
"Ih apa sih?"gerutu Putri kesal karena pesan demi pesan yang dikirim Elang ke ponselnya.
"Kenapa sayang wajah kamu judes gitu?"tanya Mamanya Putri mengaitkan rambut perempuan yang sedang hamil itu ke belakang telinganya.
"Ini Ma, Elang gak mau ngalah. Putri kan pengen ikut ke bukit cinta sama teman-teman kampus eh malah gak dibolehin. Sekarang dia nelpon trus kirim pesan yang nggak-nggak. Putri kan lagi di sini gak jadi ikut ke bukit cinta. Jadi keselkan,"ucapnya sambil manyun
Mamanya Putri hanya mengulas senyum melihat tingkah manja anak puteri satu-satunya itu.
"Kamunya udah ijin suami kamu mau ke rumah Mama?"
"Nggak sih, Ma,"
"Ya iyalah kamunya aja nggak ijin jadi pantes kalo suami kamu marah. Coba kamu kasih kabar suami kamu, bilang kamu ada di rumah Mama,"
"Nggak ah Ma, malas. Putri ke kamar ya, Ma."
Mamanya Putri geleng-geleng kepala, gadis kecilnya sekarang sudah tumbuh dan menjadi calon ibu. Ia teringat pada suaminya. Andaikan masih ada pasti akan bahagia dengan menyambut sang cucu lahir ke dunia.
Anna, sang Mama. Memutuskan mengirimkan pesan pada Elang karena khawatir suami puterinya itu tidak akan tenang pikirannya. Mana kondisi Putri sedang hamil.
***
Elang menatap Putri yang sedang terlelap di sofa kamarnya sedari tadi. Setelah mendapatkan pesan dari Mama Anna, Elang langsung bergegas meluncur ke tempat sang mertua. Semua pekerjaannya ia selesaikan dengan cepat dan menyerahkan sisanya pada Bima.
Wajah polos istrinya sangat cantik bila sedang dalam posisi tertidur seperti itu. Elang tak menyangka jika dalam rahim istrinya sedang tumbuh buah dari cinta mereka. Tangannya mengelus pelan perut sang ibu bayi takut jika Putri tiba-tiba terbangun dan langsung memasang wajah judesnya.
Putri menggeliatkan tubuhnya dan membuka mata dilihatnya Elang sudah berada di samping tempat tidurnya.
"Kamu, mau apa ke sini?"belum apa-apa Putri sudah bersikap menyebalkan
"Mau jemput kamu lah, kita pulang ke rumah ya,"ajak Elang sambil memainkan ujung rambut milik Putri.
__ADS_1
Putri malah mengerutkan dahinya pada Elang
"Kamu lagi ngerayu ya? Pokonya aku gak mau pulang titik,"ucapnya merajuk,
"Ih kamu kalau lagi marah tambah cantik tau,"ujar Elang gemas menyubit pangkal hidu ng istrinya.
"Jangan ngerayu deh, pokonya aku gak bakalan mau pulang. Aku mau nginep aja di sini nemenin Mama,"
"Yakin gak mau pulang? Aku beliin kamu ini loh, liat deh,"Elang menunjukan dua buah mangga yang belum terlalu matang di dalam kresek warna hitam.
"Itu yang aku minta? Buah mangga milik tetangga?"
Elang mengangguk cepat mengajak Putri ke dapur di belakang untuk mengupas si buah mangga. Dua hari kemarin, Putri menyampaikan keinginannya untuk memakan buah mangga milik Pak RT di sekitar tempat tinggalnya. Tapi tanpa ijin dari pemiliknya, alias Elang harus mencuri si buah mangga itu. Mana mau Elang mencuri apalagi dimakan untuk istrinya. Mengingat ucapan Putri tempo hari, sebelum Elang ke rumah Mama Anna, Elang arah dulu ke rumah Pak RT. Minta ijin baik-baik untuk meminta dua buah mangganya. Untunglah Pak RT nya baik hati dan mau memberikannya pada Elang.
"Yakin ini kamu minta tanpa ijin sayang?"tanya Putri dengan mata berbinar-binar menatap suaminya sedang fokus mengupas buah mangga.
