
Lucius yang memang sedang menunggu kedatangan Ernest sangat senang karena putri yang dia tunggu sudah datang. Dia bisa tahu itu dari kalung berlian merah yang dikenakan oleh Ernest karena benda itulah yang dia berikan dan dia meminta Ernest menggunakannya agar dia tahu jika putri yang dia tunggu sudah datang.
Alena tampak elegan malam itu, dengan gaun bersulam benang emas yang dibuat oleh Amy dan Agnes. Topeng yang dihiasi oleh bulu burung merak dikenakan oleh Alena, dia pun mengajak Amy serta agar tidak ketahuan. Mereka sudah sangat terlambat menghadiri pesta apalagi mereka dicegat oleh para penjaga karena mereka tidak memiliki kartu undangan namun Amy berakting dan mengatakan jika mereka berdua menghilangkannya.
Sebuah nama kerajaan antah berantah pun disebutkan agar para penjaga itu percaya dan setelah memeriksanya, tamu dari kerajaan itu memang belum datang tapi sesungguhnya undangan tidak sampai ke kerajaan tersebut. Alena dan Amy sangat lega karena mereka bisa masuk tapi mereka berdua justru terkejut karena mereka menjadi pusat perhatian. Keterkejutan mereka tidak lama saat Lucius sudah melangkah maju dan menghampiri Alena.
"Apa kau bersedia berdansa denganku, Putri?" tanya Lucius.
Alena melirik ke arah Amy sejenak dan setelah itu, Alena menyambut ajakan Lucius dengan meletakkan telapak tangannya ke atas telapak tangan Lucius. Tujuannya datang ke tempat itu memang untuk berbicara dengan Lucius dan setelah itu dia akan pergi.
Arabella mencengkeram sapu tangan dengan begitu eratnya saat Lucius membawa Alena ke lantai dansa. Siapa, siapa putri misterius itu? Kenapa dia tidak tahu jika ternyata ada yang disukai oleh pangeran Lucius? Suara musik yang tadinya terhenti kembali terdengar, beberapa putri dan pangeran kembali berdansa bersama dengan pangeran Lucius dan Alena.
"Aku kira kau tidak akan datang," ucap Lucius.
"Panggil aku, Alena. Jangan sampai kau menyebut namaku!" bisik Alena.
"Baiklah, kenapa kau datang terlambat? Apa telah terjadi sesuatu saat dijalan?"
"Tidak, aku memang sengaja datang terlambat," karena sarung tangan panjang yang dia kenakan, Lucius tidak akan bisa melihat luka yang ada di lengannya akibat perkelahian dengan para pembunuh bayaran itu.
"Aku senang kau datang," Lucius menarik pinggang Alena hingga tubuh mereka semakin merapat.
Ayah dan ibunya sangat senang melihat putranya sudah mendapatkan pasangan untuk berdansa. Beberapa orang putri tampak iri melihat kebersamaan mereka berdua bahkan putri Arabella sudah begitu murka. Seharusnya dia yang menjadi bintangnya, seharusnya dia yang berada di lantai dansa bersama dengan pangeran Lucius. Sekarang, dia akan menjadi bahan cibiran karena bukan dia yang diajak berdansa oleh pangeran Lucius.
"Kau tampak luar biasa, Alena," puji Lucius. Dia tidak tahu jika nama yang dia sebut adalah nama asli dari wanita yang sedang dia ajak berdansa.
"Terima kasih atas pujiannya pangeran, tapi aku tidak bisa lama."
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Lucius.
"Putar aku sebentar!" pinta Alena.
Lucius memutar tubuh Alena sebentar lalu menarik Alena kembali ke dalam pelukannya. Mereka berdua berdansa sebentar sebelum melanjutkan pembicaraan mereka.
"Katakan, kenapa kau tidak bisa lama?" tanya Lucius.
"Ada yang harus aku lakukan dan aku rasa, sudah saatnya aku pergi dari tempat ini!"
"Tidak, katakan padaku kau mau pergi ke mana? Aku sudah berkata akan membantu maka aku akan melibatkan diri dalam masalah yang sedang kau hadapi!" Lucius semakin mempererat pelukannya dan tangan Alena di genggam dengan erat.
"Aku tidak bisa mengatakan hal ini karena rahasia jadi lepaskan!" pinta Alena.
"Katakan kau mau pergi ke mana, maka akan aku lepaskan!"
"Westtrink, aku harus pergi ke sana dan sudah harus tiba esok pagi oleh sebab itu aku tidak bisa lama." ucap Alena pelan.
"Apa yang mau kau lakukan di desa itu?" Lucius semakin ingin tahu dengan apa yang hendak Alena lakukan.
