
Malam itu, Lucius sudah tiba di pohon besar di mana dia akan bertemu dengan Ernest. Dia harap Ernest datang untuk menemui dirinya. Dia akan menunggu sampai pagi dan jika Ernest tidak juga datang maka dia akan datang lagi malam selanjutnya sampai Ernest datang menemui dirinya tapi saat itu, Ernest sedang membuat siasat untuk mengelabui mata-mata yang dia rasakan masih berada di sekitarnya.
Rencananya adalah, tidak ada yang boleh melihat dia pergi. Mata-Mata itu harus melihat jika dia bersama dengan kedua pelayannya yang setia dan tidak pergi ke mana pun. Amy dan Agnes pun harus tetap bersama dengannya. Dia harus membuat siasat seperti itu agar mata-mata itu tidak curiga jika salah satu dari mereka tidak ada.
Malam pun semakin larut, Alena sudah harus pergi tapi dia membutuhkan kerja sama kedua pelayannya. Entah siapa yang mengutus mata-mata itu, mereka harus waspada. Alena sangat ingin mengutus Amy atau Agnes tapi mereka tidak tahu pohon besar yang dimaksud oleh Pangeran Lucius. Tentunya itu adalah pohon di mana dia terjatuh waktu itu.
Selain mereka tidak tahu di mana pohon itu, Alena pun tidak bisa sembarangan mengutus pelayannya karena bisa saja mata-mata itu tidak hanya satu. Bisa saja mata-mata itu ada dua atau tiga orang. Jangan sampai salah satu dari mereka melihat pelayan yang dia utus untuk menemui Pangeran Lucius lalu membunuh mereka di tengah jalan. Hal itu sangat berbahaya bagi Amy atau punĀ Agnes jadi jalan satu-satunya yang harus dia lakukan adalah, dia yang pergi.
Peran dirinya akan digantikan dengan sebuah boneka jerami yang akan dibaringkan ke atas ranjang. Tidak akan ada yang sadar itu bukan dirinya apalagi dari jarak yang cukup jauh. Amy dan Agnes pun akan berperan seperti pelayan lain yang sedang sibuk membuat sulaman di gaun sang putri untuk digunakan saat pesta dansa nanti. Tentunya mereka melakukan hal itu dengan sungguh-sungguh karena memang mereka sedang membuat bunga menggunakan benang emas di gaun yang akan di pakai Alena nanti di pesta dansa.
Waktunya sudah tiba, semua persiapan sudah siap. Agar tidak terlihat oleh mata-mata yang ada di luar sana, Amy pura-pura keluar dan pada saat itu Alena merangkak agar tidak terlihat. Agnes pura-pura sibuk menyulam padahal dia terlihat was-was tapi ketika dia melihat sang putri sudah keluar, dia tampak lega.
Sesuai yang diperkirakan, ternyata mata-mata tidak hanya satu saja. Ada yang mengikuti Amy untuk melihat apa yang Amy lakukan. Alena tentu sudah bersembunyi dan pergi melalui jalan lain. Meski agak sulit tapi tidak jadi soal. Amy pergi membuat minuman, seperti yang sang putri katakan jika akan ada yang mengintai dirinya dan apa yang dikatakan oleh sang putri sangatlah benar. Amy segera kembali dengan dua gelas minuman yang dia buat.
"Ada yang mengawasi aku," ucap Amy dengan pelan.
"Sudah, jangan terlihat mencurigakan!" ucap Agnes. Semoga putri Ernest dapat pergi tanpa ketahuan dan kembali sesegera mungkin.
Alena yang sudah keluar dari istana, mengendap dengan hati-hati menuju jalan rahasia. Malam itu cuaca begitu buruk, langit sangat gelap sehingga cahaya tidak bisa menerangi hutan. Dengan sebuah pelita yang sudah disembunyikan oleh Amy, Alena bisa pergi tanpa adanya kendala. Semoga saja tidak ada yang melihat.
Hutan begitu gelap, dia hampir tersesat karena dia lupa dengan jalannya. Alena mencari keberadaan pohon besar waktu itu beberapa kali dan akhirnya melihat sebuah pelita. Itu pasti pangeran Lucius yang sudah menunggunya. Alena segera berlari, menghampiri cahaya itu. Dia harus cepat agar waktunya tidak terbuang banyak.
Lucius pun menghampiri saat melihat cahaya pelita yang dibawa oleh Alena. Akhirnya yang dia tunggu datang juga. Jujur saja dia khawatir Ernest tidak mau datang setelah mendengar perkataan terakhir dari pelayan Arabella jika Ernest tidak mau menemui dirinya lagi.
"Maaf membuatmu menunggu, Pangeran!" ucap Alena sambil mengatur napasnya yang hampir putus.
Lucius yang sedari tadi sudah menunggu tidak mengatakan apa pun tapi setelah sudah berada di dekat Alena, Lucius langsung memeluknya tanpa ragu. Tentu saja hal itu membuat Alena terkejut, tubuhnya bahkan membeku karena dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
"Pa-Pangeran," Alena memanggil dengan gugup.
"Aku kira kau tidak mau datang untuk menemui aku, Ernest," ucap Lucius.
__ADS_1
"Tentu saja aku akan datang untuk menemui dirimu karena ada yang harus aku sampaikan padamu. Lagi pula kenapa kau berpikir demikian dan siapa yang berkata jika aku tidak mau datang?"
"Sudahlah, yang penting kau datang untuk menemui aku. Sekarang katakan padaku, apa yang hendak kau sampaikan?"
