Rise Of The Queen Ernest

Rise Of The Queen Ernest
Setangkai Bunga Dan Si Jubah Hitam Misterius


__ADS_3

Sebuah rencana sudah dibuat oleh Raja Leon untuk menyambut kedatangan Pangeran Lucius, tentunya berburu. Acara itu akan diadakan tanggal lima belas nanti. Rencana itu diambil untuk menutupi isu jika putrinya adalah seorang penyihir. Saat tanggal lima belas nanti, orang-orang akan sibuk dengan acara itu sehingga tidak ada satu orang pun yang memikirkan ritual sesat yang selalu diadakan setiap tanggal lima belas.


Tentunya Raja Leon harus membahas hal itu lebih lanjut dengan para menteri oleh sebab itu, Raja sudah mengumpulkan para menteri dan beberapa pejabat untuk membahas itu lebih lanjut.


Pagi itu, Alena dan kedua pelayannya berada di dalam kamar. Karena dia harus bertindak hati-hati agar tidak ada yang tahu lagi jadi Alena melatih Amy dan Agnes di dalam kamarnya. Walau ruang gerak yang tidak memadai tapi cukup untuk mengajari mereka gerak dasar seperti mengayunkan pedang dan juga menangkis serangan dari musuh.


Amy dan Agnes yang tidak tahu sang putri belajar dari mana, mempelajari setiap gerakan dasar yang diajarkan oleh Alena. Mereka sudah bertekad akan melindungi putri dan agar bisa berguna bagi sang putri oleh sebab itu mereka begitu serius.


Arabella yang ingin menghabiskan waktu dengan adiknya di taman pun sedang menuju kamar Ernest. Mungkin pagi ini dia bisa berbincang dengan Pangeran Lucius. Semoga keberuntungan menghampirinya pagi ini.


"Ernest, apa kau ada di kamar?" tanya Arabella.


"Berhenti, cepat!" perintah Alena.


Amy dan Agnes segera berhenti, peralatan yang mereka butuhkan untuk latihan buru-buru disingkirkan. Amy bergegas membuka pintu, sedangkan Ernest sudah duduk di dekat jendela dan pura-pura membaca.


"Selamat pagi, Putri Arabella," sapa Amy dan Agnes.


"Pagi, apa yang sedang dilakukan oleh Ernest?" tanya Arabella.


"Tuan putri sedang membaca," jawab Amy.


"Ada apa, Kakak?" tanya Ernest basa basi.


"Kenapa kau berada di dalam kamar, Ernest? Apa kau tidak mau keluar lagi menikmati teh di taman?"


"Aku mau, kakak. Apa kakak mau menemani aku?" tanya Ernest. Sesungguhnya dia sangat ingin menikmati waktunya di taman seperti yang dia lakukan pagi itu tapi karena dia tidak mau bertemu dengan Pangeran Lucius membuatnya malas untuk keluar. Jika bersama dengan kakaknya dia rasa pria itu tidak mungkin membicarakan hal yang tidak perlu dibicarakan.


"Tentu saja, sebab itulah aku mengajakmu. Sudah lama kita tidak menghabiskan waktu berdua, Ernest. Waktu itu terjadi insiden yang tidak diinginkan tapi pagi ini, kita tidak akan mengulangi kejadian itu lagi karena aku tidak akan membiarkan ada yang meracuni dirimu!"


"Terima kasih atas perhatian kakak, aku sangat beruntung memiliki kakak yang sangat peduli dan sayang padaku."


"Kemarilah, kita ke taman untuk menikmati waktu kita berdua."


Alena beranjak dan melangkah mendekati kakaknya. Amy mengambil jubah untuk putri Ernest, sedangkan Agnes mengambilkan yang lainnya.


"Aku sudah siap, kakak," ucap Alena setelah jubah dikenakan.


"Ayo, saatnya kita pergi bersenang-senang," Arabella menggandeng tangan adiknya dan mengajaknya untuk pergi ke taman.

__ADS_1


Pangeran Lucius yang ingin bertemu dengan putri Ernest sedang berjalan-jalan di taman. Dia pikir dia akan bertemu dengan sang putri lagi di taman itu tapi nyatanya Ernest tidak ada. Rasanya mengecewakan, dia benar-benar ingin mengenal Ernest lebih jauh lagi namun rasa kecewa itu sirna saat Lucius melihat Ernest sedang melangkah menuju taman bersama Arabella.


Lucius segera melangkah menghampiri, Arabella sangat senang sedangkan Alena bersembunyi di belakang kakaknya. Dia sedang berakting menjadi putri yang naif dan penakut.


"Selamat pagi, Pangeran. Apa yang pangeran lalukan di taman ini?" tanya Arabella sambil sedikit membungkuk.


"Tidak perlu terlalu formal, Putri Arabella. Aku ke sini untuk melihat indahnya bunga cherry yang sedang mekar," jawab Lucius beralasan namun tatapan matanya tertuju pada Alena.


"Sangat kebetulan, kami juga ingin menikmati pemandangan sambil menikmati teh."


"Apa tidak keberatan aku bergabung?"


"Tentu saja tidak, Pangeran," Arabella justru senang pria itu bergabung dengan mereka.


"Bagaimana dengan Putri Ernest? Apa dia tidak keberatan?" tanya Lucius sengaja. Sungguh putri yang pandai berakting.


"Ernest, kenapa kau bersembunyi di belakangku?" tanya Arabella.


