
Jam sudah menunjukan angka 12 malam.. Tapi Elang masih saja belum menunjukan batang hidungnya sedikitpun.. Putri bahkan sudah menelepon mamanya Elang hanya untuk menanyakan keberadaannya, Tapi mamanya bilang Elang sama sekali tidak pulang ke rumahnya.
Kecemasan yang ditampakan Putri bukan tanpa alasan, bahkan Ponselnya Elang di genggam Putri dari siang tadi. Kali pertama Elang pergi tanpa kabar. Wajar saja kalau pikiran Putri berkecamuk sampai memikirkan hal yang bukan-bukan.
" Engga.. Elang gak bakalan main cewek lagi.. Dia udah janji.." Putri tak henti-hentinya berbicara sendiri.. Sampai jam 1 malam baru Elang pulang ke apartemen.. Langkah kaki Elang terhenti ketika melihat Putri sedang duduk menyilangkan kakinya menunggu kedatangan Elang. Dengan perasaan bersalah Elang menghampiri Putri.
" Put.. belum tidur?."
" Dari mana aja?."
Elang sudah mengira kalimat itu yang akan ditanyakan pertama kali padanya.
" Tadi nganter temen.. Dia baru tiba dari luar negeri.. Abis nongkrong barengan sama temen yang lain.. Rame-rame ko."
" Ko lupa bawa ponsel?."
" Iya tadi kelupaan.. Mau nelpon Lo ponselnya ketinggalan."
" Kan Lo bisa ngomong dulu sebelum pergi.. Siapa cewek itu?."
Elang terkesiap..
" Lo tau?."
" Taulah.. Tadi Mona bilang pas gue nyari ke ruangan Lo.. Omongannya bener.. Baju Lo wangi parfum cewek.."
" Iya.. Tadi sama Gadis.. Temen waktu kuliah dulu.. Lo gak marah kan?."
" Menurut Lo?."
Putri ngeloyor masuk ke kamarnya.. Dibantingnya pintu kamar dengan keras.
Elang sudah menduga Putri bakalan sangat marah padanya.. Tapi Elang juga tidak bisa menolak permintaan Gadis untuk menemaninya seharian.
Bahkan sampai pagi mau berangkat ke kantor pun Putri masih belum berbicara dengan Elang..
" Lo masih gak mau ngomong sama gue?."
" Lo udah mulai bohong.."
" Gue gak bohong Put.. Beneran.. Gini deh nanti gue kenalin ya.." Elang masih fokus dengan kemudinya.
Tapi Putri masih tidak menggubris perkataan Elang, ia malah sibuk membuka-buka ponselnya.
Elang tahu kalau Putri hanya berpura-pura bermain ponsel supaya tak menjawab pertanyaan dirinya.
"Turunin gue di sini!!." Tiba-tiba Putri meminta Elang untuk menurunkannya di tepi jalan raya yang jaraknya masih 10 menit dari kantor.
" Apaan sih Put..?."
__ADS_1
"Gue gak lagi becanda.. Turunin.." Kali ini Putri berbicara sedikit keras. Permintaan Putri tak di hiraukannya, Elang masih menjalankan mobilnya dengan menambah kecepatan.
" Lang.. Turunin..!!."
Kali ini Elang tak habis pikir kenapa tiba-tiba Putri memintanya untuk diturunkan di tepi jalan. Secara kasar Elang memberhentikan mobilnya sesuai permintaan Putri. Tapi tidak untuk menurunkannya, Elang memegang lengan Putri erat dan menayai sikapnya yang tiba-tiba berubah..
" Lo kenapa? Gak biasanya Lo kaya gini?."
Putri diam.. Pandangannya ia lempar ke depan jalanan.
" Jawab dong Put.. Kalo ada yang ganjel di hati Lo.. Lo ngomong ma gue.. Jangan kaya gini!!."
Elang sebenarnya sadar kalau yang menyebabkan sikap Putri tiba-tiba seperti itu karena kejadian kemarin. Tapi Elang seolah-olah mengubur tidak ingin membahasnya lagi.
" Kalo Lo minta turun lagi, gue beneran turunin.."
" Ya udah turunin gue.. Dari tadi kan gue minta turun.."
" Put.. Please.. Gue gak mau berantem sama Lo.. Ya.."
Elang kembali melanjutkan perjalanannya menuju kantor tanpa menghiraukan Putri disampingnya.
Terkadang dimana-dimana kalau laki-laki yang sudah punya pasangan berteman dengan seorang perempuan, walaupun hanya temenan biasa pasti selalu menyelipkan kebohongan. Entah itu kebohongan kecil yang nantinya akan membesar. Itu yang dirasakan Elang sekarang, pertemanan dengan Gadis membuat hubungannya dengan Putri terganggu.. Ini baru permulaan ya..
