Rise Of The Queen Ernest

Rise Of The Queen Ernest
Kembali Ke Istana


__ADS_3

Bunga yang diambil oleh Alena masih berada di tangan Lucius. Seharusnya dia memberikan bunga itu pada Alena tapi dia dia pergi dengan terburu-buru begitu juga dengan Ernest.


Sudah cukup jauh oasukan berjalan meninggalkan arena berburu. Ernest berada di dalam kereta kudanya begitu juga dengan putri Arabella. Benar-Benar acara berburu yang menyisakan kesan tidak menyenangkan. Beberapa pelayan yang berjalan cukup jauh dari raja dan ratu berbisik-bisik membicarakan putri Ernest. Tentunya dengan suara pelan agar raja dan ratu tidak ada yang mendengar.


Karena kejadian yang tak terduga itu pula menyisakan rumor yang akan semakin memperkeruh keadaan dan orang-orang yang menganggap Ernest sebagai penyihir sudah pasti akan semakin menganggapnya demikian.


Lucius yang berada di depan, membawa kudanya dengan pelan. Bunga yang diambil oleh Ernest berada di atas kudanya. Dia harus memberikan bunga itu pada Ernest. Putri Arabella yang sedang termenung dan memandangi pemandangan tanpa sengaja melihat pangeran Lucius. Sepertinya dia bisa mengajak pria itu berbincang selama di perjalanan kembali.


"Bunga yang sangat bagus, Pangeran," ucap putri Arabella.


"Terima kasih, putri Arabella. Bunga ini aku temukan tidak jauh dari tenda," dustanya. Jangan sampai ada yang tahu jika Ernest yang mengambil bunga itu karena dia khawatir Ernest bisa mendapat hukuman dari raja Leon.


"Wah, kenapa kau tidak mengajak aku untuk memetiknya?" tanya Arabella.


"Maafkan aku, aku tidak tahu jika kau menyukai bunga."


"Semua wanita menyukai bunga, Pangeran. Aku sangat menyukainya, apakah aku boleh memilikinya?" tanya Arabella. Dia harap Lucius mau memberikan beberapa tangkai bunga yang ada di atas kudanya itu.


"Maafkan aku, bunga ini tidak untuk siapa pun."


"Benarkah? Apa kau akan membawanya kembali sampai ke istana?"


"Begitulah, aku akan membawanya kembali," dusta Lucius padahal dia ingin mengembalikan bunga itu pada Ernest.


"Baiklah, apa mau berbincang di dalam keretaku, Pangeran?"


"Maaf, Putri. Aku tidak bisa. Ada yang harus aku kerjakan, jadi aku pamit terlebih dahulu!" Lucius memutar kudanya, kali ini dia menuju kereta Ernest yang ada di belakang. Arabella tidak curiga, dia justru kembali memandangi pemandangan sambil berpikir jika dia berniat mengundang pangeran Lucius untuk minum teh bersama. Sebelum pria itu kembali ke istananya, dia sudah harus bisa semakin dekat dengannya agar saat di acara pesta nanti, Pangeran Lucius akan mengajaknya berdansa.


"Aku ingin mengajak Pangeran minum teh, bagaimana menurutmu?" tanya Arabella pada pelayan pribadinya.


"Itu ide yang sangat bagus, Putri. Ajaklah Pangeran minum teh sambilĀ  menikmati cahaya bulan."


"Baiklah, ide bagus. Semoga dengan demikian, aku bisa lebih dekat lagi dengan Pangeran," Arabella tersenyum, dia jadi tidak sabar mengundang pangeran sehingga mereka bisa menghabiskan waktu bersama.


Lucius yang sudah berada di sisi kereta Alena, mengetuk kereta dengan perlahan. Alena segera membuka kain yang menutupi jendela kecil yang di kereta dan terkejut saat setangkai bunga tiba-tiba ada di depan mata. Alena kembali terkejut mendapati pangeran Lucius yang memberikan bunga itu.


"Apa artinya ini, Pangeran?" tanya Alena seraya mengambil bunga yang diberikan oleh Pangeran Lucius.

__ADS_1


"Bunga itu seperi dirimu, cantik namun berduri!" ucap Lucius.


"Tidak ada duri," Alena melihat bunga itu dengan teliti.


"Bukan di bunganya tapi di pohonnya."


"Kenapa aku bisa seperti bunga ini?" tanya Alena tidak mengerti.


"Yeah, bunga ini cantik tapi harus tumbuh di atas batu. Bunga yang tidak memerlukan banyak air namun indah. Begitulah dirimu, kau pendiam tanpa perlu menunjukkan diri tapi nyatanya kau seperti bunga ini, begitu indah."


"Kau sangat pandai merayu, Pangeran. Terima kasih," Alena mencium bunga yang ada di tangan lalu tersenyum.


"Aku tidak merayu tapi kau melupakan sesuatu," pangeran memberikan bunga Ernest yang dia tinggalkan.


