ROMANSA Sang PLAYBOY

ROMANSA Sang PLAYBOY
R#Hancur Lebur


__ADS_3

Ia hanya butuh untuk berpura-pura, berpura-pura bahwa semuanya tidak terjadi seperti yang dilihatnya sekarang. Ada dua pilihan saat itu, masuk atau lari dan Putri memilih opsi kedua.. Ia lari sekencang-kencangnya berusaha agar tak terlihat oleh Elang.


Tangannya masih gemetar saat menekan passcode apartemen Elang. Tubuhnya ia hempaskan ke atas ranjang, menutupi wajahnya dengan bantal dan menangis sejadi-jadinya. Emosi yang meletup-letup akhir-akhir ini membuat hatinya tak karuan, ingin rasanya melepaskan semua sesak di dada.. Hingga akhirnya tiba dimana Putri telah membangun sebuah tembok pertahanan yang besar dan kokoh saat Elang lebih sering menemani Gadis dan bila saat Elang meninggalkannya kelak ia takkan merasakan hati yang terlalu teramat sakit karena ia sudah membangun penjagaannya.


" Put.. "


"Put..."


Elang menggoyang-goyangkan bahunya beberapa kali..


Putri terkaget, ia merasa kalau tadi bermimpi Elang membangunkannya Tapi ternyata kini Elang sudah berada di duduk disampingnya.


"Eh.. Udah balik lagi.."


Putri segera beringsut dari tepi ranjang..


" Udah.. Barusan. Maaf ya.. Tadinya gue pengen nemenin Lo.. Tapi ada urusan mendadak.." Ujar Elang dengan penuh kehati-hatian jangan sampai Putri melihatnya tengah menyembunyikan sesuatu..


" Iya Lo ada urusan buat Gadis Lo.. "


"Lo kenapa.. Ko matanya bengkak gitu? Abis nangis ya?."Sentuhan lembut Elang di mata Putri segera Putri lepaskan, Putri hanya takut ia semakin tak berani untuk kehilangan lelaki itu dalam waktu dekat..


" Gak ko.. Ini karena abis tidur aja.. "


" Lo sih kalo tidur yang bener, posisinya gak ngenakin banget jadinya matanya gitu deh.."


Perlahan tangan Putri ditarik Elang, sampai wajah Putri berada dalam dekapan hangat lelaki itu..


"Gue pengen meluk Lo.. Sebentar aja.."


"Gue tau ko Lang.. Lo telah nyiapin diri buat lepasin gue kan. Gue cuma tumbal dari egois kalian.."


" Napa sih.. Gak biasanya?." Putri mencoba melepaskan kepalanya dari pelukan kuat Elang..


" Gak.. Gue cuma kangen aja.."


" Hari ini kita keluar yuk.. Gue mau ngajakin Lo jalan-jalan.."


Sebuah keraguan besar terpancar dari tatapan Putri kali ini tak lantas segera ia jawab.. Ia hanya ragu mengiyakannya atau menolaknya..


" Ayo.. "

__ADS_1


Jawaban persetujuan terlontar dari mulut Putri begitu saja..


" Tapi gue mandi dulu.. Udah gak enak dari kemaren.. Tunggu ya.." Elang mengelus lembut rambut wanita yang sangat ia sayangi itu.. Wanita yang sebentar lagi bukan wanitanya..


"Kita mau kemana?." Tanya Elang saat Putri memintanya untuk memarkirkan mobilnya di sebuah parkiran Mall. Tapi bukan untuk masuk ke dalam Mall, melainkan berjalan mengitari pertokoan yang berada di pinggir Mall lalu berhenti tepat di sampingnya.. Ada sebuah taman tempat untuk sekedar nongkrong.. Lumayan lahan hijau di tengah perkotaan.


"Lo mau kita duduk di sana?." Tunjuk Elang pada sebuah tembok keramik biru, seperti hal nya sering terlihat di taman-taman pada umumnya.


" Ia.. Sekalian nungguin hujan turun.."


Elang mengernyitkan keningnya tidak mengerti maksud dari perkataan Putri barusan..


" Ngapain nungguin hujan .. Mending di Mall aja yuk, biar kalo hujan gak kebasahan.." Ajak Elang menarik tangan Putri agar segera beranjak dari tempat duduknya.. Putri menahan tarikan tangan Elang sekuatnya..


" Gak mau.. Mau di sini aja.." Wajah Putri tiba-tiba terlihat datar.. Tatapannya kosong.


" Ada apa sih Lang.. Lo mau ngomong sesuatu ma gue ya..?." Sejurus kemudian pandangan Putri di alihkan pada tatapan mata Elang. Refleks Elang membuang muka, tak ingin Putri menangkap sesuatu yang akan terjadi pada sore hari itu. Mereka seperti dua orang yang asing, saling berdiam diri..


"Iya Put.. Ada yang mau gue omongin ma Lo.."


Belum apa-apa Putri sudah merasa tak enak tak karuan.


