Rise Of The Queen Ernest

Rise Of The Queen Ernest
Perintah Yang Menguntungkan


__ADS_3

Amy dan Agnes sangat panik setelah mereka tiba di dalam kamar. Mereka panik karena perkataan sang putri yang mengatakan jika dia akan mencari pelakunya. Mereka tahu hal itu tidak akan mudah, lalu bagaimana putri Ernest mencari pelaku yang sebenarnya? Bukan hanya perkataan itu saja yang membuat mereka khawatir, tapi tantangan dari Alena pada rakyat membuat mereka cemas.


Alena yang memberi tantangan saja terlihat santai-santai saja. Bunga yang diberikan oleh Pangeran Lucius berada di atas meja sedangkan Alena bersiul di depan jendela dan hal itu membuat Amy dan Agnes sangat heran melihatnya. Seharusnya sang putri sedang uring-uringan dan panik karena dia harus mencari pelaku tapi nyatanya, putri Ernest justru terlihat bahagia.


"Putri, apa kau sedang jatuh cinta?" tanya Amy yang mendekati Alena.


"Apa? Kenapa bertanya demikian?" tanya Alena.


"Kau seperti sedang jatuh cinta dan bunga itu?" Agnes melihat bunga yang ada di atas meja, sedangkan Amy mengambil bunga itu dan segera melangkah mendekati Alena.


"Apa ini dari pangeran Lucius, putri?" tanya Amy.


"Yeah, dia yang mengambilkan bunga itu untukku," Alena melirik ke arah Amy sejenak dan setelah itu Alena kembali melihat keluar jendela.


"Wah, jadi benar putri sedang jatuh cinta?" Amy dan Agnes tampak senang. Mereka bahkan mulai menggoda Alena.


"Ernest, bunga ini aku persembahkan untukmu," Amy berpura-pura menjadi pangeran Lucius yang sedang berlutut di hadapan Agnes.


"Oh, pangeran. Bunga ini sangat indah," sekarang Agnes berpura-pura menjadi putri Ernest.


"Hei, apa yang kalian lakukan?" Alena  melihat ke arah kedua pelayannya.


"Ernest, apa kau mau berdansa denganku?" Amy masih berakting.


"Tentu saja, Pangeran," Kini Amy dan Agnes sudah saling berpegangan tangan seperti pasangan yang saling jatuh cinta.


"Hei.. Hei, akting kalian sungguh jelek," Alena beranjak dan menggeleng karena Amy dan Agnes masih saja menggoda dirinya.


"Kami sangat ingin melihat putri dan pangeran seperti ini," jawab Amy.


"Jangan mengada-ada, aku tidak mungkin bisa seperti itu. Jangan salah paham dengan kedekatan kami!"


"Kenapa, Putri? Apa Putri tidak menyukai pangeran?"


"Sttss... jangan mengatakan hal seperti ini, bagaimana jika ada yang mendengar?"


"Maaf, Putri. Tapi sepertinya Pangeran tertarik dengan putri. Apa Putri tidak menyadarinya?" tanya Agnes.


"Hei, jangan berkata seperti itu. Sudah aku katakan jangan salah paham dengan kedekatan kami!"

__ADS_1


"Wah... Wah, kenapa wajah putri jadi memerah seperti itu," ucap Amy yang sedang mengikuti Alena dari belakang.


"Putri tersipu karena mengingat pangeran!" goda Agnes.


"Kalian berdua?!" Alena sudah menekuk kepalan tangan. Apa kedua pelayannya tidak bisa berhenti menggodanya?


"Ampun putri!" Amy dan Agnes segera lari karena Alena mengejar.


"Sekali lagi kalian menggoda aku seperti ini, aku akan memukul bokong kalian sebanyak dua puluh kali!' teriak Alena.


"Tidak, putri jangan melakukan hal itu. Bagaimana jika Pangeran Lucius melihatnya!" teriak Amy.


"Jangan membuat Pangeran Lucius terkejut, putri!" teriak Agnes pula.


"Lagi-Lagi menggoda aku seperti itu, aku benar-benar akan memukul kalian!" teriak Alana.


"Jangan, putri!" teriak kedua pelayannya.


Suara mereka terdengar gaduh, ibu ratu yang sudah berdiri di depan pintu sangat heran dengan suara gelak tawa putri dan dua pelayannya. Semangkok obat sudah berada di tangan sang pelayan, tentunya itu obat seperti biasanya. Obat itu itu pun dibuat agar pelaku tidak curiga, tentunya agar obat beracun itu segera habis sehingga obat baru di racik dan pada saat itu, dia bisa mengetahui siapa pelaku yang sudah mencampur racun ke dalam obat.


"Ernest," ibu ratu memanggil. Tentu saja Ernest menghentikan tawanya begitu juga dengan Amy dan Agnes. Mereka segera melangkah menuju pintu lalu membukanya, Amy dan Agnes bahkan menunduk dan tampak tidak enak hati.


"Hormat pada Bunda," Ucap Alena sambil memberi hormat.


"Kami hanya bercanda saja, Bunda," jawab Alena.


