Rise Of The Queen Ernest

Rise Of The Queen Ernest
Hannya Pengganti


__ADS_3

Hari mendadak tenang, Agnes pun tidak menunjukkan gelagat yang mencurigakan karena semua pengikut sekte memang diminta untuk tidak melakukan apa pun sampai tanggal lima belas tiba agar tidak ada yang curiga dan agar tidak ada yang tahu apa yang akan mereka lakukan.


Hari yang tenang itu tentu dimanfaatkan oleh Alena untuk bersantai bersama dengan pangeran Lucius. Alena berada di atas dahan sebuah pohon besar bersama dengan Lucius yang sedang duduk di belakangnya. Alena bahkan bersandar di dada sang pangeran sambil menikmati buah apel yang diberikan oleh Lucius. Mereka berdua seperti sedang memadu kasih di atas pohon itu meski Amy dan Bastian berada tidak jauh dari mereka.


"Apa kau akan kembali ke istana setelah kita menangkap peenyihir itu?" tanya Alena.


"Tentu saja, sebentar lagi aku akan akan dilantik. Apa kau akan datang, Ernest?"


"Apa aku akan diterima?" tanya Alena sebelum menggigit buah apelnya.


"Tentu saja, kau pasti akan diterima apalagi setelah kita menangkap penyihir itu. Namamu pasti akan bersih dari fitnah yang selama ini kau dapatkan tidak akan ada lagi."


Alena diam, tidak menjawab. Dia justru memikirkan apa yang akan terjadi padanya nanti setelah dia menyelesaikan misi itu. Sayang sekali dia tidak bisa bertemu dengan jiwa Ernest, jika mereka bisa bertemu kembali mungkin dia bisa mencari tahu apakah dia akan menghilang setelah perannya berakhir atau tidak.


"Kenapa kau diam saja? Apa yang sedang kau pikirkan?" Lucius mengusap dahi Alena, buah yang ada di tangan Alena terjatuh dari tangan karena tangan Alena sudah berada di atas lengan Lucius.


"Aku takut, Lucius," ucapnya.


"Apa yang kau takutkan, Ernest? Apakah setelah ini kau akan pergi ke negeri lain atau ada hal lainnya?"

__ADS_1


"Bukan itu!" Alena menegakkan duduknya, ekspresi wajahnya terlihat sedih.


"Ada apa? Katakan padaku??" Lucius bergeser mendekat lalu memeluk Alena dari samping.


"Setelah semua selesai, sepertinya aku juga akan menghilang!"


"Apa maksud perkataanmu?" Lucius sungguh tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Ernest.


Alena berpaling, menatap pangeran Lucius dengan tatapan sendu. Senyuman tipis menghiasi wajah, Lucius semakin penasaran dengan perkataan Alena apalagi di balik senyumannya tersimpan sesuatu yang dia sembunyikan.


"Ernest, aku tidak suka menerka!" Lucius menggenggam tangan Alena lalu mencium punggung tangannya.


"Katakan padaku apa maksud dari perkataanmu? Kau berbicara aneh seperti ini sudah dua kali dan aku tidak mengerti sama sekali dengan maksudnya jadi katakan padaku, kenapa kau berbicara seperti itu dan apa maksudnya?"


"Kenapa kau berbicara seolah-olah raga ini bukan milikmu, Ernest?" Lucius memeluknya dari samping, dia tidak mengerti tapi perkataan Ernest seolah-olah mengatakan jika dia tidak berhak atas tubuhnya sendiri.


"Apa kau menyukai aku, Pangeran?" Alena kembali berpaling, menatap pangeran Lucius dengan ekspresi wajah yang serius.


"Tentu saja aku menyukaimu, Ernest. Kau tahu itu tapi kenapa kau masih bertanya? Apa kau tidak bisa melihat apa yang telah aku lakukan untukmu? Aku bersedia meninggalkan istana hanya untuk dirimu saja, apa kau masih meragukan aku?" tanya Lucius.

__ADS_1


"Bukan seperti itu, Pangeran. Aku tahu kau menyukai aku tapi aku ingin tahu apa yang kau sukai dariku. Apakah wajahku ataukah kepribadianku yang terkenal pecundang ini yang kau sukai?"


