
Suara teriakan seorang pelayan yang masuk ke dalam tenda Ernest mengejutkan semua orang dan membangunkan semua orangĀ yang masih tertidur akibat obat bius. Sungguh aneh, mereka terbangun dengan keadaan sakit kepala luar biasa.
"Ada mayat!" teriakan itu kembali terdengar membuat para prajurit berlari ke arah tenda putri Ernest dan teriakan tersebut membangunkan Amy dan Agnes dari tidur mereka. Mereka yang tidur tidak jauh dari tenda sang putri pun berlari menuju tenda putri Ernest.
"Ada apa? Kenapa kau berteriak?" tanya Amy dan Agnes.
"Mayat, ada mayat!" teriak pelayan itu dan tentunya pelayan itu adalah salah satu mata-mata dari pihak musuh. Oleh sebab itulah pelayan itu langsung bergegas menuju tenda putri Ernest sesuai dengan perintah yang didapatkan.
Amy dan Ernest berteriak histeris, ketika melihat mayat seorang wanita muda tanpa busana. Kondisi mayat sudah mengering dan jantungnya berada tidak jauh dari posisi mayat. Jantung itu bahkan sudah tersisa setengah dan tidak hanya itu saja, pakaian putri Ernest yang bersimbah darah berada di atas tempat tidur beserta dengan sebilah pisau bergagang tengkorak yang sudah bersimbah darah juga cawan yang berisi darah kering.
Tenda putri Ernest sudah ramai, tapi sang putri tidak ada di dalam tendanya. Para pelayan sudah berkumpul begitu juga dengan para prajurit.
"Penyihir, putri Ernest penyihir!" teriak seorang pelayan yang ditugaskan menjadi provokator.
"Diam, Tuan Putri bukan penyihir!" teriak Amy tidak terima.
"Tidak perlu menyangkal, itu buktinya!" ucap pelayan lainnya.
"Benar, ternyata yang di isukan sangatlah benar. Putri Ernest seorang penyihir!"
..."Jangan sembarangan berbicara!" Amy dan Agnes kembali berteriak karena mereka tidak terima. ...
Pangeran Lucius yang mendengar adanya keributan mencari Bastian karena dia ingin tahu apa yang diributkan di luar sana. Bastian yang mengetahui hal itu, keluar dari kerumunan yang sedang adu debat dengan Amy dan Agnes yang sedang membela putri Ernest untuk mengatakan hal itu pada Pangeran.
"Apa yang terjadi, Bastian?" tanya Lucius.
"Pangeran, ini gawat!" Bastian mengambil napasnya sejenak.
"Apa yang terjadi, bicara yang jelas!" tanya Lucius lagi
"Pu-Putri Ernest ternyata benar-benar penyihir!" ucal Bastian.
"Apa?" Lucius benar-benar terkejut denga apa yang Bastian katakan.
"Jangan asal bicara. Kau tahu apa hukumannya, Bastian!"
"Aku tidak asal bicara, Pangeran. Di dalam tenda putri Ernest terdapat mayat seorang wanita dengan tubuh yang sudah mengering dan jantung yang sudah dimakan sebagian!"
"Apa?" Lucius kembali terkejut. Apakah benar yang dikatakan oleh Bastian?
__ADS_1
"Ambil jubahku, aku ingin melihatnya!" sungguh dia tidak bisa mempercayai hal itu.
Bastian mengambil jubah pangeran dengan cepat, ternyata tidak Pangeran Lucius saja yang buru-buru keluar dari tenda, Putri Arabella pun keluar dari tenda untuk melihat apa yang terjadi. Mereka bergegas menuju tenda Ernest di mana perdebatan antara Amy dan Agnes dengan para pelayan masih saja terjadi. Para pejabat juga sudah berada di sana untuk melihat apa yang terjadi.
"Apa yang terjadi?" tanya Arabella.
"Hormat pada Putri dan Pangeran," para pelayan dan prajurit yang ada di sana membungkuk hormat.
"Kenapa kalian berkumpul di sini?" tanya Arabella.
"Putri Ernest ternyata penyihir, Putri," jawab salah satu pelayan yang ada di sana.
"Jangan asal bicara, kau akan mendapatkan hukuman mati!" ucap Arabella dengan nada tidak senang.
"Kami tidak asal bicara, di dalam ada buktinya!"
Arabella menatap para pelayan dan prajurit dengan tajam. Kakinya melangkah masuk ke dalam tenda karena dia ingin melihat apa yang terjadi dan ketika melihat mayat wanita yang berada di dalam sana, Arabella terkejut. Dia bahkan hampir terjatuh akibat shock tapi beruntungnya pelayannya menahan tubuhnya.
"Tidak mungkin, Ernest?" Arabella tampak tidak percaya tapi bukti yang ada di dalam tenda sulit untuk dipungkiri.
