
Pangeran Lucius Willian sudah tiba di istana. Perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan namun pada akhirnya dia tiba di kerajaan Kent Arsia. Raja Leon Herbert dan sang ratu sudah menunggu untuk menyambut kedatangannya. Putri Arabella dan Ernest berdiri di belakang, mereka akan maju saat ayah mereka memanggilnya.
Lucius turun dari atas kuda, begitu juga dengan pengawal kepercayaannya. Mereka melangkah mendekati Raja Leon dan Ratu Hana yang sudah menunggu kedatangan mereka.
"Selamat datang ke istana Kent Arsia, Pangeran," ucap raja Leon.
"Terima kasih atas sambutan yang meriah ini Raja Leon. Sesungguhnya tidak perlu menyambutku begitu meriah jadi terimalah sedikit hadiah yang aku bawakan kalian."
"Aku sangat berterima kasih, perkenalkan kedua putriku," sang raja memperkenalkan kedua putrinya yang sedang melangkah mendekat.
"Salam, Pangeran. Aku Arabella, putri tertua dari Baginda raja dan Ratu," Arabella membungkuk sedikit untuk memberi hormat.
Ernest pun membungkuk, tapi dia tidak mengucapkan salam. Dia takut sang pangeran mengenali suaranya sehingga membongkar rahasianya.
"Ini adikku, Ernest. Maaf jika dia tidak menyapa, Ernest kurang sehat," ucap Arabella dengan cepat. Jangan sampai sang pangeran marah akibat sikap Ernest yang seperti tidak menyenangkan.
"Tolong maafkan jika sikap putriku tidak berkenan, mari ikut denganku," ucap raja Leon.
Pangeran tidak melepaskan pandangannya dari Ernest yang sedang menunduk. Jadi putri itulah si pecundang yang tidak berguna? Jadi dialah penyihir yang diisukan oleh banyak orang? Sayang sekali, meskipun cantik tapi dia tetaplah seorang pecundang yang tidak berguna.
Lucius melangkah pergi bersama dengan Raja Leon dan ratu Hana, Arabella berbalik dan melihat ke arah adiknya yang masih saja menunduk karena dia khawatir pangeran Lucius mengenali dirinya.
"Ada apa denganmu, Ernest? Apa kau sedang sakit?" tanya Arabella.
"Tidak, Kakak. Aku baik-baik saja."
"Jika begitu, jangan mengulanginya lagi. Bagaimana jika pangeran Lucius sampai marah? Jangan membuat ayahanda dan bunda malu."
"Maafkan aku," ucap Ernest.
"Tidak apa-apa, tapi lain kali jangan diulangi. Kita harus menjaga nama baik kedua orangtua kita."
Alena mengangguk, Arabella mengusap wajah adiknya yang tampak sedikit pucat. Kenapa Ernest tampak tidak begitu sehat?
"Apa kau baik-baik saja, Ernest?" tanya Arabella.
"Aku baik-baik saja, Kakak. Sebaiknya kita segera menyusul Ayahanda dan Bunda."
"Kau yakin? Wajahmu terlihat pucat."
"Aku tidak apa-apa, sungguh."
"Baiklah, ayo kita menyusul. Jangan sampai kita menyinggung pangeran."
__ADS_1
Arabella meraih tangan adiknya dan mengajaknya untuk segera menyusul kedua orangtua mereka. Raja Leon sedang berbincang dengan pangeran Lucius di depan sebuah lukisan, sang ratu berdiri di sisi sang raja dan berbicara sesekali.
Arabella dan Ernest melangkah mendekat, Arabella tersenyum dengan manis saat pangeran Lucius melihat ke arahnya. Ernest masih saja terlihat menunduk, dia justru terlihat misterius dan tertutup. Entah kenapa Lucius merasa tidak asing tapi siapa? Apa perasaannya saja? Arabella yang sedari tadi berusaha menarik perhatian pengeran melihat ke arah tatapan mata pangeran Lucius, Alena yang sedang berperan sebagai Ernest pura-pura takut dan bersembunyi di belakang kakaknya.
"Hm, Pengeran!" raja Leon berdehem.
Lucius berpaling, melihat ke arah sang raja dan ratu yang sedari tadi menunggu jawaban darinya. Dia jadi tidak enak hati, jangan katakan jika putri Ernest benar-benar seorang penyihir yang mulai mempengaruhi dirinya.
"Maafkan aku yang Mulia Raja dan Ratu," ucap Lucius.
"Tidak apa-apa, silahkan ikut dengan kami. Pangeran sudah melakukan perjalanan yang begitu jauh, sebaiknya beristirahatlah terlebih dahulu," raja mempersilakan Pangeran untuk menuju tempatnya untuk beristirahat,
Pangeran dan para pengikutnya mengikut sang raja dan ratu, putri Arabella dan Ernest di minta untuk kembali ke kamar mereka. Arabella yang sudah jatuh hati dengan pangeran sejak lama, semakin mabuk kepayang setelah melihat ketampanan dan kegagahan sang pangeran yang selalu dia dengar selama ini. Dulu dia memang pernah bertemu dengan pangeran Lucius tapi saat itu, sang pangeran belum setampan dan segagah seperti saat ini.
"Apa kau melihatnya, Ernest? Dia benar-benar gagah dan tampan!" ucap putri Arabella yang saat itu berada di kamar adiknya.
"Pelankan suaramu, Kak. Bagaimana jika ada yang mendengar?"
"Aku tidak tahan, dia benar-benar pria idamanku," Arabella duduk di sisi adiknya yang sedari tadi duduk di atas ranjang.
