Rise Of The Queen Ernest

Rise Of The Queen Ernest
Tabib Yang Diperdaya


__ADS_3

Tabib dibawa ke penjara tapi penjara istimewa yang diperuntukkan untuk tahanan istimewa pula di mana tahanan akan diinterogasi dengan berbagai siksaan. Raja Leon sudah mengambil keputusan jika dia tidak akan langsung menghukum pancung pelaku yang telah mencelakai putrinya tapi dia akan menginterogasinya dengan perlahan sampai dia tahu siapa dalangnya.


Alena yang terluka pun sudah diobati oleh tabib lain. Ibu ratu tampak cemas, dia sungguh tidak menduga jika kejadian itu berdampak cukup besar bahkan sang tabib begitu berani memfitnah dirinya. Saat itu mereka berada di dalam kamar Ernest, Raja Leon yang sudah membubarkan sidang segera bergegas untuk melihat keadaan Ernest.


Raja Leon pun tidak menduga jika sang ratu mendapat fitnah yang begitu keji tapi dari kejadian itu, dia mengambil sebuah kesimpulan dan dia ingin semua keluarganya berhati-hati. Ratu Hana dan Arabella beranjak saat raja masuk ke dalam kamar. Alena pun hendak berdiri namun raja menahannya.


"Tidak perlu, beristirahatlah," ucap raja Leon.


"Bagaimana selanjutnya, Baginda?" tanya sang ratu.


"Aku akan menginterogasi tabib itu tapi mulai sekarang, kalian semua harus waspada karena dari apa yang dilakukan oleh tabib, dia ingin melempar semua kesalahan pada ratu dan menjadikan ibu kalian sebagai kambing hitamnya."


"Di mana kau menahannya, ayahanda?" tanya Alena.


"Penjara khusus untuk orang-orang sepertinya. Tidak perlu khawatir, dia tidak akan bisa pergi ke mana pun!"


"Aku harap tabib itu bisa memberikan petunjuk pada kita, siapa pelaku yang begitu membenci Ernest," ucap ibu ratu.


"Semoga kasus ini segera selesai, Bunda. Aku sudah tidak tahan Ernest selalu difitnah seperti ini terus menerus," ucap Arabella.


"Kau benar, Sayang. Kita harus segera menuntaskan kasus ini!"


Alena yang sedari tadi diam saja tampak berpikir, siapa sebenarnya pelaku yang tidak menyukainya? Sepertinya dia harus menyusun sebuah siasat untuk memancing pelaku atau sekutu yang mungkin saja terlibat.

__ADS_1


Raja Leon segera pergi ke penjara setelah melihat keadaan putrinya. Beruntungnya luka di kaki Ernest tidak dalam, oleh sebab itu keadaannya baik-baik saja.


Sang tabib yang sudah dicopot jabatannya berteriak meminta dilepaskan, dia tetap menuduh sang ratu sebagai pelakunya namun tuduhan itu terhenti setelah raja Leon berdiri di hadapannya.


"Ternyata kau masih berani menuduh ratuku, kau sungguh berani!" ucap raja Leon.


"Baginda, aku tidak bersalah. Aku mendapatkan perintah untuk membunuh putri Ernest!"


"Siapa yang memerintahkan dirimu? Jika kau mau bekerja sama maka kau akan mendapatkan hukuman yang cukup ringan!"


"Aku tidak tahu, orang itu tiba-tiba datang dan memerintahkan aku untuk membunuh putri Ernest."


"Tidak tahu? Beraninya kau menjalankan perintah dari orang yang tidak kau ketahui? Kau adalah tabib istana tapi beraninya kau menerima perintah orang lain yang tidak kau kenal untuk mengkhianati aku?" raja Leon semakin murka dengan jawaban tabib yang dia percaya selama ini.


"Aku gelap mata, Baginda. Aku tidak berpikir panjang oleh sebab itu aku setuju! Lagi pula aku diancam dan aku tidak punya pilihan lain!"


"Aku tidak tahu, sungguh tidak tahu!"


Raja Leon yang tidak percaya jika tabib itu tidak tahu, memerintahkan prajurit untuk mencambuk sang tabib. Walau pria itu sudah tua tapi dia tetap diinterogasi apalagi raja Leon sudah sangat ingin tahu siapa pelaku yang sebenarnya namun sang pelaku yang dipuja sebagai ratu oleh para pengikutnya baru saja mendapatkan kunjungan dari beberapa pengikutnya dan mereka bertanya apa yang harus mereka lakukan karena sang tabib yang ditugaskan untuk meracuni putri Ernest telah tertangkap.


