Rise Of The Queen Ernest

Rise Of The Queen Ernest
Perintah Sang Ratu Kegelapan


__ADS_3

Sang pemanah yang telah memanah putri Ernest sudah tiba untuk memberikan laporan pada ratu kegelapan yang dipuja oleh banyak orang. Sang ratu yang selalu menggunakan jubah hitam saat bertemu dengan para pengikutnya sudah menunggu, dia tidak sendirian karena pengikut yang lain juga bersama dengannya.


Sang pemanah yang menutupi wajahnya sebagian dipersilahkan untuk masuk ke dalam sebuah ruangan yang digunakan sebagai ruang pertemuan.


"Hormat pada sang ratu!" Pria itu berlutut di hadapan sang ratu sebagai hormat yang dia berikan.


"Katakan padaku, apa yang terjadi?" tanya sang ratu.


"Para anak buah yang diutus untuk membunuhnya saat di perjalanan aku temukan dalam keadaan tidak bernyawa, ratu."


"Tidak becus, bagaimana mungkin para pembunuh handal itu bisa kalah hanya melawan dua orang wanita saja? Apa mereka tidak memiliki kekuatan sama sekali?" sang ratu terdengar marah.


"Aku tidak tahu, Ratu. Saat aku tiba aku sudah menemukan mereka dalam keadaan tidak bernyawa."


"Kalian semua bodoh. Sekarang katakan, apa dia sampai ke pesta?"


"Aku tidak yakin, Ratu. Tapi sepertinya memang dia pergi ke sana."


Sang ratu diam saja, tidak ada yang bisa melihat ekspresi wajahnya karena topeng yang dia kenakan. Suasana hening sesaat, semua melihat ke arah sang pemanah yang memberi laporan.


"Sekarang katakan, apa yang dia lakukan di desa Wesstrink?" tanya sang ratu lagi.


"Yang aku dengar dia pergi ke desa itu untuk bertemu dengan seorang dokter bersama Kendrick dan yang aku tahu dia mendapatkan sesuatu yang diberikan oleh ordo suci dari pria itu."


"Kenapa kau tidak merebut benda itu darinya?" tanya sang ratu yang tampak murka.


"Maaf, Ratu. Aku sudah menghasut para bandit yang ada di sana dan memerintahkan mereka untuk mengambil kotak itu tapi gagal. Aku juga sudah memprovokasi beberapa warga tapi dia bisa melarikan diri tapo aku sudah melepaskan panah beracun saat dia hendak keluar dari desa Wesstrink dan panah itu mengenai tepat di punggungnya," jelas sang pemanah.


"Apa kau melihat kematiannya?" tanya salah seorang yang ada di sana.

__ADS_1


"Aku tidak melihat tapi aku merasa racun itu tidak akan menyelamatkan nyawanya!"


"Bodoh, kenapa kau tidak memastikannya?" teriak sang ratu.


"Maaf, ratu. Aku kehilangan jejaknya."


"Sekarang apa yang akan kita lakukan, Ratu?" tanya salah seorang pengikutnya.


"Bersikap seperti biasa, jangan sampai ada yang tahu. Jika Ernest masih hidup, dia pasti akan kembali ke istana bersama dengan kotak itu. Aku akan berusaha mendapatkan kotak itu nanti tanpa ada yang curiga dan aku ingin kalian menangkap pelayannya karena dia berguna untukku. Ingat, jangan sampai ada yang curiga dan pada saatnya tiba nanti, kita akan mengorbankannya bersama dengan seorang putri!"


"Sesuai dengan perintahmu, Ratu," jawab semua anak buahnya.


"Sekarang semua bubar, tidak ada yang boleh tahu akan pertemuan ini!" sang ratu beranjak, lalu melangkah menuju lorong yang terhubung ke dalam sebuah ruangan karena saat itu mereka melakukan pertemuan di ruang rahasia. Oleh sebab itulah tidak ada yang tahu akan pertemuan seperti itu bahkan tidak ada yang bisa tahu siapakah sang ratu yang sebenarnya.


Para pengikutnya pun membubarkan diri dan melepaskan jubah hitam yang mereka kenakan. Sang ratu kembali ke kamarnya, pelayan pribadi yang sangat dia percaya telah menyiapkan minuman dan camilan kesukaan sang ratu tentunya itu bukan camilan biasa karena camilan yang dia konsumsi dipercaya bisa memperpanjang umur dan mempercantik dirinya.