"Kenapa kau yang jadi bertanya, bukankah kau yang ingin menemui aku?" tanya Alena.
"Hm, ya. Katakan padaku terlebih dahulu apa yang hendak kau sampaikan padaku, Ernest."
"Baiklah, tapi lepaskan pelukannya. Panas!" pinta Alena.
"Apa kau tidak suka dipeluk seperti ini, Ernest?"
"Pangeran, kita berdua di hutan. Meski tidak ada yang melihat tapi jangan memeluk aku seperti ini karena tidaklah pantas!"
"Jadi? Apa aku boleh memelukmu di hadapan banyak orang?"
"Tidak, tolong jangan lakukan. Aku tidak mau ada yang salah paham dengan hubungan kita berdua."
"Kenapa? Apa kau tidak suka berduaan denganku?" tanya Lucius dengan ekspresi ingin tahu.
"Baiklah, dengarkan. Aku ingin kau berhati-hati saat datang ke istanaku. Aku ingin kau menyamar agar tidak ada yang tahu jika itu adalah kau," ucap Lucius.
"Apa isu burukku sudah sampai ke istanamu?" Alena melangkah mendekati sebuah akar pohon lalu duduk di sana.
"Begitulah, Ernest," Lucius mengikutinya dan duduk di sisi Alena.
"Entah siapa yang menyebarkan isu itu tapi isu burukmu benar-benar semakin meluas oleh sebab itu aku ingin kau berhati-hati saat datang ke acara pesta dansa."
"Terima kasih, Pangeran. Untuk itulah aku datang ke sini karena aku ingin mengatakan padamu jika aku tidak bisa datang ke acara pesta dansa."
"Kenapa, Ernest? Apa kau tidak mau datang karena isu itu?"
__ADS_1
"Seperti yang kau katakan, Pangeran. Aku tidak bisa hadir karena isu tersebut. Aku tidak mau mencelakai kakakku, aku pun tidak mau membuatmu malu hanya karena kau mengundang aku jadi sebaiknya aku tidak hadir ke acara pesta dansa itu."
"Jangan katakan kau tidak bisa hadir, Ernest. Aku ingin kau hadir!" ucap Lucius.
"Maaf, sepertinya aku tidak bisa!"
"Ernest!" Lucius memegangi kedua tangan Alena dan menatapnya dengan lekat, "Berjanjilah kau akan datang. Pesta itu tidak ada artinya tanpa kehadiran dirimu," ucapnya lagi.
"Kenapa?" tanya Alena tidak mengerti.
"Karena aku ingin kau datang!" dagu Alena sudah terangkat, Alena tidak mengerti tapi kedua matanya melotot saat Lucius mendekatkan wajah mereka dan mendaratkan kecupan lembut di bibirnya. Sang agen yang sedari dulu hanya bekerja untuk menangkap pelaku kejahatan itu mendadak linglung? Apa yang sedang terjadi?
"Pa-Pangeran!" Alena memundurkan tubuhnya dan menutupi mulutnya.
"Kenapa terkejut seperti itu?" tanya Lucius.
"Ke-kenapa kau mencium aku?" tanya Alena dengan nada tidak senang. Apa pria jaman kuno selalu seperti itu? Mencium secara mendadak tanpa permisi terlebih dahulu. Sejak dulu, dia tidak pernah mengijinkan pria mana pun menciumnya meskipun tubuh yang dia tempati saat ini bukanlah miliknya tapi dia tidak suka ada yang menciumnya seperti itu.
"Apakah aneh? Apa aku tidak boleh menciummu, Ernest?"
"Tidak boleh, pangeran. Tolong jangan ulangi!" jawab Alena seraya beranjak.
"Tunggu, jangan marah gara-gara ciuman itu!" pinta Lucius seraya menahan tangan Alena.
"Aku tidak bisa lama, kedua pelayanku sudah menunggu. Jangan sampai ada yang tahu jadi aku tidak boleh membuat masalah di situasi yang sedang yang sedang genting."
"Baiklah, tapi aku harap kau datang ke acara pesta dansa di kerajaanku, Ernest."
"Aku tidak janji, pangeran. Aku harus pergi dulu karena aku tidak bisa terlalu lama!"
"Ernest," Lucius masih memegangi tangan Alena dan melangkah mendekatinya, "Aku sangat berharap kau datang, Ernest. Aku akan menantikannya," ucap Lucius seraya mendaratkan ciumannya ke pipi Alena.
__ADS_1
"Lagi? Jangan mencium aku sembarangan!" ucap Alena seraya melangkah mundur.
"Aku antar sampai jalan rahasia!" Lucius sudah menarik tangan Alena karena dia akan mengantar Alena kembali. Walau singkat tapi sudah cukup karena mereka memang tidak bisa lama. Alena tidak membantah, ternyata apa yang hendak mereka bicarakan sama. Mau pergi atau tidaknya akan dia pikirkan nanti yang pasti pangeran Lucius sudah tahu jika dia tidak akan datang jadi pria itu tidak perlu menunggunya nanti sehingga dia bisa bersenang-senang di acara pestanya tapi sesungguhnya Lucius sangat ingin dia datang oleh sebab itu Lucius tetap memintanya untuk datang karena di bandingkan siapa pun, yang dia inginkan untuk datang adalah Ernest. Meski pertemuan mereka sangat singkat karena Alena tidak bisa lama tapi pertemuan itu sudah cukup untuk mengobati kerinduan yang dirasakan.