Rise Of The Queen Ernest

Rise Of The Queen Ernest
Tantangan Dari Alena


__ADS_3

Isu mengenai apa yang terjadi di tempat berburu sudah berhembus kencang di istana. Isu itu berhembus begitu cepat seperti angin. Para rakyat sudah berkumpul untuk menyambut raja dan ratu yang mereka cintai tapi kebencian pada Putri Ernest semakin bertambah besar. Tentunya yang menyebar berita itu adalah orang-orang yang membenci Ernest. Mereka menyebarkan isu agar putri Ernest semakin dibenci.


Semua melihat ke arah kereta kuda putri Ernest, beberapa dari mereka memiliki niat jahat. Beberapa dari mereka pun sudah memegangi beberapa batu dan tanpa menunggu, batu-batu itu pun dilemparkan ke arah kereta putri Ernest.


Alena terkejut, begitu juga dengan Amy dan Agnes. Tidak saja mereka, para prajurit yang berjaga di dekat tenda putri Ernest pun terkejut apalagi banyak batu yang jatuh di sekitar kereta putri Ernest.


"Siapa yang berani melempar batu?!" teriak salah seorang prajurit.


"Apa yang terjadi?" tanya Alena yang yang melihat keluar namun pada saat itu, sebuah batu kembali dilemparkan ke arahnya.


"Awas, Putri!" teriak seorang prajurit. Alena pura-pura tidak melihat padahal dia bisa menangkap batu itu atau menghindar. Dia tidak mau membuat orang-orang semakin curiga padanya oleh sebab itu Alena tidak menghindar dan tidak menangkap batu itu sehingga batu yang dilemparkan mendarat tepat ke dahinya.


Alena berteriak, Amy dan Agnes terkejut melihat hal itu. Darah segar mengalir dari dahi sang putri, mereka berdua tampak panik.


"Putri, kepalamu!" mereka berdua panik luar biasa sedangkan Alena memegangi dahinya dan pura-pura shock.


Para prajurit yang melihat itu sangat marah dan karena hal itu perjalanan sedikit terganggu sehingga semuanya terhenti. Raja dan ratu keluar dari kereta kuda sedangkan Arabella sudah berlari menuju kereta adiknya.


"Siapa yang berani melempar batu?!" teriak raja Leon marah.


Tidak ada yang berani bersuara, para rakyat tampak kasak kusuk seperti tidak ada yang terjadi. Arabella membawa Ernest keluar dari keretanya, dia juga terlihat marah karena darah keluar dari dahi adiknya yang terluka.


"Siapa yang berani melakukan perbuatan keji ini?!" teriak Arabella marah.


"Tuan putri tidak boleh melindungi penyihir!" seseorang dari kerumunan berteriak seperti itu.


"Benar, kami sudah mendengarnya jika putri Ernest telah mengambil korban di tempat berburu jadi Raja dan Ratu juga putri Arabella tidak boleh melindunginya lagi!" teriak yang lainnya.


"Diam, kalian tidak tahu apa pun dan tidak tahu jika Ernest sedang difitnah!" teriak Arabella.


"Sekalipun dia adalah anggota kerajaan seharusnya raja Leon menghukumnya!"


"Diam kalian semua, hal ini belum terbukti jadi aku tidak akan sembarangan mengambil tindakan!" ucap Raja Leon. Seperti yang dia duga, citra putrinya semakin buruk karena kejadian itu.

__ADS_1


"Hukum putri Ernest, sekarang juga raja Leon harus menghukum penyihir itu jika tidak kami yang akan menghukumnya dengan cara kami!" kini sorakan semakin banyak. Para rakyat mulai berani maju dengan tongkat bahkan alat pacul juga berada di tangan.


"Diam kalian semua, aku bukan penyihir!" teriak Ernest. Cukup sudah, dia tidak takut dengan para rakyat.


"Jangan, Ernest," Arabella menahan sang adik yang hendak maju ke depan.


"Aku sudah tidak tahan lagi, Kakak. Selama ini aku diam tapi sekarang, aku tidak boleh diam lagi."


Ernest menepis tangan kakaknya dan tetap melangkah maju. Beberapa prajurit menjaga sang putri agar tidak ada masyarakat yang menyerang putri secara tiba-tiba.


"Aku tahu kalian tidak percaya dan tetap menganggap aku sebagai seorang penyihir tapi bukan aku yang melakukan ritual sesat yang kalian maksud."


"Kami tidak percaya!" teriak seseorang dari kerumunan.


"Benar, kau bisa membohongi raja dan ratu dengan wajah polosmu tapi kau tidak bisa menipu kami!"


"Tidak ada penyihir yang mau mengakui kejahatan yang dia lakukan. Mau berapa banyak lagi putri kami yang akan kau jadikan korban, Putri? Apa kau ingin membuat kami tidak memiliki keturunan lagi?"


"Sudahlah, Ernest. Mereka tidak akan mengerti karena mereka sudah dibutakan oleh isu palsu yang disebarkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab," ucap putri Arabella.


"Kemari, Ernest. Satu kereta dengan Bunda sampai ke istana," ucap ibu ratu.


