
Lucius sudah tiba di istana Kenneth, kembalinya pangeran disambut meriah oleh para rakyatnya. Mereka sangat senang melihat pangeran kembali dalam keadaan baik-baik saja. Itu karena pangeran pergi ke kerajaan di mana seorang penyihir berada. Tentu isu itu sudah menyebar luas sampai ke beberapa istana dan mereka pun mempercayai jika Ernest adalah seorang penyihir.
Lucius disambut oleh kedua orangtuanya dan sang adik yang manis. Mereka pun sangat senang Lucius kembali dalam keadaan baik-baik saja tapi memang yang dijadikan korban oleh penyihir itu adalah seorang wanita.
"Kakak!" putri Alicia yang baru berusia tiga belas tahun berlari ke arah kakaknya yang sudah melompat turun dari atas kuda.
"Hei, adik manis ini apa sudah menjadi anak baik?" Lucius menggendong adiknya yang manis.
"Kakak, aku sudah takut kakak tidak kembali karena penyihir itu," ucap Alicia.
"Tidak ada penyihir, itu hanya isu," ucap Lucius.
"Benarkah? Tapi banyak yang berkata di sana ada seorang penyihir jahat yang akan memakan jantung orang," ucap Alicia denga polos.
"Itu hanya itu, jangan dipercaya karena penyihirnya tidak ada!"
"Tapi kakak, semua orang berkata penyihirnya putri Ernest. Apa kakak tidak takut?"
"Lebih mempercayai perkataanku atau perkataan orang lain?" tanya Lucius pada adiknya.
"Lebih percaya pada kakak!" Alicia memeluk kakaknya dengan erat.
"Bagaimana dengan perjalanannya, Lucius?" tanya ibunya.
"Seperti yang Bunda lihat, aku sudah kembali dan baik-baik saja."
"Baiklah, istirahatlah terlebih dahulu. Nanti kita bicarakan lagi," ucap ayahnya pula.
Lucius mengangguk, Alicia masih berada di dalam gendongannya. Sesuatu yang dia beli saat di desa tetangga pun diberikan untuk adiknya yang manis. Raja James William dan ratu Eliza William pun mengikuti langkah putra mereka. Barang-Barang yang diberikan oleh Raja Leon dan Ratu Hana dibawa masuk ke dalam istana. Mereka akan berbicara dengan Lucius setelah putra mereka beristirahat.
"Pergilah nikmati manisan yang kau dapat, kakak mau istirahat sebentar," ucap Lucius seraya menurunkan adiknya dari gendongan.
"Apa Alicia tidak mendapatkan hadiah lain?" tanya adiknya.
"Ada, tapi nanti."
__ADS_1
"Baiklah, kakak. Alicia pergi dulu," sang adik yang manis segera berlari pergi sambil membawa manisan yang baru saja kakaknya berikan.
Lucius masuk ke dalam kamarnya, diikuti oleh pelayannya yang setia. Jubah yang dia kenakan dilepaskan, Bastian mengambilnya dengan cepat.
"Isu akan putri Ernest yang adalah seorang penyihir semakin luas saja Pangeran," Ucap Bastian.
"Kau benar, sepertinya kejadian saat berburu itulah yang membuat isu semakin menyebar dengan cepat. Isu itu benar-benar merugikan Ernest!"
"Kau benar, Pangeran. Isu ini benar-benar merugikan putri Ernest dan aku khawatir?" Bastian menghentikan ucapannya.
"Apa yang kau khawatirkan?" Lucius berpaling, melihat ke arah Bastian.
"Hamba khawatir putri Ernest tidak diterima oleh para rakyat saat pesta dansa, Pangeran," ucap Bastian.
Lucius tampak berpikir, apa yang diucapkan oleh Bastian sangatlah benar. Jangan sampai Ernest dilempari batu oleh para rakyatnya dan diusir oleh rakyat dengan kejamnya karena mereka sudah mempercayai isu jika putri Ernest adalah seorang penyihir.
"Bagaimana menurutmu, Bastian? Apa kejadian di tenda itu memang sengaja dilakukan oleh pelaku karena tidak saja untuk memperburuk citra Ernest di kerajaan Kent Arsia tapi juga untuk memperburuk citranya di kerajaan lain sehingga isu jika dia memang seorang penyihir semakin didengar oleh orang banyak?"
"Maksud pangeran?" tanya Bastian tidak mengerti.
"Kau sangat benar, Pangeran," ucap Bastian membenarkan. Satu kejadian buruk malam itu benar-benar sudah memberikan pikiran buruk akan Ernest bagi banyak orang.
"Sekarang aku curiga, jika pengkhianat yang sesungguhnya berada di dalam istana Kent Arsia."
"Kenapa Pangeran berpikir demikian?"
"Aku hanya menebak saja. Pelaku benar-benar ingin menghancurkan citra Ernest agar dia dibenci oleh semua orang dan agar dia tidak bisa datang ke pesta dansa. Pesta ini mengundang banyak orang dan apa kau tidak tahu, di pesta itu ayahanda meminta aku mencari seorang permaisuri oleh sebab itu pesta itu akan dihadiri oleh banyak putri dari kerajaan lain juga putri dari para pejabat dan kemungkinan pelaku yang memfitnah Ernest tidak ingin dia hadir ke acara pesta itu!"
"Apakah pelakunya?" Bastian tidak berani melanjutkan ucapannya.
"Aku juga curiga tapi kemungkinan begitu banyak karena tidak ada satu pun yang menyukai Ernest jadi jangan asal menebak!"
