
"Pah, lebih baik Papa selesein masalah ini dengan Farrah. Datangi saja dia ke Surabaya, Mama nggak mau ngebebani anak kita. Elang kelihatannya udah cape ngurus perusahaan, ngurusin masalah Hanna,"Mama Rita berkeluh kesah saat Papa Wira sudah kembali ke rumah Elang.
Papa Wira melepas kemejanya, ia hanya duduk diam tak lekas menjawab ucapan Mama Rita.
"Pah,"
"Iya Ma, Papa lagi mikir dulu. Kalau Papa kesana bareng Elang juga kayaknya Farrah akan sulit untuk jujur perihal Hanna. Papa lagi nunggu kabar dari Andes dulu,"
Mama Rita sudah jengah akhir-akhir ini masalah skandal masa lalu suaminya muncul ke permukaan kembali.
Elang pun sama ia sedang menunggu kabar dari Bima perihal pria tua yang tadi siang bersama Hanna. Satu jam kemudian Elang mendapat kabar dari Bima lewat chatnya.
"Gunawan, Ayah Hanna,"Gumamnya.
"Kenapa sayang? Apa ada kabar dari Bima?,"Kebetulan malam ini Putri juga belum tidur, ia juga belum tenang karena suaminya masih disibukan dengan teka-teki orang tua Hanna. Semua orang di rumahnya terkena imbas.
"Iya sayang, Bima ngabarin kalo Gunawan adalah orang tua Hanna. Gunawan itu pria yang bersama Hanna di hotel tadi,"Jawab Elang. Dirinya masih bertanya-tanya apa motif Hanna sebenarnya kalau ternyata Papa Wira itu Ayah kandungnya.
"Sayang, Aku curiga Hanna cuma ngincer harta Papa Wira aja deh. Kamu berpikiran yang sama tidak?,"
Dalam hati Elang membenarkan ucapan Putri dan bisa jadi memang kenyataannya seperti itu.
"Bisa jadi sayang, Aku juga kepikiran kesana,"
"Besok Aku bicarain masalah ini sama Papa dan Mama. Sekarang udah malem, lebih baik kita istirahat aja deh ya. Kasian kamu dan calon bayi kita,"
"Iya sayang, kita istirahat aja,"
Baru saja mereka berdua merebahkan tubuhnya, ada suara mobil datang terparkir di halaman rumah. Elang beranjak dari tempat tidur, ia melihat Andes keluar dari mobil itu.
Elang menduga kedatangan Andes malam ini untuk membawa info tentang Hanna.
"Siapa sayang?,"
"Andes, kamu tidur aja ya! Aku keluar dulu, ikut ngobrol barenga Papa dan Andes,"
Putri mengangguk, sesuai perintah suaminya ia tidur saat itu juga. Tubuhnya terasa lelah dan kantuknya sudah tak tertahankan lagi.
Sementara assisten rumah tangga mempersilahkan Andes untuk masuk dan menunggu Papa Wira datang.
__ADS_1
"Malam Mas Elang,"Sapa Andes saat Elang menemuinya di ruang tamu.
"Malam juga Andes, dapat kabarnya?,"
"Dapat Mas, Lumayan kerja berat hari ini,"Andes tak pernah mengecewakan keluarganya untuk urusan seperti ini.
"Andes, baru datang kamu?,"Suara Papa Wira datang dari lantai atas.
"Maaf Pak, saya baru dapat infonya. Sedikit terlambat karena orang yang dulu bekerja di Rumah Sakit itu adalah orang yang bisa disuap oleh Bu Farrah,"
"Jadi maksud kamu perihal surat tes DNA itu palsu?,"
"Benar Pak, surat DNA nya sudah diubah sedemikian rupa,"
"Pah, Elang juga dapat kabar dari Bima kalo Gunawan adalah Ayahnya Hanna. Tadi siang Elang lihat mereka di hotel bersama,"Elang menambahi informasi untuk Ayahnya.
Papa Wira kaget sekaligus tenang. Walaupun tak mengira jika selama ini ia sudah dibohongi Farrah dan yang membuatnya tak percaya Ayah biologisnya adalah Gunawan.
"Papa kenal sama Gunawan?,"
"Bukan kenal lagi. Kami bersahabat sejak dulu tapi sekarang sudah tidak berkomunikasi lagi,"Papa Wira meremas rambutnya yang pusing.
