Rise Of The Queen Ernest

Rise Of The Queen Ernest
Liciknya Pelayan Putri Arabella


__ADS_3

Amy dan Agnes mengeluh karena lengan mereka terasa pegal. Ternyata berlatih pedang itu tidaklah mudah apalagi mereka harus berlatih begitu lama. Alena yang berlatih lebih keras dibandingkan mereka juga sedang memijat lengannya, latihan yang sangat keras tapi dia tahu dia harus bisa melewati hal itu jika dia ingin menjadi ahli pedang. Dia yang datang dari jaman modern harus mengikuti jaman dan harus terbiasa dengan kehidupan jaman kuno di mana senjata api belum ada oleh sebab itu dia memang harus menguasai ilmu pedang lebih baik lagi.


Amy yang sudah merasa lengannya tidak terlalu pegal lagi segera menghampiri Alena dan duduk di sisinya. Amy mulai memijat lengan Alena dengan pelan, sedangkan Agnes berada di sisi lain dan memijat lengan Alena yang satunya lagi.


"Putri, apa kau sudah tahu?" tanya Amy.


"Ada apa?" tanya Alena seraya memandangi pelayannya.


"Kabarnya Pangeran Lucius sudah akan kembali ke kerajaan Kenneth beberapa hari lagi. Apa putri tidak mau memberikan apa pun pada Pangeran sebagai cindera mata?" jawab Agnes.


"Apa aku harus memberinya cindera mata?"


"Tentu saja harus, Putri. Pangeran Lucius telah membantu putri beberapa kali jadi sudah sepantasnya Putri memberikan sebuah cindera mata pada pangeran sebagai ungkapan terima kasih karena pangeran sudah membantu putri."


"Baiklah, apa yang harus aku berikan? Pergi ambil barang berharga yang aku miliki dan lihatlah, apa ada barang berharga yang aku miliki dan bisa aku berikan padanya?" tanya Alena.


"Aku akan mengambilkan untukmu, Putri," Agnes beranja untuk mengambil kotak perhiasan yang putri Ernest miliki dan setelah mendapatkannya, Agnes kembali mendekati putri Ernest dan meletakkan kotak ke atas meja.


"Apa yang ingin putri berikan?" tanya Agnes.


"Kita lihat," Alena membuka kotak itu dan melihat isinya. Semua perhiasan wanita, tidak ada yang bisa dia berikan sama sekali pada Pangeran Lucius. Tidak mungkin dia memberikan sepasang anting atau kalung, bukan?"

__ADS_1


"Tidak ada yang bisa aku berikan, apa kalian memiliki ide bagus?" tanya Alena.


"Bagaimana jika kita pergi ke pasar malam, Putri," ajak Amy.


"Pasar malam?" Alena melihat ke arah Amy, dia tidak tahu ada yang seperti itu di jaman kuno.


"Benar, nanti malam akan ada pasar malam. Apa putri mau menyelinap keluar dan membeli sesuatu untuk pangeran?"


"Tapi nanti malam Kakak Arabella mengundang aku minum teh. Aku rasa aku tidak bisa pergi."


"Percayalah padaku, Putri. Aku sangat yakin jika Putri Arabella akan lebih senang putri tidak datang ke acara minum teh. Dengan begitu dia bisa berduaan saja dengan pangeran Lucius jadi sebaiknya putri memberikan kesempatan pada Putri Arabella untuk lebih dekat dengan pangeran Lucius dan kesempatan ini pun bisa putri gunakan untuk membeli sebuah cindera mata untuk Pangeran!" ucap Agnes.


"Baiklah, kau sangat benar. Segera siapkan alat menyamar, kita akan menyelinap dari jalan biasa," ucap Alena setuju. Memang lebih baik dia tidak berada di perjamuan teh itu dan memang yang diucapkan oleh Agnes sangatlah benar. Dia tidak boleh berada di antara putri Arabella dan pangeran Lucius karena dia bisa menjadi bahan pembicaraan dan orang-orang yang akan menganggap dirinya sebagai pengganggu yang telah mengganggu kebersamaan putri Arabella dan pangeran Lucius.


"Kau terlihat begitu bahagia, Putri," ucap pelayan pribadi Arabella.


"Seharusnya kau tahu kenapa aku bisa sebahagia ini," ucap Arabella.


