Rise Of The Queen Ernest

Rise Of The Queen Ernest
Bahaya Mengintai


__ADS_3

Alena sedang bersiap-siap karena malam ini dia harus pergi dengan Amy. Pakaian pelayan sudah disiapkan oleh Amy, tentunya itu adalah pakaiannya. Rasanya sangat tidak enak hati karena sang putri harus menggunakan pakaian miliknya.


Agnes akan mengenakan pakaian Ernest karena dia harus berpura-pura menjadi sang putri. Hal itu harus dilakukan untuk berjaga-jaga karena mereka khawatir sang ratu masuk ke dalam kamar saat tengah malam. Dari pada memancing kecurigaan, lebih baik mereka mengambil antisipasi terlebih dahulu.


"Apa Tuan putri yakin akan hal ini?" tanya Amy yang saat itu sedang membantu Alena mengenakan pakaian pelayan.


"Tentu saja aku yakin, aku harus mencari tahu kandungan obat tersebut."


"Tapi bagaimana jika ada yang mengenal Tuan Putri nanti? Tuan Putri akan mendapatkan celaka. Jangan sampai kejadian malam itu terulang kembali," ucap Agnes.


"Tidak perlu khawatir, bantu aku mengepang rambutku jadi dua."


"Baik, Putri," kedua pelayannya pun bergegas membantu sang putri merubah penampilan. Rambutnya sudah di kepang menjadi dua, sebuah kain digunakan untuk menutupi kepalanya. Wajah cantiknya diberi bintik-bintik hitam, wajahnya pun dibuat sedikit kemerah-merahan. Sekarang dia sudah seperti gadis yang datang dari peternakan.


"Bagaimana?" tanya Alena.


"Kau benar-benar luar bisa, Putri," puji Amy dan Agnes.


"Apa aku masih terlihat seperti putri Ernest?"


"Tidak begitu, tapi ini penyamaran yang sangat sempurna."


"Bagus jika begitu, sekarang giliran Agnes. Kau cukup berbaring saja dan jangan bersuara jika ada yang masuk ke dalam. Kau paham?"


"Tentu, Tuan Putri. Aku tidak akan mengecewakan anda."


"Bagus, semua sudah siap. Hanya menunggu waktu yang tepat saja!" Alena berdiri di depan jendela, sepertinya malam ini akan sangat dingin. Mungkin sebaiknya dia menggunakan sebuah jubah untuk menutupi wajahnya.


"Apa aku memiliki jubah hitam?" tanya Ernest.


"Tentu saja ada, putri. Apa kau memerlukannya?" tanya Agnes.

__ADS_1


"Tentu saja aku membutuhkannya. Jika ada aku juga membutuhkan sebuah senjata."


"Senjata, apa yang Tuan Putri inginkan?"  Amy dan Agnes saling pandang, ini kali pertama putri Ernest meminta hal yang demikian.


"Pedang, pisau atau cambuk. Apa pun boleh!"


"Akan aku ambilkan," Amy melihat situasi terlebih dahulu sebelum dia keluar dari kamar sang putri untuk mengambil senjata.


Beberapa pelayan masih terlihat mondar mandir, oleh sebab itu Amy harus waspada dan hati-hati. Amy mencari senjata di tempat penyimpanan senjata, tentu dia harus menghindari beberapa penjaga yang sedang berjaga di tempat itu.


Alena pun sedang melihat penampilannya. Ernest putri yang sangat cantik, hanya sayang dia harus mengalami kehidupan yang sangat sulit. Entah apa alasan orang yang begitu tega memfitnah Ernest, yang pasti mulai malam ini dia akan berusaha mencari pelakunya. Dia tahu jalannya tidak akan mudah, tapi dia akan tetap berusaha bersama dengan kedua pelayannya yang setia.


"Kau harus berhati-hati, Putri," ucap Agnes.


"Tidak perlu khawatir, aku bisa jaga diri!" ucap Alena.


"Aku sangat takut kau tertangkap. Kau tidak akan seberuntung kejadian semalam."


"Aku tahu, terima kasih sudah mengkhawatirkan aku tapi aku sudah tidak selemah dulu lagi. Mulai sekarang aku akan mencari kebenarannya oleh sebab itu aku membutuhkan kalian berdua."


"Apa? Aku tidak butuh pangeran tampan!"


"Jangan berkata demikian, Putri. Mungkin saja kau berjodoh dengan pangeran Lucius yang sebentar lagi akan datang."


