ROMANSA Sang PLAYBOY

ROMANSA Sang PLAYBOY
Hanna 2


__ADS_3

"Pa,"Elang bertemu dengan Papa Wira di rumahnya, orang tuanya memutuskan untuk menginap di sana terlebih karena persoalan Hanna yang tiba-tiba muncul di perusahaan.


Mama Rita menghampiri dua pria itu, dua pria yang sangat dicintainya. Mata Mama Rita sembab, sedari siang menangisi pemberitaan di media yang menyebut bahwa Hanna adalah anak kandung dari Wira Adipati. Bukan tentang beritanya yang membuatnya menangis, toh Mama Rita sudah mengetahuinya sejak lama, tapi ada perasaan keluarga besarnya yang harus dijaga. Nama baik keluarga tercoreng begitu saja tentu akan berimbas pada perusahaan nantinya.


"Ma, Mama jangan khawatir ya. Elang udah beresin tentang berita di media. Elang udah cabut semua beritanya dan tenang aja masalah perusahaan ada Pak Restu yang akan mengurusnya juga. Pak Restu akan datang besok dari London, Elang udah menceritakan semuanya,"Jelas Elang memberikan setitik harapan .


"Maafkan Papa karena ini semua salah Papa di masa lalu,"Sesal Papa Wira harus menghadapi Hanna yang meminta pengakuan dan pembagian harta kekayaan Adipati.


Elang menggeleng mencoba mengerti situasi yang terjadi saat ini.


"Nggak Pa, bukan salah Papa juga. Ini juga salahnya Elang, andai Elang dulu merangkul Hanna dan bukan menyembunyikannya kejadiannya gak akan seperti ini,"


"Lang, kamu nggak berniat membagi perusahaan kan?,"


"Nggak ko Pa, tenang aja. Elang ada rencana buat Hanna. Sekarang yang harus kita utamakan adalah bagaimana caranya membuat keluarga besar kita dapat mengerti masalah ini.


"Elang benar Pa, Mama tadi banyak menerima telepon dari keluarga Mama. Mama juga belum jawab, kita harus menemui neneknya Elang nanti setelah Haikal dan istrinya kembali ke Jakarta,"


"Itu akan memakan waktu Ma, Elang bahkan niatnya besok pagi kita ke rumah Nenek, tante juga udah nunggu kita dari siang tadi malah,"


"Mama serahin sama kamu aja sayang, gimana baiknya. Pikiran Mama lagi kalut nggak bisa berpikir banyak,"


Sementara itu Putri datang membawakan minuman dan juga makanan ringan untuk mertua dan suaminya.


"Loh sayang, kamu diam aja jangan kesana kemari nanti kecapean kan ada Mbak yang bikinin,"Sergah Elang khawatir istrinya akan kelelahan.


"Hanya bawa minuman aja gak sampai bikin capek ko sayang,"

__ADS_1


Putri tersenyum simpul, ia terlihat cantik hanya dengan memakai pakaian longgar dan rambutnya tergerai indah.


"Ya udah, Putri ke kamar ya Pa, Ma,"Ia tahu diri dan tak enak hati kalau harus ikutan nimbrung dengan permasalahan keluarga suaminya. Ia juga harus punya batasan tentang apa yang boleh dan apa yang tidak.


"Ya udah kalo kamu ngantuk, nanti aku juga kalo udah selese langsung nyusul ke kamar,"


"Ya sayang,"


"Lang, apa kita tidak sekarang aja ke rumah nenek kamu?,"Sorot mata Mama Rita kelihatan sangat khawatir dan takut keluarga besarnya akan menganggap keluarganya menyembunyikan masalah besar selama ini.


"Ma, Papa rasa lebih baik besok saja. Papa juga udah nyuruh Andes buat nyari info tentang siapa yang menyebarkan rahasia keluarga kita, Mama tenang ya,"Mama Rita hampir lupa siapa sosok suaminya, seorang yang juga mempunyai pengaruh besar dalam dunia bisnis. Bukan hal sulit untuk mencari jarum dalam jerami sekalipun.


"Iya Ma, Mama tenang aja. Mama sekarang mendingan istirahat, biar Elang sama Papa yang urus ya,"


"Apa Mama meragukan kemampuan kita berdua ini?,"


"Bukan meraguka sayang, tapi Mama khawatir sama keluarga besar kita, pasti mereka kecewa merasa dibohongi,"


"Nggak usah kan Putri udah tidur kasian jangan dibangunin,"Serga Mama Rita.