"Kau memang pecundang, aku mendengar kabar seperti itu tapi setelah aku bertemu denganmu dan mengenal dirimu, kau benar-benar berbeda. Apa yang dikatakan oleh orang-orang tentangmu selama ini ternyata tidaklah benar. Kau bukan pecundang dan kau jauh dari bayanganku bahkan kau memberikan aku banyak kejutan. Aku bahkan tidak bisa mempercayai apa yang aku lihat setiap kali kau menghabisi musuh-musuhmu. Kau tidak lemah seperti isu yang aku dengar, kau bahkan membunuh tanpa belas kasihan dan aku, sungguh kagum akan dirimu jadi aku tidak saja jatuh cinta karena wajah cantikmu tapi aku pun jatuh cinta pada sifatmu yang luar biasa dan yang memberikan aku kejutan dengan aksi-aksimu yang mengejutkan."


"Terima kasih atas jawabanmu, Pangeran," Alena meletakkan kepalanya di lengan Lucius.


"Tapi aku ingin kau berjanji satu hal. Apakah kau bersedia?"


"Tentu aku bersedia, katakan padaku apa yang kau inginkan, Ernest?"


"Terima kasih jadi dengarkan permintaanku baik-baik. Setelah kita menangkap penyihir itu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku setelahnya. Apakah aku akan tetap menjadi aku ataukah tidak karena aku tidak tahu kehidupan ini milikku atau bukan. Aku hanya peran pengganti yang menjalankan peran tokoh utama dan setelah kontrak di antara kami sudah selesai, aku tidak tahu apakah aku masih memiliki andil dalam peran yang sedang aku mainkan oleh sebab itu, jikalau sifatku berubah suatu saat nanti, jika aku seperti orang lain dan bersikap lemah, apakah kau masih tetap akan mencintai aku? Apakah kau akan berpaling pada wanita lain dan mencampakkan aku?" Alena meminta hal demikian karena bisa saja Ernest kembali ke tubuhnya dan perannya sudah berakhir. Mereka adalah dua orang yang berbeda, tentu karakter yang mereka miliki juga berbeda. Jangan sampai pangeran justru tidak menyukai karakter yang dimiliki oleh Ernest sehingga mencampakkan putri yang sesungguhnya karena bagaimanapun dia hanyalah pengganti dan dia harus menyelamatkan posisi Ernest agar putri yang asli tetap dicintai oleh Pangeran dan Ernest bisa menjadi ratu dikemudian hari.


"Semua perkataanmu benar-benar membuat aku bingung dan tidak bisa aku mengerti, Ernest!" Lucius memeluknya dengan erat. Perkataan Alena sungguh membuatnya bingung tapi dia yakin, Alena sedang serius.


"Perkataanku tidak perlu diartikan Pangeran, yang aku inginkan adalah janjimu. Apakah kau masih mau mencintai aku jika sifatku mendadak berubah dan tidak seperti yang kau kenal selama ini? Jawablah aku Pangeran dan berjanjilah padaku!"


"Aku berjanji padamu, Ernest. Aku berjanji akan selalu mencintai dirimu meski sifatmu berubah suatu saat nanti. Aku bersumpah tidak akan meninggalkan dirimu dalam keadaan apa pun, itu adalah sumpahku sebagai lelaki!"


Alena tersenyum, sumpah yang diucapkan oleh Lucius membuat perasaannya jadi tenang. Dengan begini posisi Ernest akan aman saat dia kembali ke tubuhnya karena Lucius akan tetap mencintai dirinya dan dia, sudah sangat puas dicintai oleh pria tampan seperti Lucius meskipun pria itu dari jaman kuno tapi setidaknya dia sudah merasakan cinta di dalam hidupnya.

__ADS_1


"Terima kasih, Pangeran. Aku bahagia mendengarnya," ucap Alena. Sekarang, apa pun yang akan terjadi padanya nanti, dia tidak akan menyesali apalagi sejak awal dia memang sudah mati.


Lucius tak melepaskan pelukannya, entah kenapa dia jadi takut. Takut jika sosok berani yang ada di dalam dekapannya saat ini menghilang dari hadapannya. Dia harap apa yang dia takutkan tidak terjadi, dia harap Ernest tetaplah Ernest meski dia tidak mengeri dengan apa yang diucapkan oleh Alena tapi akibat perkataan dan permintaan Alena, sebuah perasaan takut muncul dihati dan dia jadi merasa jika dia akan kehilangan wanita yang ada di dalam dekapannya saat ini.


__ADS_2