ROMANSA Sang PLAYBOY

ROMANSA Sang PLAYBOY
Hanna 1


__ADS_3

Bentangan kota Malang pagi ini begitu indah, matahari belum terlalu terik, burung-burung sedang hinggap di dahan pohon setelah lelah terbang ke sana kemari.


Wanita berambut panjang itu sedang duduk menatap keluar jendela kamar hotel yang langsung menatap ke luar, "Indah,"Gumamnya.


"Sayang,"Elang menghampirinya membawakan nampan berisi beberapa macam makanan yang di ambilnya dari jatah sarapan hotel, menimpannya di atas meja untuk istrinya tersanyang.


"Pantesan aja pagi-pagi udah gak ada, jadi ngambil sarapan. Kenapa gak bangunin aja sayang kan bisa dari pada repot-repot harus bawa ke kamar,"


Elang tersenyum kecil tidak segera menjawab, saat Putri hamil Elang memang sedikit cerewet kalau masalah makanan. Putri tidak dibiarkan untuk telat sarapan atau makan, Elang sangat memanjakannya dan ia begitu khawatir terjadi sesuatu pada calon anak mereka.


"Bawain makanan aja gak repot ko sayang, kamu makan ya sarapannya sekarang kasian tuh debaynya nanti kelaperan,"Gigi putih Putri diperlihatkannya pada Elang, senyumnya merekah. Putri senang suaminya terlihat sangat memanjakan dan menyayanginya.


Ibu hamil satu ini sangat menikmati makanannya, semua makanan yang di bawa suaminya tergolong makanan favoritnya semua, sampai Putri tidak menyisakan makanan sedikitpun di piringnya,"Enak sayang,"Ucapnya dengan mulut penuh makanan


"Pelan sayang, makannya dikit-dikit aja"


"Habisnya enak sih, dari malem aku laper tapi makanan yang dipesen semalam udah dingin jadi kurang enak,"Putri menunjuk makanan yang berada di atas nakas.


"Iya soalnya kamu semalem langsung tidur, jadinya makananya gak ada yang makan,"


Elang berdiri dari tempatnya menuju lemari pakaian, mengambil koper dari dalam lemari dan mulai memasukan baju mereka satu persatu,


"Sayang, kita mau pulang sekarang?,"


Elang mengangguk,"Iya, kenapa kamu masih mau tinggal di Malang?,"


"Yah, kirain kita sehari lagi di sini. Aku pengen jalan-jalan dulu tadinya,"


"Aku minta maaf ya sayang, soalnya aku harus masuk kantor. Bima nyuruh besok aku masuk katanya ada masalah di kantor masa iya aku masih liburan di sini,"


"Kamu marah?,"Elang mencubit kedua pipi Putri.


"Nggaklah, kamu kan harus kerja cari uang yang banyak buat dede bayi, kalo kamu kerjanya gak bener nanti Papa Wira marah dan-"


"Nggaklah, gak mungkin Papa berani. Perusahaan itu kan sekarang atas namaku sayang,"Elang tahu kemana arah pembicaraajn Putri.


"Hihihi, ya kali aja. Kan anak Papa bukan cuma kamu aja sayang,"


"Ngaco ah,"Elang kembali melanjutkan mengepak pakaian.


***


Jam 10 ini keluarga besar sudah berada di Bandar Udara Abdul Rachman Saleh kota Malang, pesawat ke Jakarta berangkat pukul 10.55. Setelah check in mereka menunggu di ruang tunggu pemberangkatan.


Tiba-tiba Putri mencengram kuat lengan Elang, tatapannya mengikuti seseorang yang sedang berjalan terburu-buru sampai sosok itu hilang diantara satu penumpang dengan penumpang lainnya.


"Kamu kenapa sayang?,"


Putri menggeleng jangan sampai suaminya tahu bahwa ia melihat sosok Gadis barusan.

__ADS_1


"Tidak sayang, aku kira itu temanku ternyata bukan,"Bohongnya.


"Oh kirain,"


***


Beberapa orang pegawai pribadi keluarga Adipati telah menunggu di pintu kedatangan Soekarno-Hatta, tidak biasanya ada banyak pengawalan khusus. Biasanya hanya ada satu atau dua orang yang menjemput. Kali ini suasananya berbeda.


Ada ekspresi berbeda yang ditunjukan Elang pada Putri setelah Bima ikut hadir menjemputnya dan memperlihatkan Ipadnya.


