
"Selama ini kamu kemana aja Hanna?."Tanya Mama Rita penasaran karena setahunya Hanna tidak pernah menghubungi suaminya apalagi dirinya.
"Hanna sibuk menyelesaikan kuliah Hanna Ma dan Hanna juga sibuk ngurusin Mama yang sakit."Jelas Hanna.
"Mama kamu sakit? Sakit apa? Kok kamu nggak kasih tau Mama atau Papa."
"Nggak apa-apa Ma, lagian Hanna takut gangguin Mama sama Papa."Hanna harus berbohong demi menjaga perasaan Mama Rita, makanya ia hanya berkomunikasi selama ini lewat Elang.
"Hanna, maafin Mama ya selalu keras sama kamu."Mama Rita merangkul Hanna ke dalam pelukannya. Papa Wira bersyukur Mama Rita sudah banyak berubah dalam memperlakukan Hanna.
"Ma, ajak Hanna makan dulu sana. Kasian nggak ada yang nemenin."
"Iya Pa, ayo Hanna kita makan dulu kebetulan Mama juga belum makan."
Elang tersenyum ,melihat keakraban yang terjalin diantara keduanya, ketakutan Hanna tidak terjadi sama sekali, Hanna membayangkan sikap Mama Rita akan buruk padanya.
"Kamu liatin Hanna sambil senyum-senyum gitu."Putri menyebikkan bibirnya kesal.
"Ya ampun sayang, aku kan sudah bilang sama kamu kalo Hanna itu adik angkat aku. Kamu cemburunya gitu banget."
"Cemburu? Aku cemburu? Gak banget harus cemburu."Putri beranjak menjauhi suaminya yang malah senang membuatnya marah.
Elang menggelengkan kepalanya kemudian meminum minumannya. Menghampiri Putri takut bertambah marah padanya.
***
Keluarga dari Jakarta tidak langsung pulang, mereka terlebih dahulu menginap satu hari di hotel yang sudah disediakan.
Hotel yang dipilih adalah hotel mewah dan merupakan hotel yang paling banyak diburu oleh para turis mancanegara.
Kamar yang ditempati Elang dan Putri cukup luas terletak paling ujung, pemandangan dari kamar langsung menuju balkon yang bisa menatap pemandangan kota Malang dari atas. Putri masih saja mendiamkan suaminya, rasa kesalnya semakin menjadi tak kala Elang menerima panggilan telepon dari Hanna.
"Kamu mau ngobrol sama Hanna sayang?."
__ADS_1
"OGAH!."
Elang segera memutus sambungan teleponnya dan ia mengelus kepala Putri dengan lembut."Sayang, biar aku ceritakan sama kamu satu hal, tapi kamu harus janji tidak akan membicarakanya lagi pada orang lain hanya keluarga kita saja."Ucap Elang.
Putri segera memasang kupingnya menjadi pendengar setia.
"Kamu mau ngasih apa sebagai hadiahnya kalo aku menceritakan rahasia ini sama kamu?."
"Ih kamu, aku udah serius dengerin. Ngasih apa? Lagian gak ada untungnya dengerin rahasia kamu."
"Yakin? Bukannya kamu penasaran sama sosok Hanna?."Godanya lagi.
"Iya deh iya, aku ngalah. Ayo cerita sebelum aku ngantuk nih."
Elang menghela nafasnya.
"Kamu jangan cemburu sama Hanna, kamu harus tau Hanna bukan sekedar adik angkatku saja. Hanna dan aku adalah saudara satu ayah."Elang menceritakan hubungan rahasianya dengan Hanna.
"Saudara satu ayah? Maksudmu kalian saudara anak Papa Wira?."
"Gimana ceritanya?."
"Dulu banget, Papa itu terkenal playboy suka gonta ganti cewek. Waktu lagi pacaran sama Mama juga banyak pacarnya. Hingga suatu hari Mama tau kalo Papa playboy dan minta putus, tapi Papa nolak malah mau nikahin Mama. Gak lama aku lahir, ada gosip Papa selingkuh dengan Mamanya Hanna dan terpaksa harus menikahinya karena Mamanya Hanna hamil. Mama marah besar dan ingin cerai dari Papa."
"Papa gak ngasih dan ingin mempertahankan hubungannya dengan Mama. Mama mau asalkan dengan syarat Papa harus menceraikan Mamanya Hanna setelah dia melahirkan."
"Kok kamu gak pernah cerita sih? Kenapa sangat dirahasiakan?."
"Karena menjaga perasaan Mama, kalo publik tau kebenarannya pasti akan menjadi gosip sepanjang masa. Tapi tetap saja gosip itu pelan-pelan berhembus. Keluarga besar tidak ada yang tahu semuanya hanya beberapa saja."
"Aku kasian sama Mama, pasti bebannya berat banget."
"Iya aku juga salut sama Mama bisa menyimpan semuanya tanpa mengeluh sedikitpun."
"Jadi kamu turunan Papa ya?."
__ADS_1
"Apa?."
"Playboy!."
Elang terkekeh "Hehe bisa aja kamu."Ucapnya.
"Hadiahnya apa?."
"Hmm.. Kamu mau minta apa?."
"Apa ya?."Elang berpikir sejenak.
"Aku hanya minta satu sama kamu, panggil aku dengan panggilan lain."Pinta Elang.
"Lain? Apa?."
"Dasar Bumil gak peka banget sih."
"Panggil sayang atau Mas biar enak dengernya."
"Hahaha."Kini giliran Putri yang tertawa.
"Kamu gak mau."
"Iya mau."Putri cepat-cepat menjawab, padahal ia hanya ingin cepat-cepat tidur, matanya sudah berat dan tidak kuasa lagi menahan kantuknya.
Elang menggoyang-goyang bahu Putri dengan pelan, tapi sama sekali tidak ada pergerakan lagi.
"Dasar Bumil."Selimut ditariknya untuk menutupi tubuh Putri yang meringkuk seperti bayi.
Bunyi ketukan pintu segera membuat Elang segera beringsut untuk membukanya, ada dua karyawan hotel membawakan makanan untuknya dan Putri yang dipesannya tadi.
"Letakan saja di situ."Tunjuknya di atas meja.
Makanan yang sudah dipesan harus didiamkan sementara, niatnya Elang memesan karena semenjak hamil Putri jadi senang makan banyak.
__ADS_1