"Kau sangat beruntung Putri, Pangeran menerima undangan darimu untuk minum teh malam ini."


"Kau benar, apa semua persiapan sudah disiapkan?" tanya Arabella.

__ADS_1


"Tentu saja, sesuai dengan yang putri inginkan acara akan diadakan di taman. Kursi sudah disiapkan di bawah pohon Cherry yang sedang mekar. Dari sana Putri dan Pangeran bisa menikmati cahaya bulan. Oh, aku sudah membayangkan betapa romantisnya kalian berdua nanti. Putri berpegangan tangan dengan pangeran, sambil menikmati cahaya bulan lalu bunga Cherry berguguran di sekitar kalian berdua," pelayan Arabella mulai membayangkan betapa romantisnya malam putri Arabella bersama dengan pangeran Lucius.


"Jangan mengkhayal, ada Ernest di antara kami!" ucap Arabella. Dia juga berharap demikian, berharap apa yang diucapkan oleh pelayannya terjadi tapi hal itu tidak mungkin terjadi karena ada Ernest.


"Ck, padahal ini adalah momen berharga milikmu, Putri. Tapi lagi-lagi putri Ernest harus mengganggu waktu berharga Tuan Putri."


"Pelankan suaramu, jangan sembarangan berbicara. Pergilah buatkan aku semangkok sup dan ingat, jangan berbicara hal itu di dapur karena jika ada yang salah paham, kita berdua bisa berada di dalam bahaya. Jangan sampai ada yang curiga, kau tahu apa yang akan terjadi jika sampai hal itu terjadi, bukan?"


"Baik, Putri. Aku tidak akan mengatakan apa pun," ucap sang pelayan tapi sesungguhnya dia sangat kesal karena lagi-lagi Ernest mengganggu momen berharga milik putri Arabella.


Sang pelayan segera keluar, dia sangat tidak ingin waktu putri Arabella diganggu tapi bagaimana caranya dia bisa mencegah agar putri Ernest tidak ikut serta? Pelayan pribadi putri Arabella sudah berada di dapur, di sana para pelayan sibuk membuat makanan dan di sana Agnes juga terlihat.


Agnes sedang membuat sup untuk putri Ernest, pelayan putri Arabella seperti mencuri pandang apa yang sedang dilakukan oleh Agnes. Sepertinya dia bisa memanfaatkan situasi ini agar putri Ernest tidak mengganggu kebersamaan putri Arabella dan pangeran Lucius.


Agnes tidak curiga sama sekali, dia meninggalkan mangkuk sup sebentar karena ada yang hendak dia ambil. Itu dijadikan kesempatan oleh pelayan Arabella. Dia ingin membantu sang putri agar bisa menikmati waktunya bersama dengan Pangeran Lucius. Agnes yang tidak tahu niat jahat pelayan putri Arabella tidak tahu sama sekali jika pelayan itu sudah menaruh sesuatu secara diam-diam ke dalam sup yang akan dia bawakan pada putri Ernest.


Pelayan Arabella pun segera pergi, menyibukkan dirinya agar tidak ada yang tahu. Agnes mengambil mangkuk sup dan setelah itu dia keluar dari dapur. Pelayan Arabella tersenyum licik, dengan begini putri Ernest tidak akan bisa mengganggu putri Arabella tapi sesungguhnya, Alena memang tidak mau mengganggu kakaknya dengan pangeran Lucius. Setelah membuat sup, sang pelayan kembali ke kamar Arabella dan memberikan sup yang putri Arabella inginkan.


"Kenapa kau terlihat senang?" tanya Arabela heran.


"Aku senang karena sebentar lagi Tuan Putri akan menghabiskan waktu dengan Pangeran Lucius," jawabnya.

__ADS_1


"Baiklah, sekarang bantu aku menggunakan pakaian. Jangan sampai aku terlambat apalagi setelah ini aku harus melihat keadaan Ernest dan mengajaknya ke taman bersama."


"Baik, Putri," ucap pelayannya. Dia yakin tidak lama lagi, putri Ernest tidak akan bisa bangun akibat obat itu dan pergi ke taman bersama dengan putri Arabella. Malam ini, apa pun caranya dia harus membuat putri Arabella bisa menghabiskan waktu bersama dengan pangeran Lucius tanpa adanya gangguan dari siapa pun apalagi dari putri Ernest.


__ADS_2