Rise Of The Queen Ernest

Rise Of The Queen Ernest
Perasaan Yang Tidak Boleh Ada


__ADS_3

Bastian hampir tidak tidur karena berjaga-jaga sedangkan Amy tertidur sambil bersandar di batang pohon besar, dia tidak bisa menahan rasa kantuk yang teramat sangat. Bastian tampak waspada karena dia melihat pergerakan aneh di kejauhan. Sepertinya tebakannya benar dan beruntungnya Pangeran sudah menyembunyikan putri Ernest.


Malam yang cukup menegangkan, Lucius bahkan tidak tidur karena mengkhawatirkan keadaan Ernest yang terkadang terbangun untuk meminta air akibat haus. Lucius pun kembali memberikan obat penangkal racun, dia akan menjaga Ernest sampai keadaannya benar-benar pulih.


Udara malam itu pun begitu dingin, mau tidak mau api unggun dibuat di dalam gua yang lembab. Lucius duduk bersandar pada dinding gua sedangkan Ernest berada di pangkuannya dan masih tanpa busana karena Lucius memeluknya dengan erat agar Ernest semakin hangat dengan suhu tubuhnya. Tentunya selembar kain menutupi tubuh mereka agar terhindar dari udara dingin.


Malam itu pun terasa panjang, Lucius tertidur dalam posisi duduk. Alena yang sudah melewati masa kritis terbangun dengan kepala yang masih sakit. Begitu kedua matanya terbuka, yang dia lihat pertama kali adalah wajah Lucius. Alena terkejut, dia sedang mengingat apa yang terjadi tapi sebelum dia mengingatnya, Alena justru menyadari jika dia tidak menggunakan apa pun begitu juga dengan Lucius. Tidak butuh lama, teriakan Alena terdengar lalu sebuah tamparan keras mendarat di wajah Lucius.


Akibat tamparan itu, Lucius terkejut dan terbangun dan akibat teriakan Alena, Amy pun terkejut dan terjatuh dari atas pohon tapi Bastian segera meraih tangannya sehingga tubuhnya tidak jatuh ke bawah.


"Apa yang kau lakukan padaku?" teriakan Alena terdengar dari dalam gua.


"Sepertinya kau baik-baik saja, tamparanmu sungguh menyakitkan," ucap Lucius sambil memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan Alena.


"A-Apa yang kau lakukan? Kenapa kita berdua tidak memakai pakaian?" tanya Alena tapi sebelum Lucius menjawab, Amy sudah berlari masuk ke dalam.


"Putri!" Amy berlari ke arah Alena yang sedang membungkus dirinya menggunakan kain dan segera memeluknya. Alena berusaha mengingat, dia ingat dia terkena sebuah panah dan pingsan setelah keluar dari desa. Sepertinya yang dia lihat benar-benar Amy sebelum dia pingsan.


"Aku sangat senang putri baik-baik saja. Beruntungnya aku bertemu dengan pangeran jika tidak, aku tidak tahu harus bagaimana karena putri terkena racun."


"Jadi?" Alena melihat ke arah Lucius yang sedang memakai bajunya.


"Minum ini, nona," Amy memberikan air untuk Alena.


"Aku hanya menghangatkan tubuhmu saja, tidak perlu khawatir karena aku tidak melakukan apa pun!"


"Putri terkena racun yang cukup berbahaya, meski racun sudah di hisap keluar oleh pangeran dan tuan putri sudah diberi penangkal racun, tapi keadaan tuan putri masih saja memburuk bahkan tuan Putri menggigil sepanjang malam," jelas Amy.


"Oh, tidak!" Alena melihat ke arah Lucius dan merasa bersalah karena dia telah memukul orang yang sudah menolongnya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Ernest. Aku tunggu di luar," Lucius yang sudah memakai bajunya pun melangkah pergi.


"Mana kotak itu, Amy? Apa masih bersama denganmu?" tanya Alena.


"Aku memberikan kotak itu pada Pangeran karena aku takut kotak itu hilang."


"Baiklah, bantu aku mengganti pakaian," pinta Alena. Dia hendak beranjak tapi dia tidak memiliki tenaga sama sekali untuk beranjak.


"Jangan memaksakan diri, Putri. Biar aku yang melakukannya," Amy bergegas mengambil sebuah kain lalu membasahinya karena dia akan mengelap tubuh sang putri yang berkeringat.


Pakaian bersih pun dikenakan pada sang putri, dan setelah itu Amy membantu Alena yang tidak bertenaga keluar dari gua. Alena benar-benar tidak memiliki tenaga, kepalanya pun terasa sangat sakit. Saat berada di luar gua, Alena hampir terjatuh karena Amy terinjak sebuah batu. Mereka berdua hampir saja terjatuh tapi Lucius yang secara kebetulan berada di sisi gua bergerak cepat untuk menangkap tubuh Alena.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Lucius.