"Nanti ya.. Ngomongnya pas turun hujan.." Senyum yang dibuat-buat hanya untuk menutupi kegelisahan hati Putri yang tak menentu.


" Biar suasananya beda aja.. Gue udah lama gak hujan-hujanan, dari gue kecil selalu dimarahin mama kalo kedapatan main hujan-hujanan. Dan sekarang gue pengen ngerasain lagi, gimana rasanya air hujan nyentuh wajah gue langsung tanpa ada seorang pun yang larang. Lo mau lan nemenin gue di sini.."


" Aneh.. !."


" Udah ah.. Ke Mall aja.. Nanti Lo sakit.. ayo."


Putri tetap bersikeras..


" Ya udah iya.."


Sayup-sayup terdengar gemuruh di tempat lain, semilir angin yang sudah terasa dingin biasanya pertanda hujan akan turun, langit jakarta terlihat sudah mulai menghitam hingga saatnya tiba rintik-rintik air hujan mulai turun membasahi bumi..


" Put.. Kepinggir sini..!!." Elang menarik tangan Putri agar segera menepikan tubuhnya ke tempat yang teduh.. Putri menepis ajakan tangan Elang.


Petir mulai terdengar jelas mengiringi derasnya hujan sore hari itu..


Elang masih berada di tepian tempat yang teduh.. Tepat di dekat Putri bermain air hujan.

__ADS_1


"Lang.. Tadi Lo mau ngomong apa.. Ngomong aja sekarang!." Putri berteriak.. Suaranya berlomba-lomba dengan derasnya hujan.


Ada ketakutan besar dan sebuah rasa tak tega terpancar jelas di wajah Elang saat itu.


"Put... Maafin gue.."


" Maaf buat apa?."


Terdiam lagi.. Tak mampu melanjutkan..


"Kayanya hubungan kita gak bisa dilanjutin lagi.."


" Duuuaaaarrr....."


Suara petir bersamaan dengan ungkapan hati Elang saat itu. Sudah Putri duga Elang mengatakan hal yang tak ingin ia dengar.. Tubuhnya terasa lemas seketika, bibirnya bergetar bukan karena dingin.. Tapi tak mampu untuk berkata-kata lagi.. Air matanya mengalir deras, alasan Putri tadi sangat tepat.. Menangis saat hujan turun hanya untuk mengelabui Elang, mengelabui mana air mata dan air hujan.. Tak lebih sama.


" Kenapa?."Suara Putri mulai terdengar lirih.. Menahan semua deburan ombak di hatinya..


" Gue gak bisa ninggalin Gadis."


Jawaban Elang tepat sekali di sasaran.. Pertahanan penjagaan kokoh yang sudah di bangun Putri akhirnya hancur lebur tak bersisa.. Ia tak kuasa menahan lagi..


" Baiklah.. Gue ngerti. Dia lebih butuhin Lo. Lo jangan khawatir.. Gue gak apa-apa ko.."


Putri tahu bahwa hari itu akhirnya akan tiba, dimana Elang akan meninggalkannya.. Tapi Putri tetap bersikeras dan berpura-pura kalau hubungan mereka akan baik-baik saja.


" Gak apa-apa.. Gak apa-apa Lang.. Lo gak liat betapa hancurnya hati gue denger semua perkataan Lo .. Ini.. Ini akhirnya.. Sebuah keputusan telak yang Lo kasih buat gue. Ingin rasanya gue teriak-teriak.. Ingin rasanya gue tampar Lo.. Jambak rambut Lo.. Gue gak nyalahin Lo.. Gue nyalahin perasaan gue.. Kenapa gue bisa sejatuh cinta ini sama Lo.."


Tarikan tangan Elang menyadarkan Putri seketika. Elang membawanya ke pinggir tempat yang teduh.. Memberikan jaket yang ia pakai untuk menutupi tubuh Putri yang kedinginan.. Bibirnya mulai terlihat membiru serta telapak tangannya mulai mengerut.


" Kita pulang ya.. Liat Lo udah kedinginan.. Gue gak mau Lo sakit.."


"Gak.. Lo pulang aja sendiri.. "


" Put.. Pulang.. Liat Lo basah kuyup gitu.. Nanti sakit.."


" Gak papa ko.. Lo gak usah khawatirin gue.. Gue kan udah bukan siapa-siapanya Lo.. Jadi jangan perhatian sama gue ya.."


" Maaf.." Kata-kata itu terlontar dari mulut Elang.


" Gak usah minta maaf... Hubungan kita di awali dengan sebuah kesepakatan jadi sangat tidak mungkin kalo dihati kita benar-benar ada sebuah rasa cinta."

__ADS_1


Elang menggenggam tangan Putri..


"Lo pergi aja.. Gue bisa pergi sendiri." Putri melepas genggaman tangan Elang.. Elang hanya bisa melihat kepergian Putri tanpa bisa berkata apa-apa.


__ADS_2