
Matahari bersinar begitu cepat menenggelamkan diri di ufuk barat seolah-olah sudah begitu lelah dan sudah ingin beristirahat. Malam yang dikhawatirkan oleh Alena akhirnya datang, malam tanggal lima belas di mana isu akan adanya ritual sesat diadakan dan malam ini sebuah mala petaka akan terjadi.
Malam itu, api unggun sudah menyala. Hewan buruan yang didapatkan sudah diolah. Malam itu pun mereka akan menikmati olahan hewan itu bersama-sama. Meja perjamuan sudah tersusun dengan rapi, raja dan ratu sudah duduk di tempatnya. Ernest dan Arabella juga sudah duduk di tempatnya.
Pangeran dan beberapa orangnya sudah berada di tempat yang sudah disediakan, begitu juga dengan para pejabat lainnya. Malam itu bulan bersinar dengan terangnya tapi itu bukanlah bertanda baik karena semakin terang bulan itu bersinar maka ritual sesat yang akan memakan korban pasti akan terjadi.
"Bulan begitu bersinar begitu indahnya, Ernest. Pemandangan langkah yang tidak bisa kita dapatkan apalagi kita tidak akan selalu berada di sini. Bagaimana jika kita menyelinap saat malam untuk melihat indahnya bulan dan juga kunang-kunang?" ajak Arabella.
"Tidak. Kakak. Kita dilarang keluar oleh Bunda dan Ayahanda," tolak Alena.
"Kita ajak Pangeran Lucius, Ayahanda pasti tidak akan menolak."
"Tidak, Kakak. Aku tidak suka malam ini, aku pun ingin berada di dalam tenda saja."
"Ada apa dengan malam ini, Ernest? Apa akan terjadi sesuatu?"
"Tidak, aku hanya tidak mau pergi apalagi Bunda sudah melarang. Lagi pula kakiku sedang terluka jadi aku tidak mau merepotkan kalian lebih dari pada ini!"
"Baiklah jika begitu, aku tidak akan memaksa."
"Dari pada kita pergi melihat kunang-kunang dan bulan, bukankah lebih baik kakak memaafkan keadaan dan mengajak Pangeran Lucius untuk bertemu dan berbincang saja?"
"Tidak, Ernest. Aku malu!" ucap Arabella.
__ADS_1
"Tapi kakak menyukainya, bukankah dia harus tahu bagaimana dengan perasaan kak Arabella selama ini?"
"Lupakanlah, aku akan mencari waktu yang tepat untuk mengatakannya. Bukan di acara berburu seperti ini!"
"Aku akan mendukungmu, Kakak," ucap Alena seraya memeluk kakaknya.
"Terima kasih, Ernest," Arabella pun memeluk adiknya. Ratu Hana yang melihat keakraban kedua putrinya tersenyum, dia harap kedua putrinya terus seperti itu dan tidak bertengkar akibat sesuatu apalagi gara-gara pria. Dia juga berharap, Arabella bisa menjaga adiknya selalu apalagi ada yang menginginkan kematian Ernest.
Suara musik dan nyanyian terdengar, membuat acara malam itu begitu meriah. Pangeran Lucius tak hentinya melihat ke arah Alena. Wanita itu benar-benar dipenuhi dengan misteri yang membuatnya semakin tertarik untuk tahu dan yang membuatnya semakin penasaran.
Dari kegelapan hutan yang cukup jauh dari tenda mereka, sekelompok orang yang sedang melakukan ajaran sesat mulai berkumpul. Satu korban sudah dibawa, tinggal menunggu satu korban lainnya. Mereka akan melakukan ritual saat tengah malam tentunya setelah Ratu mereka yang sibuk itu datang.
"Bagaimana, apa semua sudah dipersiapkan?" tanya salah seorang yang menjadi tangan kanan sang ratu.
"Tentu saja, tapi racun itu tidak bisa membunuhnya dan orang-orang yang kita utus tidak bisa membunuhnya. Jika saja tidak ada Pangeran Lucius William, Ernest pasti sudah kita dapatkan untuk dijadikan dalang tapi dia justru lolos. Malam ini, kita tidak boleh gagal untuk menyingkirkan dirinya!"
"Sedang dibawa, semua persiapan sudah dipersiapkan dan beberapa orang sudah berada di lokasi untuk menjalankan rencana selanjutnya."
"Bagus, saat bulan sudah berada di atas kepala ritual sudah harus dijalankan."
Orang-Orang itu bersiap-siap, menunggu kedatangan sang ratu. Waktu begitu cepat berputar, suara musik dan nyanyian sudah tidak terdengar lagi karena semua sudah kembali ke tenda masing-masing. Seperti yang diperintahkan oleh sang ratu, tidak ada yang boleh pergi ke mana pun namun para penyusup sudah memberikan informasi pada rekan yang ada di tengah hutan.