"Bagaimana menurutmu, Ernest? Apa pangeran Lucius memperlihatkan ketertarikannya padaku tadi?" tanya Arabella.
"Aku tidak tahu, Kakak. Aku takut melihatnya," jawab Alena pura-pura.
"Aku hanya takut saja karena dia terlihat menakutkan," Alena masih berdusta, dia tidak takut tapi dia khawatir Lucius William mengenali dirinya.
"Baiklah, tapi kau tidak perlu takut seperti itu. Kau bisa menjadi bahan cibiran jika kau menunjukkan rasa takut jadi jangan melakukan hal itu lagi. Kau mengerti?"
"Baik, Kakak. Lalu bagaimana, sepertinya kau benar-benar jatuh hati dengannya," goda Alena.
"Apakah begitu terlihat?" wajah Arabella memerah karena dia malu.
"Pangeran itu begitu tampan, Kakak. Dia sangat cocok menjadi pendamping kakak. Aku doakan kakak berjodoh dengannya."
"Huss, jangan berbicara seperti itu. Bagaimana jika dia sudah memiliki kekasih atau calon istri? Jangan sampai aku harus menanggung malu untuk hal ini."
"Jika begitu, sebaiknya kakak mencari tahu akan hal ini dan cobalah mendekatinya. Mungkin saja dia berjodoh dengan kakak Arabella."
"Kau benar, aku sudah menyukainya sejak lama. Sekarang dia sudah berada di sini, aku harus berusaha mendekati dirinya untuk mendapatkan perhatiannya."
"Berusahalah, kakak. Kau cantik dan kau adalah seorang putri. Jadi percaya dirilah jika kau bisa menarik perhatiannya."
"Terima kasih, Ernest. Sebaiknya kau segera beristirahat karena sebentar lagi, perjamuan untuk menyambut kedatangan pangeran akan segera di adakan. Aku juga ingin beristirahat sebentar dan memperbaiki penampilanku."
__ADS_1
"Berdandanlah yang cantik, semoga kakak berhasil di perjamuan nanti."
"Terima kasih," ucap Arabella. Alena tersenyum, saat sang kakak mengusap lengannya. Arabella pun beranjak, sudah saatnya dia kembali ke kamar untuk memperbaiki dandanan karena perjamuan sebentar lagi akan diadakan. Alena mengantar sebentar dan setelah kakaknya pergi, pintu kamarnya tertutup dengan rapat.
"Bagaimana keadaanmu, Putri? Apa kau baik-baik saja?" tanya Amy dan Agnes.
"Aku hanya merasa sedikit lelah saja," Alena berbaring, racun yang benar-benar mengerikan.
"Bagaimana ini, Putri? Apa pangeran itu akan mengenali Tuan putri?" tanya Amy.
"Apa maksud ucapanmu?" tanya Agnes yang tidak tahu apa pun.
"Kami bertemu dengan pangeran saat di jalan ketika kami dicegat oleh perampok dan apa kau tahu?" Amy terlihat bersemangat, "Tuan putri melawan para perampok itu dengan beraninya," ucapnya lagi.
"Benarkah?" Agnes tampak tidak percaya.
"Untuk apa aku berbohong? Tuan Putri memainkan pedang dengan lincahnya melawan para perampok itu tapi beruntungnya pangeran itu datang saat Tuan Putri kewalahan," jelas Agnes.
"Entah apa yang terjadi padamu, Putri. Semenjak kejadian malam mengerikan itu, kau benar-benar berubah tapi aku sangat senang kau sudah bisa balik melawan," ucap Agnes.
"Benar, Putri. Sekarang kau jauh berbeda dari pada dulu. Aku senang kau memiliki kemampuan untuk melawan," ucap Amy pula.
"Kalian tidak perlu mengkhawatirkan aku lagi karena Ernest yang lemah sudah tidak ada lagi. Percayalah padaku, kita bisa mengungkap kejahatan itu bersama."
"Aku akan tetap setia padamu, Putri," ucap kedua pelayannya.
"Terima kasih, aku sangat senang kalian bersama denganku di saat aku tidak tahu yang mana kawan dan yang mana lawan karena bisa saja, seluruh istana adalah musuhku."
"Kami akan selalu setia padamu tapi putri, sesungguhnya ada pembunuh bayaran yang hendak membunuhmu semalam," ucap Agnes.
"Apa? Apa kau terluka Agnes?"
"Tidak, aku baik-baik saja. Aku justru mengkhawatirkan keadaan Tuan Putri."
"Musuh benar-benar menginginkan kematianku tapi kita tidak boleh takut dan aku harap kalian tidak lemah seperti ini lagi!"
"Maksud Tuan Putri?"
"Carilah tempat aman, aku akan melatih kalian bela diri agar kalian bisa melawan jika ada pembunuh atau apa pun itu."
"Tapi putri?"
"Jangan membantah!" perintah Alena. Kedua pelayannya harus bisa berkelahi, setidaknya mereka harus bisa mengayunkan pedang di saat ada musuh.
__ADS_1
Agnes dan Amy saling pandang. Apakah yang bersama dengan mereka saat ini benar-benar putri Ernest? Entah kenapa mereka jadi curiga, jangan katakan yang bersama dengan mereka saat ini bukanlah sang putri karena mereka sudah melihat dengan mata kepala mereka sendiri jika sang putri sudah mati malam itu tapi apakah benar yang bersama dengan mereka saat ini bukan Putri Ernest? Jika bukan, lalu siapa yang sedang bersama dengan mereka? Entah kenapa mereka benar-benar curiga.