
Haii readers.. Selamat membaca 😘😘😘
*****
" Ma...Terus Elang harus gimana sekarang?."
" Ya cari Putri sendiri... Masa kamu mau lembek kaya gitu sih.. "
" Tapi kan Elang gak tau Putri dimana sekarang. Ponselnya juga gak bisa dihubungi terus."
Mamanya Elang menoyor kepala anaknya itu. Cukup keras sampai Elang meringis kesakitan.
" Kepala dipake Lang.. makanya siapa suruh dulu seenaknya main mutusin segala sesuatu sendiri. Gunanya orang tua itu apa? Kamu minta saran kek sama mama atau papa.. Dari awal nih ya mama gak suka sedikitpun sama Gadis. Sejak kalian di Amrik dulu, keliatan wajah pengeretan tu kaya gitu.."
"Iya.. Semua salah Elang. Gimana lagi semuanya udah terjadi."
Elang tak habis pikir kalau Gadis akan berbuat senekat itu untuk mendapatkan dirinya. Ia kenal Gadis sebagai sosok periang, senang membantu tapi sifat ambisiusnya malah menenggelamkan dirinya ke dalam jurang hina.
Kemana lagi ia harus mencari Putri, bahkan mamanya Putri sekarang sudah tidak mau lagi bertemu dengannya, dengan orang tuanya. Tidak menyangka semaunya akan kacau balau tidak terkendali.
" Ini udah sore Lang.. kamu masih mau diem diluar kaya gini. Mandi sana.. Bersih-bersih.."
Elang masih terdiam, ia hanya ingin sendiri. Awalnya berniat ingin pergi ke Bar sekedar melepaskan penat, tapi langkahnya segera dihentikan mama Rita.
" Bodoh anak mama ini ya.. Kirain kamu bakalan ngerengek nangis darah gitu, kejer-kejer gak jelas malah mau pergi gitu aja.. Mau kemana kamu? Mau mabok ya..?." Suara khas ibu-ibu memekakan telinga Elang. Tak ayal membuat papanya Elang ikutan keluar mendengar suara ribut-ribut di depan.
" Ada apa sih ma.. Ribut-ribut gitu. Suara mama tu kedengeran sampe ke dalem loh.."
" Ini anak papa.. Si Elang, malah mau ngeloyor gitu aja.. "
" Bukan gitu ma.. Kan Elang mau cari Putri gak tau dimana.. Nanya ke mamanya Putri malah di usir.. Gimana Elang gak sakit hati coba.."
"Sakit hati mana sama Putri cintanya di duain sama kamu.."
" Ma.. Ko malah berantem sama mama sih.. Udah ah.. Elang mau pergi."
" Eitsss.. Tunggu dulu. Kamu mending sekarang mandi yang bersih, yang wangi seperti biasanya.. Terus pergi ke Bandung."
" Bandung?."
" Iya Bandung... Kamu pengen ketemu Putri kan?."
__ADS_1
Mata Elang berubah senang.. Ia tahu kalau mamanya pasti dapat meluluhkan hati mama Ana..
" Mama kenapa gak bilang dari tadi? Sengaja bikin Elang sengsara dulu gitu? Hebat mama penyiksa anak ya sekarang."
" Kirimin alamatnya sekarang ma.. Cepet." Tambah Elang sudah tidak bisa menguasai dorongan hatinya untuk segera berangkat ke Bandung.
******
Entah sudah berapa hari Elang menahan rasa rindu yang menyiksa batinnya, ia yakin bahwa segala permasalahan pasti ada jalan keluarnya.. Begitupun masalahnya sekarang. Pak Sasongko harus menjadi korban kesalahan dari perbuatan Elang dulu.
Sudah hampir 3 jam Elang menyusuri jalanan dari Jakarta sampai Ke Bandung. Hampir jam 7 malam pas ia sampai di alamat yang dikirim mamanya, sudah benar rumah gading berpagar putih no. 24 Dago Pakar. Tapi belum ada yang membuka pintu rumah besar itu. Ia tak yakin kalau alamat itu adalah rumah neneknya Putri.
" Cari siapa ya A?." Akhirnya seorang ibu-ibu setengah baya muncul dari samping rumah membawa sutil ditangannya. Sudah pasti ibu-ibu itu adalah asisten rumah tangga di rumah itu.
" Saya cari Putri.."
" Oh.. Neng Putri.."
"Siapa Ceu Nah?." Teriak seseorang dari dalam.
"Milarian Neng Putri bu.."