Informasi itu pun segera berpindah pada sekelompok orang yang hendak melakukan ritual. Dua korban sudah berada di tempat. Dua korban itu sudah dibaringkan ke atas lempengan batu. Yang satu di sebelah kanan dan yang satu lagi berada di sebelah kiri. Kedua tangan korban diikat begitu juga dengan mulut mereka yang di sumpal dengan kain.
__ADS_1
Mereka tampak ketakutan karena orang-orang yang memakai jubah hitam sedang berdiri mengelilingi mereka. Dua korban itu hanya bisa meronta ketakutan apalagi orang-orang itu mulai membaca mantera aneh dari bahas yang tidak mereka ketahui.
Mantera yang diucapkan semakin nyaring terdengar, orang-orang itu pun memuji dewa iblis yang mereka puja. Waktu sudah hampir menunjukkan tengah malam, rencana mereka pun mulai dijalankan. Setiap tenda diberi asap yang mengandung obat tidur, mereka membius semua orang yang ada di tenda. Itu dilakukan agar mereka bebas melakukan apa saja tanpa adanya yang mengganggu.
Setelah memastikan semua yang ada di dalam tenda terlelap, pada prajurit yang berjaga dan beberapa pelayan pun sudah tidak sadarkan diri. Para penyusup itu memastikannya dengan teliti dan setelah itu mereka pergi ke hutan untuk mengikuti ritual apalagi sang ratu sudah tiba.
"Hormat pada ayang mulia ratu!" para pengikut sang ratu membungkuk hormat untuk menyambutnya.
"Laksanakan ritualnya, segera!" perintah ratu.
Ritual itu pun segera dimulai, lilin dinyalakan lalu mereka membaca mantera. Satu gelas cairan aneh diberikan pada ratu dan setelah itu sang ratu mengelilingi dua korban dan menuangkan cairan itu ke atas tubuh korban sambil membacakan mantera. Para pengikutnya juga membaca mantera saat hal itu dilakukan, dua korban yang sebentar lagi akan mati hanya bisa ketakutan tanpa bisa melakukan apa pun.
Setelah cairan aneh itu selesai dituangkan, seseorang memberikan sebilah pisau pada sang ratu. Pisau itu sedikit membengkok, dengan gagang yang dihiasi tengkorak kecil di ujung gagangnya. Pisau itu pun runcing dan sangat tajam. Setelah pisau tengkorak, sebuah cawan berbentuk tengkorak pun diberikan.
Mantera kembali dibaca, bulan sudah berada di atas kepala jadi itulah saatnya. Mantera dibaca dengan nyaring oleh para penganut sekte sesat itu dan setelah itu sang ratu berteriak sambil mengangkat pisaunya tinggi.
"Aku mempersembahkan gadis ini padamu dan terimalah apa yang kami berikan!" setelah berteriak demikian, pisau tajam yang ada di tangan menghunjam tepat ke dada korban. Tidak saja menghunjam dada korban tapi darah korban pun diambil lalu dadanya di belah untuk mengeluarkan jantungnya. Benar-benar sekte sesat, mereka menikmati ritual itu dengan meminum darah korban dan menikmati jantung korban.
Korban yang satu lagi masih hidup. Dia ketakutan melihat korban yang telah mati. Darahnya dibiarkan mengalir, itu sebabnya korban yang ditemukan selalu mati dalam keadaan mengering.
"Bagaimana dengan yang satu ini, Ratu?"
"Sekarang juga, bunuh dia. keluarkan semua darahnya dan juga jantungnya lalu lemparkan mayatnya ke dalam tenda Ernest. Jangan lupa dengan jejak yang lainnya, taruhlah jantungnya di dekat Ernest. Dia tidak akan mati dengan racun dan pembunuh tapi dia akan mati diadili oleh semua orang karena mereka semua akan mengira jika dia telah melakukan ritual di dalam tendanya!" dengan begini Ernest tidak bisa menghindar, raja dan ratu pun tidak akan bisa menyelamatkan Ernest karena ada barang bukti nyata di dalam tenda Ernest.
__ADS_1
Itulah siasat yang mereka ambil untuk membunuh Ernest dan besok, Ernest benar-benar akan dianggap sebagai seorang penyihir lalu dia akan dihakimi dan dia akan mati dengan cara dibakar seperti kematian pada para penyihir yang dihakimi pada umumnya.
Orang-Orang itu mulai bergerak, melakukan perintah sang ratu. Ernest harus mati sebagai penyihir agar semua orang mengira jika sudah tidak ada penyihir lagi dan pada sat itu terjadi, kelompok mereka tidak akan ada yang mencurigainya.