"Terima kasih, Bunda. Tapi hal seperti ini tidak akan berakhir karena mereka akan terus membenci aku dan menganggap aku sebagai penyihir oleh sebab aku ingin memberikan tantangan pada mereka semua!"


"Ernest, apa yang kau maksudkan?" raja Loen menghampiri putrinya, jangan sampai putrinya kelepasan bicara yang bisa mempersulit diri.


"Aku menantang mereka, Ayahanda. Mereka selalu berkata jika aku adalah seorang penyihir oleh sebab itu aku akan menantang mereka mulai detik ini. Barang siapa yang pernah melihat aku melakukan ritual sesat dan barang siapa pernah melihat aku menculik seorang gadis maka hal ini harus segera dilaporkan pada Ayahanda sehingga Ayahanda bisa langsung bertindak. Satu bulan lagi dari sekarang, akan ada ritual yang selalu diadakan pada tanggal lima belas seperto yang kalian takutkan dan sebelum ada korban yang jatuh, aku akan mendapatkan pelakunya untuk kalian semua agar kalian percaya jika bukan aku pelakunya dan jika di antara kalian melihat bahwa akulah pelakunya, maka aku bersedia dibakar secara hidup-hidup di alun-alun sehingga semua orang bisa melihatnya!" tantang Alena.


"Ernest, jangan sembarangan memberi tantangan!" ratu mendekati putrinya. Dia mencegah karena tidaklah mudah mencari pelaku yang melakukan ritual sesat apalagi dalam waktu singkat.


"Tidak apa-apa, Bunda. Aku akan mencari pelakunya."


"Kau adalah putri kerajaan, putri yang memiliki kekuasaan. Bagaimana kami bisa percaya jika orang yang kau temukan nanti benar-benar penyihir? Bisa saja kau mengancam seorang pelayan untuk menggantikan dirimu sebagai seorang penyihir?" tanya seorang rakyat yang ada di sana.

__ADS_1


"Aku akan membantu Ernest!" Pangeran Lucius melangkah maju, semua mata memandang ke arahnya.


"Aku, pangeran dari kerajaan Kenneth bersedia membantu Ernest mencari pelaku yang sebenarnya dan aku jamin dia tidak akan melakukan kecurangan seperti itu!"


"Jangan, Pangeran!" cegah Alena.


"Aku akan membantu, Ernest, Hal ini tidak bisa dibiarkan karena sekte sesat seperti itu bisa menyebar luas. Untuk saat ini mungkin hanya ada di kerajaan Kent Arsia tapi nanti, aku yakin sekte sesat itu akan menyebar bahkan bisa sampai ke kerajaanku oleh sebab itu, kita harus mencegah sebelum aliran sesat itu menyebar luas," ucap Lucius. Dia yakin ayahnya akan setuju dengan keputusan yang dia ambil karena tindakan mencegah harus mereka lalukan sebelum aliran sesat itu menyebar ke beberapa kerajaan.


"Baiklah jika itu yang Pangeran inginkan, aku tidak akan mencegah," ucap Raja Leon.


"Bagaimana kami bisa tahu jika putri dan Pangeran tidak sedang menipu kami nantinya?"


"Aku menjamin hal itu dan aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk membuktikan pada kalian semua jika bukan akulah pelakunya!" ucap Ernest.


"Untuk apa kami mempercayai penyihir seperti dirimu?"


"Benar, untuk apa kami mempercayai perkataanmu!" yang lain ikut berteriak karena provokasi yang dilontarkan.


"Diam, Ernest sedang ingin membuktikan jika dia tidak bersalah jadi diam!" teriak Arabella.


"Ernest sudah berkata jika dia akan membuktikan jadi akan dia buktikan. Jika ada yang berani menuduh Ernest sebagai penyihir sebelum waktunya maka aku akan menangkapnya dan seluruh keluarganya. Aku akan menganggap orang itu sebagai bagian dari sekte sesat dan menginterogasinya dengan cara yang keji!" ancam raja Leon.


Semua diam dan menunduk, tidak ada yang berani bersuara karena mereka takut dianggap menjadi sekutu sekte sesat sehingga mereka tertangkap. Arabella memegangi kedua bahu adiknya, ibu ratu segera mengajak kedua putrinya untuk ke keretanya. Para rakyat yang tadinya marah melangkah mundur, senjata yang ada di tangan diturunkan. Para prajurit membuat sebuah pertahanan agar tidak ada rakyat yang bisa menerobos masuk.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya putri Arabella pada adiknya setelah mereka sudah berada di dalam kereta.


"Coba Bunda lihat dahinya," ucap ratu.


"Maaf membuat keributan," Alena menunduk, setelah ini dia harus benar-benar mencari pelaku sebenarnya yang telah melakukan ritual.


"Sudahlah, yang penting kau baik-baik saja," ucap ibu ratu.


Pasukan kembali jalan, padahal istana tinggal sedikit lagi tapi kejadian itu membuat perjalanan mereka tertunda. Para rakyat pun mulai membubarkan diri. Sebagian dari mereka berharap, penyihir yang sebenarnya dapat segera tertangkap dan putri Ernest dapat membuktikan jika dia bukan pelakunya tentunya itu adalah tantangan yang tidak mudah bagi Ernest karena pengkhianat ada di dalam istana.

__ADS_1


__ADS_2