"Baik, Pangeran. Apa yang akan kau lakukan sekarang? Jika para rakyat tidak bisa menerima putri Ernest, bukankah dia tidak akan bisa hadir di pesta dansa nanti? Bukankah Pangeran harus mencegahnya agar dia tidak datang?"
"Untuk itu, aku memerlukan bantuanmu. Kirim pesan untuk Ernest, katakan padanya jika aku ingin menemuinya di bawah pohon besar waktu itu dua hari lagi saat bulan sudah berada di atas kepala. Jangan sampai membuat kesalahan dan jangan sampai ada yang mengetahui hal ini!" perintah Lucius.
__ADS_1
"Baik, Pangeran," Bastian undur diri, keluar dari kamar Lucius.
Lucius berdiri di depan jendela kamarnya, situasi semakin sulit karena isu tidak menyenangkan itu. Ernest akan mendapatkan celaka jika dia datang ke istananya. Tidak saja Ernest, Arabella yang datang bersama dengannya pun akan mendapatkan celaka. Para rakyatnya pasti tidak mau ada penyihir yang masuk ke dalam istana. Untuk itu dia harus bertemu dengan Ernest, semoga saja Ernest menerima surat yang dikirimkan oleh Bastian dan mau menemuinya.
Setelah beristirahat sebentar dan berganti pakaian, Lucius keluar dari kamarnya karena dia dipanggil untuk makan malam. Ayah dan ibunya sudah menunggu begitu juga dengan adik manisnya. Beberapa hari kepergian Lucius membuat mereka merindukan waktu kebersamaan mereka yang seperti itu.
"Kakak, cepat duduk. Semua makanan kesukaan kakak. Jika tidak cepat maka akan Alicia habiskan!" teriak Alicia.
"Alicia, seorang putri tidak boleh seperti itu!" ucap ratu Eliza.
"Ups, sorry Bunda," ucap Alicia sambil memperlihatkan senyuman lebarnya.
"Bagaimana kerajaan Kent Arsia, apakah sangat menyenangkan?" tanya ibu ratu.
"Tentu, mereka menyambut aku dengan sangat baik. Raja Leon dan Ratu Hana juga pemimpin yang sangat baik dan bijaksana."
"Kami senang mendengarnya dan mengenai putrinya yang seorang penyihir?" ratu Eliza menghentikan perkataannya.
"Apa kau mengundangnya, Lucius?" tanya ayahnya pula.
"Itu hanya isu saja, Ayahanda. Ernest bukan penyihir seperti yang orang-orang katakan!"
"Tapi kami sudah mendengar apa yang terjadi di tenda saat kalian pergi berburu. Kami mendengar di tenda Ernest di temukan mayat wanita dengan kondisi mengering dan jantung yang keluar dari dadanya. Kami juga mendengar ada saksi yang melihat Putri Ernest memuja iblis sebelum menikam jantung wanita itu dan meminum darahnya sampai habis lalu jantungnya dikeluarkan untuk dimakan. Terus terang saja, Lucius. Aku sebagai ratu kerajaan ini, tidak mau ada penyihir masuk ke dalam Istana kita!"
"Bunda, sudah aku katakan itu hanya isu saja karena bukan seperti itu yang terjadi!" sudah dia duga citra Ernest semakin buruk akibat isu yang menyebar dengan luas dan akibat mulut orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Penyihir yang sebenarnya sungguh cerdik, dia bisa bersembunyi dan hidup dengan nyaman sedangkan Ernest yang terkena dampaknya. Sebenarnya ada alasan dan tujuan apa pelaku melakukan hal itu? Pasti ada sebuah dendam atau kebencian pada Ernest sehingga pelaku memfitnah Ernest tapi apa?
"Pikirkanlah baik-baik, Lucius. Sekalipun kau berkata itu hanya isu tapi semua yang ada di istana kita semakin menganggapnya sebagai penyihir jadi berhati-hatilah dalam bertindak. Hubungan kerajaan kita dengan kerajaan Kent Arsia sangat baik jadi jangan sampai hubungan kerajaan yang sudah berjalan dengan baik menjadi hancur gara-gara seorang penyihir yang kau undang ke dalam acara pesta dansa. Jangan keras kepala dan mengambil keputusan seenaknya, lagi pula tidak mungkin kau ingin mengambil Ernest jadi istrimu sehingga kau tetap menginginkan kedatangannya, bukan?" raja James melihat ke arah putranya dengan ekspresi serius.
"Aku tahu maksudmu, ayahanda. Tidak perlu khawatir, aku tahu apa yang aku lakukan!"
"Bagus, aku percaya padamu!" ucap raja James.
"Sudah, kita bahas lagi nanti. Sekarang kita makan dulu," ratu Eliza mengambilkan makanan untuk suaminya terlebih dahulu sebelum mengambilkan makanan untuk putrinya.
Lucius belum menyentuh makanan sama sekali, dia tahu apa yang ayah dan ibunya maksud. Dia pun tidak memaksa mereka untuk percaya. Memang isu itu dan apa yang terjadi di tenda telah membuat takut semua orang apalagi kejadian yang sebenarnya sudah diberi banyak bumbu seperti cerita yang ibunya dengar. Tidak mudah membersihkan nama Ernest hanya dengan kata-kata saja karena tidak ada yang akan percaya dan cara satu-satunya yang bisa membersihkan nama Ernest hanyalah dengan mencari pelaku sebenarnya. Tentunya dia tahu, itu tidaklah mudah apalagi dia curiga jika ada orang dalam istana yang terlibat.
__ADS_1