Junjungan yang mereka panggil Ratu tampak berpikir, tentu saja dia sudah tahu jika sang tabib sudah tertangkap karena dia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Dia pun tahu akan apa yang Ernest lakukan. Sepertinya dia sudah tidak bisa meremehkan Ernest lagi karena Ernest yang sekarang tidak seperti Ernest yang dulu.


"Apa yang harus kita lakukan, Ratu?" tanya salah satu pengikut yang sedang berlutut di dekat sang ratu.

__ADS_1


"Mulai sekarang jangan gegabah, lagi pula tanggal 15 bulan depan masih cukup lama jadi sebaiknya kita tidak bergerak mencurigakan terlebih dahulu. Kita buat rencana untuk menyingkirkan Ernest pada tanggal 15 belas nanti dan kali ini tidak boleh gagal."


"Apa kau punya rencana bagus, ratu? Apa kau masih ingin rakyat yang menghakimi dirinya sebagai seorang penyihir?"


"Tidak, kali ini tidak. Kali ini aku yang akan menghabisinya!"


Para pengikutnya saling pandang, apa maksudnya? Mereka tahu ratu mereka memiliki kemampuan dan dia tidak akan kalah dengan putri Ernest. Apa sebelum tanggal lima belas sang ratu akan menangkap putri Ernest? Menarik, ratu mereka memang memiliki rencana yang cukup menarik. Mereka jadi tidak sabar untuk tahu apa yang akan ratu mereka lakukan.


"Lalu mengenai tabib itu, apa yang harus kita lakukan, ratu?"


"Susupkan seseorang dan ancam dia, jika dia berani buka mulut maka nyawa seluruh keluarganya akan mati. Tapi sesungguhnya aku tidak mengkhawatirkan dirinya karena dia mengira Ernest yang telah membunuh putrinya dan dia melakukan hal itu memang karena dendam tapi untuk antisipasi, susupkan mata-mata ke dalam penjara istana!"


"Sesuai perintahmu, ratu!" semua pengikut menyembah padanya.


Sang ratu kegelapan itu melangkah pergi memasuki sebuah ruangan rahasia yang tidak ada orang tahu. Seharusnya dia membunuh Ernest dengan cepat tapi sekarang dia justru semakin memiliki kekuatan. Seandainya Ernest tidak bergabung dalam ordo suci dan menjadi musuhnya, dia tidak akan membunuhnya.


Sekarang dia harus bertindak dengan hati-hati tapi nanti, dia akan tetap menghabisi Ernest dan Ernest harus mati menggantikan dirinya sebagai penyihir.


Sang tabib yang mendapatkan siksaan keji sudah tidak tahan lagi. Pria itu berteriak memohon sampai akhirnya sebuah alasan dia lontarkan kenapa dia mau mengkhinati raja dan ratu.


"Aku melakukannya karena aku ingin membunuh putri Ernest yang telah membunuh putri ketigaku! Putriku harus mati dan menjadi korban dari kejahatannya!" teriak mantan tabib itu dan yang dia katakan memang sangatlah benar.


Putri ketiganya memang tertangkap oleh sekte sesat dan menjadi korban. Putri ketiganya harus mati karena sekte itu tapi dia justru diperdaya oleh sekte itu sendiri dan tertipu oleh mereka. Karena isu jika Ernest adalah penyihir, membuat sang tabib begitu mudah dipengaruhi sehingga dia bersedia menaruh racun di obat putri Ernest tanpa tahu jika dia diperalat oleh orang-orang yang telah membunuh putrinya.

__ADS_1


Raja Leon mengangkat tangan, sehingga prajurit menghentikan tali cambuk yang dia gunakan untuk memecut tubuh sang tabib. Entah perkataan tabib itu benar atau tidak tapi yang pasti tabib itu hanya diperalat akibat dendam dan putrinya yang tidak tahu apa pun harus menanggung akibatnya.


Sekte aliran sesat itu sungguh sudah merugikan banyak orang bahkan tabib yang sudah kehilangan seorang putri pun diperdaya untuk membunuh Ernest. Sepertinya musuh yang sebenarnya ada di dalam istana, jangan katakan selama ini musuh justru memata-matai mereka dan jika benar demikian maka dia harus meminta Ernest untuk hati-hati karena yang musuh incar adalah putrinya, Ernest.


__ADS_2