Tak lama datang ibu-ibu usianya sudah sepuh tapi masih terlihat sehat dan enerjik.. Pikiran Elang terbayang sosok nenek Putri adalah nenek tua bongkok membawa penopang untuk berjalan.. Kacau Lang..
Kepala Elang mendadak roaming.. Ia butuh seorang penerjemah segera.. Tidak mengerti sedikitpun dengan bahasa sunda yang diucapkan neneknya Putri.
" Silahkan masuk A.. Neng Putri ada di dalam."
" Makasih bi.. "
Elang mengekor neneknya Putri, ia duduk setelah dipersilahkan. Neneknya mengamati bahwa Elang memang lelaki yang diceritakan mama Ana padanya. Calon suami Putri. Sekaligus calon menantunya.. Dulu ketika Elang dan Putri bertungan neneknya tidak bisa datang ke Jakarta, biasa penyakit sepuh. Kaki neneknya kambuh lagi, penyakit rematiknya mulai terasa beberapa hari sebelum acara pertunangan cucunya. Sampai berjalanpun merasa sangat kesulitan.
" Neng.. Neng cepetan turun.. Ini liat aya saha didieu. Ulah cemberut wae teu sae geulis-geulis cemberut.."
Elang menahan tawanya, benar-benar ia tidak tidak mengerti apa yang dibicarakan neneknya barusan.
Putri akhirnya menampakan dirinya menuruni tangga turun dari lantai atas menuju ruang tamu. Putri melihat seorang lelaki duduk membelakanginya, dari posturnya terlihat mirip Elang, tapi ia sangsi. Bukankah hubungannya ditentang mana mungkin Elang bisa berada di rumah meneknya.
" Sini.. " Neneknya menarik tangan Putri agar ia cepat duduk..
Benar saja dugaannya, sosok mirip Elang ternyata benar.. Kini lelaki pujaannya telah berada tepat duduk dihadapanya.. Membawa secercah harapan untuk masa depan bahagia mereka.
__ADS_1
" A.. Putri udah seminggu ini kerjanya cemberut wae, nenek sampe pusing harus gimana. Tapi ayeunamah aya aa. Sok ngarobrol heulanya. Nenek nyiapin makan malam dulu sama bibi di dapur.."
" Iya nek silahkan.."
Suasana tiba-tiba hening.. Tak tahu harus memulai pembicaraan dari mana. Elang sebenarnya sudah tidak sabar ingin memeluk erat Putri. Tapi ia tahan.. Tahan untuk nanti saja.
" Kamu.. Ko ponselnya gak bisa dihubungi sih?." Akhirnya suasana dingin akan kembali menghangat.
"Hah.. Apa?." Putri mengerutkan alisnya dan mendekatkan telinganya ke arah Elang.
" Kamu kenapa ponselnya gak bisa dihubungi sih?."
" Bukan.. Bukan itu.."
Kini giliran Elang yang tidak mengerti maksud Putri.
" Maksudnya apa sih... Gak ngerti.."
"Ituh.. Ko Lo nya berubah jadi kamu.."
Wajah Elang berubah merona..
" Iya.. Kita kan mau nikah masa Lo sama gue terus, gimana kalo nanti punya anak.. ikut-ikutan nantinya."
"Menikah? Bukannya mama udah mutusin hubungan kita ya?."
" Gak ko.. Hubungan kita udah gak dimasalahin lagi sama mama kamu. Masalah kita udah beres. Pernikahan kita tetap lanjut..."
" Beneran... ?" Putri seakan tidak percaya dengan penuturan Elang.
" Beneran sayang.."
" Ahh.. Akhirnya seneng banget deh Lang..." Putri refleks menghambur memeluk tubuh Elang dan mencium pipinya berulang-ulang.
" Neng Putriiiiii... Belum muhrimm!!!!." Tiba-tiba neneknya berteriak dari arah dapur melihat adegan Putri dan Elang yang dirasanya tidak pantas dilakukan.
Wajah Putri dan Elang menahan malu yang teramat sangat tak tahu harus di taruh dimana wajah mereka. Kini mereka berdua berada semeja dengan neneknya Putri untuk makan malam bersama.
" Neng.. Aa jangan ngulang kaya tadi lagi ya. Belum sah tau. Kalo udah nikah mah terserah.."
" Iya nek.." Sahut mereka berdua kompak.
__ADS_1
*****
Haii.. Minta dukungannya ya dengan komen, like dan votenya.. Thanks..💕💕💕💕💕