***


Sesuai rencana pagi ini Elang, Mama Rita da Papa Wira menemui Nenek Elang yang merupakan ibu dari Mama Rita, suasana pagi ini sedikit agak berbeda dari biasanya. Nenek tidak menunjukan ekspresi yang sama malah wajahnya sedikit masam.


Wajar,


Nenek khawatir nama baik keluarga besarnya akan tercoreng dengan masa lalu Papa Wira. Mama Rita duduk disebelah Nenek bersama adik perempuannya yang merupakan tante Elang sendiri. Sedangkan Papa Wira duduk bersebelahan dengan Elang di sofa yang terpisah.

__ADS_1


"Kalian tidak usah khawatir dengan Nenek, kami semua di sini sudah mengetahuinya sejak lama, semua orang punya masa lalu dan Nenek lihat Wira menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami yang baik dan bertanggung jawab. Nenek hanya minta selesaikan masalah ini karena sudah menyebar luas ke publik dan Nenek harap ini tidak akan berdampak pada perusahaan kita,"Bijaknya kata-kata Nenek saat berbicara dengan anak, mantu dan cucunya. Nenek sadar betapa ada segelintir orang hanya ingin mengambil keuntungan dari masalah ini.


Mama Rita bernafas lega, ketakutannya tidak sampai terjadi,"Makasih Bu, sudah mengerti keadaan kami. Rita sekarang sudah tenang semua terbuka seperti ini,"


"Mbak, jadi adiknya Elang tinggal dimana sekarang?,"Rossa, adiknya Mama Rita menanyakan keberadaan Hanna.


"Namanya Hanna Ross, dia tadinya tinggal di Surabaya. Kemarin juga waktu nikahannya Haris, dia datang. Entah siapa yang memberitahukannya. Maaf ya Pa, Mama bukannya tidak ingin Hanna hadir tapi Mama ngerasa aneh aja tahu dari mana keluarga kita ada di Malang,"Jelas Mama Rita.


"Iya Ma, sebenarnya Hanna kemarin datang ke perusahaan. Dia menyerahkan berkas untuk Elang tandatangani. Hanna minta bagian dari harta kekayaan Papa,"Mata Mama Rita membulat sempurna mendengarnya. Apalagi Nenek dan Rossa, mereka berdua saling berpandangan satu sama lain.


"Wira, Nenek bukannya mau ikut campur masalah perusahaan dan memang Hanna juga punya hak untuk harta kamu. Tapi di sini Nenek kurang menyetujui kalau Hanna minta bagian perusahaan. Kalau dia merajuk kita bisa memberikannya bagian kekayaan kita yang lainnya,"


"Bu, makasih sebelumnya atas kebaikan ibu pada Hanna. Tapi Wira tidak ada sedikitpun rencana untuk membagi harta Wira sama Hanna. Walaupun Hanna anak Wira sendiri. Wira hanya tidak percaya karena Hanna dikelilingi oleh orang-orang yang memanfaatkannya saja termasuk ibunya sendiri,"Wira menghela nafas berat. Beruntungnya dia punta ibu mertua yang mengerti keadaannya saat ini. Wira sama sekali tidak disudutkan, ia hanya merasa bersalah karena keluarga mertuanya harus ikut terlibat. Bahkan rumah mertuanya pun ikut-ikutan didatangi para wartawan yang ingin berburu informasi.


"Ya sudah itu terserah kalian saja yang penting masalahnya jangan berlarut-larut. Lang, bereskan semua kekacauan ini. Cari tahu siapa yang membocorkannya!,"Perintah Neneknya.


"Nenek tenang aja urusan Hanna biar Elang urus;"Balas Elang.


""Oh iya bagaimana kabar istrimu? Kenapa tidak di ajak kemari, Kandungannya apa sehat?,"


"Sehat Nek, cuma kalo pagi suka mual-mual aja. Dia sekarang lagi tidur pas kami kemari. Elang kasihan harus membangunkannya,"


"Hahaha,,Rita, Wira ternyata umurku sangat tua sekali ya. Aku sebentar lagi akan jadi buyut,"Rona wajah bahagia terpancar dari kulitnya yang mengerut.


"Do'akan Bu, semoga semuanya lancar. Keluarga kita selalu berkah dan terhindar dari bencana,"


"Aamiin..."Serempak semuanya menjawab

__ADS_1


***


Tbc...


__ADS_2