"Lo yakin Bim?,"


"Gue udah usut dan katanya sumbernya terpercaya Lang,"


Elang menatap istrinya sejenak


"Sayang, kamu tidak apa-apakan kalo pulangnya sama Mama Papa. Soalnya aku ada ususan mendadak ke kantor."


"Kamu yakin sayang?,"Putri melihat pakaian yang dikenakan Elang, kaos putih dan celana khaki dan sneakers putih.


"Gak apa-apa sayang, mereka gak akan berani menyuruhku ganti pakaian lagi"


Putri tertawa kecil.


"Iya aku lupa kalo kamu ini pemilik perusahaan,"


"Iya sayang,"


"Ma, Pa.. Elang titip Putri ya tolong anterin dulu ke rumah kasian,"


"Iya tenang aja ko. Lagian Nina mau mampir dulu ke rumah kalian,"Ucap Mama Rita


"Iya Lang, mau mapir ke rumah kalian. Boleh kan?,"


"Boleh.. santai aja. Ya udah duluan ya semuanya,"


Elang berjalan mensejajarkan kakinya dengan langkah Bima yang pergi terlebih dahulu. Tak banyak kata keluar dari keduanya saat berada dalam mobil. Mereka sedang berpikir dengan pemikirannya sendiri-sendiri.


"Gue aneh Bim, dari mana media tau soal ini ya?,"


Elang menghela nafas berat.


"Apa Hanna hadir pada acara keluarga lo kemaren?,"Ucap Bima melihat Elang hanya terpaku pada menatap kosong ke depan


"Hanna ikut kemaren, gue juga gak tau dari mana Hanna tau Harris nikah. Karena Papa dan Mama juga gak ngasih tau Hanna,"


"Gue bingung gimana ngadepin keluarga besar gue kalo pada akhirnya apa yang kami takutkan terjadi juga. Bagaimana perasaan kedua orang tua gue, ternyata semua gosip itu benar adanya. Publik akan tau skandal Papa dulu,"


Pandangan Elang tertuju pada ponselnya yang bergetar.

__ADS_1


"Iya Pa,"


"Iya nanti Elang pulang lebih cepat Pa. Papa tenang aja ya. Papa dan Mama tunggu aja di rumah,"


"Oke Pa,"


Elang kembali mendengus kesal.


"Entah siapa, tapi mereka bergerak cepat Bim di luar dugaan,"


"Tenang Lang! Gue udah nyuruh Anton dan anak buahnya buat usus masalah ini,"


Mobil Elang dan Bima berhenti di bassement perusahaan. Mereka berdua segera menuju ruangan tempat Elang bekerja. Ada beberapa staff karyawannya yang menyapanya dengan hormat. Langkahnya terasa lambat saat situasi seperti ini.


"Pak, anda sudah kembali?."Sapa sekretarisnya segera berdiri dari tempatnya. Mengikuti langkah Elang dari belakang.


Sesuai perkataan Bima, di ruangannya sudah ada seorang wanita sedang menunggunya. Membawa beberapa berkas yang di simpannya di atas meja.


Elang langsung duduk di depan wanita itu.


"Apa yang ada dipikiranmu Hanna?,"Mata tajamnya tertuju tepat di bola mata Hanna.


"Aku datang hanya ingin meminta hakku,"Suaranya tegas dan intonasinya jelas.


"Siapa yang sudah mempengaruhimu Hanna?,"


"Tidak ada! Aku datang kemari murni karena keinginanku sendiri. Bukannya media sudah memberitakan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi?,"


"Ini bukan dirimu Hanna, aku tau dirimu seperti apa,"


"STOP! Jangan menunda-nunda, mari kita bicarakan semuanya,"


Elang tersenyum kecut.


"Tidak semudah itu Hanna, aku tidak akan membicarakan masalah omong kosong seperti ini. Pengacaraku akan membereskan semuanya!,"


"Bim, suruh security untuk mengusirnya!,"


"Siap Pak!,"


Elang berdiri, menduduki kursi kebesarannya. Mengerjakan sesuatu berpura-pura bahwa Hanna tidak ada bersamanya saat ini.


Hanna berdecak kesal, tidak menyangka kalau Elang akan bungkam seperti ini. Tak perlu berpikir lama untuk di usir, Hanna beranjak dan keluar tanpa pamit.


*****


Hallo para readers yang kece badai melambai-lambai. Maafin authormu ini yah, sering tidak up setiap hari. Mungkin author butuh liburan biar otaknya bisa mikir lagi.


Jangan lupa, jangan lupa buat komen dan like nya ya.. Cukup itu aja yang author inginkan.

__ADS_1


__ADS_2