Rise Of The Queen Ernest

Rise Of The Queen Ernest
Mencari Tahu


__ADS_3

Alena sengaja tidak hadir saat makan malam dengan alasan sedang tidak enak badan. Dia melakukan hal itu agar ayah dan ibunya tidak melihat luka yang dia buat di wajah. Dia tidak ingin ada keributan sehingga menimbulkan rumor apalagi itu hanya luka palsu. Jangan sampai ada rumor akan hal itu karena berbohong pada raja dan ratu dianggap sebagai sebuah kejahatan.


Malam itu, Alena sudah memutuskan untuk bertemu dengan ayah dan ibunya. Buku yang dia titipkan pada pangeran pun sudah diberikan, Alena hanya menunggu waktu yang tepat saja untuk menyelinap keluar. Arabella yang mengkhawatirkan adiknya hendak datang berkunjung tapi tidak jadi karena Amy berkata Ernest sedang tidur. Karena dia tidak mau mengganggu adiknya jadi dia memutuskan untuk menjenguk Ernest esok pagi. Sesungguhnya tidak saja ingin melihat keadaan Ernest tapi dia masih penasaran pada pengawal adiknya yang tampak tidak asing.


"Putri Arabella ingin bertemu denganmu Putri, tapi aku mengatakan kau sedang tidur," ucap Amy yang baru saja masuk ke dalam kamar.


"Bagus, untuk malam ini aku tidak mau bertemu dengan siapa pun agar tidak ada yang curiga dan agar tidak ada yang tahu apa yang akan aku lakukan nanti."


"Baik, Putri. Aku akan berada di luar," jawab Amy yang hendak keluar dari kamar.


"Biar aku yang berada di luar," ucap Agnes.


"Jika begitu, pergilah Agnes!" perintah Alena.


"Putri," Amy tampak ragu, dia takut Agnes melakukan sesuatu tanpa sepengetahuan mereka di luar sana.


"Tidak apa-apa, bantu aku untuk mengambil mantelku!" perintah Alena. Jika dia ingin Agnes menyusup maka dia harus membiarkan Agnes seorang diri agar musuh bisa mendekati Agnes dan benar saja, saat Agnes berada di luar, seseorang sudah berada di belakangnya dan mengancamnya dengan sebilah pisau.


"Ikut aku, jangan menoleh jika tidak kau akan mati!" ucap orang itu yang tentunya adalah seorang prajurit.


Agnes tidak melawan, bukankah itu yang diinginkan oleh putri Ernest? Dia harus melakukan yang terbaik dan tidak berkhianat pada sang putri. Agnes dibawa ke suatu tempat, untuk bertemu dengan seseorang dan dia tidak tahu berada di mana yang pasti seseorang yang menggunakan jubah dan topeng sudah menunggu. Agnes dipaksa untuk berlutut dan menunduk agar dia tidak bisa melihat orang yang sedang berbicara dengannya saat itu.


"Kenapa kau gagal dengan air keras itu?"


"Ma-Maaf, air itu mengenai wajahnya tanpa sengaja," Agnes ketakutan, tapi kali ini dia harus bisa berguna bagi sang putri.


"Bodoh, tidak becus. Sekarang katakan di mana mata-mata yang selalu mengawasi dirimu?"


"Aku tidak tahu, aku sungguh tidak tahu," jawab Agnes.


"Bohong! Bunuh dia dan setelah itu saudaranya!"

__ADS_1


"Tolong jangan lakukan, aku bersedia menjadi bawahanmu tapi jangan bunuh aku dan saudaraku!" pinta Agnes memohon.


"Apa kau yakin dengan apa yang kau katakan?"


"Tentu saja, asal kau tidak membunuh aku dan saudaraku maka aku bersedia menjadi bawahanmu dan melakukan apa pun yang kau perintahkan!"


"Baiklah, aku memberikan kesempatan kedua untukmu. Sekarang katakan padaku, apa saja yang dilakukan oleh Ernest dan apa yang dia rencanakan. Semuanya, aku harus tahu semuanya dan kau harus mengatakan apa pun yang dia lakukan dan rencanakan!"


"Baik, akan aku lakukan. Aku akan melakukan apa pun asal kau tidak membunuh aku dan saudaraku!" teriak Agnes.


"Bagus, sekarang lepaskan dia. Awas jika kau berani berkhianat, akan ada yang mengawasi setiap gerak gerikmu."


"Aku tidak berani, aku berjanji!"


"Bawa dia pergi!" musuh sungguh tidak tahu jika Agnes memang sengaja dijadikan sebagai penyusup dan sandiwara yang dilakukan oleh Alena berhasil menipu musuh bahkan Agnes masih dipercaya oleh musuh.


