
Putri masih saja uring-uringan sepanjang hari. Dari pagi kerjaannya hanya makan dan tidur saja, ia juga sudah mendapatkan assisten rumah tangga yang didapatkannya dari jasa pencarian ART. Pikirannya berubah setelah ia tidak ingin turun ke dapur dan juga mengerjakan semua pekerjaan di rumah.
Semua yang dilakukannya akan terasa sia-sia. Masak makanan sampai gosong, makanan rasanya hambar dan juga sejak tadi pagi ia sama sekali tidak mau makan nasi. Melihatnya saja sudah membuatnya muntah apalagi memakannya.
Elang datang sekitar jam 8 malam. Sengaja pulang telat, soalnya Elang tidur di ruangannya sendiri dari sore tadi. Menyiapkan semua tenaga untuk kembali bertempur dengan kelakuan yang dibuat istrinya.
Sesampainya di rumah, Elang mendapati Putri dengan adegan dramanya lagi. Mengkritik makanan yang dibuat mbak Marni, nama assisten baru yang bekerja di rumahnya.
"Ada sih sayang ko kamu marah-marah?."Ucap Elang sambil melonggarkan dasinya. Kemudian duduk di sebelah Putri. Mengamati tingkah laku Putri yang menurutnya semakin aneh. Putri bukan orang yang senang marah-marah apalagi dengan orang lain.
"Ini Lang, aku kan minta dibikinin makanan tapi malah ditambahin nasi. Aku kan gak suka!."
"Maaf den, saya tidak tahu kalau Neng Putri mggak suka nasi."Bela Mbak Marni.
"Gak suka nasi? Sejak kapan kamu gak suka nasi?."Elang semakin aneh dan penasaran dengan prilakunya kali ini.
"Sejak sekarang, aku neug liatnya pengen mutah jadinya."Rengeknya semakin menjadi.
"Mbak ini siapa?."Tanya Elang mengarah oada Mbak Marni.
__ADS_1
"Saya lupa den belum memprkenalkan diri. Saya Marni assisten rumah tangga baru tadi pagi Neng Putri nyari lewat jasa ART. "
"Oh Mbak Marni, maaf saya belum tau. Udah Mbak jangan dimasalahin biar saya yang urus istri saya."Memang sih Elang belum tahu kalau mereka punya assisten rumah tangga. Putri belum memberitahukannya sama sekali.
"Aku mau tidur aja Lang, ngantuk."Putri melengos begitu saja tanpa mempedulikan keadaan Elang yang masih berdiri terpaku di lantai dasar.
"Maaf den, kalau saya boleh bicara sepertinya Neng Putri lagi isi tuh liat dari ciri-cirinya."Ucap Mbak Marni mengisyaratkan mengelus perutnya sendiri.
"Isi? Maksud Mbak Marni?."
"Hehe.. Den ini, lagi hamil den."Bisik Mbak Marni, Elang terkejut bukan kepalang. Tangannya refleks menjatuhkan tas kerjanya dan jas nya di lemparkannya asal ke atas sofa. Elang kemudian merogoh ponsel di saku celananya, ia kemudian menghubungi Mama Rita.
"Loh ko nanya Mama sih, udah diperiksa belum ke dokter?."
"Belum Ma, Putri aneh sekarang."Elang menjauh keluar dari ruang tengah menuju ke belakang arah taman.
"Aneh gimana maksud kamu? Emang ciri-cirinya gimana?."
"Sekarang hobinya marah-marah gak jelas, tidur terus, gak mau makan nasi katanya pengen muntah. Terus mintanya kalo makan itu tengah malem terus. Elang kan lagi enak tidur kepaksa Ma.."
__ADS_1
"Kamu ini ya kalo hamil terus istri kamu minta ini itu dituruti aja. Selama mintanya gak dibuatin candi dalam semalam kan berabe. Lagian kamu yang buat ya kamu yang tanggung jawab jangan mau enaknya aja."Mama Rita terdengar lebih galak dari Putri sampai membuat Elang menyebikkan bibirnya.
"Ya terus gimana Ma Putri hamil gak?."
"Astagfirullah Lang! Kamu ko malah nanya Mama lagi. Gini aja kamu pergi sekarang juga beli testpack dulu sana nanti kabari Mama lagi."
"Testpack? Ya udah Elang beli sekarang juga Ma."Tutup Elang saat itu juga langsung melajukan motornya menuju apotek terdekat di simpang jalan depan komplek.
Tidak tanggung-tanggung Elang membelinya dalam jumlah banyak dan jenisnya bervariasi. Dari mulai testpack biasa sampai yang digital.
Sampai kembali di rumah Elang membangunkan Putri, menggoyang-goyangkan bahunya sampai Putri sedikit menggeliat.
"Put, kamu mau pipis gak?."Bisik Elang.
"Apa sih Lang, aku maunya tidur bukan pipis!."
"Ko gitu sih, kamu mendingan pipis dulu ya. Ntar tidur lagi."Bujuknya dengan segala cara. Tapi apa yang didapatkan Elang hanya penolakan berujung kemarahan istrinya. Alhasil malam ini Elang harus rela tidur terpisah dengan istrinya sekarang.
***
__ADS_1