkan. Ayahanda berencana membuat sebuah acara untuk menyambut kedatangan pangeran Lucius agar kerajaan kita dan kerajaan Kenneth memiliki hubungan yang semakin baik lagi."


"Aku sudah mendengarnya, Bunda. Tapi kenapa harus di tanggal lima belas?" tanya Alena.


"Ayahmu sudah memikirkan hal ini dengan matang, pada tanggal lima belas nanti sebuah ritual sesat pasti akan dilakukan. Kita tidak tahu siapa, tidak tahu di mana dan kita tidak tahu ritual apa itu tapi yang kita tahu, kau selalu menjadi tersangkanya oleh sebab itu, di tanggal lima belas itu kita semua akan pergi berburu termasuk dirimu. Kau akan selalu bersama dengan kami di sepanjang malam jadi jika ritual itu terjadi, tidak akan ada yang berani menuduh dirimu sebagai penyihirnya karena kau selalu bersama dengan kami. Aku dan ayahmu sudah memikirkan hal ini, mungkin dengan demikian rumor bahwa dirimu adalah seorang penyihir akan berkurang," jelas ibu ratu.


"Jadi ayahanda ingin membersihkan namaku melalui acara berburu itu?"


"Benar sekali, Sayang. Sebelum kau dan Arabella pergi ke istana Kenneth, kami akan berusaha membersihkan namamu terlebih dahulu."


"Apa maksud Bunda?" tanya Alena tidak mengerti.

__ADS_1


"Pangeran Lucius, dia mengundang kalian berdua ke pesta dansa yang akan diadakan di istananya."


"Apa? Untuk apa dia mengundang aku juga?"


"Kenapa kau terlihat tidak senang?" tanya ibunya.


"Bunda, situasi sedang tidak baik. Orang-Orang membenci aku jadi bukanlah pilihan bijak untuk pergi ke pesta dansa kerajaan Kenneth. Aku khawatir citra burukku justru merusak reputasi kerajaan itu jadi aku rasa, aku tidak perlu pergi ke sana!"


"Tidak perlu khawatir, Ernest. Itu pesta topeng, tidak akan ada yang mengenali dirimu. Lagi pula kami sudah memikirkan hal ini oleh sebab itulah kami hendak membersihkan namamu agar tidak ada satu orang pun lagi yang berbicara buruk tentangmu!"


"Tapi, Bunda?" Alena menunduk, bukanlah pilihan tepat dan bijak pergi ke pesta. Jangan sampai kejadian yang dialami oleh Ernest waktu itu terulang kembali.


"Jangan khawatir, tidak akan ada yang berani membicarakan putri Bunda lagi di kemudian hari. Lagi pula Ayahanda akan mengutus beberapa prajurit handal untuk mencari pelaku yang melakukan ritual itu!" ucap ibu ratu.


"Baiklah, Bunda. Ernest akan mematuhi keputusan Bunda dan Ayahanda," mau tidak mau dia harus mengikuti apa yang telah diputuskan oleh raja. Lagi pula jika dia tinggal di Istana, orang-orang akan lebih menuduhnya sebagai penyihir.


"Bunda sangat senang mendengarnya, Ernest," ibu ratu menggeser duduknya agar dia bisa memeluk putrinya.


"Sekarang kau tidak perlu khawatir karena Bunda dan Ayahanda tidak akan tinggal diam dan membiarkan dirimu menghadapi kesulitan sendirian," ucap ibunya seraya mengusap punggung putrinya.


"Terima kasih, Bunda," untuk pertama kalinya setelah dia datang ke jaman kuno itu, dia mendapatkan pelukan sehangat itu.


Tiba-Tiba dia jadi merindukan kedua orangtuanya. Apa yang sedang mereka lakukan saat ini? Apakah mereka sudah tahu jika dia sudah mati akibat ledakan? Alena menahan diri, menahan perasaan rindu pada kedua orangtuanya yang berada di jaman modern. Apakah dia bisa kembali lagi ke jaman itu dan menjadi dirinya kembali? Tapi rasanya mustahil mengingat tubuhnya yang sudah hancur berkeping-keping.


Alena tak henti memikirkan hal itu, sampai ibu ratu pergi. Amy dan Agnes bahkan tampak heran melihat sang putri yang sedang duduk termenung di depan jendela.


"Putri, ada apa denganmu?" tanya Agnes.


"Apa kalian sudah menemukan tempat aman untuk berlatih?" tanya Alena.


"Sudah putri. Gua waktu itu, hanya itu tempat aman!" jawab Amy.

__ADS_1


"Baiklah, malam ini kita pergi berlatih!" perintah Alena. Tanggal lima belas tinggal beberapa hari lagi jadi dia harus segera melatih kedua pelayannya agar bisa melindungi diri karena dia memiliki firasat buruk saat berburu nanti.


__ADS_2