Mereka berkuda dengan cepat karena Alena sudah sangat ingin segera tiba di istana Kent Arsia. Semua gara-gara kotak yang dia dapatkan, dia rasa itu memang petunjuk yang harus dia pecahkan jika dia memang inginĀ  menemukan penyihir yang sesungguhnya.


Alena bahkan tidak mempedulikan keadaan dirinya yang belum membaik. Lagi pula dia memang harus segera kembali agar kakaknya tidak curiga. Dia pun sedang memikirkan keadaan Agnes yang dia tinggalkan karena dia memiliki firasat buruk. Dia harap tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Agnes saat dia kembali karena kemungkinan sang penyihir berada di dalam istana.


Racun yang masih berada di tubuh Alena membuatnya hampir terjatuh di atas kuda yang sedang melaju kencang. Amy sampai berteriak karena dia berada di belakang Alena. Pangeran Lucius yang berada di sisi Alena dengan sikap membawa kudanya mendekat dan meraih tali kuda milik Alena tapi itu tidaklah mudah. Telapak tangan pangeran Lucius sampai terluka akibat menarik tali kuda yang sedang berlari dengan cepatnya namun sang pangeran tidak peduli karena sangat berbahaya jika sampai Alena terjatuh.


Bastian bahkan membantu dari sisi yang lain, mereka berdua bekerja sama sampai akhirnya kedua yang ditunggangi oleh Alena terhenti.


"Ernest!" Lucius melompat turun dan segera berlari untuk menolong Alena yang sudah hampir terjatuh.


"Sial!" Alena terengah-engah, hampir saja tapi dia tidak akan berhenti.


"Kita istirahat sebentar, keadaanmu tidak baik!" ucap Lucius.

__ADS_1


"Tidak, pangeran. Aku tidak bisa membuang waktu lebih banyak lagi!" tolak Alena.


"Tapi keadaanmu tidaklah bagus untuk berkuda, Ernest!"


"Pangeran, tanganmu!" ucap Bastian yang melihat darah di atas telapak tangan pangeran karena tangan pangeran terluka akibat menarik tali terlalu lama.


"Maaf, gara-gara aku tanganmu jadi seperti itu," ucap Alena.


"Bukan masalah besar, tapi aku ingin kau beristirahat sebentar!"


"Aku tidak bisa membuang waktu, Pangeran. Pelayanku sudah menunggu aku kembali."


"Apa maksudmu?"


"Firasatku buruk,aku takut terjadi sesuatu pada Agnes," jawab Alena.


"Oh, tidak. Agnes!" Amy yang mendengar itu pun takut sehingga memacu kudanya tanpa perintah sang putri lagi. Seperti sang putri, dia juga mengkhawatirkan keadaan Agnes yang tinggal di istana.


"Amy, tunggu. Jangan gegabah seperti itu!" Alena berteriak namun kuda Amy sudah menjauh.


"Baiklah, kita berkuda berdua!" Lucius sudah menggendong Alena dan mendudukkannya ke atas kudanya. sarung tangannya pun dikenakan agar luka di tangan tidak terlalu sakit dan agar luka tidak semakin membesar.


"Peluk aku yang erat, Ernest. Aku akan membawamu kembali ke istana sebelum matahari menyingsing!"


Alena mengangguk, kedua tangan sudah melingkar di tubuh Lucius. Alena memeluk pria itu dengan erat saat pelana dipecutkan sehingga kuda berlari dengan cepat. Bastian membawa kuda sang putri, mereka segera mengejar Amy yang sudah berada di depan.


Amy yang sangat mencemaskan keadaan Agnes berkuda seperti orang gila. Air matanya bahkan terus mengalir dan tak hentinya Amy menyebut nama Agnes. Semoga mereka tidak terlambat, semoga Agnes bisa melawan saat ada penjahat dan semoga saja mereka tidak terlambat karena jika sampai terjadi sesuatu pada Agnes, maka dia akan merasa bersalah untuk seumur hidupnya.


Mereka terus berkuda tanpa beristirahat karena mereka harus melewati beberapa desa untuk sampai ke istana Kent Arsia. Alena memanfaatkan keadaan, dia butuh istirahat untuk memulihkan diri oleh sebab itu Alena tertidur sambil memeluk pangeran yang sedang membawa kudanya dengan cepat. Dia membutuhkan itu karena dia tidak tahu apa yang akan terjadi saat dia sudah kembali ke istana.

__ADS_1


__ADS_2