
Alena kembali ke kamar secara diam-diam malam itu, Amy dan Agnes sudah menunggunya namun Alena meminta mereka untuk tidur di kamar mereka karena dia tidak ingin diganggu oleh siapa pun. Lucius pun kembali ke dalam kamar yang memang disediakan untuknya dan Bastian. Meski dia harus menempati kamar penjaga tapi dia rela karena dia ingin membantu Ernest.
Malam itu, mereka mendapatkan petunjuk yang sangat berarti. Tinggal mencari keberadaan putri Mauren yang mereka curigai masih hidup tapi kenapa orang yang menulis buku itu berkata jika Ernest adalah putri dari Mauren? Apakah teori yang dibuat oleh Alena salah? Apakah putri dari putri Mauren benar-benar Ernest?
Jika di pikir ulang, semua bisa terjadi apalagi raja dan ratu tidak mengatakan rentan waktu kejadian itu terjadi. Bisa saja mereka pergi berobat setelah putri Mauren pergi tidak lama sehingga Alena memang putri dari Mauren karena pada saat raja dan ratu melakukan pengobatan, Mauren sudah melahirkan. Informasi yang tidak lengkap menimbulkan persepsi yang berbeda sehingga malam itu membuat Alena tidak tidur sama sekali akibat banyaknya yang dia pikirkan.
Alena duduk di depan jendela, menatap kegelapan malam. Kedua matanya tidak bisa diajak bekerja sama, entah sampai kapan dia akan seperti itu, dia sendiri tidak tahu. Ternyata tidak saja Alena yang tidak bisa tidur, Lucius pun sama seperti dirinya. Pria itu tampak gelisah, dia tidak menyangka banyak yang disembunyikan oleh rana dan ratu kerajaan Kent Arsia.
Meski itu bukanlah urusannya karena tidak ada hubungan dengan kerajaan Kenneth tapi dia sudah berjanji akan membantu Ernest. Lucius keluar dari kamar secara diam-diam, dia pergi ke kamar Alena tentunya melalui jendela. Pria itu memanjat dengan hati-hati dan terkejut karena Alena sedang duduk di depan jendela. Alena pun terkejut, kamar yang gelap membuatnya hampir melempari pangeran Lucius dengan sebilah pisau yang selalu dia sembunyikan.
"Apa yang kau lakukan, Pangeran?" Alena melangkah menuju jendela dan melihat keluar jendela karena dia harus waspada.
"Kau sendiri, kenapa kau tidak tidur dan duduk termenung sendirian?" Lucius melompat melewati jendela untuk masuk ke dalam.
"Aku tidak bisa tidur karena terlalu banyak yang menjadi kemungkinan sehingga aku tidak bisa tidur sama sekali."
"Aku juga tidak, Ernest," Lucius menarik Alena mendekat lalu mengusap wajahnya yang dingin, "Aku tidak bisa tidur sama sekali, oleh sebab itu aku datang ke sini."
"Menaiki jendela lalu masuk ke dalam kamar seorang putri bukanlah perbuatan yang baik, Pangeran," kedua tangan Alena sudah melingkar di leher pangeran Lucius.
"Jika begitu, aku akan melakukan hal lainnya yang tidak baik!"
"Apa yang mau kau?" pertanyaan Alena terhenti karena Lucius sudah mencium bibir Alena.
Alena yang mendapatkan ciuman itu tidak terkejut karena itu bukan ciuman yang pertama kali mereka lakukan. Alena membalas, ciuman yang Lucius berikan bahkan mereka berdua sudah saling memeluk dengan eratnya.
"Rasanya ingin membawamu ke atas ranjang, Ernest," bisik Lucius yang sedang mencium pipi Alena.
"Ranjangku ada di sana, kau bisa membawa aku ke sana jika kau mau!"
"Apa ini semacam undangan untukku?" Lucius mendorong Alena sedikit dan memandangi wajahnya dengan lekat.
"Bagaimana menurutmu, Pangeran? Apa aku sedang mengundangmu ataukah ada maksud lain dari perkataanku ini?"
__ADS_1
"Kenapa jadi bersilat lidah tapi aku akan membawamu ke ranjang seperti yang kau inginkan!" Lucius menggendong Alena dan membawanya menuju ranjang. Mereka berdua sama-sama tidak bisa tidur oleh sebab itu mereka berdua akan menghabiskan waktu di atas ranjang tentunya mereka hanya akan berbincang.
Alena berada di pelukan Lucius yang sedang duduk dan bersandar pada kepala ranjang. Tangan Lucius bahkan tak henti mengusap kepala Alena sehingga membuat Alena merasa nyaman.
"Katakan padaku, apa yang membuatmu tidak bisa tidur, Ernest?"
"Aku sedang berpikir jika bisa saja aku adalah putri dari Mauren."
"Tidak perlu memikirkan hal itu karena kau tidak akan menemukan jawabannya."
"Aku tidak ingin tapi minimnya informasi membuat aku mengambil banyak kesimpulan sehingga aku pun jadi menerka-nerka!"
"Baiklah, aku juga seperti itu. Karena raja Leon dan ratu Hana tidak menyebutkan rentan waktu kejadian yang terjadi membuat kita jadi harus menerka."
