Rise Of The Queen Ernest

Rise Of The Queen Ernest
Siasat Untuk Menguak Racun Di Dalam Obat


__ADS_3

Keadaan Ernest semakin lemah saja, itu akibat racun yang ada di dalam obat. Biasanya obat yang dibuat Agnes akan bekerja setelah Alena meminumnya namun kali ini, obat yang dibuat oleh Agnes hanya bisa menahan racunnya untuk sesaat saja.


Pangeran Lucius memacu kuda dengan kecepatan tinggi apalagi Alena yang berada di dalam pelukannya kembali memuntahkah darah. Lucius benar-benar heran melihat keadaan Ernest yang seperti itu. Padahal Ernest terlihat baik-baik saja saat mereka berangkat walau dia sempat sakit sebentar akibat terkena air hujan.


"Apa yang terjadi denganmu, Ernest?" tanya Lucius sambil membawa kudanya dengan secepat mungkin.


Alena semakin lemah tak berdaya, namun dia berusaha untuk melihat keadaan karena dia ingin tahu di mana mereka saat ini. Dia pun ingin meminta bantuan Pangeran Lucius, oleh sebab itu Alena berusaha mengcengkeram baju pangeran agar pangeran Lucius menghentikan kudanya sebentar tapi Pangeran yang sedang panik terus memacu kudanya menuju tenda.


Amy dan Agnes bergegas menyusul, mereka harap sang putri baik-baik saja. Sampai sekarang mereka belum mengerti kenapa Putri Ernest meminum obat yang sudah jelas beracun itu.


"Pengeran," Alena berusaha memanggil pangeran karena dia hendak berbicara sebentar.


"Tidak perlu khawatir, Ernest. Aku akan membawamu kembali!"


"Tidak, tolong dengarkan aku sebentar!" pinta Ernest.


"Katakan!" ucap Lucius tanpa menghentikan laju kudanya.


"Tolong jangan sampai ada yang tahu keadaanku!" pinta Alena


"Apa maksud perkataanmu?" tanya Lucius tidak mengerti.


"Aku tidak ingin ada yang tahu dengan keadaanku ini jadi jangan sampai ada yang tahu. Bawa aku secara diam-diam lalu panggilkan raja dan ratu untukku!" pinta Alena.


Lucius tidak menjawab namun dia membawa kuda dengan begitu cepatnya. Mereka tiba setelah menempuh jarak yang cukup jauh dan seperti yang Alena pinta, Lucius langsung membawanya menuju tenda dan membaringkan dirinya. Tidak ada yang tahu, Lucius membawa Alena secara diam-diam. Amy dan Agnes yang menyusul pun sudah tiba, mereka segera bergegas menuju tenda.


"Bagaimana dengan keadaan putri?" tanya mereka berdua yang panik dan cemas.


"Pergi, panggil ibu ratu dan baginda raja tapi jangan sampai ada yang tahu. Satu pelayannya pun tidak boleh ada yang tahu. Agnes buatkan obat untukku dan bawa sisa obat beracun itu kemari!" pinta Alena dengan lemah.


"Baik, Putri!" jawab Amy dan Agnes. Mereka bergegas keluar untuk melakukan perintah.


"Obat beracun apa maksudmu?" tanya Lucius, dia tidak tahu apa yang Ernest maksudkan.

__ADS_1


"Terima kasih, Pangeran. Tolong bekerja samalah denganku!" pinta Alena dan setelah itu, darah segar kembali dia muntahkan. Alena bahkan merintih kesakitan, jantungnya bagaikan dire*mas dan rasanya begitu sakit.


"Berhenti berbicara, jangan memaksakan diri!" ucap Lucius, sapu tangan diambil untuk menyeka darah yang dimuntahkan oleh putri Ernest.


"Bastian, pergi ambil obat penangkal racun terbaik yang kita miliki!" perintah Lucius..


"Baik, Tuanku!" Bastian bergerak cepat, untuk mengambil apa yang Pengeran Lucius inginkan.


Amy sudah tiba di tenda raja, dia ditahan oleh prajurit yang berjaga di depan tenda tapi keinginan mendesak membuatnya diperbolehkan masuk untuk menemui raja dan ratu.


"Hormat pada raja dan ratu," Amy membungkuk hormat saat berada di hadapan Raja Leon dan Ratu Hana.


"Ada apa, Amy? Kenapa kau begitu panik dan tergesa-gesa?" tanya ibu ratu.


"Yang Mulia, ada pesan tapi aku diminta untuk menyampaikan secara pribadi padamu," ucap Amy. Dia harap ratu dan raja mengerti dengan situasi sehingga tidak memarahinya.


"Apa yang terjadi?" ratu tampak serius.


Maaf jika aku lancang," Amy melangkah mendekati ratu dan berbisik di telinganya.


"Apa yang terjadi? Kenapa kalian sudah kembali?"


"Tuan Putri terkena racun," bisik Amy lagi.


"Apa?" ibu ratu terkejur, raja Leon menatap ke arah mereka dengan tatapan curiga.


"Tolong yang mulia berkenan, ini permintaan dari putri Ernest," pinta Amy.


