
Sebuah pedang menancap, darah pun mengalir dari ujung pedang tersebut. Sorakan yang meriah untuk memeriahkan ritual tersebut justru menjadi teriakan bahkan Arabella juga berteriak histeris. Bagaimana tidak, sebuah pedang sudah menembus di tubuh Mauren dan pedang itu ditusukkan dari belakang.
Pedang dicabut, Mauren berpaling ke belakang dan terkejut saat melihat orang yang baru saja menusuknya. Arabella pun terkejut dengan pelaku yang menusuk ibunya tentunya pelaku itu adalah Alena yang sudah dilepaskan oleh Lucius. Alena tidak menyia-nyiakan kesempatan, dia mendekati Mauren dan Arabella dengan mengendap. keberadaan dirinya benar-benar tidak disadari karena Mauren dan Arabella begitu serius. Mauren memegangi perutnya yang mengeluarkan darah tanpa henti dan setelah itu Mauren jatuh terduduk.
"Beraninya kau, Ernest!" Arabella mengambil pedang yang ada di atas altar lalu mengayunkan pedangnya ke arah Alena namun pedangnya justru di tangkis oleh pangeran Lucius. Arabella terkejut dengan keberadaan pria itu, dia sungguh tidak menduga pria itu berada di sana.
"Bagaimana mungkin?" Arabella melangkah mundur, dia sungguh tidak mengharapkan semua ini terjadi.
"Apa yang kalian tunggu, bunuh mereka berdua!" teriak Mauren.
Para pengikut sekte melepaskan jubah lalu berlari untuk mengambil pedang, pada saat yang bersamaan terdengar suara terompet dari segala sisi. Tentunya suara itu membuat mereka terkejut sehingga membuat mereka melihat sekeliling.
"Jangan lepaskan satu orang pun!" teriakan itu terdengar diiringi dengan sorakan lalu para prajurit yang mengintai sedari tadi berteriak dan berlari ke araha musuh. Mereka membentuk lingkaran sehingga para pengikut sekte sesat tidak bisa lari.
"Serang!" teriak para prajurit itu.
"Bunuh mereka, jangan ragu karena ratu akan membangkitkan kita kembali!" teriak para pengikut sekte yang mulai berlari ke arah prajurit karena mereka akan menyerang balik. Mereka tidak takut mati karena mereka percaya Arabella dan Mauren dapat membangkitkan mereka kembali. Kekacauan itu dimanfaatkan oleh Agnes untuk melepaskan Amy dari ikatan.
"Maafkan aku Amy, aku hanya bersandiwara sesuai dengan perintah tuan Putri," ucap Agnes.
"Apa? Kau tidak sedang menipu aku, bukan?" tanya Amy karena dia tidak percaya pada Agnes.
"Tentu saja tidak, bodoh. Sekarang bantu aku melepaskan sandera itu lalu kita bantu tuan putri!" ucap Agnes.
__ADS_1
Amy memeluknya setelah ikatan tangan dan kaki terlepas, dia benar-benar sudah salah paham dengan Agnes tapi itu bukanlah saatnya untuk saling berpeluk ria karena mereka harus segera melepaskan sandera lain dan membantu Putri Ernest untuk mengalahkan musuh.
Para pengikut sekte sedang melawan prajurit dari kerajaan Kenneth dan Kent Arsia namun para pengikut sekte mulai berguguran karena sebagian dari mereka adalah pelayan, pejabat juga beberapa menteri. Alena pun sedang menghadapi Arabella. Dia meminta Lucius untuk mengamankan Mauren sedangkan dia menghadapi Arabella, orang yang dia anggap sebagai kakak dan dia sayangi namun sayangnya kasih sayang yang Arabella tunjukkan padanya selama ini hanya palsu belaka.
"Aku sungguh tidak menduga kau begitu tega, Kakak. Padahal kau bisa menjadi ratu kerajaan Kent Arsia tanpa perlu menjadi penyihir. Aku pun tidak akan mengambil takhta yang memang milikmu!" ucap Alena yang sudah mengacungkan pedangnya ke arah Arabella.
"Kau tidak mengerti, Ernest. Aku menginginkan kecantikanku ini abadi dan aku ingin menjadi ratu paling cantik sejagad. Semua itu akan aku dapatkan jika aku meminum darah wanita muda bersama sebuah ramuan langka juga memakan jantung para korbanku setiap bulan!"
"Kau sungguh gila, Arabella. Kedudukan benar-benar membutakan mata. Kau tidak puas dengan apa yang kau miliki sehingga kau mengikuti jalan yang salah!"
"Diam, kau hanya putri pelayan jadi kau tidak berhak menceramahi aku!" teriak Arabella murka.
"Aku memang putri pelayan tapi aku memiliki kehormatan. Sekarang, aku akan menyelesaikan fitnah yang aku dapatkan selama ini jadi majulah!" tantang Alena.
"Aku akan membunuhmu, Ernest. Kau sudah mengacaukan semuanya jadi aku akan membunuhmu!" Arabella pun mengacungkan pedangnya.
Suara benturan pedang terdengar. Alena dan Arabella menarik pedang mereka lalu mereka kembali saling menyerang.
