
Cuaca yang tadinya cerah, mendadak berubah. Bulan yang tadinya bersinar terang tidak terlihat lagi akibat tertutup oleh awan gelap yang pekat. Angin dingin pun berhembus namun Alena masih tidak juga berhenti mengajari kedua pelayannya memainkan pedang. Berkat latihan yang mereka lakukan secara diam-diam, Amy dan Agnes bisa mengayunkan pedang dan menangkis serangan walaupun belum terlalu bagus.
Mereka berdua sudah lelah tapi stamina sang putri justru masih berkobar. Entah dapat dari mana stamina yang dimiliki putri Ernest, padahal dia memiliki tubuh yang sangat lemah selama ini.
"Ampun putri, kami sudah tidak sanggup lagi!" teriak Amy dan Agnes karena mereka sudah lelah.
"Jadi seorang wanita jangan terlalu lemah. Bagaimana kalian bisa melawan musuh yang banyak jika seperti ini?" Alena masih saja mengayunkan pedangnya. Entah apa yang terjadi dengannya malam ini yang pasti, dia sedang melampiaskan perasaan rindunya pada keluarganya.
"Ampun, Putri. Ampun!" Amy dan Agnes hanya bisa menghindar setiap serangan yang diberikan oleh Alena.
Alena berhenti dan mengambil napas, sepertinya dia sudah terlalu berlebihan pada kedua pelayannya. Dia hanya ingin mereka cepat memiliki kemampuan karena firasat akan adanya sebuah siasat di acara berburu nanti semakin kuat. Musuh yang sedang bersembunyi pasti memiliki rencana yang tersembunyi pula.
"Jangan terlalu keras dengan mereka, Ernest. Mereka baru pemula, stamina mereka tidak sebaik dirimu!" ucap Lucius yang sedang beranjak.
Alena menatapnya tajam, kenapa pria itu masih berada di sana? Alena mendengus dan melangkah melewatinya. Amy dan Agnes sudah menuangkan minuman untuknya dan sudah siap dengan kain untuk menyeka keringat sang putri.
"Istirahat dulu, Putri," ucap Amy seraya memberikan segelas minuman.
"Terima kasih, kalian juga beristirahatlah. Setelah ini kita kembali," gelas minuman yang diberikan oleh Amy di ambil, Alena melihat keluar sana yang begitu gelap.
Lucius benar-benar diabaikan tapi dia tidak mempermasalahkan hal itu. Pria itu melangkah keluar untuk melihat cuaca malam yang sudah begitu begitu gelap.
"Sudah mau hujan, sebaiknya kita cepat kembali!" ucap Lucius.
"Kenapa kau tidak kembali seorang diri saja, Pangeran?" tanya Alena sinis.
"Jangan begitu, aku datang dengan kalian maka aku akan kembali dengan kalian!"
"Jika begitu jangan cerewet!" minuman sudah habis, stamina mereka pun sudah kembali. Mereka memutuskan untuk kembali tapi tiba-tiba saja petir menyambar dan guntur menggelegar diiringi dengan hujan deras yang mengguyur.
Pada akhirnya mereka berdiri di bibir gua, menyaksikan hujan yang begitu deras karena mereka tidak mungkin kembali di tengah hujan seperti itu.
"Bagaimana ini, putri?" tanya Agnes.
"Kita tunggu sebentar, mungkin saja hujannya akan reda!"
"Hujan seperti ini biasanya tidak akan cepat berhenti," ucap Amy.
"Mau menerobos bersama denganku, Ernest?" tanya Lucius.
__ADS_1
"Tidak, kita tunggu sebentar!"
Mereka memutuskan menunggu, Alena mengusap lengan akibat angin dingin. Lucius yang melihat hal itu segera melepaskan jubah yang dia kenakan lalu mengenakannya ke bahu Alena. Alena berpaling, menatap pria itu dengan tatapan tajam.
"Pakai itu agar kau tidak kedinginan," ucap Lucius.
"Aku tidak butuh," Alena hendak melepaskan jubah Lucius namun pria itu menahan tangannya.
"Hujan tidak akan berhenti, apa kau akan berada di sini sampai pagi?" tanyanya.
"Tidak, tidak ada pilihan lain selain menerobos!" jawab Alena namun dia terkejut saat pangeran Lucius merapat padanya.
"Mau apa kau pangeran?" Alena bergeser namun pangeran Lucius menarik pinggangnya.
"Lari denganku dan pegang bagian sisi jubah yang ada di sana dan aku memegang bagian yang ini agar kita tidak terlalu basah!"
"Putri, kami duluan!" teriak Amy dan Agnes yang sudah berlari menerobos derasnya air hujan.
"Apa? Para pengkhianat, jangan meninggalkan aku dengannya!" teriak Alena.
"Nikmatilah waktumu, Putri!" teriak Agnes. Alena tampak seperti orang linglung, kedua pelayannya justru berlari sambil tertawa. Mereka memang sengaja untuk menggoda putri mereka.
"Bagaimana, Ernest? Apa tidak mau berbagi jubah denganku?" tanya Lucius. Pria itu tersenyum meskipun Alena melotot dengan tatapan tidak senang.