"Maaf, aku tidak bertenaga sama sekali," jawab Alena.


"Maaf, aku mempersulit dirimu dan maaf aku menampar wajahmu," ucap Alena tidak enak hati.


"Tidak perlu dipikirkan, inilah gunanya aku dan untuk inilah aku datang."


"Sudah kau katakan kau tidak perlu datang, Pangeran. Aku tidak mau kau terlibat lebih jauh dengan masalah yang sedang aku hadapi."


"Aku tidak bisa diam saja, Ernest. Apa kau kira aku bisa tenang berada di istana sedangkan kau berada di dalam bahaya? Aku tentu tidak bisa membiarkan kau sendiri di desa terkutuk itu!"


"Tapi, pangeran. Tidak seharusnya kita seperti ini!" Alena sudah duduk di batang pohon dibantu oleh Lucius.


"Apa maksud perkataanmu, Ernest?"


"Sesungguhnya aku menghadiri acara pesta itu karena aku ingin mengatakan padamu jika kita tidak akan bertemu lagi. Itu sebabnya aku mengembalikan kalung itu padamu. Aku ingin kita berdua tidak bertemu lagi, Pangeran," ucap Alena.

__ADS_1


"Kenapa harus begitu? Apa aku sudah membuat sebuah kesalahan sehingga kau membenci aku dan tidak mau bertemu denganku lagi?"


"Tidak, bukan begitu."


"Lalu? Katakan padaku apa alasannya sehingga kau tidak mau bertemu denganku lagi?" Kini Lucius berjongkok di hadapan Alena dan memegangi tangannya, "Katakan kenapa kau tidak mau bertemu denganku lagi, Ernest? Aku tidak terima jika kau tidak memberikan alasan yang masuk akal!" tanyanya sambil menatap Alena.


"Kakakku menyukaimu, Pangeran. Aku tidak bisa!" Alena berpaling, enggan menatap Lucius.


"Apa maksudmu tidak bisa?"


"Seharusnya kau mengerti dan aku rasa kau tahu kakakku menyukai dirimu, Pangeran. Aku tidak ingin hubunganku dengan Kak Arabella jadi hancur gara-gara lelaki jadi aku tidak bisa dan aku pikir, tidak sebaiknya kita dekat seperti ini dan aku juga berpikir lebih baik kita tidak bertemu lagi!"


"Tidak! Aku tidak terima alasanmu ini, Ernest. Aku tahu Arabella menyukai aku tapi aku tidak menyukainya dan aku rasa," Pangeran Lucius berdiri, kedua tangan Alena pun diraih dan di genggam "Kau pasti tahu siapa yang aku sukai, bukan?" tanyanya.


Alena diam, mereka berdua saling pandang. Lucius duduk di sisinya tanpa melepaskan kedua tangannya.


"Bagaimana denganmu, Ernest? Apa yang kau rasakan saat ini padaku? Apa tidak ada sedikit perasaan saja di hatimu untukku?"


"Tidak, Pangeran!" Alena menunduk, tentunya jawaban yang diberikan oleh Alena membuatnya kecewa tapi Alena belum selesai bicara.


"Seharusnya perasaan ini tidak boleh ada!" ucapnya lagi seraya mengangkat wajah.


"Apa itu artinya?" Lucius kembali memandangi Alena dengan lekat.


"Sudah aku katakan aku tidak pantas, aku pun sedang dalam misi membuktikan diri. Jalanku masih panjang karena aku belum tahu siapa sebenarnya musuh yang sedang aku hadapi. Isu buruk tentangku pun telah membuat aku dibenci semua orang. Kau adalah pangeran, calon raja masa depan. Kau akan dibenci oleh para rakyatmu jika kau memilih aku dan aku akan dibenci oleh kakakku karena aku menyukai dirimu oleh sebab itu seharusnya perasaan di antara kita berdua tidak boleh ada. Sebab itulah aku pikir lebih baik kita tidak bertemu lagi!"


"Baiklah, aku tahu apa yang kau maksud tapi aku sudah berjanji akan membantumu dan janjiku adalah sumpah jadi aku akan membantumu sampai tuntas. Soal perasaan yang ada di antara kita, kau tidak akan bisa mengikarinya, Ernest. Sekalipun seluruh istana membenci aku karena memilih dirimu, aku tidak keberatan dan kita berdua harus menghadapinya!"


Alena diam, tak bisa berkata apa-apa lagi. Masalah yang dia alami akan semakin sulit dan jangan sampai kakaknya membenci dirinya sehingga masalah semakin rumit tapi seperti yang Lucius katakan, mereka memang harus menghadapinya karena saat itu, Arabella sudah hampir tiba di Istana.

__ADS_1


__ADS_2