Tempat ritual kacau balau, korban yang ketakutan sudah Amy amankan. Amy dan Agnes pun menyerang musuh dengan kemampuan yang mereka miliki selama ini. Perang terjadi di tempat itu. Pangeran Lucius membantu raja Leon menangkap para pengikut sekte dan yang tidak bisa ditangkap mereka bunuh. Mauren sudah diamankan, dia tidak akan bisa melarikan diri lagi.
Alena dan Arabella masih saling adu pedang. Arabella memang tidak pernah terlihat berlatih tapi keahlian pedangnya cukup bagus karena dia memang berlatih secara diam-diam.
Suara pedang yang saling beradu terdengar tiada henti dari tempat itu, satu persatu pengikut sekte kembali berguguran. Beberapa dari mereka sudah ditangkap dan diamankan oleh para prajurit. Lambat laun jumlah mereka semakin sedikit. Arabella melihat itu dan tahu jika dia berada di posisi yang kalah. Sepertinya tidak ada cara lain selain melarikan diri dari tempat itu.
__ADS_1
Arabella menangkis serangan yang diberikan oleh Alena tiada henti, dia pun melangkah mundur untuk mencari celah karena dia berniat melarikan diri dari tempat itu. Alena menyerangnya tanpa henti, dia menginginkan Arabella dalam keadaan hidup agar semua rakyat tahu jika penyihir yang sesungguhnya adalah Arabella, bukan dirinya. Dia tidak akan membunuh Arabella karena jika sampai Arabella mati, maka para pengikutnya bisa membalikkan fakta sehingga dia kembali terjebak dan dia akan tetap dianggap sebagai seorang penyihir.
"Mau ke mana kau, Arabella? Jangan harap kau bisa lari dariku?' ucap Alena yang terus menyerang tanpa henti.
"Kau tidak akan bisa membunuh aku, Ernest. Kau pun tidak akan bisa menangkap aku!"
"Kita lihat saja, Arabella!"
Arabella kembali menangkis pedang yang diayunkan oleh Alena dan setelah itu dia berlari ke arah hutan karena dia akan melarikan diri. Alena berlari mengejar, akan dia kejar Arabella ke mana pun dia lari. Dia pun tidak akan membiarkan Arabella lari jadi jangan harap Arabella bisa pergi.
"Jangan kau kira kau bisa lari dariku, Arabella!" Alena menarik sebuah pisau kecil yang dia selipkan dibalik gaunnya lalu melemparkan pisau itu ke arah Arabella.
Arabella melihatnya dan menghindar, dia melompat ke samping hingga pisau meleset dan mengenai sebuah batang pohon. Alena membuang pedang yang ada di tangan. Beberapa pisau kembali di cabut lalu dilemparkan ke arah Arabella yang terus berlari ke arah hutan. Satu meleset karena Arabella menghindar, yang kedua pun meleset namun yang ketika menancap ke paha bagian belakang Arabella dan satu lagi menancap ke bahunya. Arabella berteriak dan terjatuh, dia tidak menyerah dan menarik pisau yang ada di kaki lalu dia kembali berlari.
Alena pun tidak menyerah, dia kembali mengejar, kali ini sebatang kayu sudah berada di tangan. Kayu itu dilemparkan dan kayu itu pun mengenai kaki Arabella sehingga membuatnya terjatuh. Arabella berteriak, para prajurit yang sudah menghabisi pengikut sekte berlari ke arah Arabella untuk menangkapnya.
Arabella berusaha merangkak, darah mengalir dari luka di kaki dan bahunya. Raja Leon dan pangeran Lucius mendekati Alena untuk membantu. Arabella berteriak karena tidak ada lagi yang membantunya bahkan para pengikutnya berteriak memohon agar Arabella membantunya.
"Kau sudah berakhir, Arabella," ucap Alena yang pada saat itu sedang menginjak bahu Arabella dengan kuat sehingga Arabella tidak bisa pergi.
"Biarkan aku pergi, Ernest. Aku kakakmu jadi biarkan aku pergi!" pinta Arabella.
"Mintalah hal itu pada ayahanda!" ucap Alena.
__ADS_1
Arabella tidak berani mengangkat wajah saat raja Leon menghampiri dengan perasaan kecewa luar biasa. Arabella sudah tidak bisa menghindar lagi. Alena tersenyum saat Lucius melangkah mendekatinya, akhirnya selesai dan apa yang dia takutkan tidak terjadi tapi tanpa ada satu orang pun tahu, sebuah panah yang di tembakan oleh seseorang dari semak-semak melesat dengan kecepatan tinggi ke arah Alena dan ketika mereka menyadari keberadaan panah itu, semua sudah terlambat karena panah sudah menancap di bahu bagian kiri Alena.
Senyuman Alena hilang, dengan perlahan kesadarannya pun hilang bahkan dia tidak bisa lagi mendengar teriakan pangeran Lucius yang sudah berlari ke arahnya apalagi tubuhnya sudah tumbang ke samping. keadaan kembali kacau, teriakan Agnes dan Amy terdengar, begitu juga raja Leon yang berteriak memanggil Alena. Bastian dan kedua jenderal langsung mengejar sang pemanah tanpa menunggu perintah. Tawa Arabella pun terdengar, jika dia mati maka Ernest akan menemani kematiannya.