"Bungamu, Ernest. Aku jadi pusat perhatian gara-gara hal itu."


"Oh, aku melupakannya. Aku kira kau sudah membuangnya, maaf merepotkan, Pangeran," Ernest mengambil bunga yang diberikan oleh Lucius. Para pelayan yang melihat itu mulai berbisik-bisik. Mereka mengira Lucius memberikan bunga pada Esnest dan tentunya mereka mulai menggosipkan pangeran Lucius yang menyukai seorang penyihir. Mereka membicarakan hal itu secara diam-diam agar tidak terdengar.


"Aku tidak mungkin membuangnya, Ernest. Kau mengambilnya dengan susah payah jadi aku tidak mungkin membuangnya."


"Terima kasih, aku mengambil bunga ini untuk ibuku sebagai ganti kelinci yang aku janjikan waktu itu tapi aku justru gagal menangkapnya."


"Tidak, Pangeran. Aku tidak mau merepotkan dirimu!"


"Baiklah tapi lain kali jangan ragu untuk mengatakannya padaku!"


"Terima kasih," Alena tersenyum dan mencium bunga yang ada di tangan.


Pangeran Lucius membawa kuda dengan perlahan, perjalanan kembali yang tidak membosankan. Sesungguhnya banyak yang ingin dia bicarakan namun dia tidak bisa membahasnya di tempat itu.


Para pelayan masih saja membicarakan mereka, mereka mulai membuat isu jika Ernest telah menyihir Pangeran Lucius agar pangeran Lucius menyukainya. Sungguh putri yang tidak tahu diri padahal Putri Ernest tahu jika Putri Arabella menyimpan hati pada Pangeran Lucius. Mereka yang memang sudah tidak menyukai Ernest semakin membenci Ernest karena berita itu.


Terompet tanda berhenti berbunyi, kereta kuda raja dan ratu berhenti sehingga semuanya berhenti. Mereka akan beristirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan. Ernest mengintip keluar, sedangkan kedua pelayannya yang ikut di dalam kereta segera turun.


"Ada apa?" tanya Ernest yang masih melihat para prajurit sedang sibuk begitu juga dengan para pelayan.


"Waktunya istirahat, Ernest. Apa mau pergi mencari seekor kelinci di hutan ini denganku?" tanya Lucius.

__ADS_1


"Maaf, Pangeran. Aku mau memberikan bunga ini pada Bunda Ratu."


"Baiklah, jika begitu aku akan kembali ke pasukanku."


"Terima kasih, Pangeran!"


Lucius membawa kudanya pergi, kembali ke gerombolannya sedangkan Ernest turun dari kereta kuda dibantu oleh Amy.


"Apa kau mau minum sesuatu, Putri?" tanya Amy.


"Tidak, aku mau memberikan bunga ini pada Bunda terlebih dahulu tapi siapkan cemilan dan teh untukku. Akan aku nikmati saat aku kembali."


"Baik, Putri," jawab Amy dan Agnes.


Alena melangkah menuju kereta kuda raja dan ratu, di mana Arabella sudah ada di sana. Arabella ingin membahas niatnya pada raja dan ratu mengenai rencananya untuk mengundang Pangeran Lucius minum Teh. Dia juga ingin tahu kapan Pangeran akan kembali ke kerajaan Kenneth.


"Bunda, Ernest datang untuk bertemu dengan Bunda," ucap Ernest yang sudah berada di luar kereta.


"Masuklah, Ernest," ucap ibunya.


Ernest masuk ke dalam, Arabella terkejut melihat bunga yang ada di tangan Ernest. Bukankah itu bunga yang dibawa oleh Pangeran Lucius? Kenapa sekarang bunga itu berada di tangan Ernest?


"Hormat pada Bunda dan Ayahanda," ucap Alena seraya memberi hormat.


"Kemarilah, Bunda baru saja mengutus seseorang untuk memanggilmu."


"Aku ingin memberikan bunga ini pada Bunda sebagai kelinci yang aku janjikan," Ernest melangkah mendekat dan memberikan bunga pada ibunya.


"Wah, bunga yang sangat indah. Kau dapat dari mana?" tanya Ibunya.


"Aku menemukannya tidak jauh dari tenda," Ernest duduk di sisi ibunya, sedangkan Arabella menatap ke arahnya dengan tatapan penuh arti.


Apa benar Ernest mengambil bunga itu di dekat tenda? Tapi bagaimana bunga itu bisa berada di tangan Pangeran Lucius?


"Terima kasih, Sayang. Bunga yang sangat indah."


"Semoga Bunda senang."

__ADS_1


"Tentu saja," ibu ratu memberikan ciuman di dahi putrinya lalu melihat bunga itu dengan ekspresi senang.


Arabella tersenyum penuh artinya namun perasaan cemburu memenuhi hatinya.


__ADS_2