"Seharusnya aku bertanya akan hal itu. Haruskah aku pergi menemui mereka lagi secara diam-diam?" tanya Alena seraya mengangkat wajahnya.
"Aku rasa tidak perlu karena yang kedua kali bisa membuat musuh curiga!" Lucius mengusap wajah Alena dengan perlahan, "Kita pasti akan segera tahu kebenarannya. Tanggal lima belas tidak lama lagi, aku harap kau memerintahkan Agnes untuk mencari tahu apa yang sedang dilakukan oleh musuh!"
"Aku memang akan melakukannya tapi aku ingin Bastian terus berjaga-jaga, mungkin saja ada mata-mata yang lainnya."
Alena merubah posisi duduknya, mereka kembali berciuman. Lucius membaringkan Alena dengan perlahan, sepertinya malam ini dia akan berada di kamar itu. Dia akan pergi nanti sebelum ada yang menyadari keberadaannya.
"Temani aku malam ini, Lucius. Aku ingin kau berada di kamarku!" pinta Alena.
"Sesuai dengan keinginanmu, Ernest. Kita tidak pernah seperti ini sebelumnya, aku rasa kita harus menikmati waktu seperti ini berdua agar hubungan kita semakin dekat."
"Yakin ingin semakin dekat denganku? Apa kau tidak akan menyesal nantinya?"
"Aku akan sangat menyesal jika telah menyia-nyiakan wanita hebat seperti dirimu!"
Alena tersenyum, kehidupan yang dia jalani saat ini, apakah miliknya? Apakah kehidupan itu akan dia miliki ataukah hanya sesaat saja mengingat raga yang dia tempati bukanlah miliknya. Memikirkan hal itu membuat senyuman Alena hilang mendadak. Alena berpaling, rasanya tidaklah adil tapi dia hanyalah pengganti Ernest.
"Ada apa? Apa aku sudah salah bicara?" tanya Lucius karena sikap Alena mendadak berubah.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa, Pangeran. Sudah hampir pagi, aku rasa sudah saatnya kita tidur!"
"Kau benar, Bastian akan membangunkan aku nanti sebelum kedua pelayanmu itu datang."
Alena mengangguk, dia kembali berbalik dan memeluk Lucius. Apa pun yang akan terjadi padanya nanti, tidak ada yang tahu tapi yang pasti dia harus menikmati waktu yang dia miliki sebisa mungkin karena bisa saja esok, lusa atau pun beberapa hari lagi jiwanya menghilang lalu jiwa Ernest kembali ke raganya dan bisa saja, mereka kembali seperti semula setelah dia mengungkap kejahatan yang terjadi dan menangkap penyihir yang sesungguhnya. Memang tidak adil, tapi seperti itulah kehidupan.
"Ingatlah selalu jika kau pernah mengenal wanita seperti aku, Pangeran," ucap Alena.
"Apa maksud perkataanmu?" tanya Lucius heran.
"Tidak semua perkataan harus diartikan tapi aku ingin kau mengingat aku jika suatu saat nanti sikapku berubah dengan sendirinya!" pinta Alena.
Lucius benar-benar tidak mengerti dengan perkataan Alena. Entah ada maksud apa yang pasti dia tahu, perkataan Alena mengandung sebuah maksud tertentu yang tidak dia pahami sama sekali. Alena sudah tidur padahal Lucius ingin bertanya. Niat untuk bertanya pun harus dia singkirkan tapi dia harap tidak ada maksud apa pun dari perkataan Alena.
Mereka berdua tertidur saling memeluk satu sama lain. Rasanya tidak ingin kebersamaan itu cepat berlalu, rasanya ingin memandangi wajah Alena saat bangun tidur tapi Lucius harus menahan itu semua karena Bastian sudah memanggilnya sehingga dia harus pergi.
Alena pun tidak tahu akan kepergian Lucius, dia terbangun saat Amy dan Agnes masuk ke dalam kamar untuk melayani dirinya.
"Selamat pagi, Putri." sapa Amy dengan senyuman manis menghiasi wajahnya.
"Ambilkan kau air, Amy. Aku haus," pinta Alena.
"Aku saja!" Agnes bergegas mengambil air lalu memberikannya pada Alena.
Alena menatapnya, Agnes kembali bersikap mencurigakan. Agnes bersikap seolah-olah ada yang hendak dia sampaikan dan benar saja, sebuah kertas Agnes selipkan dibawah gelas saat air minum diberikan.
"Apa yang hendak kau makan pagi ini, Putri?" tanya Agnes.
"Aku ingin sup kacang merah!"
"Baik, Putri" Agnes keluar dari kamar, untuk membuat suap. Alena segera melihat kertas yang diberikan oleh Agnes setelah pelayannya itu keluar dari kamar.
"Aku sedang diawasi jadi segala sesuatu yang aku berikan jangan putri makan. Aku harus berpura-pura mematuhi perintah mereka agar mereka tidak curiga!" itu adalah tulisan yang diberikan oleh Agnes.
__ADS_1
Alena merobeknya menjadi serpihan. bagus. Semakin Agnes dipercaya oleh musuh maka semakin Agnes bisa menyusup untuk mencari tahu apakah tebakannya benar atau tidak.