Agnes kembali berjaga, dia akan memberi laporan pada putri tapi tidak sekarang karena musuh bisa curiga. Dia pun tidak bisa mengatakannya dengan secara terangan-terangan oleh sebab itu dia pun harus berhati-hati agar dia tidak mengecewakan putri Ernest lagi.


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan waktu yang ditunggu oleh Alena pun tiba. Dia tidak keluar dari pintu agar tidak ada yang curiga tapi dia keluar melalui jendela dibantu oleh Lucius yang sudah menunggunya. Meski cukup tinggi dan sedikit gelap tapi mereka bisa melalui medan yang sedikit sulit dan turun ke bawah.


Kamar raja Leon dan ratu Hana berada di sisi lain namun mereka tidak perlu memanjat. Alena dan Lucius sudah berdiri di sisi jendela setelah melewati beberapa penjaga yang berjaga di sekitar kamar raja dan ratu. Alena bahkan melihat sekitar sebelum mengetuk daun jendela karena dia benar-benar tidak mau ada yang tahu.


"Bunda," Alena memanggil sambil mengetuk daun jendela.


"Ernest?" ibu ratu yang sudah berbaring terkejut mendengar panggilan dari putrinya begitu juga dengan raja Leon.


"Bunda, Ernest ingin bertemu dengan Bunda," Alena kembali memanggil.


Raja Leon beranjak dengan terburu-buru, begitu juga dengan ratu Hana. Mereka bergegas melangkah menuju jendela dan membukanya. Raja dan Ratu terkejut mendapati putrinya berada di luar jendela bersama dengan pengawal barunya.


"Ernest, apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kau sedang tidak sehat dan apa yang terjadi degan wajahmu?" tanya ratu Hana saat melihat perban du wajah Alena dan ini kali pertama dia melihat perban itu di wajah Putrinya.

__ADS_1


"Stts, aku ingin berbicara secara pribadi dengan Bunda dan Ayahanda tanpa ada yang tahu," ucap Alena.


"Tapi bagaimana dengan keadaanmu?"


"Aku baik-baik saja, Bunda. Wajahku sedikit terluka oleh sebab itu aku menutupnya dengan perban."


"Baiklah, segeralah masuk. Di luar dingin," perintah ibunya.


Alena menaiki jendela tentu di bantu oleh Lucius yang menggendongnya naik. Raja dan Ratu membantu Alena dari dalam sehingga dia bisa masuk ke dalam tanpa mengalami kesulitan.


"Apa yang hendak kau bicarakan pada kami sehingga kau datang begitu malam, Ernest?" tanya raja Leon.


"Sesuatu yang penting, Ayahanda. Maaf jika Ernest mengganggu waktu istirahat ayahanda dan Bunda," jawab Alena.


"Sudah, kemarilah," ibu ratu mengajak putrinya untuk duduk. Raja Leon mengikuti langkah istri dan putrinya, sedangkan Lucius menunggu di luar dan menutup daun jendela. Dia bisa mendengar pembicaraan mereka meski berada di luar.


"Minum teh dulu, Bunda juga memiliki manisan buah plum," ratu Hana menuangkan teh lalu memberikan manisan buah plum untuk putrinya.


"Terima kasih, Bunda," Ernest menikmati teh yang diberikan oleh ibunya terlebih dahulu juga manisan buah plum.


"Hal penting apa yang hendak kau bicarakan, Ernest?" tanya ayahnya.


"Saat aku pergi ke desa Westtrink, aku mendapatkan buku ini dari Ordo suci dan buku ini dititipkan oleh seseorang. Aku sudah membaca semua tulisan yang ada di buku ini oleh sebab itu aku ingin tahu akan kebenaran dari apa yang tertulis di dalam buku. Aku yakin Bunda dan Ayahanda tahu akan kebenarannya oleh sebab itu aku datang untuk bertanya pada kalian berdua," ucap Alena seraya meletakkan buku ke atas meja.


"Apa maksud perkataanmu, Ernest?" tanya ibunya.


"Bunda, tolong jawab aku baik-baik. Apa aku bukan putri kalian?" tanya Alena dengan ekspresi wajah serius.


"Apa?" ratu Hana terkejut, begitu juga dengan raja Leon.


"Apa maksud dari petanyaanmu ini, Ernest?" raja Leon tampak tidak senang.

__ADS_1


"Tolong beri tahu aku, Ayahanda.  Apa aku bukan putri kalian dan apakah aku benar-benar putri dari putri Mauren?" pertanyaan kedua yang dilontarkan oleh Alena benar-benar membuat raja Leon dan ratu Hana terkejut. Kenapa Ernest bertanya demikian dan dari mana Ernest tahu akan Mauren?


Alena memperhatikan mereka dengan penuh seksama, jika melihat ekspresi raja Leon dan ratu Hana, dia yakin mereka memang mengetahui sesuatu. Jangan katakan jika dia benar-benar keturunan terakhir Lady Lilya yang diadopsi oleh mereka.


__ADS_2