"Jika begitu, tunggu apa lagi!" Lucius juga memegangi ujung jubahnya.
Alena dan Lucius berlari menerjang derasnya air hujan. Amy dan Agnes sudah terlihat cukup jauh. Alena memegangi satu pelita sehingga dia kesulitan berlari apalagi dia harus memegangi ujung jubah. Tanah yang mereka lewati jadi licin akibat air hujan, Alena yang berlari justru tanpa sengaja tersandung akar pohon yang tidak terlihat.
Alena berteriak, tubuhnya terjungkal ke depan. Kedua mata sudah terpejam, dia sudah akan terjatuh namun dengan cepat Lucius menangkap tubuhnya.
"Apa kau baik-baik saja, Ernest?" tanya Lucius.
"Te-tentu saja, terima kasih," ucap Alena. Hampir saja, bisa bahaya karena di bawah sana bisa saja ada kayu runcing. Jubah yang mereka pegang sudah terlepas sehingga tubuh mereka berdua basah akibat air hujan.
"Hati-Hati, berikan pelitanya padaku," pinta Lucius.
"Sebentar," Alena mencari akar pohon yang besar lalu duduk di sana. Dia merasa kakinya sedikit sakit, oleh sebab itu Alena melihat pergelangan kakinya yang baru saja tersandung akar pohon.
"Kenapa? Apa kakimu sakit?" pelita diletakkan, Lucius berjongkok di dekat kaki Alena untuk melihatnya.
__ADS_1
"Sakit sedikit tapi tidak apa-apa, ayo kita kembali jalan!" Alana hendak beranjak namun Lucius menahan.
"Jangan memaksakan diri, Ernest. Kakimu akan membengkak jika kau paksakan untuk berjalan saat ini. Bagaimana kau bisa pergi berburu nanti? Raja dan Ratu akan curiga dengan keadaanmu jadi sebaiknya jangan memaksakan diri!"
"Lalu, apa kau ingin menggendong aku kembali?" tanya Alena.
"Ide bagus, naik ke bahuku. Aku akan menggendongmu kembali!" Lucius sudah berbalik, membelakangi Alena.
'"Tidak perlu, Pangeran. Aku bisa jalan sendiri!" tolak Alena. Bagaimanapun dia tidak mau berhutang budi pada pria itu.
"Ayolah, percaya padaku. Saat raja dan ratu tahu kakimu membengkak, maka mereka akan mencari tahu penyebabnya. Pada saat itu terjadi, kau tidak akan bisa leluasa seperti ini lagi!"
Alena diam, memikirkan perkataan pangeran Lucius. Yang dikatakan oleh pria itu memang sangatlah benar. Jika sampai kakinya membengkak maka dia akan kesulitan untuk melakukan aktifitas. Raja dan Ratu pun bisa curiga, jangan sampai dia tidak memiliki kebebasan lagi karena banyak yang harus dia cari tahu.
"Baiklah, maaf merepotkan dirimu!" Alena naik ke atas punggung Lucius, rasanya sangat tidak enak hati tapi dia tidak punya pilihan.
Lentera sudah berada di tangannya, Lucius menggendongnya kembali ke istana. Amy dan Agnes menunggu mereka di pintu rahasia. Mereka tampak cemas karena sang putri dan pangeran belum juga terlihat. Akibat jalan yang licin, Lucius harus melangkah dengan hati-hati apalagi dia sedang menggendong Alena.
"Mengenai pesta topeng yang akan diadakan di Istanamu, apakah tidak jadi soal jika aku tidak datang?" tanya Alena.
"Kenapa, Ernest? Aku harap kau dan kakakmu datang!" ucap Lucius. Pria itu melangkah dengan sehati-hati mungkin.
"Tapi aku merasa?"
"Datanglah, tidak perlu khawatir. Aku akan menyambut kedatanganmu."
"Baiklah, terima kasih sudah membantu dan maaf sudah merepotkan dirimu!"
"Tidak masalah, mungkin inilah gunanya aku mengikuti dirimu."
Alena diam, walau semua diluar rencana tapi jika tidak ada pria itu dia memang akan mengalami kesulitan. Amy dan Agnes yang sudah menunggu tampak senang melihat mereka namun mereka terkejut melihat putri Ernest yang berada di gendongan pangeran Lucius.
"Ada apa denganmu, Putri?" tanya mereka.
"Hanya terjatuh, tidak perlu khawatir."
"Maaf, seharusnya kami tidak meninggalkan putri."
"Sudahlah, kita harus bergegas masuk!"
__ADS_1
Amy masuk terlebih dahulu untuk melihat situasi, Bastian yang memang sudah menunggu mendapat perintah membantu mereka untuk masuk tanpa ketahuan. Alena sangat berterima kasih pada Pangeran Lucius yang sudah membantunya, dia pun berkata akan membalas kebaikan pria itu.
Malam yang cukup panjang tapi menyenangkan bagi Lucius karena dia bisa lebih dekat dengan Ernest yang misterius dan tentunya malam ini dia merasa mendapat keberuntungan.