"Baiklah, ada yang hendak bunda sampaikan padamu, kemarilah," ibu ratu menghampiri putrinya lalu mengajaknya duduk bersama.


"Ada apa, Bunda?"


"Dengarkan Bunda, Bunda dan Ayahanda sudah membuat keputusan jika kau harus mulai berlatih pedang dan memanah mulai besok."


"Apa?" Alena pura-pura terkejut, tapi dalam hati dia bersorak karena keputusan itu sangat menguntungkan dirinya.


"Selama ini kau terlalu lemah dan kau sudah harus mulai berubah. Sebagai seorang putri kau harus bisa menggunakan pedang untuk melindungi dirimu. Bunda dan Ayahanda sudah sepakat jika kau harus menjalani latihan pedang jadi jangan menolak."


"Aku tidak menolak. Bunda. Aku sangat senang dengan keputusan Bunda karena sudah lama aku ingin melakukannya. Aku sudah sangat ingin mengutarakan niat ini tapi aku takut bunda dan ayahanda tidak setuju."


"Kenapa kau berpikir demikian? Jika kau mengatakan niatmu kami pasti setuju apalagi jika demi keselamatanmu."

__ADS_1


"Maaf, Bunda. Ernest hanya takut saja tapi apakah Amy dan Agnes boleh berlatih bersama dengan Ernest?" tanya Alena. Dia meminta hal demikian karena dia berpikir Amy dan Agnes bisa latihan bersama dengannya. Dengan begitu dia tidak perlu melatih mereka secara diam-diam lagi.


"Untuk apa? Bunda rasa mereka tidak perlu berlatih."


"Bunda," Alena memegangi tangan ibu ratu, "Mereka adalah pelayanku, sudah seharusnya mereka bisa bela diri dan menggunakan pedang agar mereka bisa melindungi diri saat ada bahaya dan agar mereka bisa melindungi aku. Banyak yang membenci aku, Bunda. Banyak pula musuh yang aku miliki dan bahaya bisa datang kapan saja. Aku rasa mereka memang harus bisa memegang pedang sehingga kami bisa melindungi diri bersama. Ernest harap Bunda mengijinkan kami berlatih bersama," pinta Alena.


"Baik, yang kau katakan sangatlah benar. Jika begitu kalian bisa berlatih bersama, Bunda akan membicarakan hal ini pada ayahanda nanti dan membujuk ayahanda agar dia menyetujui permintaanmu," ucap ibunya.


"Terima kasih, Bunda," Alena memeluk ibu ratu, dia sangat senang karena raja dan ratu mengambil keputusan yang sangat menguntungkan dirinya. Dengan begini dia tidak perlu menyelinap keluar untuk mengajari Amy dan Agnes.


"Berlatihlah yang benar agar kau cepat pandai. Bunda akan mengunjungi di hari pertamamu berlatih dan melihat kemampuanmu."


"Terima kasih, Bunda. Ernest sangat menyayangi Bunda."


"Bunda juga menyayangimu, Sayang. Bunda tidak mau kau mengalami hal buruk lagi seperti yang terjadi di tempat berburu oleh sebab itu Bunda ingin kau bisa melindungi dirimu sendiri."


"Ernest pasti akan berlatih dengan baik, Bunda," ucap Alena. Senyuman menghiasi wajah, kali ini raja dan ratu benar-benar mengambil keputusan yang bijak.


"Obat untuk putri Ernest, yang mulia," sang pelayan memberikan obat yang masih dia pegang.


"Letakkan saja di sana, Ernest belum mau meminumnya!" perintah ibu ratu.


"Baik," obat diberikan pada Amy dan Amy letakkan ke atas meja.


"Bunda sudah harus kembali karena Bunda datang hanya ingin menyampaikan titah ayahanda untukmu," ucap ibunya seraya beranjak.


"Terima kasih, Bunda," Ernest pun beranjak untuk mengantar ibunya keluar.


Ernest menahan diri, dia sudah sangat ingin melompat girang oleh sebab itu setelah ratu pergi dan pintu tertutup, Alena langsung melompat girang. Amy dan Agnes saling pandang, mereka tampak heran.


"Bagus, dengan begini kita bisa berlatih bersama dan kita tidak perlu pergi mengendap-endap lagi!" ucapnya.


"Seharusnya raja memberikan titah seperti ini sejak lama, Putri," ucap Amy.


"Benar, dengan begitu kita tidak perlu mengalami kejadian buruk malam itu," ucap Agnes lagi.


"Sudah, apa yang terjadi tidak perlu diungkit lagi yang penting mulai sekarang kita harus memiliki kemampuan untuk bertahan agar kejadian itu tidak terulang kembali lagi."


"Baik, Putri. Kami akan memanfaatkan hal ini dengan sebaik mungkin," ucap Amy dan Agnes.

__ADS_1


"Bagus, buatkan aku teh. Aku juga ingin sedikit cemilan dan obat itu, buang yang jauh!" perintah Alena.


Amy dan Agnes menjalankan perintah, membuat cemilan dan minuman. Alena berdiri di depan jendela, dia tidak menduga, jika hari ini dia mendapatkan kabar bagus dan kabar itu benar-benar menguntungkan dirinya.


__ADS_2