*****
" Dis.. Kayanya aku gak bisa nganterin kamu deh.. Banyak kerjaan.. Lain kali lagi ya.."
Elang merasa bingung dengan rengekan Gadis di telepon untuk meminta menemaninya lagi.. Yang ia bingungkan adalah Putri, bagaimana menghadapi Putri.. Putri bakalan marah besar kalau tahu ia mengantar temannya itu lagi..
"Kamu mau kontrol ke Rumah Sakit?."
"Ya udah aku anterin ya.. sejam lagi aku berangkat ya.."
"Oke.. Aku tunggu ya.."
Elang menyimpan Ponselnya di atas meja.. Sekarang ia sedang menyusun cara untuk meminta izin pada tunangannya itu.. Bukan hal berat baginya tapi bagi Putri ini akan jadi satu masalah besar..
" Put.."Elang berdiri di daun pintu ruangan Putri yang terbuka sedikit. Seketika Putri mengangkat kepalanya melihat seorang lelaki tengah berdiri menatapnya.
" Iya.. Kenapa?."
Putri seolah-olah tak menghiraukan Elang dengan kembali menundukan kepalanya melanjutkan pekerjaannya.
Elang menghampiri meja Putri bahkan duduk di pinggir meja Putri.
"Kenapa.. Mau minta izin buat keluar lagi?."
Elang kaget mendengar ucapan Putri yang seolah bisa membaca pikirannya.
__ADS_1
" Beneran Lo ngizinin?." Tanya Elang dengan sangat hati-hati.
Tepat sekali dugaan Putri.. Biasanya Elang menunjukan sikap yang tak biasa padanya ketika menginginkan sesuatu yang tidak di senangi Putri.. Semisal sedikit merayu..
" Pergi aja.." Putri masih terlihat sibuk dengan beberapa dokumen yang harus ia selesaikan.
" Gue janji gak pulang malem.. Sore gue udah pulang ya.. Nanti gue suruh sopir kantor buat nganter Lo pulang ya.."
" Gak usah kali.. Gue bisa naik taksi.. Gak mau ngerepotin orang lain."
Jawaban Putri sebenarnya hanya bentuk sindiran bagi Elang.. Sindiran karena temannya itu selalu meminta Elang untuk menemaninya terus... dan ini sudah kebeberapa kalinya semenjak Gadis pulang ke Jakarta.
" Dis.. Ini hasil cek up hari ini.. Masih belum ada peningkatan dari sebelumnya malah ada penurunan imun, inget jangan terlalu cape, dan yang paling penting jangan stress.. Ini berpengaruh sekali buat kesehatan kamu.." Dokter Fina menjelaskan tentang kondisi kesehatan Gadis saat itu..
" Jadi transplantasi belum bisa dilakukan?."
Dokter Fina menggelengkan kepalanya. Gadis di diagnosis dokter 1 tahun setengah lalu menderita leukimia. Ia menderita leukimia yang berjenis lambat tumbuh sehingga hanya memerlukan pengobatan cukup dengan pemantauan. Kalau-kalau leukimianya berubah menjadi agresif Gadis harus melakukan pengobatan kemoterapi yang kadang-kadang diikuti dengan radiasi dan transplantasi sel induk.
Elang yang mengetahui dari awal tentang penyakit Gadis terus berusaha membantunya.. Setidaknya dengan memberikan support sedikit akan membuat imunitas tubuhnya meningkat.
Suatu hal besar yang ia rahasiakan dari Putri.
" Put.. Putri..."
Di setiap ruangan apartemen Elang mencari Putri. Bahkan sampai ke lantai atas Putri tetap tidak ada... Lampu-lampu yang biasanya menyala kala petang datang masih terlihat gelap. Elang menekan nomor ponselnya..
"Hallo...." Suara Putri terdengar di seberang telepon.
"Lo dimana? Ko gada di apartemen."
" Gue di rumah Susan.."
" Alamatnya dimana Lo kirim ke ponsel gue..!!."
"Mau ngapain?."
"Mau jemput Lo.. Lo pikir mau apa?."
" Gak usah.. Gue nginep di sini aja.. Besok baru balik ke apartemen."
" Gak.. Gue jemput Lo sekarang.. Kirim alamatnya. Kalo gak gue kasih Susan SP 1.."
" Lo napa bawa-bawa Susan.. Pokonya gak gue nginep di sini aja. Gak enak ini udah malel Lang... Apa kata tetangganya kalo gue keluar dari rumah Susan malem-malem."
" Siapa suruh Lo nginep di sana gak bilang-bilang."
" Gue kan di apartemen juga gada temen.. Udah dua weekend ini Lo keluar terus.. Besok gue balik."
"Kirim SEKARANG!!!."
__ADS_1
Akhirnya Putri mengalah mendengar bentakan Elang padanya.