Kenapa Gunawan tidak jujur selama ini? Mungkin kalau saja dia jujur, rumah tanggaku dulu tidak akan bermasalah.
"Pak, Anda mau bertemu Bu Farrah,"Tanya Andes.
"Iya,"
"Bu Farrah sudah berada di Jakarta sejak sore jam 6 tadi Pak, berada di hotel yang sama dengan Hanna,"Jawab Andes
"Baguslah jadi kita tidak harus jauh-jauh datang ke Surabaya,"
"Iya Pak, nanti besok pagi saya akan datang kembali kemari Pak, saya pamit dulu,"
"Oke, datang besok pagi jam 8! Saya tunggu kamu,"
"Baik Pak,"
Papa Wira dan Elang sama-sama tenang dan lega dengan kebenaran kabar ini. Terlebih bagi Mama Rita, semua rasa sakit hatinya lunas terbayarkan malam ini.
__ADS_1
***
Pagi-pagi Putri heboh, ia ingin sekali ikut acara pergi ke bukit cinta. Tempatnya tidak jauh dari Jakarta, hanya memakan waktu satu jam perjalanan. Teman-teman kampusnya mengabarinya tadi malam, tapi Putri baru membuka chatnya pagi ini.
Putri bingung harus meminta izin bagaimana pada suami dan mertuanya. Pasti mereka berdua takkan mengijinkannya pergi. Naik bukit bukan perkara mudah untuk perempuan hamil dan juga sangat beresiko tinggi terhadap janinnya.
"Kenapa sayang ko kamu kaya orang bingung gitu?,"Tanya suaminya setelah selesai mandi dan bersiap untuk berangkat ke kantor.
Putri merajuk,"Sayang, boleh nggak kalo Aku ikutan temen-temen main?,"
"Main apa sih kaya bocah aja,"
"Ih kamu, malah ngeledek gitu sih. Main ke bukit bareng temen-temen kampus,"Rengek Putri. Gayanya yang manja bergelayut di pundak suaminya.
"Bukit? Kamu mau ke bukit bareng temen-temen kamu? Gak, Aku gak kasih ijin. Resiko Put buat kandungan kamu!,"Tolak Elang secara halus. Putri menyebikkan bibirnya kesal.
"Sayang, Aku pengen banget ke sana. Kamu mau anak ngeces terus nantinya?,"
"Amit-amit sayang kamu ko bilang gitu sih! Temen kampus berarti mantan kamu juga ada?,"
"Ya Allah sayang, kamu ko masih mikir mantan aku sih. Kamu tega banget!,"
"Terserah! Aku mendingan terima kamu marah dari pada harus ngijinin kamu pergi,"
Putri menghembuskan nafasnya secara kasar. Elang memang tak'kan main-main dengan ucapannya. Sekali tidak tetaplah tidak. Apalagi menyangkut keselamatannya.
Selesai bersiap-siap, tanpa pamit dan sarapan karena kesal dengan permintaan istrinya. Elang berangkat ke kantor.
Kepergian Elang tanpa pamit jelas membuat Putri semakin marah. Ia tak menyangka suaminya akan semarah itu.
Melampiaskan kekesalannya, Putri juga pergi berniat mengunjungi Mamanya. Ia langsung pergi setelah minta ijin Mama Rita, tanpa memberitahukan kemana tujuannya.
Sepanjang perjalanan di dalam taksi, Putri terus-terusan diam. Mengingat ingin sekali dirinya pergi ke Bukit Cinta. Ia bahkan mendiamkan beberapa panggilan telepon dan chat teman-temannya.
Diliriknya layar ponselnya, kali ini nama Elang tertera di sana. Elang terlebih dahulu menghubungi Mama Rita, menanyakan istrinya keberadaan istrinya.
Elang berpikir kalau Putri memang nekat pergi ke Bukit cinta.
Sudah sepuluh panggilan tak terjawab di ponselnya. Elang begitu khawatir sekaligus marah dengan aksi nekat Putri.
__ADS_1
Elang bahkan mengirimkan pesan berisi kekecewaannya dan ungkapan kemarahannya karena Putri sudah nekat.
Elang : Aku kecewa sama kamu Put, kamu bahkan tidak sungguh-sungguh menjaga keselamatan kandungan kamu sendiri. Kamu lebih mengutamakan ego kamu demi kesenangan.