"Baiklah, kau pergilah terlebih dahulu. Kami akan menyusul!"


"Baik, Yang Mulia," Amy membungkuk dan pamit pergi.


Ratu Hana menghampiri suaminya lalu mengatakan keadaan Ernest dan permintaan putri mereka dengan berbisik. Tentunya hal itu membuat raja Leon terkejut. Mereka pun bergegas pergi ke tenda putri Ernest tanpa diikuti oleh satu orang pelayan pun. Entah apa yang terjadi dan entah kenapa putri mereka meminta hal demikian, mereka harus tahu.

__ADS_1


Keadaan putri mereka sudah terlihat membaik saat mereka tiba, semua itu berkat obat yang diberikan oleh pengeran Lucius. Pria itu masih berada di sana, dia ingin tahu apa yang rerjadi apalagi sebelum Raja Leon dan Ratu Hana masuk, Amy menyingkirkan sebuah kain yang menutupi darah yang dimuntahkan oleh Ernest saat dia selesai meminum obat yang ratu berikan.


"Apa yang terjadi padamu, Ernest? Kenapa kau jadi seperti ini?" tanya ibu ratu. Bercak darah lama dan baru membuatnya begitu mengkhawatirkan keadaan putrinya.


"Semua ini gara-gara racun yang dikonsumsi oleh putri Ernest, yang Mulia," ucap Lucius.


"Racun? Siapa yang meracuninya. Apa ada yang melukainya dengan pedang beracun saat berburu?" tanya raja Leon.


"Tidak, Ayahanda. Sepertinya ada yang meracuni aku sejak lama, oleh sebab itulah tubuhku jadi lemah seperti ini dan aku curiga racun itu berasal?" Alena sengaja menghentikan ucapannya dan pura-pura ragu.


"Katakan padaku, jangan ragu!" ucap raja Leon.


"Benar, Ernest. Katakan saja, jangan ragu seperti itu!"


"Maaf, Bunda. Aku bukannya ingin menuduh tapi keadaanku jadi seperti ini setelah aku mengkonsumsi obat yang Bunda berikan!" ucap Alena.


"Apa? Jangan mengada-ada, Ernest!" ucap ibu ratu.


"Aku tidak mengada-ada, Bunda. Mohon Ayahanda mengutus seseorang untuk memeriksa kadar racun yang ada di dalam kandungan obat!" pinta Alena dan pada saat itu, Agnes memberikan sisa obat beracun yang sengaja Alena simpan.


"Kurang ajar, apa maksudnya ini, Hana?!" raja Leon tampak marah.


"Aku tidak tahu yang Mulia, obat itu diracik oleh tabib kepercayaanku dan dibuat oleh pelayan setiaku!" jawab ibu ratu.


"Tolong janga menyalahkan Bunda, Ayahanda. Aku rasa ada sebuah konspirasi yang terjadi dan ada yang menyimpan racun ke dalam racikan obat sehingga Bunda tidak tahu," ucap Alena. Dia yakin ibu ratu tidak terlibat dan ketika dia mati akibat obat itu, ibu ratu akan dijadikan kambing hitam dan dialah yang akan menanggung kematian putrinya padahal dia tidak tahu apa pun. Oleh karena inilah, dia sengaja membuat siasat agar raja tahu kandungan obat tersebut. Hal ini pun dia manfaatkan untuk mencari tahu siapa sebenarnya yang memesan racun itu. Raja adalah orang yang memiliki kekuasaan oleh sebab itu dia bisa mencari tahu siapa yang memesan racun berbahaya yang dimasukkan ke dalam obat dengan mudahnya.


"Aku benar-benar tidak tahu apa pun, Tuanku," ucap ibu ratu.


Raja Leon tampak berpikir, sepertinya memang ada yang ingin menjebak ibu ratu dengan racun tersebut. Sebaiknya dia tidak gegabah dan mencari tahu hal ini baik-baik.


"Baiklah, aku akan mencari tahu dalangnya dan mulai sekarang, berlakulah seperti tidak terjadi apa pun. Setiap obat yang dibuat jangan pernah kau sentuh, Ernest. Tidak ada satu orang pun yang boleh tahu akan masalah ini selain kita. Hal ini tidak boleh bocor sampai aku menemukan dalangnya!" ucap Raja Leon.


"Terima kasih atas keputusanmu yang mulia," ucap ibu ratu dan Ernest.

__ADS_1


Pangeran Lucius yang mendengar sedari tadi tidak menyangka jika putri Ernest hendak diracuni melalui ibu ratu. Apakah ada persaingan di dalam istana? Sepertinya tidak karena hubungan Ernest dan kakaknya baik-baik saja. Lalu siapa yang hendak membunuh Ernest? Entah kenapa dia justru tertantang untuk mencari tahu. Tatapan mata Lucius tertuju pada Ernest yang sedang berbicara dengan kedua orangtuanya. Putri yang cerdik, dia rela meneguk obat beracun itu demi membongkar obat yang dipenuhi dengan racun di hadapan raja. Sepertinya dia tidak bisa meremehkan putri Ernest mulai sekarang.


__ADS_2