"Iya, aku ambil pas gak ada siapa-siapa,"ujarnya berbohong
"Maafkan aku ya sayang, kamu jadi nyuri. Nanti deh aku minta maaf sama Pak RT nya kamu udah ngambil buah mangga miliknya kalo kita pulang. Siapa suruh juga pohonnya sampai melambai ke jalan. Kan aku jadi ngiler liatnya,"ucapnya sambil menyocol si buah mangga ke dalam campuran garam dan cabai bubuk.
"Nggak usah sayang, biar aku aja yang bilang ya, Nanti Pak RT nya marah lagi,"
"Bener juga ya, ya udah iya deh."
Elang tersenyum puas masalahnya dengan Putri selesai juga. Mereka memutuskan untuk menginap satu malam di sana,
***
Di sebuah ruangan kecil di kawasan Jakarta, Papa Wira ditemani Andes sedang berbicara dengan Gunawan. Awalnya Gunawan kaget karena melihat Papa Wira tiba-tiba menghadang jalannya saat akan masuk ke dalam rumah kontrakan sederhana di sebuah gang kumuh.
Papa Wira tidak menyangka melihat keadaan Gunawan yang memperihatinkan. Tubuhnya sudah mulai sakit-sakitan karena penyakit diabetes dan radang paru yang dideritanya.
__ADS_1
"Kamu harus menjelaskan padaku kalau Hanna bukan putriku,"pinta Papa Wira
Gunawan membenarkan posisi diduduknya yang hanya di alasi karpet kecil. Tidak ada perabotan apa-apa kecuali Tv tabung berukuran 14" di atas buffet. Satu kamar kecil dan juga kamar mandi dan dapur menyatu di belakang.
"Maafkan aku Wira, karena kesalahanku dulu dan aku terpaksa menuruti keinginan Farrah,"Gunawan sesekali mengambil nafas dalam-dalam, dadanya terasa sesak karena penyakitnya itu.
"Memang benar Hanna adalah putri kandungku tapi aku harus menyelamatkan kehidupannya nanti. Farrah tahu kondisiku sejak awal, dia berhubungan denganmu terlebih dahulu dan ketika kamu memutuskan akan kembali pada Rita. Farrah berhubungan denganku lalu hamil. Farrah tidak mau memberikan Hanna padaku karena saat bersamaan perusahaanku oleng. Dia mengancamku untuk tidak buka mulut untuk menjebakmu dengan bukti surat DNA itu. Dia mengancam akan menggugurkan Hanna kala itu, Faah juga bilang kalau ini semua demi Hanna. Hidup Hanna akan terjamin jika berada di tanganmu,"
"Maafkan aku Wira, karenaku kamu harus menanggung beban moril sampai sekarang,"pria paruh baya itu menumpahkan kesedihannya selama ini, merasa bersalah karena Wira menderita akibat ulah Farrah dan dirinya.
"Aku tidak akan menyalahkanmu, Gunawan. Aku lega karena masalah ini dapat terkuak.
"Lalu dari mana Hanna tahu jika kamu adalah ayahnya?"
"Aku sendiri yang mengatakannya dan Farrah pada akhirnya mengakuinya juga. Dan untuk urusan Hanna meminta harta warisanmu, janganlah dianggap karena itu semua rencana Farrah,"
"Aku sudah menduganya karena aku tahu Hanna bukanlah anak yang seperti itu, Melihat kondisimu sekarang sungguh memprihatinkan Gunawan,"
"Mungkin ini balasan Tuhan padaku, Wira,"kekehnya menertawai dirinya sendiri.
"Aku tidak akan membiarkanmu seperti ini, tolong turuti perintahku. Kamu lakukan pengobatan terbaik untuk memulihkan kesehatanmu dan aku akan memindahkan dirimu ke tempat yang lebih nyaman,"Wira menatap oenuh sahabat karib yang dulu pernah menolongnya dari kecelakaan maut.
"Tidak, jangan lakukan itu, Tubuh ini sudah tua. Aku hanya minta tolong padamu untuk menitipkan Hanna, jaga dia baik-baik dan sampaikan maafku pada Rita,"
"Gunawan, jangan keras kepala. Jika kamu ingin melihat Hanna baik-baik saja dan bahagia maka kamu juga harus sehat. Kamu akan mengikuti pelayanan kesehatan di tempat yang aku rujuk. Kamu tidak bileh menolak!"
***
Tbc...
Ayo berikan dukungan kalian dengan like, komen dam votenya.. OKE
__ADS_1