"Maaf, kakak. Aku ingin segera duduk."


"Baiklah, ayo kita duduk," ajak Arabella.


"Padahal kalian kakak adik, tapi kenapa kalian begitu berbeda?" tanya Lucius.


"Maafkan adikku, Pangeran. Ernest memiliki fisik yang lemah, dia juga jarang bergaul apalagi isu tidak sedap yang menyebar di istana membuatnya menjadi tertutup. Mungkin Ernest takut dengan orang oleh sebab itu setiap kali dia bertemu dengan orang baru, dia akan menunjukkan rasa tidak sukanya."


"Apakah benar?" Lucius melihat ke arah Ernest yang sedari tadi menunduk saja.


"Mohon pangeran memaklumkannya," pinta Arabella.


"Baiklah, tidak perlu khawatir. Aku paham, dia pasti berada di posisi sulit."


"Terima kasih, Pangeran," Arabella tersenyum dengan manis. Tatapan mata tidak lepas dari Lucius yang memang saat itu sedang duduk di hadapannya. Sungguh, pangeran gagah yang begitu sempurna.


Mereka berbincang tapi Alena lebih banyak diam. Mereka bahkan melangkah menuju taman di mana bunga sedang bermekaran. Arabella melontarkan banyak pertanyaan pada Lucius, mereka berdua terlihat begitu akrab sehingga para pelayan mulai menggosipkan jika mereka pasangan yang sangat serasi. Sangat menyenangkan melihat mereka berdua tapi sangat disayangkan karena di antara mereka ada pengganggu dan tentunya orang itu adalah putri Ernest.


Alena yang sudah seperti seekor lalat di antara pangeran Lucius dan putri Ernest, menghentikan langkah sejenak karena dia ingin memetik beberapa tangkai bunga mawar. Sungguh indah tapi bunga itu memiliki duri yang cukup tajam. Seperti bunga itu, tidak saja memiliki keindahan tapi dia pun harus memiliki kekejaman.


"Bunga mawar ini sangat indah, Putri. Merah cocok untukmu," ucap Agnes.

__ADS_1


"Benar, Tuan Putri akan semakin cantik menggunakan warna merah," ucap Amy pula.


"Terima kasih, tapi aku rasa kita sudah harus pergi."


"Kenapa? Apa putri sudah lelah?"


"Yes, lagi pula aku tidak mau mengganggu mereka berdua," Alena memandang ke arah Arabella dan Lucius yang sedang berbincang. putri Arabella sangat senang, tak hentinya dia tertawa. Alena sangat senang melihatnya. sebaiknya dia kembali ke kamar tanpa mengganggu mereka.


Lucius dan Arabella tidak tahu jika Ernest sudah pergi, mereka berdua masih berbincang sampai Bastian menghampiri mereka dan mengatakan jika raja Leon memanggil.


"Aku pergi dulu, Putri Arabella," ucap Lucius.


"Silahkan pangeran tapi bunga itu?" Arabella menghentikan ucapannya dan melihat setangkai bunga mawar merah yang ada di tangan Lucius.


"Aku ingin menyimpannya," ucap Lucius.


"Baiklah, terima kasih sudah menemani aku," ucap Arabella seraya membungkuk.


"Tidak perlu dipikirkan, aku pergi dulu!"


Lucius melangkah pergi, Arabella pun pergi dengan perasaan senang luar biasa. Lucius pergi mencari Alena terlebih dahulu untuk memberikan bunga yang ada di tangannya. Alena sangat heran, dia tidak mengerti kenapa pangeran Lucius memberikan setangkai bunga mawar merah untuknya.


"Untukmu, Ernest," ucap Pangeran sambil memberikan bunga yang dia ambil.


"Untuk apa, pangeran?" tanya Alena tidak mengerti.


"Kau cocok memakainya," setelah berkata demikian Lucius menyelipkan bunga itu di telinga Alena.


"Benar dugaanku, kau sangat cocok!" setelah berkata demikian, pangeran Lucius pergi meninggalkan Alena yang tidak mengeri dengan apa yang terjadi. Lucius pergi menemui raja untuk membahas rencana sang raja dan setelah selesai, seorang menteri yang bersama dengan raja untuk membahas rencana berburu justru pergi menemui seseorang.


Orang yang dia temui menggunakan jubah hitam serta memakai topeng. Mereka bertemu di tempat tersembunyi agar tidak ada yang tahu.


"Celaka, Tuanku. Sepertinya raja sengaja membuat rencana berburu untuk menyelamatkan Putri Ernest agar tidak ada lagi yang mengira dirinya sebagai seorang penyihir!" ucap menteri itu.


"Kurang ajar!" orang betopeng dan berjubah hitam itu tampak marah.


"Apa yang harus kita lakukan?"


"Pergilah, jangan sampai ada yang melihat kita. Apa pun yang hendak raja lakukan untuk menyelamatkan putri Ernest, dia akan tetap menjadi tersangka dan tambahkan lagi racun dalam obatnya!" perintah orang itu.

__ADS_1


"Baik, Tuanku!" menteri itu pun undur diri menyisakan si jubah hitam misterius yang tampak kesal. Lagi-lagi Ernest akan dilindungi, dia tidak terima. Sekalipun tanggal lima belas nanti akan diadakan acara berburu, Ernest akan tetap di tuduh sebagai penyihir karena dia akan melakukan sebuah siasat untuk menjebak Ernest nantinya.


__ADS_2