Lucius yang melihat itu pun terkejut, semua tersusun dengan rapi. Mayat yang sudah tidak memiliki darah, jantung yang tersisa setengah dan beberapa bukti lainnya bahkan gaun Ernest yang berlumuran darah, semua itu menunjukkan jika Ernest benar-benar penyihir yang baru saja melakukan ritual tapi kenapa dia merasa ada yang janggal? Tidak ada satu orang penjahat pun yang akan meninggalkan bukti kejahatannya apalagi bukti yang begitu banyak. Sepertinya ada sebuah konspirasi yang dibuat untuk menjebak putri Ernest.
"Kami tidak tahu, Pangeran," jawab Amy dan Agnes.
"Putri Ernest pasti sudah melarikan diri agar tidak tertangkap!" ucap seorang pelayan.
"Diam, Putri Ernest bukan penyihir!" teriak Amy dan Agnes tidak terima.
"Tutup mulut kalian, tidak ada yang boleh asal bicara sebelum semua ini jelas!" ucap Arabella.
Arabella melangkah keluar, keributan itu tidak akan reda. Jika adiknya berada di sana, maka tidak akan ada yang berani menuduhnya. Arabella keluar dari tenda, dia akan mencari raja dan ratu tapi sebelum dia tiba di tenda kedua orangtuanya, raja dan ratu sudah melangkah mendekati mereka.
"Ada keributan apa ini?" tanya Raja Leon.
"Hormat pada yang Mulia," semua membungkuk hormat.
"Kenapa kalian begitu ribut sepagi ini?" tanya Ratu Hana.
"Yang Mulia, Putri Ernest benar-benar seorang penyihir," ucap pelayan yang pertama kali masuk ke dalam tenda.
__ADS_1
"Beraninya kau berkata demikian? Apa kau tidak tahu apa hukuman bagi orang yang berani berkata seperti itu tentang putriku?!" ucap raja Leon dengan nada tidak senang.
"Kami tidak asal bicara, yang mulia. Semua ada buktinya di dalam tenda!"
"Ayahanda, bagaimana ini? Semua bukti ada di dalam tenda Ernest sedangkan Ernest tidak ada di mana pun," ucap Arabella yang sudah menghampiri ayah dan ibunya.
"Tidak perlu khawatir, Ernest bersama dengan kami," ucap Raja Leon.
"Apa? Benarkah?" tanya Arabella.
"Kau mencari aku, Kakak?" tanya Alena yang sedang berdiri di belakang raja dan ratu.
Semua terkejut dan melihat ke arahnya. Bagaimana mungkin Ernest bisa bisa bersama dengan raja dan ratu?
"Putri Ernest adalah penyihir, bakar dia!" teriak seorang pelayan yang berada di pihak musuh.
"Benar, putri Ernest sudah terbukti sebagai seorang penyihir jadi dia harus di bakar!" teriak yang lainnya.
"Mohon raja mengambil tindakan sesegera mungkin karena bukti nyata sudah ada!"
"Sebagai seorang raja seharusnya yang mulia bisa langsung mengambil keputusan untuk menghukum seorang penjahat meskipun dia adalah anggota keluarga yang mulia!"
"Benar, harap yang mulia mengambil keputusan bijak dan mengambil keputusan sesegera mungkin untuk membakar putri Ernest!"
Teriakan-Teriakan itu terdengar sehingga para pejabat dan menteri menyorakkan hal yang sama agar segera mengambil keputusan untuk segera menghukum putri Ernest. Sorakan semakin nyaring terdengar, mereka mendesak raja Leon untuk segera mengambil tindakan karena semua bukti sudah ada. Inilah yang diinginkan oleh musuh. Mereka tidak perlu mengotori tangan mereka untuk menyingkirkan Ernest.
"Diam!" Alena berteriak lantang, dia sudah muak dengan sorakan yang tak juga kunjung berhenti.
"Kau yang diam penyihir!" batu diambil, untuk digunakan melempar putri Ernest.
"Jangan sentuh adikku!" Arabella berlari menghampiri Ernest dan memeluknya untuk melindunginya.
"Bagi siapa yang berani melempar batu, maka orang itu dan seluruh keluarganya akan menjadi musuh kerajaan Kenneth!" ucap Lucius yang sudah pasang badan dengan sebilah pedang di tangan. Tidak saja Lucius, para prjurit yang bersama dengannya juga mengeluarkan pedang.
"Siapa yang berani melempar Ernest dengan batu, maka besok orang itu dan keluarganya tidak akan melihat matahari lagi!" ancam raja Leon.
Semua melangkah mundur dan tampak takut, batu pun jatuh dari tangan. Suasana hening, tidak ada yang bersuara lagi. Alena maju ke depan, lalu bediri tidak jauh dari Lucius.
"Kalian menuduh aku penyihir? Akan aku buktikan pada kalian apakah aku seperti yang kalian kira atau tidak!" setelah berkata demikian, Ernest melangkah menuju tendanya. Akan dia buktikan dan akan dia tunjukkan bahwa dia bukan pelakunya agar mereka tidak meremehkan agen dari jaman modern itu.
__ADS_1