ROMANSA Sang PLAYBOY

ROMANSA Sang PLAYBOY
Kepergian Papa


__ADS_3

Elang dan Putri sudah menjalani rumah tangga mereka baru seumur jagung tapi harus mengalami hal menyedihkan tak kala pak Sasongko, papanya Putri meninggal dunia akibat serangan jantung di pagi hari.


Elang mencoba menenangkan istrinya yang meraung-raung di depan ruang pemulasaran jenazah. Ia tak habis pikir kenapa papanya meninggalkannya dengan cepat.


" Sudah takdirnya sayang.. Kamu harus ikhlas ya.." Ucap Elang sambil mengelus punggung Putri. Sementara mamanya Putri sudah beberapa kali hilang kesadaran dan tengah dibaringkan di ruang perawatan ditunggui beberapa saudara yang juga sudah datang.


" Pa.. Papa.." Putri mengerang lebih keras dan meronta-ronta. Hingga akhirnya ia juga hilang kesadaran dan di bopong ke ruang perawatan yang sama dengan mamanya.


" Wajar nak.. Mereka berdua kehilangan, mama juga walau bagaimanapun pak Sasongko adalah sahabat papamu. Kamu temani istrimu ya.." Mama Rita datang setelah diberitahu Elang tentang perihal kematian ayah mertuanya.


" Iya ma.. Kasian Putri." Elang masih berada di samping istrinya yang masih belum sadarkan diri.


Setelah pemulasaran selesai dan semua biaya perawatan telah dibayarkan, jenazah dibawa ke kediaman keluarganya terlebih dahulu untuk memberikan kesempatan pada keluarga besar, kerabat, kolega, sahabat untuk terakhir kalinya.


Banyak yang melayat tidak percaya dengan kematian pak Sasongko yang terkesan mendadak. Penyakit jantung tidak hanya menimpa kalangan yang sudah berumur saja tapi kini banyak kalangan usia muda yang juga meninggal karena serangan jantung.

__ADS_1


Putri meratap sedih saat papanya dibawa dengan keranda menuju ke tempat peristirahatan terakhir. Kini ia harus mengikhlaskan walaupun awalnya berat.


" Ini yang terbaik untuk papa.. Semoga papa


tenang di sana." Putri menaburi tanah makam papanya, tangisnya masih membasahi wajahnya. Sedangkan mamanya kini tampak sedikit lebih tenang menerima kepergian suami tercintanya.


Papanya Elang, Wira dan mamanya Elang, Rita pamit setelah memastikan besan dan menantunya kembali ke rumah dalam keadaan baik-baik saja.


*****


" Boleh.. sampai kapanpun yang kamu mau." Elang tetap berusaha memberikan kekuatan.


" Sampai 40 harinya.. Setelah itu kita kembali ke apartemen, ada tante Gina yang nanti nemenin mama di sini."


" Kamu tenang aja jangan terlalu banyak pikiran juga. Kita temenin mama di sini, jangan pikirin kerjaan juga udah ada yang handle ko."

__ADS_1


" Aku bingung.. Kemarin om ku bilang kalo aku harus gantiin papa di perusahaan.. "


" Itu memang bener lagian siapa lagi, kamu tidak punya saudara lagi. Kecuali kamu menyerahkannya pada orang yang dipercaya, tapi itu akan lebih riskan sayang."


" Jadi aku harus gimana?." Putri menyandarkan dirinya di bahu Elang.


" Saranku ya lebih baik kamu sendiri yang gantiin posisi papa!." Putri menghela nafas panjang, ia merasa belum siap untuk menjadi pimpinan perusahaan besar papanya. Pikirannya mengambang bagaimana kalau seandainga nanti perusahaan yang ia pimpin malah menurun dengan segala konskwensi lainnya lagi.


" Ini kaya mimpi, kita baru aja nikah dan belum ngasih papa cucu.. Hampir tiap hari papa selalu nanyain " Udah isi belum " jadi ngerasa sedih aja."


" Udah.. Jangan nangis lagi, papa gak mau liat orang yang disayanginya bersedih. Siapa tau nanti kita cepet-cepet dikasih keturunan, biar papa di sana ikutan seneng."


Putri tersenyum getir bila mengingat perlakuan papanya yang terlampau manis menyisakan kenangan teramat sulit dilupakan.


*****

__ADS_1


Haii... Jangan lupa kasih cinta kalian ya sebanyak-banyaknya dengan menambahkan komen, like dan juga votenya.. Makasih


__ADS_2