"Sttss... Pelankan suaramu, Agnes. Putri Arabella sepertinya menaruh hati pada pangeran itu. Jangan sampai ada yang mengira aku pun menaruh hati padanya sehingga aku dikira ingin menyaingi kakakku sendiri jadi jangan asal bicara seperti itu!"


"Maaf, Putri. Aku hanya bercanda saja," ucap Agnes.


"Tidak apa-apa, tapi lain kali jangan diulangi lagi."


"Baik, Putri."

__ADS_1


"Sekarang bersiaplah, saat Amy kembali kami akan langsung pergi!"


Agnes mengangguk, gaun malam milik Putri Ernest sudah berada di atas ranjang. Alena bahkan membantu Agnes untuk memakai pakaiannya sampai akhirnya Amy kembali ke dalam kamar secara diam-diam. Amy bernapas lega, beberapa senjata api berada di dalam pelukannya. Sejauh ini keberuntungan masih berada dipihak mereka dan dia harap keberuntungan tetap bersama dengan mereka sampai akhir.


"Aku sudah membawa apa yang kau inginkan, Putri," Amy melangkah mendekat dan meletakkan semua senjata ke atas ranjang.


"Aku tidak tahu senjata apa yang kau inginkan jadi aku membawa semua yang bisa aku bawa!" ucap Amy.


"Itu sudah sangat bagus!" Alena melangkah mendekati senjata yang Amy ambil. Beberapa senjata diambil, tali cambuk dan pedang. Alena mengambil seutas tali dan mengikatkannya ke pinggang dengan kuat karena dia ingin membawa senjata di pinggang.


Amy dan Agnes saling pandang, ini benar-benar pemandangan baru. Setelah kejadian itu mereka memang mendapatkan banyak kejadian baru dari sang putri. Cambuk dan sebuah pedang yang diambil diikatkan pada tali yang di pinggang. Sedikit repot tapi tidak jadi soal. Jika ada senapan atau semacamnya, pasti lebih menyenangkan.


"Tuan Putri, apa kau bisa menggunakan senjata itu?" tanya Amy.


"Tentu, kau juga bawa pedang untuk jaga-jaga!" perintah Ernest.


"Baik, Putri!" Amy pun melakukan apa yang Ernest lakukan dan setelah semua perlengkapan siap, Amy melihat keadaan sebelum pergi. Obat dari sang ratu pun dibawa, mereka tidak boleh melupakan elemen penting itu.


"Tolong berhati-hatilah, Tuan Putri," pinta Agnes.


"Kau juga harus berhati-hati. Jangan sampai ada yang tahu jika kau sedang menyamar menjadi aku!"


Agnes mengangguk, yang dia khawatirkan justru keadaan Putri Ernest karena dia hendak keluar dari Istana. Tanda dari Amy sudah didapat jika situasi sudah aman. Alena mengendap keluar dari Istana secara mengendap-endap. Tentu mereka harus melewati beberapa penjaga yang berjaga-jaga di istana.


Cuaca sangat mendukung malam itu. Bulan bersinar begitu terang walau tidak penuh. Dua buah kuda sudah disiapkan oleh Amy, mereka keluar dari jalan rahasia yang hanya diketahui oleh Amy dan Ernest saja. Alena yang sudah memiliki banyak pengalaman di dalam hidupnya selama menjadi agen di dunia moderen tidak mendapat kendala apa pun saat menaiki kuda. Lagi pula Ernest pun selalu latihan berkuda dengan Arabella oleh sebab itu tidak ada kendala apa pun baginya.


Sebelum pergi, Alena memandangi istana. Perasaannya jadi tidak nyaman, dia jusrtu mengkhawatirkan keadaan Agnes.


"Putri, ayo pergi," ajak Amy


"Ayo!" penutup kepala dari jubah dikenakan dan setelah itu Alena dan Amy memacu kuda mereka untuk pergi ke desa lain tapi malam itu, bahaya sudah mengintai mereka.

__ADS_1


Agnes yang berada di dalam kamar pun tampak gelisah. Tak hentinya Agnes melihat keluar jendela. Sungguh dia sangat mengkhawatirkan keadaan sang putri.


Tak! Tiba-Tiba saja terdengar suara di depan pintu. Agnes terkejut, buru-buru berbaring di ranjang dan pura-pura tidur. Suasana hening, Agnes tampak was-was. Siapa yang ada di luar? Agnes masih berpura-pura tidur tanpa menyadari jika ada seorang pembunuh bayaran yang diperintahkan untuk membunuh putri Ernest.


__ADS_2