"Untuk itu, aku belum bisa memberitahu, pangeran," Alena menghentikan langkahnya lalu melepaskan kalung yang diberikan oleh pangeran Lucius.
"Aku sangat berterima kasih kau mau mengundang aku tapi seperti yang aku katakan, aku tidak bisa lama. Terima kasih telah memberikan benda yang sangat indah ini tapi aku tidak pantas mendapatkannya," Alena meletakkan kalung itu ke atas telapak tangan Lucius.
"Benda ini sudah aku berikan jadi jangan dikembalikan!"
"Benda itu terlalu mewah untukku, pangeran. Berikanlah pada putri lain yang lebih pantas."
__ADS_1
"Tidak ada yang lebih pantas selain dirimu jadi?" ucapan Lucius terhenti karena Alena sudah meletakkan jarinya ke bibir pria itu.
"Terima kasih," Alena melangkah mendekat dan memberikan sebuah kecupan di bibir pangeran Lucius, "Aku sangat tersanjung tapi aku merasa aku yang sekarang tidaklah pantas!" ucapnya lagi.
"Jika begitu," Lucius meraih pinggang Alena dan mengangkat dagunya, "Aku akan menunggu sampai kau merasa pantas dan aku akan membantu dirimu sampai kau berada di posisi di mana kau akan merasa jika kau sangatlah pantas dan pada saat itu, kau akan menjadi ratu kerajaan ini!" setelah mengatakan hal itu, Lucius mencium bibir Alena. Semua yang melihat terkejut apalagi Alena memeluk sang pangeran dan membalas ciumannya. Biarlah, mungkin ini akan menjadi akhir dari pertemuan mereka karena dia tidak tahu apakah dia akan kembali lagi atau tidak setelah bertemu dengan Kendrick.
Semua menyaksikan tentunya perasaan iri semakin memenuhi hati sebagian dari para tamu yang hadir, entah siapa wanita yang sangat beruntung itu yang pasti mereka sangat penasaran untuk tahu. Bagaikan di cerita dongeng, Alena melangkah mundur setelah ciuman itu terhenti. Senyuman menghiasi wajahnya, namun dia sudah harus pergi dari tempat itu.
"Goodbye, Lucius," ucap Alena sebelum memutar langkah. Amy sudah menunggu di depan pintu, semua menyaksikan kepergian putri yang tidak mereka kenal itu.
Lucius melihat kalung yang ada di tangan, tidak bisa. Jika dia tidak mengejar Ernest sekarang, dia rasa mereka tidak akan pernah bertemu lagi oleh sebab itu dia tidak boleh membiarkan Ernest pergi begitu saja. Mau penyihir atau pecundang, dia tidak peduli.
Lucius segera mengejar Alena yang sudah melangkah cepat bersama dengan Amy. Mereka berdua terlihat begitu terburu-buru seperti sudah tidak sabar untuk pergi dari tempat itu.
"Tunggu!" teriak Lucius.
Langkah Alena dan Amy terhenti, Lucius sudah mengejar di belakang mereka. Amy bahkan melangkah mundur saat Lucius memeluk sang putri.
"Tunggu aku di Westtrink, aku akan berangkat ke sana besok pagi!" ucap Lucius.
"Tidak perlu, Pangeran. Kau tidak?"
"Tunggu di sana, aku tidak menerima alasan apa pun. Aku tahu apa yang hendak kau lakukan, aku akan membantumu mencari penyihir yang sebenarnya lalu membersihkan namamu dari fitnah," Lucius memeluknya erat, dia merasa mereka tidak akan bertemu lagi jika dia benar-benar tidak melibatkan diri.
"Aku harap kau tetap berada di istana, pangeran. Jika sampai kau menyusul, orang-orang akan menganggap kau sebagai sekutu seorang penyihir seperti aku dan semua orang akan tahu jika akulah yang berdansa bersama denganmu malam ini. Kau tahu kebencian akan semakin banyak aku dapatkan bahkan kakakku yang melihat akan membenci aku jadi tolong mengertilah dan ambil keputusan yang bijak!"
"Aku tahu," Lucius merenggangkan pelukannya, tangannya pun sudah berada di pipi Alena ,"Aku tahu apa yang harus aku lakukan jadi tidak perlu khawatir karena setiap tindakan yang aku ambil, aku pasti sudah memikirkannya dengan baik jadi tunggu aku di desa Westtrink."
__ADS_1
"Baiklah, tapi aku sudah harus pergi," Alena melangkah mundur, kali ini Lucius tidak mencegah dan seperti dalam dongeng Cinderella, Lucius seperti kehilangan sang putri pada saat jam sudah berbunyi karena dia hanya bisa membiarkan Ernest pergi tanpa bisa mencegahnya dan lagi-lagi pertemuan mereka sangatlah singkat.